Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Awal kehancuran Gibran


__ADS_3

"Sayang, anterin aku ke mall ya? Aku mau shopping sayang."


Cyntia menggelayut manja di lengan Gibran yang saat ini sedang berkunjung ke rumahnya. Tentu saja Gibran datang menemui Cyntia hanya karena paksaan papanya. Karena jika ia sampai berani melawan papanya, ia tak segan-segan dicoret dari daftar pewaris. Gibran tak mau hal itu terjadi. Ia tak dapat membayangkan hidup tanpa kenyamanan yang sudah biasa ia nikmati sedari kecil. Ya, Gibran terbiasa dimanjakan oleh mamanya. Seandainya ia disuruh memilih antara Medina atau harta kekayaan tentu ia akan memilih harta kekayaan. Ia takkan sanggup jika jatuh miskin dan takut hidup menderita serba kekurangan.


"Cuaca panas sekali Cyn, malas mau keluar rumah. Bagaimana kalau lain kali saja." Gibran malas jika harus menemani kaum hawa berburu pakaian di mall yang pastinya akan menyita banyak waktu. Karena biasanya wanita yang berada di mall tidak hanya akan membeli barang diperlukan saja. Tapi pastinya cuci mata sana-sini dan gelap mata membeli banyak barang. Membayangkan ia harus menenteng belanjaan milik kekasihnya sambil mengelilingi satu mall dengan kaki yang pegal membuat Gibran malas.


"Nggak mau, pokoknya mas Gibran harus nganterin Cyntia hari ini juga. Aku mau beli sepatu tas, baju, perhiasan dan banyak yang lainnya. Karena besok Laras teman sesama model aku mau ulang tahun. Masak aku pakai baju itu-itu saja. Kan malu? Ah ya, aku juga mau cari kado mahal buat Laras. Biar nggak kalah sama yang lain," kata Cyntia manja.


Matanya berbinar-binar membayangkan penampilannya yang sempurna besok dipesta ulang tahun Laras. Tambah sempurna lagi jika ia di dampingi oleh Gibran kekasih barunya yang tampan. Pasti banyak pujian mengalir untuknya. Membayangkan saja membuat Cyntia tersenyum sendiri.


Gibran menahan nafasnya dan menghembuskan kasar. Sungguh ia merutuki perjodohan gila ini. Kalau bukan karena harta, tak sudi ia meladeni gadis yang egois dan super manja. Ia yang dahulu diperlakukan istimewa oleh para wanita, kini merasa direndahkan karena dia sekarang hanya seperti seorang pelayan bagi Cyntia.


"Ya sudah ayo, tapi jangan lama-lama ya? Aku ada urusan sore ini." Akhirnya Gibran mengalah, terpaksa mengiyakan permintaan Cyntia.


"Iya, iya. Nggak akan lama kok." Cyntia tersenyum miring.


"Nggak lama kok paling cuman seharian," batin Cyntia licik.


Akhirnya mereka menuju sebuah mall terbesar di kawasan itu. Setelah masuk ke dalam mall, Cyntia tak hentinya bergelayut manja di lengan Gibran. Gibran merasa sebal dan risih, ingin ia mengibaskan tangan Cyntia dari lengannya dan kabur dari situ. Tapi lagi-lagi itu hanya menjadi angannya saja. Ia tak akan berani mencari masalah dengan wanita itu.


"Sayang kesana yuk!" Gibran hanya mengangguk, mengikut layaknya seekor anj*ng yang mengikut tuannya. Sementara Cyntia sudah melupakan keberadaan Gibran saking bernafsunya memilih barang-barang.


Tak berhenti di situ saja, setelah lama memilih Cyntia berkata tak ada yang menarik . Alhasil, mereka keluar masuk dari satu toko ke toko lainnya tanpa membeli apapun. Sehingga membuat mereka berkeliling ke banyak toko.


"Sialan, memilihnya lama sampai satu jam, eh nggak beli apa-apa," gumam Gibran dalam hati.


Dan sesuai dugaan Gibran. Kini setelah tiga jam, Ia berjalan menyusuri mall dengan menenteng banyak tas belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Kakinya serasa mati rasa karena asyik berjalan tanpa istirahat. Ia menggeleng lemah melihat wanita itu gelap mata membeli banyak barang apalagi tak ada raut kelelahan di wajahnya. Yang ada hanya wajah semringah membeli ini itu.


"Sungguh, wanita kalau sedang berbelanja tak ada kata lelah ya? Apa dia tidak kelelahan jalan sedari tadi memakai high heel-nya itu?" batin Gibran sambil menggeleng keheranan.


Ingin rasanya ia membanting semua barang-barang belanjaan Cyntia ke lantai. Ia benci melihat dirinya penuh barang belanjaan mengikuti Cyntia yang kesana kemari tanpa memikirkan dirinya.


"Sialan, udah kayak jongos aja nih gue," umpat Gibran dalam hati.


Karena lelah melayani nafsu belanja Cyntia yang seakan tak ada habisnya itu, akhirnya Gibran memberanikan diri untuk menegur.

__ADS_1


"Sayang, sudah ya belanjanya? Lihat nih aku sudah bawa barang banyak banget. Aku capek Cyn," keluh Gibran masih mencoba untuk bersabar menghadapi Cyntia.


"Jadi kamu nggak ikhlas nih nganterin aku? Ingat ya! Keluarga aku lebih kaya daripada keluarga kamu. Aku bisa saja menyuruh papa hancurin usaha milik papa kamu," kata Cyntia emosi karena gibran berani memprotesnya. Karena belum pernah ada lelaki yang berani menolak permintaannya. Gibran diam sebentar tapi kemudian dia dengan lantang menjawab.


"Emang keluarga gue butuh bantuan keluarga lo. Tapi jangan rendahin keluarga gue sampai seenak jidat lo ngancam-ngancam gue. Gue sudah sabar ya hadepin lo dari tadi pagi. Kalau lo mau batalin pertunangan kita. TERSERAH, GUE NGGAK PEDULI," ucap Gibran memanas. Saat ini dia bicara menggunakan gue elo yang menandakan bahwa ia sedang murka.


Gibran yang akhirnya tak bisa menahan lagi amarahnya karena merasa direndahkan membanting semua tas belanjaan hingga berserakan dilantai. Ia berlalu meninggalkan Cyntia begitu saja.


"Gibran ...."


"Gibran, kembali!"


"Gibrannn ...." Cyntia menghentak-hentakkan kakinya karena marah.


Cyntia berteriak-teriak histeris memanggil Gibran, namun lelaki itu tak peduli.


"Persetan dengan kemarahan papa, gue nggak peduli. Beraninya dia merendahkanku. Soal istri yang bisa segera kasih keturunan cari aja wanita lain yang bisa menghargaiku," batin Gibran.


***


Gibran yang kesal karena ucapan Cyntia langsung pulang ke rumah. Begitu masuk rumah, ia tak menghiraukan papa dan mamanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Bahkan ketika Ilham bertanya pun, putranya diam seribu bahasa dengan wajah yang seram karena marah. Setelah masuk kamar ia membanting pintu kamarnya dengan kasar. Membuat Ilham yakin, kalau ada masalah. Ketika mereka bertanya-tanya, terdengar bell pintu depan berbunyi. Bibi segera membuka pintunya dan nampak Cyntia diambang pintu dengan air mata bercucuran.


"Tante, Gibran jahat. Tadi kami jalan di mall tiba-tiba dia marah-marah dan ninggalin aku sendirian disana Tan," kata Cyntia menyembunyikan permasalahan yang membuat Gibran murka.


"Sabar sayang, sini kamu duduk dulu. Biar Tante yang bujuk dia." Rika menyusul putranya yang ada di kamar.


Kini tinggal Ilham dan Cyntia di ruang keluarga. Ilham akhirnya angkat bicara untuk menenangkan calon menantunya.


"Cyntia ... kamu tenang ya sayang. Om janji Gibran akan minta maaf sama kamu. Semua akan baik-baik saja. Jangan menangis lagi, okay? " Bujuk Ilham. Seketika Cyntia menghentikan tangisannya dan senyum mengembang di bibirnya.


***


Dikamar Gibran.


Rika langsung masuk ke kamar putranya yang gelap gulita. Ia meraba-raba dinding untuk menemukan saklar lampu kamar itu. Ketika lampu sudah menyala ia segera menghampiri putranya kemudian mengelus lembut rambut anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Sayang ... Mama tahu ini berat untukmu. Tapi Mama mohon kamu bersabar demi keluarga kita ya, Nak?" bujuk Rika.


"Huh, bicara emang lebih mudah. Yang menjalani bukan kalian, tapi aku."


"Di bawah ada Cyntia yang sudah menunggu kamu. Lebih baik kamu turun dan minta maaf kemudian berbaikan," bujuk Rika lagi.


"Tapi Cyntia udah ngerendahin keluarga kita ma ...." protes Gibran.


"Shhh ... sabar sayang, karena kita tak punya pilihan lainnya. Mama mohon kamu mengalah demi mama demi masa depan kamu juga nak. Mama mohon sayang," bujuk Rika tanpa bosan. Terlihat raut sedih diwajahnya. Ia sangat tahu putranya tak bahagia. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak punya pilihan lain.


"Ya sudah. Gibran minta maaf, tapi kalau dia berani menghina kita lagi. Gibran nggak mau lagi lanjutin pertunangan ini," kata Gibran tegas. Rika hanya menjawab dengan menganggukan kepala disertai senyuman.


Akhirnya mereka berbaikan dengan syarat besok Cyntia ingin Gibran menemaninya ke pesta ulang tahun Laras. Gibran hanya bisa setuju ketika mengingat kata-kata mamanya.


***


Keesokan harinya Gibran mengantar Cyntia ke pesta ulang tahun sesuai janjinya semalam. ketika berada di dalam mobil Cyntia asyik melihat riasan wajahnya di kaca. Mulutnya berceloteh sudah cantik belum, apa yang kurang ... ini itu membuat Gibran bosan.


"Cyn, kamu tahu kan? Aku menikahi kamu karena urusan bisnis semata, tanpa ada cinta?" Gibran tiba-tiba ingin membicarakan hal itu.


"Iya aku tahu. Tapi aku nggak masalah asalkan kamu ada di sisiku." Cyntia menutup kaca yang sedari tadi dipandanginya dan memasukkan ke tas tangannya.


"Aku mau jujur sama kamu. Kalau tujuan utama aku menikahi kamu adalah untuk mendapatkan keturunan," kata Gibran memberitahu tujuan yang sebenarnya.


"What?"


"Sayang, kamu tahukan aku ini model? Aku nggak akan pernah mau punya anak. Nggak mau," teriaknCyntia histeris.


"Tapi itu kenyataan Cyn. Aku akan minta keturunan dari kamu. Karena kalau sampai aku nggak punya anak sebelum berusia 30 tahun, aku akan kehilangan harta warisan dari kakekku." Gibran mencoba menjelaskan.


"Nggak mau, nggak mau! Kamu pikir aku ini apa?Alat penghasil anak? Hentikan mobilnya. Aku mau turun. Aku mau turunnn ...." Cyntia semakin histeris memukul-mukul tangan Gibran yang sedang menyetir.


"Hentikan Cyn, hentikaan!" Gibran berusaha menenangkan Cyntia yang mengamuk. Gibran kehilangan konsentrasinya dan tiba-tiba ada sebuah truk dari arah berlawanan. Gibran yang terkejut, membanting setirnya ke arah kiri untuk menghindar. Malang, mobilnya yang hilang kendali akhirnya menabrak pohon.


Duarrrr

__ADS_1


Terdengar benturan yang sangat keras.


Gibran merasa pandangannya menggelap, kepalanya sangat pusing. Akhirnya mereka berdua tak sadarkan diri dengan berlumur darah. Warga yang menyaksikan kejadian tersebut, berkerumun menolong mereka berdua. Entah bagaimana nasib mereka berdua.


__ADS_2