Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
100 : DBMJCP : Air mata cinta.


__ADS_3

"K-kenapa kau pulang?" Revina sendiri langsung bingung sendiri karena mulutnya beru saja menanyakan hal yang tidak perlu.


Dhavin yang berada di ambang pintu itu, tiba-tiba mengerjapkan matanya, melihat Istrinya berdiri di atas tempat tidur milik mereka berdua dengan penampilannya yang hanya menggunakan daster berwarna biru navy.


Antara senang dan sedih, ah, Dhavin sendiri juga tidak tahu apa perasaan yang sedang ada di dalam hatinya saat ini. Padahal ketika di jalan ia sungguh sangat mengkhawatirkan kondisi Revina yang akan menangis keder, lantas apa semua ini?


Revina memang menangis, itu jelas terlihat di pipi nya yang sudah basah. Namun tangisan itu adalah tangisan yang terlihat sudah lama, sedangkan ekspresi dari Revina saat ini saja seperti orang yang sedang marah.


"Karena aku mengkhawatirkanmu," dengan tangan memegang handphone lipat milik Revina yang sempat Dhavin tangkap itu, Dhavin berjalan menghampiri wanita yang masih berdiri di atas tempat tidur milik mereka.


"Memangnya apa yang kamu khawatirkan? Kan seharusnya kamu senang, bisa bertemu dengan teman lama si Vian itu, dan bukannya kau juga sedang bersenang-senang dengan wanita lain? Kenapa pulang? Kenapa tidak tinggal semalam di sana saja?" Protes Revina, dia marah, takut, sekaligus sedih.


Dia marah karena dia sungguh tidak bisa membendung perasaannya yang sangat takut jika dirinya benar-benar di tinggal oleh Dhavin. Dan perasaan sedihnya itu adalah sebab ia sangat kecewa pada dirinya sendiri, sebab ia sama sekali tidak bisa membuat dirinya percaya kalau apa yang ada di dalam kecurigaannya itu sebenarnya benar atau salah.


Hati dan pikirannya selalu di penuhi kecurigaan. Itulah yang menjadi alasan Revina selalu punya perasaan yang bercampur aduk, setiap kali ia menemukan Dhavin bersama atupun bertemu dengan wanita lain.


Hingga Revina semakin terkejut karena Dhavin yang tadinya berjalan dengan langkah biasa, tiba-tiba di dua meter sebelum sampai di tempat tidur, Dhavin langsung berlari dan melompat ke atas kasur.


BRUK...


Satu guncangan itu membawa Dhavin dan Revina sama-sama berdiri di atas tempat tidur mereka, dimana Dhavin sendiri langsung memeluk Revina sebelum wanita ini terjungkal ke belakang, karena guncangan dari kasur yang sangat empuk itu.


"A-apa?" Revina benar-benar terkejut dengan tindakan Dhavin yang selalu saja tiba-tiba.

__ADS_1


"Revina, sudah berapa kali aku mengatakannya, percaya saja kepadaku. Hanya itulah tugasmu, hanya itu saja, aku tidak memerlukan hal lain darimu selain kamu menanamkan kepercayaan diriku kedalam hatimu." Ungkap Dhavin.


Dia sungguh memeluk Revina dengan cukup erat. Baik itu karena dia ingin memberikan Revina rasa aman, dia juga melakukannya karena dia memang sebenarnya sudah merasa tidak tahan dengan apa yang ada di dalam diri Dhavin.


Serigala yang sedang kelaparan, sudah bangun. Dan rasa lapar itu sungguh jauh lebih besar ketimbang reaksi adik Dhavin yang terjadi karena alami dari keinginannya sendiri.


"Aku memang ingin seperti itu, tapi selalunya gagal," Lirih Revina, masih dalam pelukan yang cukup erat itu.


"Revina, aku mohon. Memangnya aku selama ini bisa seperti ini, dan gila sampai aku jadi orang yang terlihat aneh di mata anak buahku itu karena apa? Semuanya karenamu. Karena aku sungguh mencintaimu, aku sama sekali tidak bisa tidak jadi orang gila, jika bukan karenamu.


Revina, aku harus apa agar kamu sungguh bisa sadar kalau perasaanku ini benar-benar tulus? Dan apa yang sedang kamu curigakan itu salah besar. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita lain selain dirimu" Papar Dhavin.


Dia memejamkan matanya, merasakan aroma tubuh Revina yang tiba-tiba jadi terasa lebih manis dari biasanya.


"Aku sudah mencobanya, ini salahku, aku selalu saja tidak bisa memiliki kepercayaan terhadapmu." Balas Revina, semakin mencengkram jas yang di pakai Dhavin. 'Tapi kenapa di bawah sana, miliknya tegang begitu?'


Hingga sepasang mata Revina langsung melebar saat dia punya pikiran lain, bahwa dalam sepanjang perjalanannya Dhavin, Dhavin sungguh dalam kondisi adiknya sedang berdiri seperti itu?


"Uhuk..uhuk, D-Dhavin. Lepaskan, ini sangat sesak, aku ..tidak bisa bernafas." Ronta Revina, ingin lepas dari pelukan Dhavin yang sungguh menyiksa tubuhnya, karena begitu erat, hingga udara yang Revina hirup itu, justru berdominan dengan aroma keringat dingin milik Dhavin yang cukup memabukkan Revina juga. 'Dia sangat kuat, kalau seperti ini, tulangku bisa remuk.'


Khawatir akan tubuhnya sendiri yang sudah mulai sakit sana dan sini, di tambah dengan ia sudah mulai memiliki udara normal yang cukup tipis, Revina mau tidak mau harus melakukan sesuatu.


'Sangat manis, aku sangat ingin sekali bisa makan. Aku ingin memakannya, Revina, Revina, kenapa kau selalu saja seperti ini? Tubunya sangatlah menggoda. Tapi aku harus bagaimana ini? Dia belum sembuh, dan aku tidak mungkin membuatnya rusak.' Sangat terjerat dengan naf*su miliknya yang harus mendapatkan pelepasan, membuat Dhavin yang sudah di selimuti kabut dari has*at karena pengaruh obatnya sungguh besar, lebih memeluk Revina.

__ADS_1


Sampai secara tiba-tiba apa yang di namakan rasa nyaman itu, datang menghampiri adiknya.


"Maaf, aku tidak bisa membantumu lebih dari ini." Suara yang terdengar bergetar karena takut akan di makan atau apapun itu, Dhavin segera melepaskan pelukannya.


"Vin-" Panggil Dhavin dengan kondisi wajah di antara mereka berdua sudah tersipu malu, karena saat ini Revina sungguh sangat pengertian dengan apa yang di inginkan oleh Dhavin sendiri.


Sebuah pijatan membawa Dhavin seperti naik ke langit bersama dengan Revina.


"Dan maafkan aku soal rasa kepercayaan yang sering dikaitkan dengan hatiku." Permintaan maaf karena merasa bersalah membuat Dhavin frustasi dengan sifatnya Revina yang sering curiga besar terhadap Dhavin, terus saja terucap.


Dia memang ingin membuang rasa ketidakpercayaan itu dari dirinya, lantas bagaimana caranya?


"Aku selalu mencoba untuk selalu percaya kepadamu. Tapi aku sendiri juga tidak tahu, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri untuk tidak marah kepadamu saat kamu bersama dengan wanita lain."


Dhavin yang hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba saja langsung mengurungkan niatnya, dan hanya mengatupkan mulutnya saja, setelah dia tiba-tiba sadar kalau apa yang baru saja Revina ucapkan adalah sesuatu yang memang di nantikannya!


'Aku yang terlalu bodoh atau dia yang bodoh, aku baru saja menyadari kalau-' Melihat Revina terus memijat adiknya yang sudah berdiri tegak di dalam celananya, Dhavin langsung meraih wajah Revina.


"Ada apa?"


Lihat saja itu, Dhavin sungguh melihat mata Revina yang berkaca-kaca karena terlihat ingin menangis lagi.


"Air mata cinta," Sahut Dhavin dengan senyuman lemah nya.

__ADS_1


__ADS_2