
Ia berjalan tergesa-gesa menaiki tangga. Hasratnya sudah di ubun-ubun ingin segera bercinta dengan Isabella, kekasihnya. Namun, baru setengah perjalanan. Ia mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Isabella.
Kadang wanita itu tertawa, kadang mendesah dan meracau tak menentu. Wajah Adam memerah karena marah, pikiran buruk memenuhi kepalanya. Tapi ia tak ingin berasumsi sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri
Dengan mengendap, Adam mengintip kamar Isabella yang pintunya sedikit terbuka. Matanya memerah dan buku-buku tangannya memutih karena menyaksikan pemandangan luar biasa di depan matanya. Wanita yang ia cintai tengah mendesah-desah di bawah hujaman kasar seorang lelaki dalam posisi itu. Pasangan itu tak segan mendesah dan mengerang dengan bibir yang kadang saling bertaut menikmati percintaan panas itu. Mereka berdua tergelung nafsu tak menyadari kehadiran Adam yang menonton adegan tak pantas itu secara live.
Adam menghirup nafas dalam-dalam. Rasanya ia kesulitan bernafas. Serasa ada yang mencekik lehernya. Laki-laki itu benar-benar murka dengan pengkhianatan besar di depan matanya. Adam yang sudah hilang kesabaran menggebrak pintu kamar Isabella dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Hingga pemandangan menjijikkan itu kini terlihat jelas di mata Adam.
Brakkk
Plok plok plok
Adam bertepuk tangan miris. Ia harus menyaksikan penghianatan kekasihnya dengan matanya sendiri di saat ia harus memikirkan cara untuk mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Adam mengira dia tengah berjuang bersama Isabella, nyatanya ia hanya sendirian memperjuangkan cinta mereka.
"Wow ... panas ... bagus ya? Kamu tega berbuat semacam ini di belakangku," teriak Adam penuh emosi. Hasrat yang semula membakar tubuhnya hilang entah kemana menyaksikan percintaan panas sepasang manusia itu. Hanya ada rasa jijik pada wanita yang dulu berhasil membuatnya bertekuk lutut.
Keduanya terkejut dan saling melepas diri. Isabella memakai lingerienya dengan terburu-buru. Begitu juga dengan pasangan Isabella segera memakai boxer miliknya, walau masih bertelanjang dada.
"Adam ..., " teriak Isabella ketakutan. Setelah memakai lingerie, ia berlari mengejar Adam yang sudah lebih dulu keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Kekasih Isabella mengikuti dari belakang, takut terjadi sesuatu.
"Oh ... jadi begini kelakuan kamu di belakangku. Pantas saja akhir-akhir ini kamu tak pernah lagi menghubungiku. Rupanya sudah ada lelaki brengs*k ini yang bisa menghangatkan ranjangmu."
"Dam, bukan begitu. Aku bisa jelasin, "bujuk Isabella setelah berada di lantai satu menahan lengan Adam.
"Jelasin apa lagi wanita j***ng!" hardik Adam kasar. Dengan emosi Adam menghempaskan tubuh Isabella hingga wanita itu terlempar dan jatuh di lantai.
"Hei, jangan kasar dengan wanita bro." Pasangan Isabella terlihat tak terima dengan sikap kasar Adam.
"Kamu ... jangan ikut campur! Ini urusanku dengan dia."
"Tapi, bukan begini juga caranya. Dia wanita."
__ADS_1
"Aku muak denganmu Isabella. Setelah apa yang aku lakukan untukmu. Aku tak pernah sekali pun menyentuh wanita itu. Untuk siapa? Untukmu, karena aku mencintaimu. Tapi apa yang kudapat? Penghianatan ... di depan mataku kamu mendesah-desah seperti wanita ja**ng menikmati servis laki-laki ini. Mulai saat ini, aku ingin hubungan kita berakhir." Adam berbicara dengan lantang, ia sangat marah melihat semua penghianatan Isabella.
"Tidak Adammm ... aku menyesal, maafkan aku Adam. Aku tak akan mengulanginya lagi. Tapi aku mohon maafkan aku sayang. Kamu tahu kan? Aku sangat mencintaimu, dan kamu juga kan sayang?" Isabella menangkup pipi Adam berusaha membujuk dan meminta maaf. Wanita itu menangis memohon maaf pada Adam. Sayang, lelaki itu terlanjur kecewa.
"Bulls**t.. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tak akan pernah melakukan perbuatan menjijikan ini. Jangan pernah menghubungi aku lagi." Adam menepis kedua tangan Isabella dan melangkah keluar.
"Bro.. Ini bukan salah Isabella sepenuhnya. Ini salah kamu yang tak pernah memperhatikannya. Dia juga butuh kasih sayang dan kehangatan dari seorang lelaki," teriak kekasih Isabella.
"Salahku? Hahaha .. lihat saja nanti. Kalau dia sanggup berbuat seperti ini kepadaku, aku yakin dia juga akan melakukan hal yang sama padamu."
Adam meninggalkan rumah Isabella dan mengabaikan tangis dan teriakan wanita yang meronta-ronta di pelukan kekasih barunya.
***
Dengan emosi Adam mengemudi mobil miliknya pulang ke rumah. Lelaki itu mengendarai dengan kecepatan penuh, seakan melupakan keselamatannya sendiri. Perjalanan yang biasa harus di tempuh dalam waktu empat puluh menit kini dapat ia tempuh selama dua puluh menit.
Suara rem mobil berdecit ketika Adam memasuki gerbang rumahnya. Satpam penjaga pintu gerbang sampai terkejut dibuatnya. Tak menyangka sebrutal itu majikannya mengemudikan mobil. Padahal hari sudah malam.
Apa yang sudah Adam perjuangkan selama ini tak ada artinya. Setengah tahun lebih ia berumah tangga, ia berusaha untuk tidak menyentuh istri sahnya. Pasangan halalnya. Tapi kini apa yang ia dapat? Hanya sebuah pengkhianatan yang menyakitkan.
Adam lagi-lagi harus mengakui kebodohannya. Semua yang dikatakan mama dan papanya benar adanya. Isabella tak baik untuknya. Dan mungkin saja pilihan Ray atas Haura adalah benar-benar yang terbaik untuknya. Dalam hati pria itu mengutuk kebodohannya, yang sudah bersikap kasar dan menyia-nyiakan Haura.
Rasanya ia ingin bersimpuh di depan Haura dan meminta ampunan atas perbuatan kejamnya selama ini. Sikapnya yang merendahkan dan menyakitkan.
Apakah masih ada kesempatan untukku? Apakah kamu bisa memaafkan kesalahan demi kesalahan suamimu ini Ra?
Adam begitu frustasi. Kini ia menyadari segalanya. Semuanya yang terlihat baik dan benar tak selamanya menunjukkan kebenarannya. Seperti Isabella, Adam mencintai wanita itu dengan sepenuh hati namun nyatanya di belakang ia mempermainkan hatinya.
Waktu sudah tengah malam ketika laki-laki tampan itu menapakkan kakinya di rumahnya yang megah. Tanpa menyalakan lampu ia naik ke atas, meraba dinding untuk mencapai tangga terakhir. Begitu gelap dan menyesakan seperti kehidupan yang sekarang tengah ia jalani. Berkali-kali jatuh karena salah jalan tak membuat ia jera. Ia selalu menjadi anak pembangkang dan kurang ajar. Bahkan di usia dininya pun ia sempat hancur. Berkat ayahnya dia bisa bangkit dan menjadi Adam yang sukses seperti saat ini.
Dengan ragu, Adam masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya begitu saja, tanpa melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Hati Adam begitu hampa dan sakit. Ia mencoba memejamkan mata melupakan kejadian tadi. Namun, semakin ia ingin melupakan semakin hatinya sakit.
__ADS_1
Adam gelisah, berkali-kali membolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri. Pendingin ruangan yang biasa membuat ia nyaman, kini tak berpengaruh sama sekali. Karena gelisah, kepala lelaki itu terasa panas seakan ingin meledak.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai, apa kabar readers?
Sehari nggak up rasanya gimana gitu.
Dan Alhamdulillah aku bisa up lagi.
InsyaAllah dua hari sekali aku update.
Jadi tetap stay ya?
Maafkan diriku yang tidak konsisten
😂😂😂
__ADS_1