Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Sedikit Ingatan Tentang Masa Lalu


__ADS_3

Selama perjalanan menuju Bandung pikiran Ray entah mengembara kemana. Raganya memang sedang menuju ke Bandung untuk segera menemui kekasih hati. Namun hatinya masih tertinggal di Jakarta, masih bersama Medina. Gadis yang belakangan ini mencuri perhatiannya. Ia sama sekali tak bisa konsentrasi ketika diajak bicara oleh Oma.


"Di hari kepulanganmu ke Indonesia, itu ... si Aurel datang ke rumah. Dia menanyakan kamu. Terus bisa-bisanya dia bilang rindu dengan Oma, tapi selama tiga tahun kamu di Amerika tak sekali pun ia datang menjenguk Oma. Oma tahu dia datang hanya karena kamu pulang. Entah mengapa Oma tak suka sama dia Ray. Apa kamu sudah yakin mau menikah dengan dia? Kalau bisa Oma inginnya kamu cari gadis selain dia," kata Oma.


Ray malah melamun tak mendengar pertanyaan Oma.


"Ray," panggil Oma.


"Ray," panggil Oma setengah berteriak.


Ray masih diam tak bergeming.


"Ray, kamu kenapa?" tanya Oma menggoyangkan lengan cucunya.


"Ah ... Oma ... maaf, gimana tadi oma?" Ray tersadar dari lamunan panjangnya.


"Ray ... Ray ... Oma sudah lelah cerita panjang kali lebar sama kamu, kamu malah nggak mendengar cerita Oma. Kamu sedang ada Masalah nak? Coba cerita sama Oma," kata oma sedikit kesal merasa diabaikan cucunya. Namun ada juga rasa khawatir karena cucunya tidak seperti biasanya .


"Maaf Oma. Cuma ada masalah kerjaan sedikit. Ray jadi kurang konsentrasi. Maaf ya Omaku sayang yang paling cantik," rayu Ray pada Oma, ia memeluk tubuh kurus wanita tua yang sudah merawatnya selama puluhan tahun itu.


"Kalau masalah merayu memang Ray jagonya ya?" Oma tertawa bahagia mendengar rayuan cucunya. Ia menarik gemas hidung mancung Ray.


"Oma ... jangan ditarik. Nanti hilang ketampanan Ray," kata Ray narsistik.


"Hmmm ... percaya diri sekali ya cucu Oma ini," Oma memeluk Ray erat-erat.

__ADS_1


"Tentu dong Oma, cucu siapa dulu," kata Ray semakin narsistik. Padahal dalam hatinya sangat gelisah entah karena apa.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah oma. Rumah yang Ray tinggali selama puluhan tahun itu masih sama seperti sebelum ia pergi. Ray memandang ke sekeliling rumah mewah yang sangat asri itu. Ia begitu rindu dengan rumah itu. Rumah dimana kenangan bersama ayah ibunya terukir dalam ingatannya yang sedikit samar, karena usianya dulu masih sangat belia. Rumah yang hanya ada sedikit kenangan hangat keluarganya, yang dapat ia ingat.


Ia memandang syahdu ke arah ayunan yang berada di taman sebelah rumah. Seperti sebuah magnet yang menarik benda logam, Ray tak bisa menahan diri untuk mendekati ayunan yang sudah tua namun kondisi masih bagus itu. Benar, Oma selalu menjaga ayunan kesayangan Ray itu agar tetap ada dan tetap bagus seperti semula.


Ray berjalan mendekat dan akhirnya duduk di ayunan itu. Sekelebat bayangan masa kecil melintas di ingatannya. Samar ia teringat ketika ia yang masih kecil naik ayunan tersebut dan ada ibunya di depan menjaga, sedangkan ayah dibelakangnya mendorong ayunan untuk putra tercintanya. Mereka sekeluarga tertawa bahagia. Sungguh saat itu adalah masa bahagia untuk Ray dan keluarga kecilnya. Namun kebahagiaan itu cepat menghilang diterpa badai besar. Kecelakaan tragis itu merenggut nyawa kedua orang tuanya. Seandainya sang ibu tidak mendekap erat badan mungil milik Ray dan menahan benturan keras yang menghantam Ray dengan tubuhnya sendiri mungkin sekarang Ray sudah ikut ayah dan ibunya tenang di atas sana. Berkat ibunya, ia selamat dari kecelakan itu.


Walau ia selamat, Ray kecil mengalami trauma yang sangat mendalam. Karena ia yang masih kecil harus melihat ayah ibunya berlumur darah meregang nyawa. Ray kecil yang kehilangan orangtua tidak menangis sama sekali. Ia hanya diam, diam dan diam tanpa ekspresi. Sampai oma khawatir pada keadaan cucunya. Psikiater dari berbagai daerah sudah dikunjungi untuk menyembuhkan Ray. Namun tak ada satupun yang berhasil membuatnya sekedar bereaksi. Tak ada lagi suara yang terdengar dari mulut Ray kecil yang lucu, tak ada tawa maupun tangis. Oma sampai putus asa bagaimana menyembuhkan trauma cucunya.


Flashback on


Dua tahun setelah kecelakaan tragis itu, Ray masih dalam keadaan yang buruk. Oma sudah berhenti membawa Ray ke psikiater. karena tak ada perkembangan sedikit pun. Saat itu teman lama oma berkunjung untuk menjenguk Ray kecil yang malang. Teman oma datang bersama putri dan cucunya. Cucu oma yang berkunjung tersebut adalah anak perempuan gembul berusia dua tahun yang sangat lucu. Gadis kecil itu suka berceloteh banyak hal dan sangat lucu karena masih cedal. Banyak kata yang belum bisa diucapkan dengan jelas.


"Atak, atak ... (kakak, kakak ...)" panggil gadis kecil itu pada Ray. Tangan mungilnya meraih jemari Ray dan memainkannya.


Tak mendapatkan respon gadis kecil itu tiba-tiba memeluk Ray dengan erat.


"Me Sayang, ngapain kamu disini?Jangan ganggu kakak ya?" nasehat Bunda.


"Me anggil atak. Atak diam aja nda. Atak tak suka Me ya? Me anji idak akal agi," kata Medina kecil dengan wajah sedih.


"Bukan begitu sayang. Kakak suka kok sama Me.Tapi kakak lagi sakit sayang. Jangan ganggu kakak dulu ya," bujuk Bunda.


"Nda.. Me mau tatih atak cium, bial atak cembuh ya Nda," kata Me kecil yang lucu.

__ADS_1


"Iya sini Bunda gendong, Me cepetan cium kakak." Mutia meraih putrinya dalam gendongannya. Dicondongkannya badan Medina dengan wajah sejajar dengan Ray. Dengan cepat gadis kecil itu mengecup lembut kening Ray dan pipinya. Ketika bunda ingin menarik Medina kembali, gadis kecil itu berontak.


"Bentalan Nda, Me lom teletai," kata Medina kecil bersungut-sungut. Dengan meronta Ia turun dari gendongan ibunya mendekat lagi ke arah Ray yang duduk mematung di ayunan. Dengan sedikit berjinjit ia mengecup bibir Ray kecil. Kedua tangan Me berpegang pada lengan Ray.


"Nah ... udah Nda, atak pasti cembuh kan Me dah atih cium," kata Me polos. Ray kecil hanya diam dan diam masih tanpa ekspresi seperti biasa. Sedangkan bunda dan para oma yang sedari tadi ternyata menonton adegan lucu Me mencium Ray kecil tertawa dengan tingkah polah gadis kecil gembul itu.


Semenjak hari itu Medina kecil selalu datang mengunjungi Ray setiap akhir pekan. Dia selalu mengajak Ray bicara, walaupun sudah pasti tak ada respon dari Ray. Setiap datang Me kecil akan berceloteh menceritakan banyak hal. Dan ketika akan pulang, ia tak pernah lupa untuk memberikan ciuman wajib untuk Ray. Semenjak itu Ray berangsur pulih. Ia sudah mulai mau menjawab kalau diajak bicara walau ekspresinya masih datar. Oma sangat bahagia melihat perkembangan cucunya. Ketika oma melihat interaksi Ray dan Me kecil, akhirnya ia yakin bahwa Me yang sudah membantu Ray untuk sembuh.


Setengah tahun kemudian keluarga Me memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Sehingga Medina tidak lagi mengunjungi Ray. Ray yang sudah sebulan tak melihat Medina kecil datang akhirnya menjadi gelisah. Ia kini bahkan mau berinisiatif berbicara pada oma menanyakan keberadaan Medina. Ketika oma mengatakan bahwa Medina kecil sudah pergi jauh, disaat itulah pertama kalinya Ray menangis tersedu-sedu setelah kecelakaan. Karena kehilangan gadis kecilnya. Ia begitu merindukan gadis gembul itu.


Oma yang melihat Ray sudah bisa menangis, sangat bahagia tapi juga sedih di saat bersamaan. Karena itu artinya Ray mulai sembuh dari traumanya.Namun yang membuat oma sedih adalah kepergian keluarga temannya yang sudah membuat cucunya sembuh.


Dan Ray akhirnya dibawa ke psikiater lagi untuk menyembuhkan traumanya sepenuhnya. Butuh waktu dua tahun akhirnya Ray sudah pulih seperti semula. Dan dengan menggunakan teknik hipnotis ia melupakan kecelakaan itu. Sayangnya dia juga melupakan gadis kecil gembul yang sudah berhasil menariknya dari kegelapan. Sehingga sampai saat ini ia hanya bisa mengingat samar kenangan di waktu ia kecil.


Flashback off


"Ray sayang," panggil oma.


"Iya oma." Ray tersadar dari lamunan kenangannya.


"Kok duduk disitu? Ayo masuk, kamu pasti capek kan? Barang kamu sudah dibawa masuk Udin," ajak oma.


"Iya oma." Ray berdiri dari ayunan dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menghapus sedikit air mata yang tak sengaja keluar ketika ia mengingat ayah ibunya.


"Akhirnya aku kembali ke rumah yang penuh kenangan ini. Tapi kenapa sewaktu di ayunan tadi aku seperti mengingat gadis kecil yang aku rasa wajahnya familiar ya? Ah, aku pasti kebanyakan melamun dan berkhayal," gumam Ray dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2