
Tengah malam yang sunyi, hanya suara lolongan an**ng sesekali terdengar. Sekuriti yang berjaga di depan terlena tak menyadari kehadiran tamu tak diundang, tertidur pulas karena kecapekan. Apalagi suasana setelah hujan begitu sejuk, sangat mendukung untuk terlelap dalam mimpi.
Seorang laki-laki asing menerobos dinginnya malam menyusup ke kediaman Ray dengan gerakan yang lihai. Entah apa yang diinginkan orang itu, begitu mencurigakan.
Lelaki asing itu berpakaian hitam dan memakai penutup kepala layaknya seorang maling. Ia nekat masuk melalui pagar pinggir rumah dan menuju ke garasi rumah itu. Dengan peralatan yang ia bawa, ia membobol pintu garasi. Berhasil. Dengan mudah orang itu masuk dan segera menjalankan misi kotornya. Penyusup itu mengutak-atik mobil milik Adam dengan menggunakan peralatan yang sejak awal sudah ia persiapkan.Tak lama orang itu melakukan pekerjaannya. Setelah misinya selesai pria itu segera keluar dan meninggalkan rumah itu tanpa ketahuan siapa pun.
Keesokan paginya.
Seperti biasa mereka berempat duduk di meja makan dengan tenang. Bedanya, suasana sarapan pagi itu begitu hambar. Semua tenggelam menikmati makanan masing-masing, tanpa perbincangan hangat.
Adam belum berani buka suara, takut terkena amarah dari kedua orang tuanya. Ia tak tahu lagi harus berkata apa, mungkin kata maaf saja takkan cukup. Karena ia sadar sudah menyakiti Keira dan membuat hubungan kedua keluarga itu sedikit merenggang. Semua akibat ulahnya.
Gadis manis yang kini berusia lima belas tahun itu pun sama diamnya, padahal biasanya ia yang paling cerewet di rumah itu. Mikha masih sangat kesal dengan kakaknya yang telah menyakiti wanita yang ia anggap seperti kakak sekaligus sahabat baiknya. Mikha sangat kecewa pada sosok kakak yang biasanya menjadi kebanggaan dan panutannya.
Mikha tak mau sekedar memandang wajah Adam. Padahal biasanya dia paling suka bermanja-manja atau mencari perhatian kakaknya yang tampan itu. Pagi itu berbeda, mulut Mikha terkunci rapat dengan raut wajah yang tak bersahabat.
"Pa, Ma ... Mikha berangkat dulu ya? Hari ini Mikha piket," kata Mikha menyandang ransel sekolahnya tanpa menoleh ke arah Adam.
"Lho... makanan kamu kan belum habis Nak?" kata Medina lembut.
"Aku masukkan ke kotak makan saja deh Ma. Biar Mikha makan di sekolah," kata gadis itu seraya memasukkan rotinya ke dalam kotak makan.
"Nggak mau bareng Papa? Bentar lagi Papa juga harus pergi."
"Nggak Pa, Mikha bareng Kak Kei saja. Kebetulan dia berangkat pagi. Rumah sakit sama sekolah kan searah," kata gadis itu menekankan nama Kei kemudian mencium tangan kedua orang tuanya. Adam melirik sebentar ke arah adiknya yang memasang wajah jutek.
"Ya sudah hati-hati ya sayang."
Tanpa mencium tangan Adam seperti biasanya, gadis itu berlalu pergi begitu saja. Ray dan Medina hanya menggelengkan kepala, tak menegur sikap Mikha. Karena mereka tahu putrinya juga kecewa. Adam pun menyadari bahwa adiknya masih kecewa padanya. Dan kelihatannya tak kan semudah itu Mikha memaafkannya. Hati Adam sedikit tercubit oleh sikap Mikha, karena selama ini Adam sudah terbiasa mendapatkan rengekan manja dari adik kesayangannya itu. Diabaikan seperti itu membuat Adam merasa kehilangan perhatian adiknya. Ada rasa kosong dan hampa tanpa kasih sayang Mikha. Ia menatap punggung Mikha yang menjauh dengan rasa bersalah.
"Adam, hari ini kamu mau kemana?" tanya Ray mencoba bersikap seperti biasanya.
"Eng.. Enggak kemana-mana kayaknya Pa. Adam mau di rumah saja, pekerjaan Adam semua sudah beres," kata Adam canggung.
"Mobil Papa masih di bengkel, Papa ada urusan pekerjaan di daerah P. Papa pinjam mobil kamu ya?" kata Ray meneguk air putihnya.
"Pakai saja Pa. Kalau nanti Adam ada urusan, gampanglah. Ada Ardi, biar nanti dia jemput Adam," kata Adam sedikit lega karena papanya mau berbicara padanya.
__ADS_1
"Ya sudah ya Nak. Papa pinjam mobil kamu hari ini. Mungkin besok siang Papa pulangnya," kata Ray mencoba untuk tersenyum. Sedangkan Medina diam tak menyahuti, ia sama dengan Mikha. Masih kesal dan kecewa pada Adam.
"Me, mungkin besok Mas baru bisa pulang. Karena jadwal meeting sedikit malam. Tak mungkin Mas pulang dalam satu hari."
"Iya Mas, hati-hati ya?" kata Medina mencium tangan Ray.
"Jaga rumah dan anak-anak ya sayang. Jaga diri juga. Kalau ada apa-apa hal telepon saja. Ya sudah Mas berangkat," ucap Ray mengecup kening Medina.
Akhirnya Ray segera berangkat sendirian ke kota P. Pak Anto yang biasanya menjadi sopirnya terlanjur meminta cuti. Karena mobil Ray yang rusak. Dan Ray akhirnya memilih untuk mengemudi sendiri.
Satu jam ia lewati tanpa masalah. Ray masih fokus mengemudi mobilnya. Hingga akhirnya mobil yang Ray kemudikan menuruni sebuah jalan yang curam. Tiba-tiba Ray kehilangan kendali. Rem mobilnya tak berfungsi, padahal tadinya baik-baik saja. Ray panik, namun sebisa mungkin ia mencoba tenang. Dengan sekuat tenaga ia mengendalikan mobilnya.
Namun malang, tiba-tiba di depan sana muncul sebuah truk besar. Ray kebingungan harus bagaimana. Jika ia tak menghindar, maka akan terjadi tabrakan yang dahsyat. Yang bukan hanya mencelakai dirinya saja namun juga orang lain. Sehingga ia terpaksa banting stir, membuat mobil yang Ray kendarai keluar dari jalur dan meluncur masuk ke dalam sungai. Dan entah apa yang terjadi selanjutnya.
Kring kring kring
Telepon rumah berdering begitu kuat. Medina yang sedang memasak tergopoh-gopoh ingin mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, dengan siapa saya berbicara?"
"Waalaikumsalam salam. Benarkah ini nomor telepon rumah Tuan Rayga, Nyonya?"
"Kami dari pihak kepolisian Nyonya. Kami menemukan mobil suami Nyonya jatuh ke dalam sungai di area D arah menuju daerah P Nyonya."
"Ma-maksud anda?"
"Iya Nyonya. Kami hanya menemukan mobilnya saja. Pintu mobil terbuka dan suami anda menghilang. Tapi kemungkinan besar suami anda tidak selamat. Mengingat medan yang berbahaya. Saat ini kami masih terus berusaha melakukan penyelidikan dan pencarian."
"Tidak mungkin ..." kata Medina menangis.
"Kenapa Ma?" Adam berlari menghampiri ibunya yang menangis. Belum sempat menjawab tubuh Medina jatuh pingsan.
"Ma ... Ma ... kenapa?" panggil Adam panik.
Dengan menopang tubuh ibunya Adam mengangkat gagang telepon.
"Maaf ini siapa ya? Ada apa?" tanya Adam kebingungan.
__ADS_1
"Kami dari kepolisian, mengabarkan jika mobil Pak Rayga terjun ke sungai. Namun Pak Rayga menghilang, dan kami belum menemukan keberadaannya."
Deg, jantung Adam berdegup kencang.
"Baiklah, saya akan segera kesana."
Adam membopong tubuh Ibunya dan membawanya ke kamar. Segera ia membuatkan teh hangat untuk ibunya. Tak lupa ia juga mencari minyak angin di kotak P3K.
"Bangun Ma ... Bangun!" Adam menggosok tangan dan kaki Medina dengan minyak. Tak lupa ia meletakkannya di depan hidung Medina. Berharap ibunya akan sadar jika menghirup bau minyak tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Thor kok kayak sinetron?
Wah lama-lama jadi cerita azab..
Hehehe.. maaf ya jika berbelit kayak sinetron yang ada di tipi-tipi.
Author nggak lega kalau buat cerita yang lempeng-lempeng aja. Tapi tenang author sudah siapkan ending yang manis 😊😊😊
Oh ya mampir dong ke novel aku yang baru
"Dua polisi tampan"
__ADS_1
Spoiler : Dua orang polisi muda yang tampan menjalankan misi untuk mengungkap peredaran Sabu Naga di sebuah daerah. Apakah misi akan berhasil? Bagaimana petualangan mereka?
Terimakasih.