Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Pertolongan


__ADS_3

Maaf Haura, aku tak akan datang. Baru saja aku mendapat kabar dari kampus kalau aku harus datang besok. Jadi aku harus kembali ke Bandung hari ini juga. Selamat tinggal Haura.


Sebuah pesan singkat itu berhasil membuat hati Haura luluh lantak. Ia sudah menunggu selama satu jam lebih, dan kekasihnya hanya mengirimi ia sebuah pesan singkat mengabarkan bahwa ia tak akan datang. Kenapa tak sedari tadi saja mengatakannya? Kenapa harus membuat ia menunggu terlalu lama? Tak terasa air mata membasahi pipinya yang mulus. Hatinya begitu terluka.


"Kak ... Kakak," panggil anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun dari kejauhan menghampiri kakaknya yang masih duduk di pondok kecil itu. Haura sedikit terkejut dengan kedatangan adiknya.


Haura yang mendengar suara adiknya segera mengusap airmata yang membasahi wajah cantiknya. Ia tak ingin adiknya tahu kalau baru saja ia menangis. Haura mencoba bersikap sewajar mungkin agar adiknya tidak curiga.


"Ih kakak, Hana panggil dari tadi diam saja," kata adik Haura sedikit kesal.


"Ah, maaf Dek. Kakak tidak dengar tadi," kata Haura tersenyum.


"Kak, mari kita ke dermaga," ajak Hana.


"Mau ngapain ke dermaga Hana?" tanya Haura.


"Tadi, Hana dengar orang-orang membicarakan ayah, Kak. Hana dan Fauzan khawatir terjadi sesuatu. Jadi kami berpencar. Fauzan pergi ke dermaga duluan, dan Hana memanggil kakak kemari."


"Astagfirullah, kalau begitu ayo Dek! Cepat kita ke dermaga," ajak Haura dengan tergesa-gesa. Ia begitu khawatir terjadi apa-apa dengan ayahnya. Kesedihan yang tadi dirasakan Haura, seketika terlupakan karena kekhawatirannya pada keadaan ayahnya.


Mereka berlari menuju dermaga. Banyak warga yang berkumpul di sana. Entah apa yang terjadi, membuat Haura dan Hana semakin cemas.


"Mari kita papah ke sana," kata Ibrahim, ayah Haura. Terlihat ayah Haura dan seorang lagi nelayan memapah lelaki pingsan yang berusia sekitar lima puluh tahun. Ada sisa-sisa ketampanan di wajah lelaki paruh baya itu. Dilihat dari baju yang dipakai, sepertinya lelaki itu bukan warga desa. Kelihatannya orang itu cukup berada dilihat dari jam tangan mewah yang melekat di pergelangan tangan kirinya.


Lelaki itu dibaringkan di sebuah pondok kecil dekat dermaga. Ibrahim menekan dada pria tersebut dengan kedua tangannya. Berharap orang yang ditolongnya segera sadar.


Lelaki itu tersadar dan terbatuk-batuk. Ada sedikit air yang keluar dari mulut dan hidungnya. Semua orang yang berkerumun menghela nafas lega, lelaki itu masih hidup.


"Saya ada dimana?" tanya lelaki yang baru saja sadar itu. Kini lelaki itu sudah bisa duduk.


"Anda di kampung nelayan di daerah P Tuan," kata Ibrahim menjelaskan.


"Bagaimana saya bisa saya disini?" tanya lelaki itu linglung.


"Maaf, bapak namanya siapa? Darimana anda berasal?" tanya Ibrahim.


"Saya Ray. Saya tinggal di Bandung. Tapi saya tidak ingat kenapa saya bisa ada di sini," kata Ray memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Saya Ibrahim. Saya rasa anda harus di bawa ke rumah sakit," kata Ibrahim.


"Ah, tidak perlu. Saya merasa, saya baik-baik saja. Saya hanya butuh istrirahat," kata Ray lemah.


Hana dan Haura menerobos kerumunan dan mendekat ke arah ayahnya. Ia bernafas lega mendapati ayahnya dalam kondisi yang baik-baik saja.


"Apa yang terjadi Ayah?" tanya Haura khawatir.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak tanya! Kamu ambilkan saja handuk di perahu ayah di sana," perintah ayah.


Haura segera berlari ke perahu milik ayahnya dan mengambil sebuah handuk bersih. Segera ia berlari kembali ke ke tempat ayahnya berada.


"Cepat bantu paman ini menyeka wajahnya," perintah Ibrahim .


"Baik Ayah." Haura mendekati lelaki asing tersebut. Dengan gerakan lembut ia menyeka wajah dan leher Ray. Terlihat lelaki itu menggigil kedinginan dengan bibir membiru. Ray tak henti menatap wajah polos Haura.


"Pak Ibrahim. Terimakasih anda sudah menyelamatkan nyawa saya. Kalau anda tak menolong saya, mungkin saat ini saya sudah tidak ada di dunia ini lagi. Saya sangat berterimakasih dan berhutang budi pada bapak," ucap Ray sembari diselimuti Haura dengan sebuah handuk.


"Tuan Ray. Tak perlu anda berkata seperti itu, kita kan sesama umat muslim harus saling tolong-menolong. Saya ikhlas menolong anda. Anda tak berhutang apapun terhadap saya. Karena yang menyelamatkan anda adalah Allah Yang Maha Kuasa. Saya hanya kebetulan sedang ditunjuk untuk memberikan pertolongan lewat tangan saya," kata Ibrahim bijak.


"Tapi tetap saja Pak Ibrahim, saya sangat berterimakasih," kata Ray kembali memandang wajah Haura, putri Ibrahim dengan intensif. Gadis itu begitu telaten merawatnya.


"Sudahlah Tuan, tak perlu anda pikirkan lagi. Saya senang bisa menolong anda," kata Ibrahim.


"Nak, segera pulang dan masakkan air hangat untuk Tuan Ray mandi. Juga siapkan satu setel baju ayah yang bersih untuk Tuan Ray pakai," perintah Ibrahim pada putrinya. Hana dan Haura segera pulang ke rumah menyiapkan apa yang ayahnya suruh.


"Mari kita singgah ke gubuk saya dulu Tuan, sembari anda beristirahat sebentar," ajak Ibrahim.


Ray berdiri dengan hati-hati. Seluruh tubuhnya masih gemetaran.


"Anda kuat berjalan sendiri Tuan? Atau mau saya papah?" tawar Ibrahim.


"Tidak Pak Ibrahim, saya sudah cukup kuat."


Akhirnya dengan perlahan Ibrahim berjalan bersama Ray ke rumahnya.


Ray segera mandi, setelah Haura menyiapkan air hangat untuknya. Ia merasa lebih baik, tubuhnya yang semula lemas berangsur-angsur pulih.


Di rumah itu Ray di perlakukan dengan sangat baik. Layaknya keluarga sendiri. Ray sangat kagum dengan sosok Ibrahim yang baik hati dan tulus. Di tengah kemiskinan, ia masih peduli dan mau menolong orang lain. Terhadap Haura pun sama, Ray terkagum dengan sosok wanita ayu, sederhana dan baik hati itu.


"Mari Tuan Ray, kita makan dulu."


"Maaf ya Pak Ibrahim, saya jadi merepotkan anda," kata Ray tak enak hati.


"Sudahlah Tuan, anda tak perlu merasa begitu. Dan anda bisa panggil saya abang saja."


"Baiklah Bang. Abang panggil saya Ray saja."


"Oh iya, ini anak sulung saya, Haura. Dan yang kedua itu Hana. Dan anak bungsu saya namanya Fauzan. Kami tinggal berempat karena istri saya sudah lama meninggal dunia." Ibrahim mengenalkan anak-anaknya. Haura dan adik-adiknya segera menjabat tangan Ray dan menciumnya takzim.


"Maaf ya Ray, kami hanya punya ini. Maaf jika tak sesuai dengan selera kamu," kata Ibrahim setelah mereka mulai makan. Di hadapannya terhidang nasi dengan lauk ikan asin dan sayur asem.


"Ah, ini enak kok Bang. Terimakasih jamuannya," jawab Ray tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana kamu akan pulang Ray?"


"Aku sudah menelepon sopir, mungkin sedang dalam perjalanan kemari."


"Baguslah. Pasti keluarga kamu sangat khawatir. Sembari menunggu kamu bisa istirahat di kamar itu."


"Baik Bang, terimakasih banyak."


Ray bersyukur bertemu keluarga yang sangat baik seperti keluarga Ibrahim. Juga dengan pertolongan dari Allah untuknya. Karena ia tak tahu bagaimana jika ia menghilang, Medina pasti akan sangat khawatir.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sampai sini pasti #sudah ada yang bisa menebak siapakah jodoh Adam?😂😂😂


Stay terus ya..


.


.


.


Oh ya Readers tersayang, minta bantuan kalian dong.


Aku ada teman sesama author, tulisan dia rapi banget. Karyanya keren pokoknya. Nama penanya "Mayn Urr Izqi" karyanya "Bride "


Spoiler : Tentang Yogi dan Renata yang masih SMP saling jatuh cinta.Mereka masih kecil, jadi kisah cinta mereka masih cinta monyet dan tulus tanpa ada keinginan lain selain mencintai.


Mampir ya.. jan lupa..kasih like vote dan


kasih krisannya juga.

__ADS_1


terima kasih.


#writersupport


__ADS_2