
"Selamat pagi Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis di kantor itu bersikap ramah.
"Anu, saya ingin bertemu Tu-Tuan Adam, pimpinan di perusahaan ini," ucap wanita berhijab itu dengan gugup.
"Maaf, apa Ibu sudah membuat janji?"
"A-apa ... janji? Saya belum membuat janji. Jadi harus membuat janji ya? Saya hanya ingin mengantarkan makanan untuknya. Sebentar saja, tolong izinkan saya menemuinya."
"Maaf Bu. Kami harus mengikuti prosedur yang berlaku. Kami tidak bisa sembarangan memberi izin masuk kepada para tamu."
"Ta-tapi saya istrinya ...."
Resepsionis itu memandang Haura dari atas hingga bawah. Meremehkan dan merendahkan penampilan Haura yang sederhana.
"Tidak mungkin istri Tuan Adam jelek seperti dia. Selera Tuan Adam kan setingkat Isabella. Dan Tuan Adam kan masih single? Oh ternyata begitu, wanita ini penipu," batin Tasya sang resepsionis.
"Maaf Bu. Setahu kami, bos kami masih single. Belum menikah. Mungkin anda bisa datang lagi esok hari, setelah membuat janji."
"Ta-tapi saya benar-benar ...."
"Maaf Bu, mohon jangan membuat keributan. Security! Tolong bawa Ibu ini keluar."
Dua orang security datang dan ingin menarik paksa Haura.
"Maaf, saya tidak suka disentuh. Saya akan jalan sendiri." Wanita itu keluar membawa rantang dengan wajah yang sedih. Namun bukannya pergi, Haura malah duduk di bawah pohon dekat kantor.
"Maaf Bu. Jangan membuat keributan di sini. Kami yang akan terkena masalah jika Ibu keras kepala," tegur security itu.
"Saya hanya duduk di sini sebentar. Menunggu suami saya keluar. Saya tidak akan membuat keributan. Ini halaman kantor kan? Tidak ada larangan untuk duduk di sini kan?"
"Hahh, ya sudah terserah Ibu saja." Security itu menyerah dengan kekeraskepalaan Haura. Ada rasa iba juga terhadap wanita yang terlihat sedikit pucat itu. Namun mereka memperhatikan gerak-gerik Haura dengan intens. Karena memang tugas mereka memastikan keamanan di kantor itu.
"Kenapa juga aku harus lupa membawa ponsel?" rutuk Haura pada dirinya sendiri. Karena kecerobohannya kini ia tidak bisa masuk ke dalam.
__ADS_1
Lama Haura menunggu, namun Adam tak juga keluar. Panas terik matahari yang mulai menyengat tubuhnya juga ia hiraukan. Kini pohon itu tak mampu lagi meneduhinya. Hingga pipi putih Haura mejadi merah. Security itu menjadi kasihan pada Haura. Ia mendekati lagi wanita itu.
"Bu, sebenarnya Ibu ingin bertemu siapa? Kalau bisa saya bantu untuk panggilkan orangnya."
"Saya ingin bertemu Tuan Adam Haikal Azzami. Pimpinan perusahaan ini Pak. Saya istrinya. Saya hanya ingin mengantarkan makanan untuknya."
"Tapi Bu, setahu saya Tuan Adam belum menikah. Dan dari pagi saya belum melihat Tuan Adam masuk kantor."
"Tidak mungkin, dia pergi ke kantor pagi-pagi tadi. Tidak mungkin dia tidak ada di dalam."
"Saya tidak berbohong Bu. Tuan Adam benar-benar belum masuk ke kantor."
"Tidak mungkin ...." Air mata lolos begitu saja tanpa permisi. Tak menghiraukan puluhan mata yang menatap ke arah dirinya.
"Tunggu sebentar, saya akan bicara pada resepsionis. Siapa tahu saya salah orang Bu. Dan suami anda hanya memiliki nama yang sama dengan bos kami." Karena kasihan akhirnya security itu meminta tolong pada Tasya untuk menelepon atasannya. Setelah beberapa kali security itu memaksa Tasya, wanita itu mau menghubungi atasannya.
"Selamat Pagi Pak Adam, ini Tasya."
"Iya kenapa? Pagi ini saya tidak bisa datang ke kantor."
Tut tut tut
Panggilan terputus. Tasya menjadi kesal, belum sempat ia merayu bosnya. Mencari perhatian dan simpati. Namun Bosnya acuh tak acuh dan langsung mematikan sambungan telepon.
"Sudah! Bahkan Pak Adam langsung mematikan teleponnya sebelum aku menyelesaikan perkataanku. Jelas saja wanita itu penipu," ucap Tasya ketus.
Akhirnya security itu kembali ke depan, namun tak lagi menghampiri Haura. Ia percaya pada ucapan Tasya bahwa Haura penipu dan memilih untuk tidak menghiraukannya meski kasihan.
"Kemana kamu Mas? Kalau benar kamu tidak ada di kantor, kemana kamu pergi? Atau kamu menemui Isabella? Apa kamu kini menyesal menikah denganku dan mulai merindukannya? Aku menyesal Mas sudah ketus. Tapi bagaimana? Sepertinya aku tidak bisa mengendalikan sikapku dan perasaanku yang labil ini," batin Haura sedih. Haura menangis tanpa suara. Tapi belum ingin beranjak dari tempat itu.
Tin tin tin
Sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi. Tidak lain Adam yang datang tergesa ke kantor. Begitu masuk area kantor, Adam langsung membawa mobilnya ke depan lobi utama, tanpa memarkirkannya.
__ADS_1
"Parkirkan mobilku!" Adam melemparkan kunci mobil pada petugas security. "Mana wanita yang katanya datang mencariku?" tanya Adam.
"Anu itu, itu Pak. "
"Katakan! Dimana?"
"Di bawah pohon itu Pak." Security itu menunjuk ke arah Haura yang menangis di bawah pohon. Wajahnya yang memerah tersengat matahari semakin merah karena tangis.
"Rara ...." Adam berlari menghampiri istrinya yang masih menangis. Belum menyadari kehadirannya.
"Sayang, kenapa ada di sini?" Adam langsung bersimpuh di hadapan Haura. Haura malah semakin tersedu.
"Ayo, ikut Mas! Siapa yang sudah menyakitimu?" Adam menarik Haura agar berdiri. Ia kesal karena karyawannya menyuruh istrinya menunggu di luar.
"Ayo kita masuk. Di sini panas. Kenapa tidak menunggu di dalam?" Haura masih saja diam tak menjawab.
"Ma-maafkan saya Pak. Saya tidak mengenali istri Anda. Jadi maafkan kelancangan saya yang tidak mengizinkan Ibu Masuk."
"Kamu berani-beraninya membuat istri saya menunggu di tempat sepanas itu. Karena kesalahan kamu saya ...." Haura menahan lengan Adam dan menggelengkan kepala.
"Jangan Mas! Bapak ini tadi yang menolong Rara untuk menghubungi Mas Adam. Lagipula Bapak ini hanya menjalankan tugasnya sesuai prosedur yang ada."
"Ehm, baiklah kamu saya maafkan. Gaji kamu akan saya naikkan. Lain kali ingat wajah istri saya agar kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."
"Ba-baik Pak, Bu ... terima kasih banyak." Security itu bernapas lega, ia tak jadi dipecat. Ia bahagia gajinya akan dinaikkan
Adam mengajak Haura masuk ke dalam kantor. Mereka berdua kini menjadi pusat perhatian seluruh karyawan kantor. Karena Adam merangkul Haura dengan mesra dan penuh cinta. Wanita yang tadi diperlakukan secara tidak layak oleh karyawannya. Mata Adam yang biasa setajam elang kini berubah sangat teduh menatap istrinya. Wajah yang biasanya ketus kini tersenyum manis. Membuat siapa pun tak percaya bahwa orang itu adalah bos mereka yang biasanya dingin dan angkuh.
Ia mengajak Haura mendekat ke bagian resepsionis." Tasya! Ini istri saya, dan dia bukan pembuat keributan seperti yang kamu katakan. Kali ini aku maafkan karena memang belum ada yang mengetahui istriku. Jadi ingat wajahnya! Kalau sampai lain kali dia ke sini dan kamu memperlakukan secara tidak layak, aku tidak segan untuk memecatmu."
"Ba-baik Pak. Saya minta maaf." Tasya sangat ketakutan dengan ancaman Adam.
"Mas ...." Haura meminta Adam untuk tidak terlalu galak.
__ADS_1
"Maafkan sikap saya tadi Bu."
"Iya, tidak apa-apa." Haura tersenyum dengan tulus, walau matanya masih sembab.