
Pak guru: Assalamualaikum. Saya Aldi, guru olahraga di SMA Pertiwi. Benarkah ini nomor Bu Medina, Mama Adam Haikal?
Medina: Iya Pak, benar. Maaf, ada apa ya?
Pak guru : Apa besok anda mempunyai waktu luang Bu? Saya ingin membicarakan hal penting tentang putra ibu. Kalau bisa, saya harap Bapak juga bisa datang.
Medina: Baiklah Pak. Jam berapa kami harus ke sekolah?
Pak Guru: Kita bertemu di luar saja ya Bu. Bisa kita bertemu di Kafe Anggrek jam dua belas siang?
Medina: Baik Pak, kami bersedia.
Pak Guru : Baik sampai jumpa besok Bu, terima kasih.
Telepon ditutup, menyisakan sejuta tanda tanya di benak Medina. Perasaannya tidak enak. Medina takut terjadi sesuatu pada Adam.
Sudah sembilan tahun Adam meninggalkan rumah itu, selama ini tak pernah sekali pun pihak sekolah menghubungi Medina. Medina yakin, semua sudah diatur oleh Ilham. Namun kali ini ia merasa ada yang janggal. Hingga pihak sekolah menghubunginya.
" Assalamualaikum sayang." Ray mengucapkan salam ketika masuk rumah. Ia baru pulang dari bekerja, Medina yang terlarut dalam lamunannya sampai tak mendengarkan perkataan Ray.
"Me? Kamu kenapa?" Ray yang sudah duduk di sebelah Medina menepuk bahu Medina pelan.
"Eh, Mas sudah pulang." Medina meraih punggung tangan Ray dan mengecupnya. Tak lupa ia menyunggingkan senyuman untuk suaminya.
"Mikha mana sayang?" tanya Ray celingukan mencari putri kecilnya yang kini sudah berusia tujuh tahun.
"Dari siang main ke rumah Kia. Katanya mau menginap di rumah Kia. Anak gadismu itu nempel mulu sama Kei, Mas," kata Medina.
"Biarkan saja, dulu kan Kei yang menempel terus pada Adam." Ray tergelak.
"Eum, Mas, tadi ada telepon dari sekolah Adam. Guru Adam ingin bertemu dengan kita," kata Medina.
"Apa ada masalah? Tumben sekolah menghubungi kita? Om Ilham tidak keberatan mereka menghubungi kita?"
"Me juga nggak tahu Mas. Besok kamu bisa kan jam makan siang jemput aku. Kami sudah membuat janji di Kafe Anggrek."
"Iya ... bisa sayang. Kalau Mas sibuk pun Mas akan lebih mementingkan urusan anak kita." Ray memeluk Medina erat.
"Makasih ya Mas, sudah menganggap Adam seperti anak kamu sendiri."
"Me, jangan pernah lupakan perkataanku yang dulu. Adam anak Mas, sampai kapan pun Mas tak ingin Adam tahu kenyataan ini."
***
Sepasang suami istri itu menunggu dengan gelisah. Sepuluh menit berlalu, orang yang ditunggu belum juga datang.
"Masih lama ya Me?" tanya Ray.
"Katanya sudah dekat kok Mas. Sabar dulu ya?" bujuk Medina.
"Iya sayang," jawab Ray.
__ADS_1
"Nanti di depan guru Adam, jangan sayang- sayang ya Mas. Malu sama umur." Ray tertawa.
Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghampiri meja mereka.
"Maaf, benar anda orang tua Adam?" tanya seorang laki-laki sebaya dengan Medina memakai baju batik.
"Benar. Apakah benar anda yang menghubungi kami? "
"Iya Pak. Maaf mengganggu waktu anda. Perkenalkan saya Aldi, guru olahraga Adam."
"Aldi ...," kata Medina terkejut.
"Kamu ... Medina ya?" tanya Aldi sama terkejutnya.
"Jadi kamu orang tua Adam?" tanya Aldi berbinar.
"Iya Di. Mas, kenalin. Aldi ini teman SMA aku. Di ini suamiku Mas Ray."
Aldi dan Ray berjabat tangan.
"Sebenarnya ada masalah apa, Di?" tanya Medina penasaran.
"Medina, maaf jika yang akan saya katakan ini akan mengejutkan kalian. Adam,
anak kalian terlibat masalah besar. Kemarin aku memergokinya dalam keadaan teler."
"Untung saja aku yang memergoki. Jika pihak lain mungkin anak kalian sudah diseret ke kantor polisi," imbuhnya.
"Anak kalian salah pergaulan. Dia sudah kecanduan narkoba."
"Jadi daripada semua berlarut-larut aku ingin kalian segera menanganinya. Bisa lewat rehabilitasi, atau detoxifikasi, obat dokter atau cara-cara lainnya."
"Aku rasa saat ini Adam benar-benar butuh kalian. Butuh support dari kedua orang tuanya. Aku tak tahu apa yang terjadi di antara kalian, sehingga Adam tinggal bersama opanya. Tapi aku iba setiap melihat bocah itu." Medina diam tak dapat berkata-kata. Ia mengingat kembali hancurnya hubungannya dengan Adam putranya.
"Aku sudah membicarakannya dengan Tuan Ilham. Tapi beliau sepertinya acuh tak acuh. Sehingga aku menghubungi kalian. Aku tak ingin masa depan Adam hancur."
Medina menangis, ia begitu terpukul dan merasa sangat bersalah. Putranya kurang kasih sayangnya dan menjadi salah jalan.
"Me, sabar ...," kata Ray menenangkan. Medina masih sesenggukan.
"Belum terlambat Me. Kalau bisa kamu segera menemui putramu. Oh ya, saya tak bisa berlama-lama. Ada jam mengajar sore ini. Jadi saya permisi dulu ya?"
"Apa kamu tidak ingin minum secangkir kopi dulu, Di?" tanya Medina sebagai bentuk kesopanan.
"Lain kali saja ya?" Aldi berpamitan dan meninggalkan tempat itu. Medina hanya mengiyakan dan berjanji akan mentraktir Aldi di lain waktu.
Ray dan Medina segera pulang ke rumah. Mereka berencana akan mengambil paksa Adam dari tangan Ilham. Mereka akan memperjuangkan anak mereka sekuat tenaga. Tak peduli apa pun, semua demi kebaikan putranya.
Sampai di rumah, Medina dan Ray heran karena ada sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumah mereka.
"Pak Anto, ada tamu ya?" tanya Medina yang baru saja turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya Nyonya," jawab Pak Anto.
"Siapa Pak?" tanya Medina.
" Maaf Nyonya saya ndak tahu." Pak Anto baru bekerja sebagai satpam di rumah itu selama tiga tahun. Wajar jika ada kalanya ia tak mengenal tamu Medina.
Ray dan Medina bergegas masuk rumah. Begitu masuk rumah, hati Medina membuncah bahagia. Melihat putra kesayangannya duduk di sofa ruang tamunya.
"A-adam?" Medina menghambur memeluk dan menciumi putranya yang kini beranjak dewasa.
"Aku datang ke sini ingin menyerahkan Adam kembali ke tangan kamu. Aku tak sanggup lagi mengatasi kenakalan anak kamu. Benar-benar tak tahu diuntung seperti ibunya," kata Ilham kasar.
"Apa maksud anda?" tanya Medina.
"Apa perlu aku jelaskan lagi? Aku tak sanggup lagi merawat anakmu yang seperti berandalan."
"Jaga ucapan anda. Anak saya Adam adalah anak yang baik."
"Tapi kenyataannya anak ini anak berandalan."
"Maaf Om, apa perlu saya ingatkan siapa yang membuat anak saya jadi seperti ini?" kata Medina dengan suara meninggi.
"Cih ... tak ada gunanya aku di sini lagi. Mulai sekarang kamu tinggalah dengan orang tuamu. Semua barang-barangmu akan diantar oleh Teguh. Sekarang kamu bahagia bukan?" kata Ilham meninggalkan tempat itu tanpa rasa bersalah.
"Nak ... akhirnya kamu kembali. Mama merindukan kamu,Nak." Medina memeluk Adam kembali.
"Dimana kamar Adam?" tanya Adam menepis pelukan Medina.
"Di atas Nak. Masih sama dengan yang dulu. Ayo mama antar."
"Tak perlu, Adam bisa sendiri," jawab Adam ketus.
Medina tak merasa sakit hati atas sikap Adam. Ia yakin putranya lambat laun akan menerimanya kembali. Ia lebih lega seperti ini daripada harus terpisah dari Adam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semua butuh proses.
__ADS_1
Intinya ... Sabar.