Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Suami Yang Perhatian


__ADS_3

Kring


Suara ponsel Medina memecahkan kesunyian di kamar mereka berdua. Medina yang duduk menyandar di ranjangnya melirik layar ponsel.


Gibran Calling


Setelah melihat id penelepon, dia tak berniat mengangkat panggilan tersebut. Sampai berdering beberapa kali ia masih mengacuhkan panggilannya. Namun ketika Ray yang duduk di ujung ranjang menoleh padanya, karena terusik oleh suara yang tak berhenti tadi. Medina akhirnya mengambil ponselnya kemudian melangkah ke balkon kamarnya untuk menjawab panggilan itu.


"Halo." Terdengar suara dari seberang sana.


"Iya halo. Mau apalagi?" Medina menjawab dengan malas dan ketus.


"Sayang, jangan gitu dong. Aku rindu kamu, aku sekarang sudah ada di Indonesia. Kita ketemu ya sayang? Aku mau tanggung jawab sama kamu. Aku akan menerima kamu dan bayimu." Gibran bicara dengan terburu-buru takut panggilannya diakhiri sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


"Nggak perlu. Kemana kemarin-kemarin kamu saat aku butuhkan? Apa kamu nggak ingat perkataan kamu ke aku. Ketika aku memohon, mengemis tanggung jawab padamu. Apalagi kamu juga sudah menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku. Jadi aku tak perlu tanggung jawabmu. Please jangan ganggu aku lagi. Aku sekarang sudah menikah." Medina mencurahkan semua emosinya. Tanpa memikirkan masa depannya, ia menolak kekasihnya yang ingin bertanggung jawab. Mungkin luka di hatinya terlalu dalam, sehingga ia belum bisa memaafkan laki-laki itu.


"Aku nggak percaya, kamu bohong kan? Aku tahu hanya aku seorang yang kamu cintai." Gibran tak mempercayai ucapan Medina. Ia yakin Medina membohonginya karena masih kesal.


"Terserah mau percaya atau tidak. Jangan ganggu aku lagi!" Setelah bicara seperti itu ia menutup telepon dan masuk ke kamarnya lagi.


Meskipun Medina bicara di balkon, Ray masih bisa mendengar semua perkataan Medina.


"Mas, menurut kamu, apakah sudah benar keputusanku tadi setelah apa yang ia lakukan padaku?" Medina meminta pendapat Ray.


"Kalau aku jadi kamu. Aku akan menerima tanggung jawab darinya. Karena bagaimanapun juga dia adalah ayah kandung dari bayi yang ada di dalam perut kamu." Ray mengemukakan pikirannya. Namun Medina sedikit kesal karena menurut Medina, Ray seperti membela Gibran. Akhirnya, Medina memilih diam.


"Me, pintu sudah dikunci belum? Takut bunda tiba-tiba masuk." Ray mengalihkan pembicaraan karena tahu Medina tak suka pendapatnya. Medina hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah aku tidur ya Me. Good night ...." Ray membaringkan tubuhnya. Ia menarik selimut tebalnya sampai menutupi kepalanya berharap tidak kedinginan karena tidur dilantai yang hanya beralaskan karpet.


"Good night ...." Medina ikut membaringkan tubuhnya yang lelah setelah perjalanan panjangnya.


Akhirnya mereka terlelap dalam mimpi karena kelelahan.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk pelan. Medina kalang kabut membangunkan Ray yang tidur dilantai. Begitu Ray terbangun segera menggulung selimut tebalnya dan menyembunyikannya di bawah ranjang.


Setelah itu Medina pura-pura tidur, dan Ray membuka pintu.


"Oh, kalian sudah tidur? Maaf Bunda menganggu." Bunda masuk sambil membawa segelas susu.


"Me ini minum dulu susunya," kata Bunda sambil menyerahkan segelas susu yang segera diterima oleh Ray.


"Makasih ya Bunda. Ray lupa buatkan susu untuk Me. Padahal biasanya sebelum tidur Me pasti minum susu." Ray bicara asal tanpa tahu kebiasaan Medina.


"Benarkah? Medina biasanya tidak suka minum susu," kata Bunda tak percaya.


"Iya Bun. Tapi selama hamil ini Me selalu minum susu kok." Ray mencari alasan.

__ADS_1


"Oh begitu ... ya sudah Me, minum gih!" perintah Bunda sambil berdiri mengamati putrinya meminum susu.


"Iya Bun. Me minum." Medina mulai meneguk susu dengan terpaksa. Sebenarnya ia sama sekali tak dapat minum susu. Mencium baunya saja sudah membuatnya mual. Tapi karena bunda melihatnya ia mencoba menahan untuk menahan mual dan tidak memuntahkannya.


"Ya sudah, kalau sudah habis kalian cepat tidur ya?" Bunda keluar dari kamar. Buru-buru Ray mengunci pintu kembali.


"Enak Me, susunya?" tanya Ray.


"Hoeekkkkk ...." Medina muntah di kaos Ray.


"Aduh Me ... iyuuuhhh ... Kenapa kamu muntahin aku? Me ... Me ... kamu suka banget ya ngerjain aku seperti ini." Ray menatap jijik ke arah kausnya. Buru-buru ia ke kamar mandi mengganti bajunya.


"Ups, sorry Mas Ray. Me bener-bener nggak sengaja. Tadi Me sudah tak bisa menahannya lagi." Medina merasa sangat bersalah. Ia menatap punggung Ray yang masuk ke kamar mandi. Ia sedikit tertawa geli karena ini kali kedua ia muntah dibaju pria itu.


***


Kediaman Ilyansyah


"Gimana Gibran, kamu sudah menemukan kekasihmu?" Ilham bertanya pada putranya.


"Sudah Pa, tapi ..." Gibran ragu melanjutkan kata-katanya.


"Tapi kenapa? Bicara yang jelas dong?" Ilham tak sabar mendengar penjelasan Gibran.


"Dia bilang dia sudah menikah Pa," kata Gibran lesu.


***


Pagi itu Medina dan Ray sarapan bersama dengan bunda dan Alif. Bunda memasak nasi goreng untuk sarapan mereka. Namun bunda juga menyiapkan roti beserta selai takut menantunya tak suka sarapan makanan berat.


Medina memang tak berniat makan nasi goreng karena bau bawang yang menyengat membuatnya mual.


"Me tak mau makan nasi goreng?" Bunda bertanya karena Me mengambil Roti saja. Padahal biasanya ia sangat suka dengan nasi goreng.


"Kalau pagi hari Me suka muntah Bun kalau mencium bau bawang yang menyengat." Ray menjelaskan sebelum Medina angkat bicara . Membuat Mutia bahagia karena menantunya sangat peduli pada putrinya yang sedang hamil.


"Bagus Ray, kamu memang suami yang perhatian. Tahu apa yang tidak disukai istrimu," puji Bunda bangga. Wajah Medina memerah seketika ketika bunda mengucapkan kata-kata tersebut. Ia menjadi bingung kenapa menjadi baperan.


"Oh iya, Bunda berencana membuat acara kecil-kecilan untuk kalian. Em, semacam untuk mendoakan kebahagiaan kalian begitu. Sederhana saja, tak perlu Mewah."


"Rasanya tidak perlu deh Bun." Ray menolak karena memang semua hanya akting bukan kenyataan.


"Tidak ... Bunda tetap mau membuat syukuran, kalau kalian malu kalian tak perlu bersanding di pelaminan. Agar tetangga tahu kalau Medina sudah menikah. Dan Bunda ingin Orang tua dan saudara Ray datang ke sini. Bunda kan juga mau mengenal besan Bunda," kata Bunda tak mau dibantah.


"Baiklah Bun kalau begitu. Kami ikut kata Bunda saja," jawab mereka berdua pasrah. Mereka tahu bunda takkan bisa dibantah. Dalam hati Ray mengutuk dirinya bagaimana caranya menghadirkan keluarganya. Karena memang semua ini hanyalah akting belaka.


"Ya sudah, Bunda mau pergi ke pasar ya? Bunda mau belanja. Kalian dirumah saja ya? Nggak usah kemana-mana." Bunda berlalu masuk kamar ingin mengambil dompetnya. Setelah Mutia keluar dari kamar, Ray menawarkan diri untuk mengantarkannya.


"Bunda mau Ray antar?"

__ADS_1


"Nggak usah kamu dirumah saja sama Me. Siapa tahu nanti dia kepengen apa-apa kamu tolong belikan." Bunda menolak tawaran Ray. Bunda segera pergi ke pasar dengan mengendarai mobilnya sendiri.


"Arrghhhh ...." Alif yang sedari tadi duduk diam di meja makan tiba-tiba menggeram.


"Kenapa sih Lif? Dari tadi Kakak perhatikan, makanan kamu nggak kamu sentuh. Malah asyik main ponsel. Dan kenapa sekarang mukamu kusut banget seperti baju belum disetrika?" tanya Medina pada adiknya.


"Model kesukaanku ni Kak, Cyntia Elfira ... dia digosipkan akan segera menikah dengan seorang anak pengusaha kaya Gibran Ilyansyah Kak. Nggak rela aku, nggak rela." Alif membuka aplikasi insgramnya dengan uring-uringan karena idolanya akan menikah.


Deg


Mendengar nama Gibran disebut Medina menjadi penasaran.


"Coba kakak lihat Lif." Medina meraih ponsel Alif.


Dia memandang foto Gibran bersama model cantik idola Alif dengan caption yang menyebutkan bahwa mereka akan segera menikah. Sakit hati Medina baru tadi malam Gibran meminta untuk menikah dengannya, dan sekarang pagi-pagi sudah viral dimedsos bahwa ia akan menikah dengan wanita lain. Hampir saja ia menangis di depan Alif.


"Lif.. Nah, ini ponsel kamu." Medina mengembalikan ponsel pada adiknya setelah beberapa saat melihat foto orang yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Uhh, Kakak sakit perut nih. Kakak ke kamar mandi dulu ya?" Medina menghindar ingin segera berlalu dari meja makan itu. Tak tahan rasanya ingin meluapkan air matanya. Ia berlari kecil menuju kamar mandi di kamarnya.


"Lif, Mas Ray tengok kak Me sebentar ya? Takut dia butuh apa-apa." Ray ingin menyusul Medina. Ia merasa ada yang tak beres.


"Okay, Mas Ray."


"Kakak ipar the best deh, perhatian banget sama kak Me." Alif kembali berkutat dengan ponselnya.


Ray segera naik ke atas menyusul Medina. Sesampainya di kamar, ia melihat Medina duduk di pinggir ranjang dalam keadaan menangis. Segera dihampirinya wanita itu.


"Me ... kenapa? Kenapa Me menangis?" tanya Ray dengan lembut.


"Me tak tahu Mas. Rasanya hati Me sakiit sekali, baru tadi malam Gibran mengajak Me menikah. Tapi sekarang? Dia akan menikah dengan wanita lain." Me sesenggukan menahan suara tangisnya takut di dengar adiknya.


"Tapi kan Me ... bukankah kamu sendiri yang sudah menolak dia? Kenapa sekarang Me jadi sedih? Coba Me tenangkan diri dulu, Kan Me sendiri yang sudah membuat keputusan untuk menolak tanggung jawab dia tadi malam." Ray mencoba memberi pengertian pada Me.


"Me nggak tahu Mas. Me nggak tahu ...." Medina semakin menangis frustasi.


kring


Ponsel Ray berdering. Ray mengambil ponselnya dan meletakkannya kembali tanpa mengangkat panggilan dari calon tunangannya itu.


"Siapa Mas? Kok nggak diangkat?" tanya Me masih terisak.


"Emm, itu Aurel." Ray menjawab singkat.


"Angkat Mas! Siapa tahu penting? Me nggak papa." Medina tahu kalau yang menelepon Aurel kekasih Ray.


"Nggak perlu Me. Saat ini Me lebih butuh Mas di sisi Me." Ray merengkuh tubuh Medina dan mendekapnya erat berharap mengurangi penderitaan dan luka hati wanita itu.


Entah mengapa ketika ia terpuruk, pelukan lelaki itu dapat menenangkan hatinya seketika.

__ADS_1


__ADS_2