Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Cerita Tentang Masa Lalu


__ADS_3

Tok tok tok


Medina mengetuk pintu kamar Haura dengan perlahan. "Haura, sayang? Buka pintunya Nak. Mama bawakan makanan," ucap Medina gelisah karena sepulang dari mall gadis itu mengurung diri dan tak keluar untuk makan malam. Padahal hari sudah cukup malam, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.


Tak berapa lama pintu terbuka menampilkan Haura yang masih mengenakan mukena.


"Iya Ma, maaf Rara baru saja selesai salat isya."


"Oh ... Mama khawatir karena sedari sore kamu tak keluar kamar. Kamu juga melewatkan jam makan malam. Ini Mama bawakan makanan. Dimakan ya, sayang."


"Baik Ma, sebenarnya Mama tak perlu repot-repot. Rara kan bisa ambil sendiri ke dapur."


"Nggak papa, Nak. Tidak merepotkan kok. Boleh Mama masuk? Mama ingin berbincang dengan menantu Mama. Mama bosan, karena Papa sibuk dengan pekerjaannya."


"Ah, iya. Silakan masuk Ma."


Haura melepaskan mukenanya dan melipat dengan secepat kilat. Begitu juga dengan sajadah yang masih terhampar, segera ia membereskan dan menyimpannya ke tempat semula. Kemudian Haura mengambil alih nampan dari tangan mertuanya. Dan meletakkannya di atas nakas. Medina mendudukkan diri di atas ranjang Haura.


"Makanlah dulu, Nak."


"Rara sedang tak nafsu makan, Ma."


"Kenapa sayang? Ada masalah?" tanya Medina mengelus punggung menantunya yang sudah duduk di sampingnya dengan sayang.


"Ma, Ra-ra bingung."


"Katakan sayang. Siapa tahu Mama dapat memberi solusi untuk masalah kamu."


"Ta-tapi Mama janji jangan marah sama Mikha ya?" Ucapan Haura membuat Medina tersenyum karena Haura menyayangi Mikha.

__ADS_1


"Iya sayang."


Haura menceritakan semuanya pada Medina. Termasuk respon yang ia tunjukkan pada Adam.


"Lalu bagaimana keputusanmu, Nak?"


"Rara tidak tahu, Ma."


"Kamu ingin berpisah? Baiklah Mama dan Papa akan urus semuanya besok." Haura menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam sekejab bulir-bulir bening mengalir dari kedua sudut matanya.


"Kenapa menangis, sayang? Bukankah ini yang kamu inginkan?"


"Rara ragu, Rara bingung dengan perasaan Rara sendiri."


"Ra, Mama akan menceritakan semua rahasia tentang Adam. Maukah kamu mendengarnya?" Haura mengangguk dan menyeka wajahnya yang basah.


Medina menarik nafas panjang dan mulai bercerita. "Dulu, Mama tak pernah menginginkan kehadiran Adam ke dunia."


"Adam bukan anak kandung Papa Ray. Adam anak di luar nikah."


Duarr


Malam itu langit cerah dengan bintang yang bertaburan di angkasa. Namun bagi Haura seolah ada petir yang menggelegar. Membuat wanita itu terkejut setengah mati.


"Mama adalah korban pemerkosaan. Sama seperti kamu. Tapi bedanya saat itu Mama diperkosa kekasih Mama dalam situasi Mama belum menikah," lanjut Medina.


"Be-benarkah Ma?" Medina mengangguk.


"Saat itu ayah Adam. Suami pertama Mama tidak mau bertanggung jawab. Sampai akhirnya Papa Ray menolong Mama. Namun demi Adam, Mama lebih memilih menikah dengan papa Adam. Namun Tuhan berkendak lain, papa Adam meninggal karena kecelakaan. Akhirnya Mama menikah dengan Papa Ray setelah Adam lahir. Dan kamu tahu sendiri sampai sekarang Mama bahagia bersama Papa Ray. Papa Ray sangat menyayangi Adam, seperti anak kandungnya sendiri." Haura mendengarkan cerita Adam dengan penuh rasa takjub. Ia semakin menghormati papa mertuanya.

__ADS_1


"Dulu, Adam anak yang manis. Baik hati bukan seperti Adam yang sekarang. Hal yang membuat anak Mama berubah dimulai ketika Adam diculik oleh opanya. Kami terpisah selama bertahun- tahun. Dan ternyata kehadiran Mikha membuat hati Adam hancur. Mengira jika kami tak menyayanginya dan mencampakkannya. Padahal tak sedetik pun Mama dan Papa melupakan dia. Kami merindukannya, mencarinya kemana-mana. Namun tak juga menemukan Adam, akhirnya kami tak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa pasrah dengan keadaan."


"Ketika Adam ikut dengan opanya, dia sangat dimanjakan. Akan tetapi kurangnya kasih sayang dan perhatian membuatnya salah langkah. Dan titik terburuk adalah ketika Adam menjadi seorang pecandu narkoba, karena salah pergaulan. Ia menjadi anak yang pembangkang dan bandel. Namun hal itulah yang membuat Adam kembali kepada kami. Suatu kejadian buruk yang ternyata ada hikmahnya."


Kemudian Medina menceritakan semua cerita tentang perjodohan Adam dengan Keira yang pupus karena Isabella. Medina juga menceritakan jika Adam pernah gagal ginjal. Medina tak ingin lagi ada hal yang ia tutupi tentang putranya. Karena Haura istrinya, berhak tahu aib suaminya. Medina tak peduli jika nanti Haura tak lagi menerima Adam, itu hak Haura untuk memutuskan. Jika benar wanita itu mencintai putranya maka ia akan menerima semua masa lalu buruk putranya dengan hati yang ikhlas.


"Nak, selama ini Mama terlalu pengecut untuk mengatakan ini. Tapi Mama rasa harus mengatakannya sekarang. Walau sangat terlambat dan mungkin terdengar omong kosong. Mama ingin meminta maaf atas perbuatan anak Mama kepada kamu. Mama tahu perbuatan Adam sangat hina dan tak layak untuk dimaafkan." Tiba-tiba Medina menangis dan duduk bersimpuh di hadapan Haura.


"Ma, jangan begini. Ini bukan tempat Mama. Mama tidak pantas berlutut seperti ini. Rara mohon bangun Ma." Haura membantu mama mertuanya duduk kembali di atas ranjang.


"Maafkan anak Mama ya sayang. Mama sebenarnya tak rela jika kalian sampai berpisah. Mama bahagia melihat sikap Adam yang buruk berubah 180° setelah kehadiranmu. Kamu membawa dampak positif untuk anak Mama. Jadi Mama ingin kamu tetap di sisi Adam. Menjadi makmum yang akan selalu mengingatkan jika imamnya berbuat salah atau khilaf. Tapi semua keputusan ada di tanganmu, sayang. Kamu berhak menentukan jalan hidupmu setelah apa yang terjadi. Kalau ingin berpisah pun, Mama hanya bisa mendukungmu. Apalagi kamu sudah mengetahui keburukan Adam di masa lalu. Mama yakin semakin sulit kamu untuk menerima Adam kembali." Medina menangis tersedu-sedu ketika mengatakan hal itu.


"Ma, Rara sudah memaafkan Mas Adam. Rara berjanji tidak akan pernah meninggalkan Mas Adam. Tak ada kata perceraian atau perpisahan apa pun itu. Rara akan kembali pada Mas Adam. Rara akan menjadi orang yang mengingatkan jika ia berbuat salah. Rara ingin menjadi istri yang salihah untuknya. Rara rela ikhlas menerima kelebihan dan kekurangannya."


"Apa Mama tidak salah dengar?"


"Tidak Ma. Rara benar-benar akan kembali pada Mas Adam. Kalau perlu sekarang juga Rara akan pulang ke rumah."


"Tapi bagaimana jika Adam akan menyakitimu lagi, Nak?"


"Tidak akan Ma. Rara yakin Mas Adam. tak akan pernah lagi menyakiti Rara. Hanya saja ... mungkin Rara perlu menyiapkan diri. Jujur Ma, jika melihat Mas Adam Rara masih sedikit takut."


"Mama tahu perasaan kamu, Nak. Apakah kamu yakin akan kembali pada Adam? Apakah kamu tidak akan menyesali keputusanmu?" Medina masih tak percaya dengan apa yang Haura katakan.


"InsyaAllah tidak Ma. Dan semoga Tuhan membuka hati Rara, agar bisa memaafkan Mas Adam dengan sepenuh hati. Hanya saja Rara takut ...."


"Apa yang kamu takutkan, Ra?"


"Rara takut belum bisa menjalankan kewajiban Rara. Rara masih teringat tentang malam itu."

__ADS_1


"Maafkan Adam ya Ra? Gara-gara dia ...." Medina merasa sangat bersalah pada Haura. Karena setelah apa yang terjadi menantunya mau memaafkannya.


__ADS_2