Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Nasehat Mama


__ADS_3

"Hanya ada ini saja, belum sempat masak. Kamu mau?" Tanpa menjawab Adam langsung melahap roti tawar yang sudah dioles dengan selai cokelat.


"Pelan-pelan nanti tersedak. Tidak akan ada yang mengambil makananmu itu."


"Adam benar-benar lapar Ma."


"Iya, iya Nak. Mama tahu tapi hati-hati nanti kalau tidak cukup Mama buatkan lagi."


"Ada masalah ya sayang?" tanya Medina membuat Adam menghentikan kegiatannya mengunyah.


"Tidak ada Ma," bohong lelaki itu.


"Kamu tidak akan bisa berbohong pada Mama. Lihatlah! Wajahmu tampan tapi terlihat kusam."


"Ck, kenapa sih semua orang bilang wajah Adam kumal," protes lelaki itu.


"Bukan kumal sayang. Mama bilang kusam. Tak bercahaya gitu."


"Ah sama saja. Hampir sama juga kan? Yang dimaksud itu wajah Adam jelek," ucap Adam marah.


"Siapa yang bilang kalau putra Mama ini jelek?" Medina mencubit gemas pipi Adam.


"Ih, Mama. Adam bukan anak kecil lagi."


"Kamu saja tadi juga bersikap seperti anak kecil tanpa tahu malu."


"Hah, iya. Memang Adam jika berbicara dengan wanita tak pernah bisa menang."


"Jangan kesal terus Nak. Coba senyum pasti kamu tampan."


"Bagaimana bisa Adam tersenyum jika kepala Adam rasanya mau meledak."


"Kenapa lagi? Kalian bertengkar?"


"Sebenarnya tidak Ma. Hanya saja ...."


"Hanya saja apa, Dam? Hubungan kalian baik-baik saja, kan?" Medina menjadi khawatir karena perkataan Adam.


"Argghh ... wanita memang susah dimengerti ya Ma?"


"Tidak, buktinya Mama mudah dimengerti. Coba cerita jangan bertele-tele."


"Ma, sepulang dari Malaysia, sikap Haura berubah Ma. Apa dia sakit ya?"


"Hah? Sakit?"


"Bukan, ehm begini. Aduh bagaimana ya Adam menceritakannya." Adam menggaruk kepalanya yang bahkan tak terasa gatal.

__ADS_1


"Mama jadi penasaran, kenapa sih ribet amat mau cerita saja."


Adam mengambil cangkir berisi teh hangat dan menenggaknya hingga tandas. "Begini Ma, entah mengapa semenjak pulang dari Malaysia Haura berubah. Dan Adam sangat susah untuk mencoba mengertikannya. Ia mudah menangis dan sangat sensitif. Sebentar manja, sebentar marah, sebentar kemudian menangis. Kalau Adam memperhatikannya, dia ketus. Dan dengan berbagai kata-kata tajam menyuruh Adam jangan dekat-dekat. Tapi kalau Adam menjauh, mencoba memberinya ruang untuknya bernapas. Nanti dia akan marah bahkan menangis. Dia juga mengatakan kalau Adam tak menyayanginya, dan akan meninggalkannya. Dan apakah wajah Adam ini kumal dan memuakkan Ma? Pagi ini Rara tak mau sekedar melihat wajah Adam. Dia bilang mual jika melihat Adam. Bahkan tadi pagi dia muntah hanya dengan mendengar suara Adam. Alhasil hari ini Adam tidak boleh berbicara padanya. Apa Rara sakit ya? Apa perlu Adam membawanya ke dokter? Atau psikiater mungkin?" cerita Adam panjang lebar. Medina hanya mendengarkan cerita Adam dengan senyum-senyum sendiri.


"Mama, dari tadi hanya mengangguk-angguk sambil senyum-senyum. Adam sedang mengkhawatirkan istri Adam, Ma."


"Iya iya Nak. Yang penting Mama kan mendengarkan cerita kamu. Dan setelah mendengar apa yang kamu katakan, rasanya Mama tahu apa yang sedang terjadi. Mama bahagia mendengarnya, semoga saja seperti dugaan Mama."


"Maksud Mama apa?"


"Ehm, kasih tahu nggak ya?"


"Mama, jangan permainkan Adam begini dong."


"Hehe iya iya. Dam, mungkin dalam waktu sembilan bulan ke depan kamu harus ekstra sabar."


"Kenapa memangnya? Penyakit Haura ada batas waktunya? Dalam sembilan bulan baru sembuh begitu?"


"Kamu ini kan Dam, lucu ... begini Nak. Mama jelaskan pelan-pelan. Mungkin perubahan sikap Haura disebabkan oleh perubahan hormon dalam tubuhnya. Yang biasanya dialami oleh wanita yang sedang hamil. Tapi ini baru dugaan Mama, Nak. Untuk memastikannya belikan tespect untuk istrimu. Atau langsung periksakan ke dokter." Adam melongo mendengar apa yang mamanya katakan.


"Jadi ... jadi ... Adam akan jadi seorang ayah? Begitu Ma?" tanya Adam sangat bahagia.


"Aamiinn. Melihat ciri-ciri istrimu sih begitu. Semoga benar jika ada cucu Mama di perut Haura."


"Ya Allah terima kasih."


"Iya Ma. Pasti akan Adam lakukan. Ma, apakah setiap wanita hamil akan berperilaku seperti Haura? Dulu waktu Mama hamil Adam bagaimana? Apa Mama juga suka muntah?"


"Uhuukk," Medina yang sedang meminum tehnya sendiri terbatuk-batuk karena pertanyaan Adam.


"Pelan-pelan Ma."


"Dasar anak Nakal!"


"Adam salah apa Ma? Kan Adam hanya bertanya?"


"Mama payah waktu hamil kamu. Tidak bisa minum susu. Tidak bisa makan makanan yang mengandung bawang. Dan ... Mama sering muntah di baju Papa Ray."


"Hahaha, berarti bukan hanya Adam yang terkena muntahan. Papa juga pernah."


"Memangnya Rara juga muntah di baju kamu?"


"Iya Ma. Waktu di pesawat. Tapi Adam mengira hanya mabuk perjalanan biasa."


"Ingat! Jaga istrimu baik-baik. Wanita hamil itu sangat menderita dan payah. Dulu kaki Mama sampai bengkak waktu hamil tua."


"Iya Ma. Adam akan menyayangi Haura."

__ADS_1


"Bagus Nak. Sudah pulang sana, kalau memang tak mau ke kantor."


"Siap Nyonya! Ah iya ... belakangan ini kami selalu makan makanan delivery. Karena Haura tidak mau memasak. Hah, haruskah selama sembilan bulan hidup kami begini ya?"


"Mama kirim Imah ke rumahmu untuk bantu-bantu, bagaimana?"


"Rasanya Haura tak mau Ma. Tapi coba nanti Adam tanya dulu."


"Ya sudah, nanti Mama masakkan yang banyak. Besok Mama antar ke rumah. Simpan di kulkas, kamu tinggal hangatkan saja."


"Benarkah? Terima kasih Ma."


"Sudah pulang sana!" usir Medina.


"Mamaaa?" Adam kesal karena Berkali-kali mamanya menyuruhnya pulang.


***


"Assalamualaikum," ucap Adam seraya melepas sepatunya dan meletakkannya di rak samping pintu.


Hening terasa, tidak jawaban salam yang ia ucapkan. Tak ada tanda-tanda keberadaan Haura. Adam mempercepat langkahnya mencari istrinya. Ia jadi khawatir jika mengingat perkataan mamanya. Jika benar Haura hamil, maka tugasnya bertambah menjaga dua orang kesayangannya.


Di ruang keluarga tidak ada, di kamar mereka pun nihil. Kemana lagi perginya wanita itu? Adam jadi was-was karenanya. Adam menuju kamar mandi, ingin memastikan istrinya ada di sana atau tidak. Namun hampa, tidak ada siapa pun.


"Kemana lagi kamu, Ra?"


Adam mengambil ponsel miliknya dan mencoba menelepon Haura.


Tririring


Suara ponsel Haura memecah keheningan di rumah itu. Adam menoleh mencari sumber suara. Ternyata ponsel istrinya tergeletak di atas nakas. Istrinya pergi tanpa membawa ponsel.


"Apa jangan-jangan Haura pulang ke kampung dan benar-benar tak ingin melihat wajahku?"


Tririring


Kini ponsel miliknya yang berdering dengan keras.


"Iya halo."


"Selamat Pagi Pak Adam, ini Tasya."


"Iya kenapa? Pagi ini saya tidak bisa datang ke kantor."


"Tapi Pak, ada seorang wanita yang membuat keributan di kantor. Dan wanita itu mengaku-ngaku sebagai istri Bapak ...."


"Hah?" Adam mematikan panggilan dan buru-buru pergi ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2