Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kamar Tamu


__ADS_3

Kini tinggal Medina seorang diri yang mengasuh baby Adam, karena Oma dan Bunda sudah pulang lebih dahulu ke Indonesia. Jadi tinggal Medina, Ray dan Adam di apartemen itu. Ray masih mengulur kepulangan mereka ke Indonesia. Masih menunggu Ray menyelesaikan pekerjaannya di Boston. Selain itu, Ray ingin baby Adam sedikit lebih kuat untuk perjalanan jauh mereka nanti. Medina tak keberatan, ia paham dengan keadaan Ray. Medina juga mempertimbangkan usia Adam yang terlalu kecil untuk di ajak bepergian jauh.


Medina selalu mendukung pilihan Ray. Mau Ray di Indonesia atau bertahan di Amerika, Medina akan mengikuti kemana pun suaminya pergi. Karena sekarang kebahagiaan Medina adalah Ray dan Adam. Kesedihan yang sempat ia rasakan akibat pendidikannya yang harus terhenti sudah tak ada lagi. Tergantikan oleh kebahagiaan yang Ray dan Adam berikan. Medina sangat bersyukur karena memiliki keluarga yang lengkap.


Usia baby Adam kini telah genap dua bulan. Baby Adam tumbuh sehat dan kuat. Berat badan Adam di bulan kedua mencapai 5,5kg. Bayi gendut itu semakin terlihat lucu dan mengemaskan. Karenanya baby Adam juga semakin kuat menyusu. Medina sampai kewalahan dibuatnya. Ia memperbanyak porsi makan buah, sayur dan makanan yang mengandung banyak protein agar baby Adam mendapatkan banyak nutrisi.


Rencananya Ray akan menyerahkan bisnis di Amerika pada Cristian, asistennya. Ray tinggal memantau dari Indonesia. Lagipula Oma sudah mendesak Ray untuk pulang. Oma ingin menyerahkan kerajaan bisnisnya pada Ray, cucu tersayangnya. Oma beralasan bahwa beliau ingin istirahat dari dunia bisnis. Di usia senjanya Oma Lidya ingin menikmati kehidupan tenang bersama keluarga. Ada cucu, cucu menantu dan cicitnya.


Ray dan Medina tak dapat menolak keinginan Oma. Mereka ingin mewujudkan keinginan Oma. Juga agar Adam dapat merasakan kasih sayang Oma dan Oma buyutnya. Sehingga mereka sudah memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Mereka sangat yakin akan menetap di Indonesia sampai tua nanti.


***


Hari masih sore, ketika Medina keluar dari kamar mandi. Baru saja wanita itu berendam sebentar menghilangkan kepenatan ditubuhnya. Seharian penuh Medina disibukkan dengan menenangkan putranya. Karena baby Adam baru saja mendapatkan vaksin tadi pagi. Sehingga bayi mungil itu sedikit rewel. Sedari pulang dari klinik Adam minta di gendong dan tak mau ditidurkan di tempat tidur.


"Sayang ...."


"Me, dimana kamu?" teriak Ray dari ruang tamu. Ray baru saja pulang kerja. Tak biasanya laki-laki itu kelihatan tergesa-gesa dan tidak sabar untuk bertemu anak dan istrinya.


"Sttt ...." Medina meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya yang merah. Medina yang baru saja keluar dari kamar mandi tergesa menuruni tangga menyambut kedatangan Ray yang berteriak. Medina takut putranya akan terbangun. Medina belum sempat memakai pakaiannya ketika Ray berteriak memanggilnya. Sehingga Medina hanya menggunakan bathrobe dan sebuah handuk untuk menutupi rambutnya yang basah.


"Mas, jangan teriak-teriak, Adam baru saja tidur. Adam baru saja imunisasi. Jadi sedari pagi sedikit rewel," kata Medina setengah berbisik.


"Ups, maaf ya sayang." Ray menutup mulutnya menyadari suaranya mengganggu tidur si kecil.


"Jadi tadi ke klinik sama siapa? Kok tidak menghubungi Mas?" tanya Ray.


"Hanya Me dan Adam. Kami naik taksi."


"Me tahu Mas Ray sibuk. Jadi kami tak ingin lagi membuat Mas Ray semakin repot," tambahnya seraya tersenyum.


"Nggak ada kata repot jika mengenai kalian berdua," jawab Ray melingkarkan kedua tangannya di pinggang Medina. Ray mengecup pipi Medina sekilas, membuat wajah wanita itu bersemu merah.

__ADS_1


Pandangan Ray beralih ke tubuh Medina yang terlihat sangat seksi dan menggoda. Bau wangi sabun menguar dari tubuh Medina. Wanita itu terlihat segar sehabis mandi. Bibir merah alaminya merekah. Membuat Ray ingin segera mengecupnya. Sudah cukup lama lelaki itu menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya. Penampilan Medina yang begitu menggoda sore itu membuat Ray lupa apa yang ingin ia sampaikan tadi.


"Me, Adam masih bobok kan?" bisik Ray di telinga Medina. Suara Ray terdengar menggelikan di telinga Medina.


"Apa sih Mas, pakai bisik-bisik." Medina tertawa lirih. Semburat merah semakin menghiasi kedua pipi putihnya.


"Me, kita ke kamar tamu yuk?" ajak Ray manja. Ia menunjuk ke atas, ke arah kamar kosong di sebelah kamar mereka. Kamar yang semula digunakan Oma dan Bunda ketika di Amerika.


"Ma-mau apa di kamar tamu?" jawab Medina gugup.


"Udah ayo!" Tiba-tiba Ray melemparkan tas kerjanya di sofa ruang tamu dan menggendong Medina.


"Aaa ... Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Medina terkejut dengan gerakan suaminya yang tiba-tiba.


"Kalau kamu teriak lagi. Mas pastikan Adam akan terbangun dan menangis," jawab Ray dengan senyuman yang menggoda. Medina mengatupkan mulutnya, karena menyadari ancaman yang dilayangkan oleh Ray benar adanya. Medina membayangkan putranya yang sedari pagi tak henti menangis dan minta digendong. Ia benar-benar takut jika Adam terbangun dan menangis lagi. Ia tak tega melihat putranya tak henti menangis.


"Mas, turunkan aku!" ucap Medina pelan. Medina sedikit meronta di gendongan suaminya.


"Tapi Me berat Mas," protes Medina ketika mereka mulai menaiki tangga. Medina gelisah, takut-takut akan jatuh dari gendongan suaminya.


"Sttt ...." Giliran Ray yang meyuruh Medina untuk diam.


Akhirnya Medina terdiam takut jatuh. Ia bernafas lega ketika menapaki tangga terakhir. Sedari tadi ia sangat ketakutan jika terlepas dari gendongan Ray.


Ray membuka pintu kamar yang tidak terkunci dengan kakinya tanpa menurunkan Medina. Dengan gerakan cepat Ray membuka lampu dan menutup pintu pelan-pelan. Tak lupa ia mengunci pintu kamar itu.


Medina didudukkan di ranjang. Handuk yang menutupi rambut istrinya segera ia tarik dan di lempar ke sembarang tempat.


"Me, kamu cantik," puji Ray menatap istrinya. Penampilan Medina bergitu menggoda dengan rambut basah yang terurai menambah kesan cantik dan seksi. Medina tersipu malu dengan pujian Ray, walau sudah sering ia dengar dari bibir lelaki itu.


"Mas Ray juga tampan," kata Medina menunduk dalam-dalam karena gugup. Suara yang diucapkan sedikit bergetar.

__ADS_1


"Mas, mau kamu sekarang Me," kata Ray mengelus pipi mulus istrinya. Sentuhan Ray menghantarkan getaran hebat ke seluruh tubuh Medina. Jantung Medina tiba-tiba bedegup kencang karena perlakuan suaminya. Ray tak jauh berbeda. Jantungnya seakan ingin meloncat keluar. Berkali-kali Ray menelan salivanya dengan susah payah.


"Ta-Tapi ini masih sore Mas," protes Medina terbata-bata. Yang langsung dibungkam dengan sebuah ciuman panas. Hingga ada sesuatu yang membesar di bawah sana.Tak sabar rasanya pria itu ingin meminta haknya. Ingin menghujani istrinya dengan penuh cinta. Juga membuat wanita itu mendesah di bawah kungkungannya. Menyatukan cinta dan hasrat yang mereka pendam selama ini.


Tiba-tiba Ray melepas ciumannya dan berdiri dari posisinya, membuat Medina sedikit merasa kehilangan. Segera dilepaskan kemeja kerjanya. Menampilkan otot perutnya yang membuat Medina menelan ludah. Padahal Medina sudah terbiasa melihat Ray berganti baju. Namun baru kali ini ia memperhatikan bentuk tubuh atletis suaminya dengan sungguh-sungguh. Medina sungguh kagum dengan pesona lelaki yang kini menjadi suaminya itu.


"Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana!" titah Ray memasuki kamar mandi dengan sebuah handuk yang tersampir di bahunya.


Baru saja Ray masuk ke dalam kamar mandi, ia membuka pintu kembali dan melongokkan kepalanya keluar. "Lima menit, tunggu Mas ya?"


Perkataan Ray menyadarkan Medina bahwa hari ini akan terjadi sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang sudah ia dan Ray tunggu sejak lama. Karena semenjak mereka menikah. Mereka hanya sebatas berciuman dan berpelukan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa klik like, favorit


berikan vote dan komentar juga ya..

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2