
"Me, Mas mau mendengar cerita," ucap Gibran tersenyum.
"Cerita tentang apa lagi? Me cerita tentang masa depan saja ya?" Gibran mengangguk setuju.
"Besok ... dokter akan datang dan mengatakan kalau Mas sembuh. Lalu setelah Mas Gibran sembuh kita akan bersama-sama kembali ke Amerika. Kita akan menjaga anak kita bersama. Membesarkannya berdua." Medina bercerita dengan menangis.
Dari balik pintu seorang pria tampan mendengar segalanya. Dari awal sampai akhir ia mendengar pembicaraan pasangan pengantin baru itu. Begitu menyakitkan semua yang ia dengar. Kebahagiaan orang lain, namun kepahitan untuk dirinya.
Ray sadar, sudah saatnya ia harus menyerah. Tak sepantasnya ia masuk ke dalam rumah tangga mereka yang sudah bahagia. Tak ada tempat bagi dirinya. Ray menyerah, mengaku kalah. Gibran lebih pantas berada di sisi Medina. Gibran adalah suaminya, ayah dari anak-anak Medina. Sedangkan dirinya bukan siapa-siapa untuk Medina. Hanya sekedar masa lalu yang dia sendiri pun tak ingat. Kini yang harus Ray lakukan adalah pergi dari kehidupan mereka.
Ya, pergi menjauh adalah pilihan terbaik untuknya. Pergi untuk melupakan orang yang ia cintai. Orang yang sudah berbahagia dengan suaminya. Pergi untuk menata kehidupannya yang baru. Walau Ray sendiri tak tahu apakah ia bisa melupakan Medina, wanita yang mampu membuat dunianya hancur lebur.
Sebulan kemudian.
Lelaki itu berjalan dengan enggan menyusuri bandara. Tatapan matanya kosong dan pikirannya melayang jauh. Hatinya begitu sakit dan rapuh harus meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan lunglai ia menarik koper miliknya. Satu koper berukuran besar, karena ia berencana tak akan kembali ke tanah airnya dalam waktu dekat.
Ia pernah meninggalkan tanah kelahirannya menuju ke negara yang sama lima tahun lalu. Namun sekarang rasanya berbeda, ia tak merasakan sesakit ini sewaktu lima tahun yang lalu meninggalkan Indonesia.
Hatinya begitu kecewa dan sakit. Wanita yang ia cintai sudah menjadi milik orang lain. Mungkin saja wanita itu kini tengah bergembira dengan suaminya menantikan kelahiran buah hati mereka. Mungkin memang tak ada jodoh diantara ia dan wanita yang sempat mengisi hari-harinya dengan penuh kebahagiaan.
Kini ia akan pergi menerbangkan seluruh impian dan cintanya. Berharap ia akan menghapus bayang-bayang wanita ayu yang selalu tersimpan di relung kalbunya. Berharap dengan kehidupan yang baru akan mengembalikan hatinya yang sempat remuk.
Setelah melalui rangkaian prosedur pengecekan di bandara, ia masuk ke dalam pesawat yang akan membawanya pergi jauh.
Ia segera duduk dengan mata yang berkaca-kaca. Tak tahan rasanya menahan agar air matanya tak menganak sungai. Tapi sebisa mungkin ia menahannya, sungguh ia tak mau menjadi cengeng karena cinta.
Segera dipasangkannya seat belt melingkari perutnya. Baru selesai ia memasangnya, ada seorang wanita berhijab duduk di sampingnya menatapnya yang berkaca-kaca dengan senyuman.
"Hai, sedih ya mau meninggalkan Indonesia? Saya juga sedih mau meninggalkan tanah kelahiran saya," cerocos wanita itu seraya memasang seat belt miliknya.
__ADS_1
"Sebenarnya saya ingin pergi ke Amerika bersama calon suami saya. Eh, maksudnya lelaki yang saya cintai. Karena entah dia mau menerima saya atau tidak." Wanita itu berbicara tanpa henti walau tak mendapatkan jawaban apa pun dari Ray. Ray hanya menatap wanita itu dengan intens.
Suara ponsel membuat wanita itu memalingkan wajah ke arah ponselnya yang berada di saku mantelnya.
"Ah, sebentar ya?"
"Halo Bunda, iya ini sudah ada di pesawat."
"......"
"Iya beruntung tak terlalu penuh, boleh minta duduk di sebelah orang itu."
"......"
"Oke, sudah ya Bun. Sudah mau boarding flight nih."
"........"
Wanita itu menutup panggilan dan menyimpan kembali ponsel miliknya.
"Ahhh ... berisik ya? Maaf ya kalau terganggu."
"Mungkin lebih baik saya pindah ke tempat duduk lain." Wanita itu membuka seat belt miliknya dan beranjak dari duduknya. Namun belum sempat ia melangkah, tangan kirinya dicekal oleh sebuah tangan besar yang memintanya untuk tetap duduk.
"Tetaplah di sini!" pinta Ray.
Mata Ray semakin berkaca-kaca. Ray begitu bingung Dengan apa yang terjadi. Wanita itu duduk kembali dan memasangkan seat belt-nya lagi.
"Baiklah saya tak akan pergi. Tapi jangan sedih lagi ya? Anda bisa menceritakan semua beban Anda Tuan. Siapa tahu saya bisa membantu Anda, mungkin?"
__ADS_1
"Kenapa anda diam saja? Oh ... malas berbicara ya? Kalau malas, saya tak akan mengajak bicara."
"Ya Allah ...." Ray menutup wajahnya yang hampir menangis dengan kedua telapak tangan. Ray mengusak wajahnya kasar.
"Mas ... Mas ... Sepertinya Me mau muntah deh," kata Medina dengan wajah yang aneh.
"What?"
"Me mau muntah," katanya lagi dengan menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Ray panik dan segera sibuk mencari-cari thinkstock atau kantong yang digunakan untuk penumpang yang mabuk.
"Hehehe, bercanda ...." Medina nyengir kuda menahan lengan Ray yang ingin mencari thinkstock.
"Ya Ampunn Me ...." Ray tersenyum dengan kikuk.
"Me mau minta maaf kepada Mas atas segala kesalahan Me terhadap Mas," ucap Medina mulai serius.
"Nggak mau ah, Mas merajuk," kata Ray.
"Maaf Mas, Me memang harus melakukan semua itu demi Gibran. Me harus menikah dengan Gibran. Sekarang Gibran bisa beristirahat dengan tenang," kata Medina sedih.
" Maksud kamu?" tanya Ray bingung.
"Gibran sudah meninggalkan aku dan Adam. Me tak yakin Mas Ray akan menerima Me kembali atau tidak. Tapi Me disini untuk Mas Ray. Apakah Mas Ray masih bersedia membuka hati untuk Me lagi?" tanya Medina berkaca-kaca.
"Tentu Me, tentu ... Mas sangat mencintaimu," kata Ray menggenggam jemari Medina dengan berkaca-kaca. Medina menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Ray memalingkan wajah ke arah Medina dan Mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
"Aku mencintaimu Me."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu Mas."
Terimakasih Tuan Sempurna, batin Medina.