Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Bukan Sayang Hanya Peduli


__ADS_3

Medina sedang keluar dari taksi sepulang dari rumah sakit. Ia memandang sekeliling, entah hanya perasaannya atau bagaimana. Ia merasa kalau ia sedang diikuti oleh seseorang. Ia segera masuk ke butik Zaskia dengan ketakutan.


"Tuan, saya sudah berikan semua infonya kepada anda. Saya juga sudah pastikan kalau wanita itu benar-benar bekerja di Zaskia butik, Tuan. Apa lagi yang perlu saya kerjakan?" tanya lelaki itu sembari memberikan info lewat telepon.


"Bagus, kamu tak perlu mengikutinya lagi. Kembali ke perusahaan dan bonusmu akan aku transfer. Selanjutnya biar aku sendiri yang menangani," perintah orang yang di seberang telepon.


"Baik Tuan, terima kasih," orang itu mematikan panggilan telepon dan pergi dari tempat itu.


"Kia, semua ini kerjaan kamu kan?" tanya Medina begitu masuk ke butik dan berhadapan dengan Zaskia.


"Kerjaan apa, *D*arling?" tanya Zaskia pura-pura tak tahu.


"Bagaimana Ray bisa tahu kalau aku ada di rumah sakit?" tanya Medina menahan emosi.


"Wow, really ? Mana kutahu?" Kia mengangkat bahunya.


"Tidak perlu berakting Kia sayang ...."


"Baguslah ... itu tandanya Ray masih peduli sama kamu. Kamu senang kan bertemu dengannya?" kata Kia sedikit menggoda Medina.


"Nggak, aku mau menjauh dan tak mau bertemu lagi dengannya," ucap Medina.


"Kalau begini aku mau pulang saja, menyelesaikan segalanya. Aku akan jujur pada bunda. Aku akan mengatakan semua kebenarannya. Aku sudah pening dan tak kuat lagi menyimpan semua kebohongan ini, Terserah bunda mau mengamuk atau mengusir aku aku sudah tak peduli, whatever" ucap Medina seraya meletakkan tasnya di meja kasir.


"Itu berarti kamu mau pulang dengan Ray?" tanya Kia penasaran.


"No No... Tentu tidak, Aku akan pulang sendiri. Without him of course," kata Medina tegas.


"Ngomong-ngomong apa yang dikatakan Ray waktu di rumah sakit sehingga membuat tingkah lakumu seperti ini. Dan juga membuatmu ingin jujur mengatakan semua pada bundamu," tanya Kia mengikuti Medina yang bergerak kesana-kemari merapikan pakaian-pakaian di butik itu.


"Ya benar ... dia mengatakan sesuatu yang mustahil. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal Ki," kata Medina.


"Kau tahu apa yang dia katakan? Dia bilang dia sayang aku, dia cinta aku. Dia ingin menjadi suami untukku juga ayah dari bayi ini. Bukankah itu tidak masuk akal?" tambah Medina.


"Wow.. Thats good, berarti Ray benar-benar gentle dengan berani mengungkapkan semua padamu bahkan mengajakmu menikah. Tunggu apa lagi Me? Menikahlah dengan dia,"ucap Kia senang.

__ADS_1


"Gila kamu Ki. Aku dengan dia dipenuhi dengan ketidakmungkinan Ki. Mau dibuang kemana tunangannya itu?" kata Medina yang kini melipat celana.


"Me, berhenti pikirkan orang lain, selagi Ray belum berubah pikiran kamu ambil saja kesempatan ini. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Kalau aku jadi kamu aku akan terima dia. Kurang apa dia coba? Adakah lelaki lain yang akan mau menerimamu dalam kondisi yang seperti ini? Aku rasa tidak. Dia dengan tulus menyayangimu yang dalam kondisimu sedang hamil Me. Jangan sampai kamu menyesal," nasehat Zaskia mencoba meyakinkan Medina. Medina terdiam dan terlihat termenung.


"Lebih baik kamu pulang minta restu pada bunda dan menikah dengan Ray. Jangan mempersulit keadaan," nasehat Kia.


"Kenapa diam saja?" tanya Zaskia memandang Medina yang mengerutkan kening.


"Menurutmu Ray benar-benar mencintaiku?" tanya Medina pada Zaskia.


"Yes, Iam sure."


"Tapi aku rasa tidak, dia tiba-tiba datang dan memberi perlindungan padaku yang sedang ditekan oleh Gibran. Aneh kan? Aku merasa dia bukan sayang tapi hanya semacam peduli," kata Medina keras kepala.


"Eits tunggu, apa kamu bilang? Gibran? Jadi lelaki brengsek itu masih berani menemuimu?" tanya Zaskia geram hingga meremas tangannya.


"Mbak Kia," panggil Laila pekerja di butik Kia.


"Ya,ada apa La?" tanya Zaskia tak jadi melanjutkan kemarahannya menyangkut Gibran.


"Huhhh ...." Zaskia geram karena pembicaraannya dengan Medina terganggu. Ia pergi meninggalkan Medina dan berbjcara dengan rekan bisnis melalui telepon.


"Assalamualaikum." Seorang laki-laki paruh baya menyapa Medina yang kini sendirian.


"Waalaikumsalam, " jawab Medina.


"Maaf saya ingin bertemu dengan Nona Medina," kata lelaki itu lagi.


"Ya dengan saya sendiri Tuan, maaf ada perlu apa ya?" tanya Medina keheranan.


"Nona, kalau anda tidak keberatan mari kita berbincang di kafe depan, ada sedikit hal yang ingin saya sampaikan," pinta lelaki itu.


"Sebentar ya Tuan, saya minta izin dengan atasan saya dulu," kata Medina yang kemudian mencari keberadaan Zaskia. Namun Zaskia sedang sibuk menelepon klien. Karena tak mau mengganggu akhirnya Medina pergi tanpa pamit.


"Mari Tuan," ajak Medina sopan. Dalam hati Medina bertanya-tanya apa sebenarnya mau lelaki tua itu.

__ADS_1


"Saya tahu anda sekarang sedang mengandung anak dari Gibran. Dan saya juga tahu tentang rekayasa hubungan anda dengan laki-laki itu. Saya tahu anda tidak mempunyai ikatan pernikahan dengan siapapun," kata Ilham menggantungkan kata-katanya. Medina hanya menatap tajam lelaki tua itu.


"Maaf saya tahu ini bukan urusan saya dan tak semestinya saya untuk ikut campur. Saya hanya peduli pada cucu saya yang tengah anda kandung. Saya mempunyai hak atas anak ini," kata Ilham menyambung kata-katanya.


"Maaf Tuan? Hak apa yang anda maksud?Anda ataupun Gibran tak punya hak apa pun terhadap anak yang sedang saya kandung. Ini anak saya bukan anak Gibran," kata Medina marah.


"Saya tahu seorang ayah tak punya hak atas anak tanpa menikah. Sebab anak di luar nikah akan dianggap sebagai anak yang tidak berayah. Tapi saya akan melakukan tes DNA, untuk membuktikan bahwa anak ini adalah cucu saya. Jika terbukti benar, saya akan membawa ke jalur hukum demi hak asuh anak ini. Pikirkan Nona, saya memiliki segalanya dengan mudah bisa mengambil anak ini dari tangan anda. Dan anda akan kehilangan segalanya. Tapi akan berbeda jika anda mau menikah dengan Gibran. Hidup kalian tentunya akan lebih terjamin," bujuk ayah Gibran dengan ancaman-ancamannya.


"Bagaimana saya bisa menikah dengan lelaki yang sudah menghancurkan hidup saya, Tuan?" tanya Medina sedikit tersulut emosi karena ancaman papa Gibran.


"Itu pilihan anda Nona, kalau saya jadi anda lebih baik memberikan bin Gibran pada nama anak anda nanti daripada harus memberikan bin Abdullah. Anda juga tahu kan? Anak di luar nikah yang tidak berayah akan menjadi bahan ejekan orang lain? Anda mau hal itu terjadi?" bujuk ayah Gibran lagi. Medina berpikir dan sedikit membenarkan ucapan Ilham.


triririring


"Halo, iya aku sedang di luar," jawab ayah Gibran.


"Apa? Pingsan? Oke aku akan segera ke sana." Suara Ilham yang sedikit berteriak membuat Medina dan pengunjung lain melihat ke arahnya.


"Medina, jika kamu percaya pada kesempatan kedua. Ikutlah saya kerumah sakit," kata Ilham beranjak dari duduknya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa beri like, komentar dan vote. Salam sayangku selalu untuk pembaca setia 😘😘


__ADS_2