Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kamu Harus Bertanggung Jawab


__ADS_3

Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan ragu-ragu. Bukan apa, ia masih malu dan canggung terhadap suaminya. Apalagi dengan penampilannya sekarang yang hanya menggunakan sebuah handuk putih yang hanya mampu menutupi bagian tubuh atas sampai di atas paha.


Ceklek


Medina memutar kenop pintu dengan hati-hati, takut membangunkan putra tersayangnya. Diedarkan pandangannya ke arah tempat tidur bayi, tempat anaknya terlelap dalam mimpinya. Bayi itu kini tidur dengan posisi meyamping. Medina mendekati putranya. Baby Adam tidur dengan mulut sedikit terbuka, menambah kesan cabi di kedua pipinya menambah rasa gemas siapa saja yang melihatnya.


Medina mengulurkan tangan kanannya memegang kening Adam. Masih sedikit terasa panas. Medina menatap putranya dengan iba. Tak tahan rasanya ia melihat baby Adam yang begitu menderita. Medina merindukan baby Adam yang ceria. Semua karena imunisasi itu, hingga baby Adam merasakan ketidaknyamanan. Tapi bagaimanapun juga Medina harus memberi baby Adam vaksin demi kesehatan Adam juga nantinya.


Kini pandangan Medina beralih ke arah ranjang tidur mereka. Disanalah sosok tampan itu terlelap dalam tidurnya. Pria itu meringkuk memeluk sebuah guling. Tanpa selimut. Mungkin lelaki itu kelelahan akibat pergumulan panas mereka berdua. Medina kembali mengingat betapa panasnya percintaan mereka yang baru terjadi. Membuat wajah Medina memerah seketika.


Ia mendekati suaminya yang hanya memakai bathrobe dan tertidur. Dia melupakan keadaan dirinya yang belum berpakaian. Medina menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Medina tersenyum melihat wajah tampan itu. Membuat Medina menghentikan segala aktivitasnya, tak jadi memakai pakaiannya. Ia tak tahan dengan godaan yang ada di depan matanya. Perlahan ia mendudukkan diri di samping Ray yang tidur nyenyak.


Dipandangnya setiap inci wajah pria yang selalu membuat ia berdegup kencang. Medina begitu kagum. Wajahnya putih sempurna. Dihiasi alis tebal yang menambah ketampanannya. Bulu mata melengkung cantik dan tebal seperti memakai mascara. Medina begitu iri. Dia saja yang wanita tidak memiliki bulu mata secantik dan sepanjang punya Ray. Dan ketika pandangan Medina beralih ke bibir yang merah merekah indah itu, Medina menelan salivanya dengan susah payah. Terbayang rasa manis mdan lembut bibir itu mencecap rasa darinya. Terbayang bibir m itu melumatnya dengan mpenuh gairah yang memabukkan. Yang menjadi candu untuk seorang Medina. Sungguh Medina tergila-gila dengan apa pun yang sudah suaminya berikan.


Lama ia diam-diam memandangi dan mengagumi ciptaan Allah yang indah itu. Ingin rasanya Medina segera menyatukan bibir mereka. Kemudian merasakan satu sama lain. Hingga tanpa sadar, jemarinya terulur membelai wajah Ray. Tak tahan lagi, Medina juga membelai bibir Ray yang lembut dan kenyal. Hati Medina berdesir merasakan sentuhannya sendiri di bibir suaminya. Ingin rasanya tangan nakal Medina turun dan melanjutkan membelai otot perut Ray yang keras dan menggiurkan. Namun Medina malu. Maka diurungkannya niat hatinya.


"Tampan," batin Medina.


Beberapa saat kemudian, Medina tersentak dari khayalannya, ia menutup wajahnya malu karena pikirannya yang dipenuhi hal-hal yang mesum bersama suaminya. Tersadar, Ia segera beranjak dan ingin memakai pakaiannya. Namun langkah Medina terhenti ketika tangan besar itu menangkap pergelangan tangannya. Medina menoleh ke arah wajah lelaki tampan itu. Bibir yang sedari tadi ia pandangi dan ia belai kini tengah tersenyum, dengan mata yang pura- pura masih terpejam. Medina menjadi salah tingkah karena ketahuan berbuat mesum.


Disentakkan tangan Medina sehingga wanita itu hilang keseimbangan dan jatuh ke pelukan suaminya. Medina meringis karena keningnya menabrak dada suaminya yang keras dan berotot. Kini posisi Medina berada di atas suaminya. Mereka berpandangan dan tersenyum malu, sekaligus bahagia menikmati momen-momen indah mereka sebagai pengantin baru. Wajar jika pasangan itu sedang dalam masa hot-hot nya.


"Nakal ya sekarang istri Mas?" goda Ray masih dengan muka bantal.


"N-nakal gimana?" jawab Medina salah tingkah. Medina meronta ingin menyingkir dari atas Ray. Namun usahanya gagal karena ray dengan kuat melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan menahannya untuk bergerak.

__ADS_1


"Mas, lepas! Me mau pakai baju," kata Medina memberi alasan.


"Salah siapa sedari tadi menggoda Mas," kata Ray tak tahan menahan senyumnya ketika melihat Medina tersipu malu.


"Aku nggak menggoda," elak Medina memyembunyikan wajahnya yang tersipu.


"Benarkah? Kalau bohong, siap-siap saja mendapatkan hukuman dariku." Ray menyeringai licik. Medina menjadi gugup. Gelisah dengan makna kata 'hukuman' yang akan diberikan Ray.


"N-Nggak kok. Me kan cuma membetulkan selimut," elaknya lagi terlanjur malu.


"Oh ... jadi benerin selimut sambil belai-belai ya?" Ray sudah tak dapat lagi menahan tawanya. Istri polosnya begitu lucu. Medina menggigit bibir bawahnya begitu malu. Rasanya ia ingin masuk ke sebuah lubang dan bersembunyi.


"Maaf Mas, kukira kamu tidur," kata Medina semakin malu karena sudah tertangkap basah. Ia merutuki perbuatannya yang sudah berani membelai suaminya.


"Apakah kamu dapat merasakannya? 'Dia' bangun kembali karena kamu. Kini kamu harus bertanggung jawab," jawab Ray menekankan miliknya ke paha istrinya.


"Lagi ya sayang." Ray membalikkan posisi mereka sehingga kini dia berada di atas mengungkung istrinya.


"Nanti malam saja ya Mas. Aku baru saja mandi. Masak harus mandi lagi?" kata Medina menghindar dari aktivitas melelahkan itu. Medina malas jika harus mandi lagi sebelum sholat magrib. Miliknya juga masih terasa sedikit perih. Ia yakin ada sedikit lecet.


"Sebentar saja, okay? Semua salah kamu, jadi kamu harus tanggung jawab dong," pinta Ray pura-pura menyalahkan Medina.


"Nanti saja Mas," jawab Medina mendelikkan mata tak suka.


"Se-ka-rang" titah Ray tak dapat dibantah.

__ADS_1


"Kamu ini ya Mas, susah kalau dibilangin. Me capek kan kalau harus bolak-balik mandi. Nanti ...." Medina langsung bungkam ketika Ray menjepit kedua pipi Medina. Dengan gerakan cepat, bibir Ray tiba-tiba mendekat dan ******* bibirnya. Ray memejamkan mata menikmati ciuman mereka, masih dengan posisi intim mereka. Medina yang semula menolak, kini ikut terhanyut dalam ciuman yang panas dan memabukkan. Akal sehat mereka kini sudah di kuasai oleh hawa nafsu. Panas membara ingin dipuaskan satu sama lain.


Mereka berdua saling memagut, mencicip satu sama lain. Seolah ada sebuah rasa haus yang tak pernah terpuaskan. Kedua lidah itu saling membelit nakal, menyalurkan getaran-getaran hebat ke relung hati mereka. Begitu indah cinta dan begitu menakjubkan rasanya jatuh cinta. Deru nafas keduanya memburu dan terasa sangat panas. Rasanya Medina tak dapat lagi lari dari pesona lelaki itu. Medina pasrah jika kali ini tubuhnya makan remuk redam digempur oleh suaminya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf jika terlalu vulgar, Saya sudah berusaha menggunakan kata-kata yang lebih halus. Saya mau lewati part ini, nanti nggak seru menikah kok nggak ada adegan mesranya. Jadi mohon maklum ya..

__ADS_1


Jika tidak suka boleh skip.


Beri like, vote, komentar ya..


__ADS_2