Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kembali Dengan Selamat


__ADS_3

Adam sangat bersyukur bisa kembali ke kampung Haura dengan selamat. Ia juga sangat berterima kasih pada Pak Ali yang sudah menyelamatkannya. Ia sangat bahagia, kini ia akan bertemu lagi dengan Hauranya. Ia sangat merindukan istrinya. Terbayang wajah cantik itu tersenyum manis menyambutnya. Hingga Adam senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Haura.


Namun senyum di wajah Adam menghilang ketika ia mengingat kalau Ibrahim mungkin tak akan mau menerimanya. Apalagi misinya kali ini gagal. Bahkan perahu yang ia sewa pun hilang entah ada kemana.


Adam menghela napas panjang. Berusaha untuk tetap tegar apa pun yang terjadi nanti. Ia akan berusaha untuk menerima keputusan mertuanya, namun Adam tak akan menyerah. Karena dalam hidupnya Haura lah yang paling utama.


Sejenak Adam berpikir lagi, ia sudah menghilang selama hampir seminggu. Akankah keluarganya menyadarinya? Apakah mertuanya mencarinya? Adam menjadi gundah, bagaimana jika Haura mengkhawatirkannya? Bagaimana jika wanita itu bersedih karenanya? Ataukah mungkin Ibrahim mengira ia sudah menyerah menjalankan misi, dan pergi dari kampung itu? Ah entahlah Adam akan segera mengetahuinya nanti.


Ditemani angin yang bertiup sepoi-sepoi dan diiringi gemerisik ombak, lelaki itu memejamkan mata. Bersyukur pada Allah masih diberi keselamatan. Mengingat bagaimana kuatnya badai besar menerpa tubuhnya. Ia masih bisa bernapas hingga saat ini adalah karunia dari Tuhan. Ia masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan istri tersayangnya.


Di sepanjang perjalanan, sesekali terbuka obrolan antara Adam dan Husein. Hingga tanpa terasa ia sampai di pesisir pantai tempat Haura tinggal. Adam segera turun dan mengucapkan rasa terima kasih pada Husein yang telah mengantarkannya. Tak lupa Adam menitipkan salam untuk Pak Ali dan Lilis yang selama ini sudah merawatnya.


Begitu perahu Husein menjauh, ia segera melangkah pulang ke rumah Haura. Ia sangat tak sabar bertemu dengan istrinya. Dadanya berdegup kencang, ingin segera memeluk istrinya. Dan entah bagaimana keadaan wanita itu? Apakah merindukannya atau tidak.


***


"Apa? Adam menghilang di tengah laut karena badai?" tanya Medina sangat shock mendengar apa yang dikatakan oleh Ibrahim. Ibrahim hanya bisa mengangguk. Rasa bersalah menyelimuti hati pria tua itu. Tubuh Medina bergetar mendengar kabar buruk itu, pantas saja seminggu ini perasaan Medina tidak enak. Ia asyik terpikir Adam yang berada di kampung Haura, dan firasat seorang ibu benar adanya. Ada hal buruk menimpa putra kesayangannya.


Setelah mendesak Ray untuk menyusul Adam di kampung tepi laut itu, akhirnya Ray bersedia mengantarkan istrinya ke kampung halaman Haura. Namun kabar buruk datang tanpa disangka, membuat hati wanita itu hancur lebur. Air mata mengalir di wajah wanita yang penuh rasa keibuan itu. Bagaimanapun kesalahan anaknya, tak adil baginya untuk kehilangan putranya.


"Sabar Me ... istigfar ...," ucap Ray menahan tubuh Medina yang melemas karena sangat terkejut. Ray pun tak kalah terkejutnya, tapi ia sebagai ayah dan suami harus kuat. Karena dirinyalah tempat bersandar anggota keluarganya. Yang harus tetap berkepala dingin dalam keadaan apa pun.


"Bagaimana ini bisa terjadi Mas? Dimana putra kita? Apakah dia baik-baik saja? Huhuhu ... Adam ... putra Mama. Dimana kamu, Nak?" Tangis Medina semakin menjadi. Sedangkan Haura yang menyaksikan tangis mertuanya semakin merana dan terluka. Ingin wanita itu ikut menangis bersama mertuanya, namun air mata bahkan sudah tak keluar lagi dari mata sembabnya.


"Me, kuatkan hatimu sayang. Ini semua sudah takdir Allah. Kita hanya hamba-Nya yang tak mampu berbuat apa-apa. Kita hanya bisa berdoa semoga di mana pun anak kita berada ia selalu dalam lindungan Allah. Demi putra kita kamu harus kuat. Lihatlah kondisi menantu kita. Kasihan dia Me. Kita sebagai orang tua harus lebih kuat. Beri kekuatan pada menantumu Me. Lihatlah! Betapa rapuhnya Haura. Tidakkah kamu iba?" bisik Ray berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Astagfirullahaladziim ...." Medina menghapus air matanya, berupaya mengumpulkan kekuatannya. Dengan dada kembang kempis wanita paruh baya itu mencoba menenangkan diri. Berusaha tegar apa pun yang terjadi.


Medina menatap Haura dengan rasa kasihan. Pasti menantunya lebih sedih dan terpukul di banding dirinya. Ia dapat melihat betapa rapuhnya menantunya itu. Medina mendekat ke arah Haura dan memeluk tubuh wanita itu erat-erat berusaha untuk memberi kekuatan pada menantunya. "Ra, yang sabar ya Nak?" Air mata Medina menetes lagi.


"Luapkan apa yang kamu rasa Ra. Menangislah, keluarkan air mata sebanyak yang kamu mau. Tapi ingatlah Ra. Ada Mama di sampingmu. Ada Mama yang juga merasakan kehilangan Adam. Kita hanya manusia Nak. Hanya bisa berdoa, semoga dimana pun suami kamu berada ia akan baik-baik saja. Kita doakan supaya Adam cepat pulang." Tangis Haura pecah kembali setelah mendengar ucapan Medina. Di dalam peluk nyaman seorang ibu ia meluapkan segalanya. Marah, kecewa, sedih, dan semua kesakitan yang ia rasakan semua ia keluarkan lewat air mata. Tangan kecilnya meremas baju yang dipakai mertuanya kuat-kuat. Semu orang yang ada di tempat itu iba melihat keadaan Haura selama hampir seminggu ini.


Sementara itu Ibrahim berusaha untuk meminta maaf pada Ray. Ia merasa sangat bersalah gara-gara dirinyalah semua musibah ini terjadi.


"Ray, Abang minta maaf ya. Karena keegoisan Abang, karena keangkuhan Abang semua ini terjadi." Tangis Ibrahim pecah seketika. Hampir seminggu Adam menghilang, dan baru kini lelaki tua itu bisa menangis. Meluapkan rasa bersalahnya yang begitu besar. Ia merasa dirinya adalah sumber dari malapetaka itu.


"Sudahlah Bang. Rasanya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Dan Ray seorang ayah dari anak perempuan juga. Jadi Ray tahu bagaimana perasaan Bang Baim. Bahkan mungkin jika Ray di posisi Bang Baim, belum tentu Ray sudi untuk memaafkan Adam."


"Maaf Ray ... maaf ...."


***


Adam berjalan tergesa menuju rumah mertuanya. Rasa rindu sudah menggunung dalam hatinya. Rindu pada sosok wanita ayu dengan senyum yang menenangkan. Haura, bidadarinya. Ia sangat merindukan istrinya hampir dua minggu ia tak bisa sekedar melihat batang hidungnya. Ingin ia mendekap wanita itu dalam peluknya.


"Eh, Mas Adam!" seru seorang warga terkejut melihat kedatangan Adam.


"Iya Bang." Adam menjawab disertai senyuman, berusaha untuk ramah pada tetangga Haura.


"Bukannya Mas Adam ...."


"Kenapa Bang Saif?" tanya Adam heran.

__ADS_1


"Bagaimana Mas Adam bisa selamat? Sudah seminggu ini kami kebingungan mencari Mas Adam."


"Apa Bang? Jadi semua orang kebingungan mencari saya?"


"Iya Mas. Kasihan istri kamu sangat terpukul. Ia menangis terus."


Deg


.


.


.


.


.


.


Readers tersayang, Minggu nanti Author pengen crazy up 10 episode gitu mau nggak?


Tapi nanti tiap partnya aku minta di ramein like dan komentar. Gimana setuju nggak?


Hehe maaf author maksa, tapi kalau ngga mau ya ngga papa hehe 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2