Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Dia Tetap Putraku


__ADS_3

Pria itu berjalan dengan lemas menyusuri koridor rumah sakit, setelah mendengar semua perkataan ayahnya. Pikirannya kosong, putus harapannya. Wanita itu benar-benar tak ingin bertemu dengannya. Bahkan mungkin membencinya. Adam tak yakin, jika rumah tangganya masih dapat dipertahankan.


"Kasihan ya pasien yang ada di kamar 305 itu? Baru saja tenang, sudah depresi lagi. Aku dengar dia mencoba bunuh diri karena diperkosa sama suaminya. Parahnya waktu masuk rumah sakit, seluruh tubuhnya lebam. Katanya karena disiksa suaminya sendiri. Kejam sekali lelaki itu." Terdengar dua orang perawat di bagian resepsionis mengobrol karena suasana yang cukup lengang.


"Iya Ren, kamu benar. Mereka kan suami istri kenapa suaminya tak meminta haknya secara baik-baik ya? Bayangkan perasaan wanita itu. Diperkosa, disiksa juga. Baru tenang, eh orang yang sudah memperkosanya datang. Apa nggak histeris? Entah bagaimana kehidupan wanita itu. Mungkin luka yang ia terima dan luka yang ia sayat itu akan pulih dengan cepat. Tapi lain dengan hatinya. Bagaimana jika ia trauma? Banyak kan yang mengalami Genophobia karena imbas dari PTSD?"


"Iya Fik, kasihan sekali. Parahnya ada yang hanya disentuh saja ia akan histeris dan ketakutan. Ya, semoga wanita itu tidak separah itu dan segera membaik. Kasihan juga mertuanya yang terlihat penat bolak balik rumah sakit."


"Tapi setidaknya wanita itu sedikit beruntung karena memiliki mertua dan keluarga suami yang baik banget."


"He-em, anak SMA yang manis itu juga terlihat sangat menyayangi iparnya."


"Semoga saja ia dapat segera sembuh dari phobianya dengan dukungan orang terdekatnya."


Percakapan kedua perawat itu terdengar jelas di telinga Adam. Ternyata sebegitu dalam luka yang di derita oleh istrinya. Sampai-sampai istrinya yang salihah tak tahan hingga mencoba mengakhiri hidupnya.


Bagai sebuah palu godam menghantam dadanya. Kenyataan yang baru saja ia dengar dari para petugas rumah sakit yang bahkan tidak pernah sekali pun terucap dari bibir kedua orang tuanya menghantam dirinya. Terasa sangat menyakitkan. Sekejam itukah dirinya? Nyatanya malam itu ia memang seperti hewan buas yang memangsa Haura tanpa ampun.


"Benarkah Ra? Sedalam inikah rasa sakit yang sudah aku berikan? Seberapa remuk hatimu atas perbuatan bej*t yang telah suami lakn*tmu ini lakukan?" Adam semakin linglung ketika kenyataan pahit ini ia dengar.


"*Mungkin benar kata Papa, aku harus melepasmu Ra. Tapi maaf Ra, selamanya mungkin aku tak akan pernah bisa menjatuhkan talak padamu. Mulutku tak akan pernah bisa mengucapkannya. Karena aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Sebaiknya aku pergi. Aku akan menjauh darimu. Sebelum aku menambah kelukaan hatimu."


"Maafkan suami breng**kmu ini Ra. Semoga dengan aku menjauh kamu akan lebih bahagia. Maafkan aku yang pengecut ini, yang belum bisa melepaskanmu. Selamat tinggal Ra, aku pergi*."


Air mata Adam jatuh berderai. Hancur sudah segalanya, hanya karena sebuah kekhilafan satu malam. Kini rumah tangganya di ambang perpisahan.


"Adam ...." Sebuah suara yang terdengar lirih mampu menghentikan tangisan Adam sejenak dan menoleh ke sumber suara.


Flashback on

__ADS_1


"Semoga setelah ini semua akan membaik ya Pa," ucap Medina yang kini bergandengan tangan dengan suaminya menuju parkiran.


"Iya Ma, semoga Haura segera pulih seperti sedia kala. Entah bagaimana Papa mempertanggung jawabkan semua di hadapan Bang Baim jika sampai terjadi sesuatu pada putrinya."


"Shhhh ... Papa tidak boleh berbicara seperti itu. Menantu kita akan baik-baik saja Pa. Walau Mama tak tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan rumah tangga anak Mama nanti. Mungkin terdengar egois, tapi Mama berharap mereka tidak akan pernah berpisah. Banyak pengaruh baik yang sudah Haura bawa untuk Adam kita. Mama melihat banyak sekali perubahan pada putra kita. Mama juga sudah terlanjur sayang pada menantu kita ...."


"Iya Ma. Papa juga berharap begitu. Tapi kita tidak boleh egois Ma. Jika Haura sudah pulih nanti, biarkan dia sendiri yang memutuskan. Akan bertahan atau berpisah. Sebagai orang tua kita hanya bisa mendukung. Tapi untuk sementara sebaiknya kita jangan bahas hal ini dulu. Kita fokus pada kesembuhan menantu kita dulu Ma."


"Iya Pa, Mama juga berpikir begitu."


Karena asyik mengobrol, tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di parkiran. Dan kini mereka sudah berdiri di dekat mobilnya. Ray merogoh saku celananya mencari kunci mobil. Namun, tak dijumpainya benda itu dimana pun.


"Kenapa Pa?" tanya Medina yang melihat Ray sibuk mencari sesuatu di saku celananya dan tak segera membuka pintu mobil.


"Aduh, kuncinya mungkin tertinggal di meja tadi Ma. Coba periksa di tas Mama ada nggak? Siapa tahu Papa lupa dan meletakkanmya disitu," perintah Ray.


Medina segera mengorek isi tasnya, mencari kunci itu. Sayang benda itu tidak ada juga.


"Nggak ada Pa. Mungkin benar tertinggal di sana. Mama telepon Mikha ya? Biar dia yang mengantarkan kuncinya ke sini." Medina mengambil ponselnya bersiap menghubungi putrinya.


"Nggak usah Ma. Kasihan nanti Rara sendirian. Mama tunggu saja di sini, biar Papa yang kembali mengambilnya. Tunggu sebentar ya Ma. Papa nggak akan lama kok." Setengah berlari pria itu meninggalkan parkiran untuk kembali ke ruang rawat.


"Aduh ada-ada saja. Kasihan Papa pasti capek," ucap Medina memandang punggung Ray yang menjauh dengan rasa iba. Semalaman penuh lelaki itu menjaga menantunya. Pasti rasanya sangat melelahkan harus kembali ke lantai tiga.


Dua puluh menit menunggu Medina mulai gelisah karena suaminya tak kunjung kembali. Medina mulai berpikir buruk, jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk.


Medina merogoh ponselnya menghubungi nomor Ray. Namun, panggilan terhubung ke voice mail menandakan ponsel suaminya tak aktif. Medina baru ingat jika baterai Ray habis. Pun ketika ia mencoba menghubungi Mikha, gadis itu tak mengangkatnya. Membuat Medina semakin gusar dan tak sabar hanya berdiam diri menunggu.


Medina yang khawatir memutuskan untuk menyusul suaminya ke kamar menantunya. Dalam hati selalu berdoa agar tak ada sesuatu yang buruk terjadi.

__ADS_1


Flashback off


Dan di sinilah Medina berada. Di depan meja resepsionis melihat Adam tengah menangis. Membuat hati Medina tercubit. Bagaimanapun kesalahan dan kelakuan Adam, pria itu tetap putranya. Darah dagingnya yang ia kandung selama sembilan bulan dan ia susui selama dua tahun. Medina tak bisa lagi hanya mengabaikan putranya. Ia ingin berperan sebagai ibunya menenangkan hatinya.


Medina mendekat dan memanggil putranya," Adam ...."


"Ma-Mama" jawab Adam masih menangis. Mengabaikan puluhan mata yang menatapnya keheranan dengan intens.


Medina menangkup wajah putranya. Dipandanginya wajah tampan lelaki yang sudah ia besarkan dengan seluruh cinta dan jiwa raganya. Kini wajah itu terlihat lebih kurus dan tak terawat. Mata pria itu terlihat cekung dan menghitam. Jambang yang berantakan menghiasi pipi putranya. Membuat Medina iba, putranya juga tak baik-baik saja. Dengan menggunakan ibu jari, wanita itu menghapus air mata yang masih setia menuruni wajah tampan itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


PTSD (Post-traumatic stress Disorder)


Genophobia ( Perasaan takut untuk berhubungan sek***l)

__ADS_1


Uh, bagaimana ya akhirnya? Bersatu? Berpisah?


__ADS_2