Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Malam Bersamamu


__ADS_3

"Jadi, kamu belum pernah dipeluk seperti ini?" tanya Adam menggoda Haura dengan mengecupi pundak Haura yang berbalut kardigan. Tubuh Haura semakin bergetar, antara geli dan berdebar menjadi satu.


"A-aduh geli Mas," kata Haura dengan pipi yang memanas. Apa yang dilakukan suaminya saat ini membuat wanita itu sangat malu. Tak tahan ia menahan gejolak asing dari tubuhnya. Pikirannya berkata untuk tidak memperlihatkan sisi buruknya, namun respon tubuhnya berbalik menghianati. Rasanya Haura ingin membalas kecupan Adam. Namun, ia malu.


"Ra ... Mas minta maaf ya atas kesalahan Mas Adam selama ini," ucap Adam lirih. Ia masih menyandarkan dagu di bahu istrinya. Terlihat ketulusan di mata pria itu ketika mengucap sebuah kata maaf.


"Iya Mas, Rara sudah lama memaafkan Mas Adam. Mari kita lupakan hari-hari buruk yang telah berlalu. Dan mulai saat ini, kita mulai kehidupan yang baru. Rara akan berusaha menjadi istri yang baik. Rara akan berusaha untuk mencintai Mas Adam."


"Terima kasih Ra, terima kasih. Mas juga akan berusaha menjadi suami dan iman yang baik untuk kamu."


"Pulang yuk Mas!" pinta Haura ketika udara semakin dingin.


"Cium dulu." Adam menunjuk ke arah bibirnya. Wajah wanita itu semakin bersemu merah, dengan detak jantung yang tak beraturan.


"Malu Mas, bagaimana kalau sampai ada yang melihat? " Sungguh alasan yang bodoh, karena saat itu keadaan sangat sunyi dan sedikit gelap. Tak akan ada yang melihat apa pun kegiatan mereka.


"Mau pulang atau tidak? Ayo cium!" perintah Adam gemas.


"I-iya tapi Mas Adam tutup mata dulu," pinta Haura sangat malu.


"Nggak mau, kamu pasti mau lari kan?" tuduh Adam.


"Kalau Mas Adam nggak mau ya sudah," rajuk Haura.


"Iya, iya." Akhirnya Adam mengalah. Adam memejamkan mata dan memonyongkan bibir menyambut kecupan Haura. Satu detik, dua detik Haura tak segera mencium suaminya.


Cup.


Gadis itu melayangkan sebuah kecupan singkat di pipi suaminya. Dingin,lembut dan basah terasa di pipi Adam. Tak menunggu lama ia segera berlari meninggalkan Adam yang berteriak memanggilnya. Gadis itu melarikan karena malu dan juga ... entahlah apa yang wanita itu rasa.


"Awas kamu ya Ra. Ku pastikan aku akan menikmati bibir merahmu malam ini."


Dengan tersenyum sendiri Adam mempercepat langkah menyusul Haura yang berlari pulang.


***


"Maaf ya Mas, kamar Rara kecil. Ranjangnya juga kecil," ucap Haura merasa tak enak hati. Ia yakin Adam tak akan nyaman tidur di kasur yang keras dan sempit.


"Nggak papa Ra. Yang penting kan sama kamu," goda Adam.


"Apaan sih Mas," gadis itu tersipu hingga kedua pipinya merah merona.


"Ya sudah, mari kita tidur!" ajak Adam.

__ADS_1


Haura membentangkan sebuah tikar kecil dilantai dan menata bantal dan selimutnya di situ.


"Kamu mau apa Ra?" Adam mengernyit keheranan.


"Mas Adam tidur saja di ranjang Rara. Biar Rara tidur di sini," ucap wanita itu tersenyum.


"Apa? Nggak, aku nggak mau. Aku mau tidur di sini sama kamu."


"Tapi Mas, ranjangnya sempit. Bagaimana bisa kita ...." Dengan sekali sentak Adam menarik tangan Haura hingga wanita itu jatuh menimpa dirinya.


"Aduuh," Haura mengelus keningnya yang bertabrakan dengan dada Adam.


"Cerewet ... seperti biasanya. Mas nggak mau diprotes." ucap Adam. Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak satu senti saja.


"Ra ...," panggil Adam dengan suara yang sangat lembut. Wajah Adam terlihat memerah juga seperti dirinya.


"Hem." Dada Haura berdebar kencang, saat menatap wajah suaminya sedekat itu. Mata, hidung, bibir Adam. Membuat ia terpana. Sungguh tampan dan menawan. Haura tak dapat Bernafas karena detak jantungnya yang menggila mengagumi ketampanan suaminya yang belum pernah terlihat jelas sebelumnya. Ini pertama kalinya posisi mereka seintim itu. Tentunya tak terhitung ketika Adam mencuri ciuman darinya malam itu. Karena Haura dalam keadaan tak sadar.


"Ra ..."


"Iya Mas."


"Rara ... anu ...."


"Iya Mas, kenapa?"


Dengan wajah memerah karena malu Adam mengikuti Haura dari belakang. Hilang sudah harga dirinya sebagai lelaki. Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi yang terletak sepuluh meter terpisah dari rumah, Haura menahan senyumnya. Ia tak menyangka suaminya penakut.


Adam kesal, harusnya tadi menjadi momen romantis untuknya dan Haura. Harus gagal karena tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil. Parahnya, ia meminta istrinya untuk menemaninya ke kamar mandi. Berkurang satu poin plus tentang dirinya di mata Haura.


***


Plak plak plak


Kedua tangan Adam tak berhenti bergerak menepuk nyamuk-nyamuk yang berdenging di telinganya. Rasa panas dan gatal terasa membakar tubuhnya.


Adam sangat kesal, matanya tak kuasa menahan rasa kantuk yang mendera. Sayangnya, ia tak bisa tidur karena udara yang terasa panas. Apalagi dengan gangguan dari segerombolan nyamuk yang menggigitinya.


Haura nampak pulas tidur di sampingnya. Tak terganggu oleh hawa panas maupun gigitan nyamuk. Adam heran, mengapa hanya dirinya yang menjadi korban nyamuk-nyamuk nakal itu.


"Ra ...," panggil Adam.


"Iya, kenapa Mas?" tanya Haura mencoba membuka matanya yang terasa berat.

__ADS_1


"Panas Ra, nyamuknya juga banyak lagi," protes Adam sedikit manja.


Haura duduk dari tidurnya. Setelah nyawanya terkumpul kembali, ia melangkah ke ruang tamu. Diambilnya kipas angin satu-satunya di rumah itu dan dibawanya ke kamar.


"Maaf ya Mas. Ada ini saja. Sudah nggak terlalu panas kan?" tanya Haura.


"He-em," jawab Adam sambil menggaruk kedua tangannya. Haura menjadi iba ketika menyaksikan tangan Adam yang bentol-bentol digigit nyamuk. Lelaki kota itu pasti sangat tersiksa.


"Jangan digaruk lagi. Sini, biar Rara usapkan minyak kayu putih." Haura mengambil sebuah botol kayu putih dari meja dekat tempat tidurnya.


"Kok kamu nggak digigit sih Ra? Kok Mas saja yang jadi sasaran nyamuk-nyamuk ini?" tanya Adam sembari tangannya diolesi dengan minyak angin. Dengan sabar dan lembut Haura mengolesi tangan Adam.


"Hehe, ya nggak tahu Mas, mungkin karena darah orang kota enak kali," jawab Haura tertawa.


"Bisa aja kamu ya Ra?"


"Sudah, cepat tidur! Besok Mas kan harus kembali ke Bandung."


"Iya Ra. Kamu mau di sini berapa hari? Nanti biar sopir yang jemput ya? Kayaknya minggu ini pekerjaan Mas banyak, jadi nggak bisa kemari jemput kamu."


"Tiga hari mungkin Mas. Iya nggak papa biar pak Anto yang jemput Rara. Sudah cepat tidur!" Haura membetulkan selimut Adam.


"Sini Ra, tidur bersama Mas." Adam menepuk kasur di sebelahnya. Akhirnya mereka tidur dengan berpelukan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Eng ing eng


Jangan kecewa ya..

__ADS_1


momen romantisnya nggak jadi


😂😂😂


__ADS_2