
Dengan air mata berderai wanita itu meninggalkan putranya. Ia berjalan dengan sesekali menyeka air mata di pipinya yang mulai keriput karena menua. Karena terlalu larut dalam kesedihannya, ia tak menyadari keberadaan Ray di dekatnya.
"Ma!" panggil Ray.
Medina menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Barulah ia menyadari jika sedari tadi suaminya menyaksikan semuanya.
"Pa, maafkan Mama. Mama bukannya diam-diam ingin membela yang salah. Tapi ...." Medina takut jika Ray menganggap ia mendukung kesalahan yang Adam perbuat.
"Maafkan Papa, Ma." Ray mendekap erat tubuh Medina. Medina menjadi bingung.
"Bagaimanapun juga Adam anak kita. Maafkan Papa yang sudah berbuat kejam pada Adam. Tapi semua Papa lakukan agar Adam berubah."
"Iya Mama tahu, Pa."
"Sudah, jangan menangis lagi. Kita sebagai orang tua harus lebih kuat. Karena mereka masih sangat membutuhkan kita. Kita hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja. Dan akan ada jalan keluar, supaya rumah tangga anak kita baik-baik saja."
"Pa, apakah langkah yang kita ambil dengan merahasiakan semua ini dari Bang Baim sudah benar?" tanya Medina mulai tenang.
"Entahlah Ma. Papa juga bingung. Bagaimana dan apa yang harus Papa katakan pada Bang Baim? Dan bagaimana jika semua akan memperkeruh suasana dan menjadi semakin rumit?" ucap Ray.
"Sudahlah Pa, lebih baik kita jangan beritahu dulu."
"Baiklah mungkin nanti kalau keadaan sudah membaik saja kita memberitahukan pada Bang Baim ...," jawab Ray ragu. "Semoga ke depannya tak akan menjadi masalah serius karena kita memutuskan untuk menyembunyikan masalah ini," batin Ray.
***
Dua hari kemudian, semua anggota keluarga berbahagia karena Haura sudah diperbolehkan untuk pulang. Wanita itu kini sudah tenang dan bisa tersenyum. Luka di tubuhnya sudah pulih sepenuhnya. Walaupun entah bagaimana dengan luka yang tak terlihat. Namun, semua cukup bernafas lega, dan berharap ke depannya akan baik-baik saja.
Adam selalu datang ke rumah sakit di siang hari. Ketika Ray dan Medina tak ada. Ia akan melihat istrinya dari kejauhan dan pergi dalam kebisuan. Hingga tak ada orang yang menyadari kehadirannya. Adam cukup tahu diri, ia tak pantas berharap lebih. Hanya dengan melihat perkembangan kesehatan Haura yang semakin membaik bisa membuat sedikit bekurang rasa bersalahnya. Dan lega tentunya, wanita itu hidup dengan baik tanpanya.
Dan hari ini adalah hari kepulangan Haura. Rumah sudah dipersiapkan sedemikian rupa agar Haura nyaman tinggal di rumah barunya nanti. Mikha adalah orang yang paling sibuk dan gembira. Akhirnya rumahnya tak lagi sepi. Akan ada kakak iparnya yang akan menemani kesehariannya di rumah nanti.
__ADS_1
"Semua sudah Mikha?" tanya Medina pada putrinya yang tengah mengemas pakaian milik kakak iparnya ke dalam tas tenteng.
"Sudah Ma. Beres," ucap gadis itu dengan bangga.
"Baiklah, tinggal menunggu Papa menyelesaikan urusan administrasi kita bisa pulang."
"Nak, kamu mau kan tinggal di rumah Mama?" tanya Medina dengan lembut.
"I-iya Ma," jawab Haura ragu. Dirinya ingat bahwa masih punya kewajiban untuk mengurus suaminya. Karena ia masih istri sah Adam. Namun, wanita itu belum siap untuk bertemu dengan lelaki yang sudah membuat ia trauma. Jujur, ia masih takut pada lelaki itu. Mungkinbukan saat ini ia menyelesaikan semuanya. Ia butuh waktu untuk memulihkan hatinya dulu.
"Bagus, mulai saat ini kamu menjadi tanggungan Mama dan Papa. Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan jangan sungkan ya sayang. Anggap Mama dan Papa seperti orang tua kamu sendiri." Medina mencoba memberi semangat kepada Haura.
"Iya Ma, terima kasih. Maaf Haura selalu merepotkan."
"Sama sekali tidak merepotkan. Karena kami bahagia memiliki menantu salihah dan baik hati seperti kamu."
"Semua sudah siap?" Suara Ray yang baru datang memotong pembicaraan Haura dan Medina.
"Em ... sudah, akhirnya kita bisa pulang. Bisa tidur di kasur yang luas, dan tidak perlu menghirup bau obat-obatan menyengat seperti ini lagi," ucap Ray sedikit ragu. Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu.
"Sini tasnya biar Papa yang bawa. Kalian bantu Rara berjalan sampai di parkiran. Atau kamu mau duduk di kursi roda saja, sayang?" tawar Ray penuh perhatian.
"Eh, nggak perlu Pa. Rara ingin berjalan. Tubuh Rara terasa kaku semua. Lima hari hanya tiduran di ranjang saja," ucap gadis itu tersenyum.
"Oke baiklah. Biar nanti Mama dan Mikha membantumu."
Rara bahagia dan bersyukur karena memiliki keluarga yang baik hati dan sangat menyayanginya.
"Oh iya, kamu sudah mengabari Nak Elsa kalau pulang hari ini, Sayang?" tanya Medina.
"Sudah Ma. Tapi siang ini Elsa sibuk, tak dapat datang ke sini."
__ADS_1
"Oh begitu, biarlah. Bilang saja sama Nak Elsa suruh main ke rumah."
"Iya Ma."
"Sudah semua kan? Mari kita pulang!"
Akhirnya keluarga itu meninggalkan rumah sakit dengan bahagia. Medina dan Mikha mengapit Haura yang masih sedikit lemah berjalan menuju parkiran. Di belakangnya Ray mengikuti dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
Flashback on
"Sus, saya mau membayar tagihan rumah sakit pasien kamar 305 atas nama Haura Nadzifa."
"Sebentar ya Pak. Saya cek dulu," ucap Suster itu dengan ramah.
"Maaf Pak, tagihan atas nama Nyonya Haura Nadzifa pasien Kamar Tulip 305 sudah dibayar lunas," jawab suster itu setelah beberapa menit mengecek dalam sistem komputer.
"Tapi saya tidak merasa sudah melunasinya Sus. Coba suster cek sekali lagi. Siapa tahu ada yang salah?" tanya Ray bingung sekaligus tak percaya. Ia harus memastikannya agar tidak ada kekeliruan.
"Baiklah akan saya cek sekali lagi Pak." Beberapa menit petugas rumah sakit itu mengecek lagi tagihan milik Haura, tak lupa ia menge-print bill tagihan itu agar Ray percaya.
"Ini Pak. Saya pastikan tidak ada kekeliruan. Bill tagihan ini memang sudah dibayar satu jam yang lalu."
"Maaf, bolehkah saya tahu siapa yang sudah melunasinya?" tanya Ray.
"Maaf Pak. Kami tak dapat memberikan informasi apa pun. Karena orang itu yang meminta untuk merahasiakannya."
"Kalau begini bagaimana saya bisa menerima uang dari seseorang yang bahkan saya tak tahu siapa?" protes Ray tak terima.
"Maaf Pak, kami tidak tahu menahu. Yang pasti tagihan sudah lunas dan Nyonya Haura sudah diperbolehkan pulang. Ini bill beserta obat Nyonya Haura. Obat mohon dihabiskan dan jadwal kontrol sudah tertulis jelas di bill tagihan lembar paling belakang. Terima kasih." Ray tak bisa lagi mendesak suster itu untuk memberi tahu. Akhirnya Ray menyerah untuk mencari tahu siapa yang sudah membayarnya. Namun, dalam hatinya yakin hanya ada satu orang yang akan melakukannya.
"Apakah Kamu yang melakukannya Nak? Semoga kamu tidak perlu berpisah dengan Haura. Semoga keadaan ini dapat diperbaiki. Doa Papa selalu yang terbaik untuk kalian," batin Ray penuh harap.
__ADS_1
Flashback off