
"Assalamualaikum Ra, apa kabar?"
"Waalaikumsalam. Aku baik Vian."
"Ra, bisakah besok kita bertemu sebentar?" ucap Alvian melalui sambungan telepon.
"Untuk apa lagi, Vian? Aku sudah bilang berkali-kali jika aku sudah berkeluarga, Vian. Semua tak kan semudah dulu lagi. Dan aku tak ingin membuat Mas Adam salah paham lagi."
"Please Ra. Kita bertemu untuk yang terakhir kali. Sebelum aku pergi, aku ingin memastikan sesuatu."
"Pergi?"
"Iya, suamimu lah yang ada di balik semua ini."
"Maksud kamu apa Vian? Aku tak mengerti."
"Dia memindahkan aku ke kantor cabang D. Kumohon Ra, temui aku sekali ini saja. Setelah itu kita tidak akan pernah bertemu lagi."
"Hah, baiklah. Aku akan mencoba meminta izin pada Mas Adam, tapi aku hanya akan pergi jika dia mengizinkan."
"Baiklah Ra. Aku akan kirim alamatnya. Nanti kamu beri kabar ya? Aku menunggu."
"Baiklah."
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam wr. wb." Panggilan telepon dimatikan.
"Hahhhh, bagaimana caranya aku meminta izin pada Mas Adam? Bagaimana jika Mas Adam marah? Bagaimana jika terjadi salah paham lagi? Tapi sepertinya Vian benar-benar akan pergi." Haura larut dalam lamunannya. Bingung harus menemui Alvian atau tidak.
"Assalamualaikum ..." Suara Adam memecahkan kekalutan wanita itu.
"Waalaikumsalam Mas. Eh, Mas sudah pulang?" Dengan berbinar Haura menyambut Adam, ia mengambil tangan suaminya dan menciumnya. Tak lupa tas kerja Adam juga ia bawakan.
"Iya sayang. Mas capek sekali. Hari ini banyak sekali pekerjaan, karena harus mengurus urusan pembukaan kantor cabang di daerah D." Adam dengan muka lelah mendudukkan diri di sofa ruang keluarga tanpa melepaskan kaos kakinya. Haura yang mengikutinya, ikut duduk di samping Adam. Haura jadi yakin jika perkataan Alvian benar. Karena Adam juga membicarakan tentang kantor baru itu.
"Mau Rara pijit?" tawar Haura disertai senyuman manisnya. Kedua tangan mungilnya kini berada di pundak suaminya memberikan beberapa pijatan lembut.
"Em, nanti saja. Mas haus, boleh buatkan Mas minum sayang?" pinta Adam terdengar begitu manja.
"Mas mau minum apa? Kopi atau teh?" tanya Haura.
"Susu," jawab Adam sembari memandang dada istrinya.
"Mas ...." Wajah Haura memerah karena malu ketika melihat arah mata Adam memandang.
__ADS_1
"Hehe bercanda sayang. Teh saja biar rileks. Tapi jangan kasih gula banyak-banyak. Takut kemanisan karena senyummu," gombal lelaki itu.
"Mas Adam ih. Menggoda Rara terus." Wanita itu berlalu menuju dapur meninggalkan Adam dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus. Adam hanya tertawa bahagia melihat istri polosnya begitu menggemaskan.
Tak lama kemudian, Haura sudah membawa secangkir teh hangat dan beberapa biskuit untuk Adam.
"Nah Mas. Silakan diminum." Haura kemudian berjongkok dan hendak melepas kaus kaki Adam.
"Terima kasih sayang. Eh, apa yang kamu lakukan?" tanya Adam terkejut melihat apa yang istrinya lakukan.
"Biar Mas nyaman. Katanya Mas capek," jawab Haura tersenyum manis. Dengan lembut wanita itu menanggalkan kaus kaki suaminya.
"Tidak perlu sayang. Mas bisa lakukan sendiri."
"Sudah Mas Adam diam saja di situ." Haura meninggalkan suaminya dan menuju ke dapur. Adam menurut dan menikmati teh buatan istrinya dengan penuh keheranan.
Beberapa menit kemudian, wanita itu tergopoh membawa sebaskom air hangat.
"Apa lagi itu Ra?" tanya Adam tak bisa menebak apa yang akan dilakukan Haura.
"Mas rileks saja. Masukkan kaki Mas ke sini." Adam lagi-lagi hanya menurut apa yang Haura perintahkan. Ternyata benar terasa nyaman dan menenangkan.
"Gimana Mas? Enak nggak?" tanya Haura penuh harap. Semoga suaminya menyukainya.
"Hehe hanya menebak. Untunglah jika Mas Adam suka. Ya sudah, Mas tetap di sini ya Rara siapkan baju untuk Mas." Haura berdiri dan hendak menuju ke kamarnya.
"Terima kasih, ya Ra."
"Beruntungnya aku memilikimu Ra. Kenapa dulu berlian yang sebegini indahnya tak pernah nampak di mataku? Betapa bodohnya dulu aku menyia-nyiakanmu Ra. Bidadari hatiku, istriku yang salihah."
***
Sebuah lagu dari penyanyi negeri ginseng yang berjudul fight the bad feeling mengalun lembut di kamar itu. Cahaya yang remang-remang karena hanya sebuah lampu meja yang menyala menambah kesan romantis untuk kedua insan yang kini tengah menghabiskan waktu berdua. Sesekali Adam mengecup kepala istrinya dengan mesra.
Keduanya merasakan ketenangan yang luar biasa. Walaupun saat ini mereka belum bisa sepenuhnya merasakan kenikmatan bercinta. Tapi dengan keintiman interaksi keduanya cukup membuat mereka bahagia.
"Mas, Rara ingin bicara. Tapi Mas jangan marah ya? Apa pun keputusan Mas Adam Rara akan terima," ucap. Haura membuka pembicaraan. Saat ini keduanya masih bersantai di kamar dengan posisi begitu intim. Haura memeluk tubuh suaminya. Kepalanya yang tak terbungkus hijab bersandar di dada Adam yang bidang.
"Iya sayang. Katakan saja."
"Ma-mas, Rara ingin minta izin. Besok Rara ingin menemui Alvian sebentar saja." Wajah Adam yang semula sumringah berubah menjadi merah padam karena amarah. Lelaki itu sangat marah. Berani-beraninya istrinya ingin menemui pria lain tanpanya.
"Untuk apa Ra?" Adam meremas jemarinya sendiri, berusaha untuk tetap mengendalikan diri.
"Ma-mas Adam jangan salah paham. Rara ingin menemui Alvian untuk menyelesaikan segalanya. Agar semua lebih jelas. Bahwa sekarang Rara milik Mas Adam seorang. Agar Alvian menyerah terhadap Rara. Agar dia melupakan Rara. Dan dia sadar bahwa tidak akan pernah ada kesempatan untuk kami bersama lagi." Adam terdiam menimang apa yang harus ia ucapkan.
__ADS_1
"Ra, katakan pada Mas! Apakah kamu masih mencintai Alvian?" tanya Adam berkaca-kaca. Suara yang ia ucapkan sedikit melunak, ada nada putus asa di dalamnya.
"Mas, mungkin perasaan Rara belum sepenuhnya dapat melupakan Alvian. Tapi percayalah! Haura hanya menganggap Alvian sahabat. Alvian hanya masa lalu Rara. Rara akan berusaha untuk melupakannya. Dan saat ini Rara berusaha untuk belajar mencintai Mas Adam. Berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Mas Adam. Apakah Mas bisa mempercayai Rara?" ucap Haura berusaha meyakinkan Adam.
"Hahhhh ... lelaki mana yang rela istrinya menemui mantan kekasihnya?"
"Rara terpaksa Mas. Demi ketentraman rumah tangga kita nanti. Agar Alvian tidak mengganggu kita lagi."
"Baiklah. Tapi bertemulah di tempat umum yang banyak orangnya. Dan ... jangan pergi lama-lama Ra. Atau Mas akan gila karena khawatir dan cemburu."
"Iya Mas. Rara tak akan pergi lama."
"Baguslah! Besok Mas cuti. Mas ingin membuat makan malam untuk kita. Kamu tak perlu menyiapkan apa-apa. Mas akan menyiapkan segalanya untuk kita."
"Benarkah Mas Adam bisa memasak?" Haura semakin merapatkan tubuhnya menghirup aroma Adam dalam-dalam.
"Jangan meremehkan Mas. Mas sudah belajar banyak dari Yutiub. Mas yakin tidak akan gagal."
"Baiklah, Rara percaya. Rara menantikan masakan buatan Mas Adam. Sudah malam, mari kita tidur."
Cup
Haura memberikan sebuah kecupan di pipi Adam. Dan secepat kilat, wanita itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karena malu. Adam terkejut namun bahagia memegang pipinya yang masih jelas terasa ciuman Haura.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mana like dan komentarnya ya...
Perasaan likenya turun drastis nih
😥😥😥
__ADS_1