Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Tidak Satu Orang pun Percaya Padaku


__ADS_3

"Assalamualaikum, iya Ma. Ini Papa bersama Adam."


"...."


"APA?"


"Ya sudah, Papa dan Adam akan segera pulang. Assalamualaikum." Ray mematikan panggilan telepon.


"Ayo pulang. Kita selesaikan apa yang sudah kamu perbuat."


"Pa, apa maksudnya? Lalu media bagaimana?"


"Perseetan dengan media. Karena sekarang istrimu ada di rumah Papa," jawab Ray kesal. Adam terpukul mendengar perkataan Ray.


"Ya Allah apakah Haura sudah tahu? Bagaimana keadaannya? Kenapa cobaan untuk kami tak kunjung habis?" Adam mengacak rambutnya hingga berantakan. Dapat ia pastikan jika Haura sudah mengetahui semuanya.


Sepanjang perjalanan, Adam gugup. Berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengkhawatirkan nasib rumah tangganya. Sungguh ia tak ingin Haura meninggalkannya. Bagaimana dia menjelaskan pada Haura, agar wanita itu percaya.


***


"Ra, katakan Nak. Apa maksud semua ini? Kenapa kamu menangis?" Medina memeluk menantunya erat-erat. Baru saja kemarin mereka berbahagia, kenapa kini menantunya datang dengan membawa koper besar dan dalam keadaan menangis. Sungguh Medina sangat mengkhawatirkan anak dan menantunya itu.


"Ma, aku ingin bercerai!"


"Apa maksudnya ini Nak? Ada masalah apa? Coba selesaikan baik-baik. Tidak baik dalam rumah tangga dengan mudah mengucapkan kata cerai."


"Ma, Rara harus bagaimana?" tangis wanita itu semakin menjadi.


"Ra, tenanglah Nak. Kasihan bayi kamu."


"Ma, ta-tadi pagi Rara ke rumah sakit. Dan di sana Rara bertemu dengan Isabella." Haura menghentikan ceritanya, seolah tak sanggup untuk menyelesaikan semua kata-katanya.


"Lalu?"


"Kami bertemu di ruang tunggu obgyn Ma. Perut Isabella buncit, mungkin usia kehamilannya delapan atau bahkan memasuki sembilan bulan."


"Terus kenapa Nak? Apa yang dikatakan wanita itu?"


"Dia ... dia bilang ... bilang kalau bayi yang ia kandung adalah anak Mas Adam."


"Astagfirullahaladzimm ...." Medina menutup mulutnya karena terkejut.

__ADS_1


"Dia menangis Ma. Dia menangisi anaknya yang tak punya ayah."


"Ra, tenanglah dulu Nak. Kamu yakin Isabella tidak berbohong?"


"Bagaimana bisa seorang ibu berbohong tentang anaknya, Ma? Bagaimana bisa wanita yang penuh air mata itu berbohong? Hati Haura saja seperti disayat ketika melihat penderitaannya."


"Tunggu Nak. Jangan gegabah." Medina meraih ponselnya dan menelepon Ray.


"Waalaikumsalam. Papa masih di kantor?"


"...."


"Pa, pulang sekarang! Ajak Adam sekalian. Haura ke sini dalam kondisi menangis."


"....."


"Waalaikumsalam wr. wb." Panggilan diakhiri dan Medina meletakkan ponselnya di meja.


"Tenang dulu ya, sayang. Tunggu Papa dan Adam pulang."


"Apa? Mas Adam ke sini? Rara tak ingin lagi melihat wajah Mas Adam."


"Jangan begitu sayang. Kita harus menyelesaikan semua secara baik-baik. Kita tunggu dulu ya Nak. Kita dengar penjelasan suamimu."


"Ya Allah Nak. Maafkan putra Mama. Maafkan Nak, tapi semoga semua ini hanya fitnah. Semoga semua ini tidak benar." Medina memeluk Haura dengan penuh penyesalan. Menyesal karena putranya berkali-kali menorehkan luka di hati istrinya.


***


"Assalamualaikum," ucap Adam dan Ray yang baru datang secara bersamaan.


"Sayang, kenapa menangis?" Adam berlutut di hadapan Haura. Wanita itu memalingkan wajah tak sudi menatap suaminya. Tangannya yang digenggam Adam, juga ia tarik secara paksa. Hati Adam serasa diremaass mendapatkan penolakan dari istrinya.


Ray dan Medina hanya bisa mengamati, itu masalah rumah tangga anak mereka. Tak selayaknya mereka terlalu ikut campur.


"Mas, aku ingin kita bercerai." Ucapan Haura seperti petir di telinga Adam.


"Ra, kenapa bicara begini? Bukankah sampai pagi ini kita baik-baik saja?" ucap Adam dengan nada bergetar. Sumpah demi apa pun laki-laki itu tak ingin mendengar kata-kata itu seumur hidupnya.


"Mas Adam yang kenapa? Mas membohongi Rara. Iya kan Mas? Kamu membohongiku kan?"


"Bohong apa, sayang?"

__ADS_1


"Mas menipuku. Mas bilang kalau ponsel Mas Adam rusak. Padahal tidak kan? Mas hanya tidak ingin Rara mengetahui semuanya kan?"


"Mengetahui apa Ra?" Adam belum ingin mengaku.


"Mengetahui jika Isabella hamil dan anak yang Isabella kandung adalah anak Mas Adam."


"Tidak Ra. Anak itu bukan anak Mas."


"Apa Mas Adam yakin?" Adam terdiam membisu, meragu.


"Lihatlah Mas, bagaimana aku bisa percaya jika kamu sendiri juga ragu. Aku ingin segera mengurus perceraian kita."


"Tidak Ra, jangan tinggalkan aku Ra. Aku sangat mencintaimu." Adam memeluk kaki Haura, enggan melepaskannya. Adam memohon agar wanita itu tetap tinggal.


"Lepaskan Mas. Nikahi Isabella. Bayi itu tidak berdosa. Kasihan jika harus menanggung kesalahan kalian."


"Lalu bagaimana dengan bayi kita?" Adam menangis, tak mampu lagi menahan air matanya. Medina juga ikut menangis, tak sanggup melihat pemandangan yang menyedihkan di hadapannya.


"Biar aku yang merawat bayi ini. Lupakan aku dan anakku. Anggap saja kami tidak pernah ada dalam kehidupanmu. Lupakan jika kamu pernah mempunyai istri seperti aku. Dan bayi ini anakku sendiri. Bukan anakmu." Haura pun sama sakitnya mengucapkan kata-kata tajam itu. Tapi ia tak ingin lemah hati, suaminya sudah berbuat salah dan harus menanggungnya. Haura berpikir jika Adam harus menikahi Isabella.


"Tidak, jangan bicara seperti itu! Bayi ini anak Mas juga. Mari kita rawat bersama-sama. Seperti janji kita akan bersama selamanya. Mas tidak bisa hidup tanpa kalian. Please, kamu percaya pada Mas. Biarkan aku membuktikannya dulu Ra."


"Maaf Mas, Rara tidak bisa. Keputusan Rara sudah bulat. Rara ingin kita segera bercerai." Haura berdiri dan berniat pergi meninggalkan rumah mertuanya. Adam tertunduk lesu dalam tangis.


"Nak, tidak bisakah kamu tetap di sini? Jika kamu tidak ingin bertemu suamimu tidak apa. Mama yang akan merawat kamu. Jangan pergi sayang, jangan jauhkan kami dari cucu kami." Kini Medina tak tahan untuk tidak ikut campur. Dengan menangis, Medina memohon kepada Haura agar tetap tinggal.


"Maafkan Rara Ma. Rara tidak bisa. Rara tidak bisa lagi bertemu dengan putra Mama. Rara ingin pergi jauh, ingin melupakan semua luka ini. Tapi Mama dan Papa tetap orang tua Haura. Juga nenek dan kakek dari bayi Haura. Jadi pintu rumah Rara akan selalu terbuka untuk kalian. Rara akan pulang ke kampung. Tempat yang paling cocok untuk Haura."


"Ra ...." Medina semakin tersedu.


"Ma, Pa. Rara pamit. Rara mohon maaf jika Rara pernah menyakiti hati kalian. Maafkan jika pernah ada salah silap kata yang terucap. Dan mohon halalkan makan dan minum Rara selama Rara menjadi menantu kalian. Rara pergi Ma, Assalamualaikum." Haura menarik koper miliknya dan berniat untuk pergi dari rumah itu.


"Ya Allah bagaimana ini? Pa, tolong hentikan menantu kita."


"Shhh, Ma. Sabar, istigfar. Semua sudah menjadi keputusan menantu kita. Kita harus menghormatinya."


"Haura ...." Medina menangis melepas kepergian menantunya.


"Rara, kenapa kamu meninggalkan aku? Kenapa kamu tidak mau mempercayaiku? "


"Puas kamu Dam. Puas." Medina memukul dada putranya.

__ADS_1


"Sudahlah Dam. Kamu pergi saja dari sini. Papa sudah tidak bisa lagi untuk mempercayaimu."


"Kenapa? Kenapa tidak ada satu orang pun yang mempercayaiku dan mendukungku?" Adam berdiri dan berlari keluar rumah tanpa pamit.


__ADS_2