
"Hah ... kenapa Ayah tak mempercayai ucapan putri ayah sendiri? Haura mencintai Mas Adam Yah. Kebahagiaan Haura adalah Mas Adam. Mas Adam sudah berubah. Bukankah seseorang bisa saja mempunyai masa lalu yang buruk? Yang kelam? Bukankah Ayah pernah bilang bahwa yang terpenting seseorang mau bertaubat dan mengubah perilakunya?"
"Tapi Ayah belum yakin Ra. Ayah ingin melihat usaha suamimu. Kita lihat saja nanti Ra."
"Bang ... Bang Baim ...," panggil seorang warga dari kejauhan. Membuat perdebatan Haura dan Ibrahim terhenti. Lelaki itu berjalan tergesa menuju rumah Ibrahim. Ibrahim dan Haura akhirnya keluar dari rumah dan menemui orang yang berteriak itu.
"Ada apa Mat?" tanya Ibrahim pada lelaki yang baru datang itu. Lelaki berusia empat puluh tahunan itu masih mengatur napasnya yang tersengal.
"Anu Bang ... Ada badai besar di laut. Dan kami menemukan perahu menantu Abang. Namun, orangnya tidak ada. Kami sudah mencarinya di sekitar perahu, tapi tetap tidak dapat menemukannya Bang. Sebagian dari kami melanjutkan pencarian dan sebagian lagi membawa perahu dan hasil tangkapan menantu Bang Baim ke pantai."
"Apa?" teriak Haura sangat syok. Hana dan Fauzan yang mendengar keributan di malam itu sampai ikut keluar rumah.
"Bang Mamat mungkin salah orang. Mungkin itu bukan perahu suami saya," sangkal Haura.
"Tidak Ra. Abang tak mungkin salah. Atau mungkin kamu bisa memastikan sendiri itu perahu suamimu bukan." Tanpa menunggu lama, Haura berlari menuju pantai membawa hatinya yang berdenyut nyeri. Wanita itu sangat ketakutan jika benar-benar terjadi sesuatu yang buruk pada Adam.
Dan dengan gemetar, wanita itu mengusap pinggiran perahu. Air mata lolos begitu saja dari mata beningnya. Semua nyata baginya, itu benar-benar perahu Adam. Perahu Adam dipenuhi dengan kerang mutiara permintaan ayahnya. Dan sebuah kemeja yang teronggok membuktikan jika itu kemeja Adam.
"Mas Adam ...." Haura menangis memeluk dan menciumi kemeja Adam. Menghirup dalam-dalam aroma yang ia rindukan. Begitu tragis kisah mereka berdua. Tak pernah bisa berbahagia. Cobaan bertubi-tubi selalu datang menghantam.
Ibrahim dan yang lainnya menyusul Haura ke pantai. Menyaksikan sendiri bahwa itu benar-benar perahu Adam. Semua tak berkata-kata hanya mampu memandang Haura yang meraung-raung dengan rasa kasihan. Dan Ibrahim dipenuhi rasa bersalah.
Tiba-tiba Haura jatuh tersungkur dan pingsan. Ini pukulan mendalam untuknya. Tak terima jika terjadi sesuatu pada suaminya.
"Ra ... bangun Nak!" Ibrahim menepuk pipi putrinya dengan pelan. Berusaha membangunkannya dari pingsan.
"Kakak ... bangun Kak ...." Hana dan Fauzan menangisi Haura yang tak sadar diri.
"Mari bawa Kakak pulang." Ibrahim menggendong tubuh Haura yang lemas tak berdaya.
__ADS_1
Setelah mengurus Haura, Ibrahim meminta kedua anaknya untuk menjaga kakak sulungnya. Dan dia berangkat ke laut untuk mencari menantunya. Ia merasa harus bertanggung jawab. Karena dirinyalah, semua ini terjadi.
Dan di pagi buta Ibrahim pulang dengan tangan kosong. Ia begitu lesu karena tak bisa menemukan Adam.
"Yah, mana Mas Adam?" Sosok pucat itu tak sabar lagi bertanya.
"Ra, kamu yang sabar ya? Maafkan Ayah, ayah belum bisa menemukan suamimu." Lemas lagi tubuh Haura, bagaimana tidak. Ia tak yakin Adam akan bertahan semalaman di tengah lautan.
Gadis itu terdiam, tanpa kata atau isak tangis. Mungkin air matanya sudah habis. Tak dapat keluar lagi.
"Kita berdoa saja ya Ra. Semoga saja suamimu baik-baik saja." Masih dengan pandangan kosong Haura mengabaikan perkataan Ibrahim. Sesungguhnya tiada orang yang dapat mengerti bagaimana perasaannya saat ini.
Haura berdiri dan masuk ke kamarnya begitu saja dengan langkah sempoyongan. Ia segera berbaring dan meletakkan kepalanya yang terasa sangat berat. Air mata lolos lagi dari manik bening itu.
"Mas Adam ... jangan tinggalkan aku!"
***
Tak berapa lama kepala kampung datang dan memeriksa apakah orang itu masih bernyawa atau tidak. Ia bernapas lega. Karena masih ada denyut nadi pria itu, walau sangat lemah. Kemudian ia memberikan pertolongan pertama pada lelaki itu. Beberapa warga berkerumun melihat kepala kampung berusaha menyelamatkan lelaki asing itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk membawa pulang lelaki itu ke rumahnya. Merawatnya sampai sembuh dan sadar. Karena ia tahu kondisi lelaki itu cukup parah.
Dengan dibantu warga, kini lelaki itu dibawa ke rumah kepala kampung. Di sanalah ia diobati dan di rawat.
"Ayah, siapa dia?" tanya seorang gadis muda berkepang dua. Ia adalah putri semata wayang kepala kampung di pulau itu.
"Orang asing Nak. Dia ditemukan warga terdampar di pantai. Kamu bantu ayah merawatnya ya, Lis? Kamu ambil kain dan air hangat. Seka luka pria ini."
"Baik Yah." Gadis bernama Lilis itu beranjak mengambil air hangat dan kain handuk.
__ADS_1
Dengan perlahan, Lilis menyeka luka pemuda yang masih pingsan itu. Ia merawatnya dengan telaten. Dan setelah selesai ia memanggil ayahnya untuk mengganti pakaian yang lebih bersih.
Dan saat ini Lilis tengah meminumkan air obat tradisional buatan ayahnya kepada pemuda yang masih pingsan itu. Ia memasukan air sedikit demi sedikit dengan penuh kesabaran. Hingga air dalam mangkok kecil itu tandas.
"Tampannya lelaki ini. Darimana kamu berasal? Sepertinya kamu bukan nelayan. Kulitmu bersih dan cukup tampan," ucap gadis itu duduk menjaga lelaki asing itu. Ia membelai wajah pria itu dengan penuh rasa kagum. Tak hentinya Lilis memandangi wajah tampan lelaki yang bahkan belum membuka mata sama sekali. Ia tersenyum sendiri ketika jantungnya berdebar kencang hanya karena seorang lelaki asing.
Dan dua hari berlalu, lelaki masih juga belum sadar dari pingsannya. Lilis kecewa, ia ingin lelaki itu bangun. Ia ingin mengenalnya, karena gadis itu sudah jatuh cinta. Ia ingin lelaki itu segera membuka mata dan bisa mengobrol dengannya.
"Yah, apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit kota saja? Sampai sekarang, ia belum juga mau membuka mata."
"Tenang Lis. Ayah harap dia akan segera membuka mata. Karena kalaupun kita membawanya ke rumah sakit kota, Ayah rasa sama saja. Karena kondisi pria ini cukup parah. Ayah tak yakin dia akan bertahan di perjalanan. Semoga saja malam ini atau besok dia sudah sadar. Dan kalau sampai besok dia tak sadar juga. Mungkin kita hanya bisa mengikhaskannya. Dia mungkin tak akan bertahan lagi."
"Kasihan sekali, pasti keluarga lelaki ini tengah kebingungan," ucap Lilis sedih.
"Sudahlah jangan sedih Lis. Malam ini kamu jaga dia, beri ramuan yang Ayah buatkan setiap empat jam sekali. Semoga besok ia sudah sadarkan diri."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kalau ada yang mau protes sama author ngga papa, komentarin sesuai dengan respon kalian 😔😔😔