Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Mengejar Cintamu


__ADS_3

Haura menginjakan kaki di kampungnya dengan perasaan yang hancur. Sesungguhnya ia tak menginginkan semua ini. Sesungguhnya ia tak ingin jauh dari ayah bayinya. Tapi ia terpaksa, dengan penuh luka menganga meninggalkan pria yang sangat ia cintai. Dan kini ia bingung harus bagaimana mengatakan pada ayahnya. Haura bimbang dan gamang. Namun tak ada jalan lain, dan hanya rumah ayahnya tempat ia kembali.


"Eh, Ra. Kamu datang, Nak?" tanya Ibrahim menyambut kedatangan putrinya. Haura segera mencium tangan ayahnya.


"Mana suamimu?" tanya Ibrahim mencari-cari keberadaan Adam.


"Yah, Rara penat. Rara ke kamar dulu ya?" pamit Haura tak menghiraukan pertanyaan Ibrahim.


Haura segera masuk ke rumah dan ke kamarnya. Ia mengunci pintu dari dalam. Ibrahim yang khawatir dengan putrinya segera menyusul.


"Ra ...." Ibrahim mengetuk pintu kamar Haura perlahan.


"Ra, Ayah tidak tahu ada masalah apa. Tapi sebisa mungkin selesaikan baik-baik Ra. Istigfar Nak." Hening, tak ada jawaban dari mulut Haura. Hanya ada tangis tanpa suara di dalam kamar itu. Haura menangis sejadi-jadinya.


"Baiklah Ra. Mungkin kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Pikirkan baik-baik Nak. Apa yang sudah kamu pilih dan putuskan sudah benar apa belum? Apakah ini yang terbaik untukmu? Baiklah Ra, tenangkan dirimu. Ayah tak akan mengganggu."


Sementara itu Hana Dan Fauzan saling memberi kode, mempertanyakan keadaan kakak sulung mereka. Baru kemarin lusa kakaknya berbahagia, kini datang dengan air mata. Namun, kedua anak belia itu juga tak tahu jawabannya.


***


Siang itu Hana dan Fauzan tengah menonton televisi. Dan mereka langsung berteriak karena sebuah berita yang ditayangkan. Hana sampai berlari dan menarik tangan kakaknya yang tengah memasak di dapur.


"Ada apa sih Han?"


"Sebentar saja Kak. Ikut Hana."


"Kakak sedang menggoreng ikan. Bagaimana kalau gosong?" protes wanita itu karena tangannya ditarik paksa oleh adiknya.


"Ikut saja Kak. Nanti biar Hana tengokkan ikannya." Akhirnya Haura hanya bisa mengikuti keinginan Hana. Dan betapa terperanjat ia ketika melihat berita dalam televisi itu. Hingga Haura mematung bercucuran air mata.


"Malam tadi ditemukan sesosok mayat perempuan berinisial I dalam kondisi hamil di sebuah rumah mewah kawasan X, Bandung. I ternyata adalah seorang foto model yang baru-baru ini terlibat skandal dengan pimpinan AH Grup. Dan I menjadi topik panas di berbagai media selama beberapa hari ini. Dan polisi mengungkapkan bahwa pelaku pembunuhan itu adalah kekasih korban. Seorang fotografer. Bayi yang dikandung model itu juga tidak dapat diselamatkan. Dan hal yang mengejutkan adalah, jika bayi yang dikatakan sebagai bayi dari pengusaha terkenal dari AH Grup itu sebenarnya adalah anak dari fotografer tersebut. Penyelidikan masih terus dilanjutkan. Dan menurut hasil penyelidikan sementara mengatakan jika pelaku mengalami gangguan Jiwa. Dan seorang laki-laki yang menjadi saksi masih shock dan belum bisa dimintai keterangan."


Tubuh Haura luruh. Ia menangis sejadi-jadinya. Perasaan lega dan juga bersalah menyelimutinya. Lega karena ternyata suaminya tidak bersalah. Dan merasa bersalah karena sempat meragukan Adam.


"Kak, Kak Adam tidak bersalah. Semua ini hanya fitnah Kak," ucap Hana mengelus lengan kakaknya yang menangis.


"Kak, lebih baik Kakak kembali ke Bandung. Kasihan Kak Adam. Ia pasti sedih karena kakak meninggalkannya. Kak Adam pasti sangat terluka karena Kak Rara tak mempercayainya." Bertambah-tambah tangis Haura karena ucapan Fauzan yang benar adanya.

__ADS_1


"Nak, sudah jangan menangis lagi. Semua sudah jelas sekarang. Suamimu tak bersalah. Lebih baik kamu pulang besok saja pagi-pagi, .karena hari sudah siang. Kembalilah pada suamimu, minta maaflah padanya." Haura menghambur memeluk Ibrahim, meluapkan semua penyesalannya. Andai ia bisa percaya Adam sedikit saja. Tak perlu ia menanggung sakit dan rindu yang mendalam.


***


Dengan langkah tergesa wanita itu menaiki tangga. Namun hanya keheningan yang menyapanya, rumah yang luas itu tak berpenghuni. Haura mencari ke seluruh sudut ruangan, tapi tetap saja. Hampa yang ia dapatkan.


Ia meraih ponsel dari tasnya dan menghubungi kantor Adam. Tetapi hanya jawaban tak memuaskan yang ia dapatkan. Ardi, yang merupakan sekretaris Adam mengatakan jika lelaki itu sudah cuti dari seminggu yang lalu. Ardi juga berkata jika ia tak tahu-menahu perihal keberadaan Adam..


Tanpa pikir panjang wanita itu lari ke luar rumah. Menghentikan taksi yang kemungkinan lewat depan rumah. Namun setengah jam menunggu, tak satu pun taksi menghampirinya. Maklum saja, rumah mereka berada di kawasan elit dan jarang dilalui taksi. Haura mengambil ponselnya kembali dan menghubungi taksi online. Hatinya begitu lega setelah taksi datang. Tanpa membuang waktu, ia naik taksi dan menuju rumah mertuanya.


Setelah sampai di rumah mertuanya, Haura berlari kecil memasuki pekarangan, dengan tak sabar mengetuk pintu rumah. Hingga akhirnya sang mertua datang membukakan pintu untuk dirinya.


"Ma." Haura menangis memeluk Medina.


"Sayang, kapan datang?"


"Baru saja Ma. Tapi Mas Adam tidak ada di rumah Ma. Apa Mas Adam ke sini?"


"Sini masuk dulu Nak. Kamu pasti lelah."


"Mah, bawakan dua minuman dingin."


"Kamu apa kabar sayang? Cucu Mama baik-baik saja kan?"


"Iya Ma, Rara baik. Baby juga baik Ma. Ma, apa Mas Adam di sini?" Haura sudah tak sabar ingin bertemu Adam.


"Hah, tidak Nak. Adam tidak ada di sini."


"Lalu ke mana suami Rara, Ma?"


"Sebenarnya Mama juga tidak tahu Adam ke mana sayang. Setelah kepergianmu. Ia Menelepon Mama. Dan mengatakan jika sementara waktu ingin menenangkan diri. Dia menitipkan rumah pada Mama. Dan menyuruh Mama mengirim orang untuk bersih-bersih."


"Hiks, Mas Adam kamu kemana?"


"Apa kamu sudah berubah pikiran, sayang?"


Haura mengangguk," Iya Ma, Rara sudah mengetahui kenyataannya. Mas Adam tidak bersalah Ma. Rara berdosa karena sempat tidak percaya padanya."

__ADS_1


Medina mengelus rambut menantunya dengan sayang. "Sebentar ya Ra."


"Selamat pagi, Nyonya."


"Selamat pagi. Di, bagaimana keadaan kantor?"


"Semua sudah mulai kondusif lagi Nyonya. Saya rasa dalam seminggu ini keadaan sudah membaik seperti semula."


"Baguslah. Di, kamu tahu kan Adam ke mana?"


"Ah, eh ... maaf Nyonya. Pak Adam bilang saya tidak boleh memberitahukan perihal keberadaannya."


"Oh, jadi kepada saya yang 'MAMANYA' juga berlaku rahasia ya?" ucap Medina sarkas.


"Aduh, bagaimana ya Nyonya. Nanti saya dipecat."


"Tidak akan. Kamu bahkan akan mendapatkan bonus dari suami saya jika mau memberi info."


"Aduh, saya bingung."


"Kalau kamu bersedia memberi info, kamu akan berjasa untuknya. Karena sudah membantu mencegah kehancuran rumah tangga Adam."


"Maaf, apa Nyonya? Baiklah, saya akan mengirimkan lewat whatsapp." Ardi akhirnya mengalah. Medina tersenyum senang.


"Semua sudah beres, kan? Tinggal kamu yang berusaha untuk mengejar cinta suamimu, Nak."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Satu eps menuju ending. Mau part ekstra nggak? Nggak usah aja ya? Kasih ending manis, cukup kan?


__ADS_2