
‘Rasanya, gerah!’ Revina kemudian mengernyit, saat tubuhnya menjadi gerah, dua tangan Dhavin sudah menyibak pakaiannya ke atas, sehingga punggungnya mulai terekspose cukup jelas.
Tautan itu kian menjadi dalam, dan hal tersebut di dampingi dengan tangan Dhavin yang kian mulai menyisir setiap kulit dari tubuh belakang, hingga Dhavin berhasil melepas pengait dari bra milik revina.
Tanpa ada halangan apapun lagi, Dhavin terus mengusap punggung Revina.
“Phuah…, stop, berhenti dulu…hah…hah...hah…” Pinta Revina kepada Dhavin.
Dengan tatapan mata yang begitu lembut, pesona itu langsung mengikat diri Revina yang sedang tersengal-sengal, kehabisan nafas garagara perbuatannya Dhavin.
“Padahal kita sudah sering melakukannya, tapi kenapa kamu selalu saja melupakan bagian terpentingnya?” Kata Dhavin, mengingatkan.
“I-itu kan, karena kamu sendiri. Saat melakukannya, aku tanpa sadar jadi menahan nafasku. Tetap saja, aku masih belum leluasa untuk mengikuti saran yang kamu berikan.” Malu Revina, karena berbicara dengan jujur kepada Dhavin.
“Kamu-” Dhavin jadi kehilangan kata-katanya ketika ia di hadapi oleh sifat Revina yang benar-benar memperlihatkan kelemahannya secara terang-terangan di hadapan Dhavin sendiri, baha ucapan dan wajah sipu malu itu sudah jelas sedang mengatakan kepadanya, kalau wajah tampan adalah kelemahan dari diri Revina sendiri. ‘Wanita ini memang benar-benar berbahaya. Kalau ada pria lain yang menurutnya tampan, dia bisa jadi berani memalingkan wajahnya dariku.’
Tidak mau apa yang ada di dalam pikirannya terjadi, Dhavin akan terus menggoda Istrinya itu.
Itu sudah pasti, karena Dhavin sendiri tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang sudah berhasil mengisi hatinya, dan kesepiannya itu.
‘Tidak boleh, aku tidak akan membiarkan Revina berani memalingkan wajahnya dariku.’ Tekad Dhavin yang tiba-tiba saja jadi kuat itu sontak membuat Dhavin kembali membuat ulah.
Dhavin menangkap tangan kanan Revina, dan meletakkannya di balik pakaian yang sedang Dhavin kenakan itu.
__ADS_1
“Dhavin~ Apa yang mau ka-”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, dengan serringaian devil nya, Dhavin menuntun tangan kanan milik Revina untuk mengusap deretan roti sobek yang sudah susah payah Dhavin buat dan selama ini ia pertahankan.
Revina secara sponan langsung tersipu, dan menikmati usapan yang sedang di tuntun oleh tangan milik Dhavin.
‘Roti, kotak-kotak, papan cucian. Kenapa bisa seindah ini?! Eh?! Tuh kan, gara-garanya, sesaat aku jadi langsung terhanyut dengan sentuhan ini.’ Revina awalnya mencoba untuk menahan dirinya dari perasaan aneh yang mulai tergoda sendiri dengan perbuatan yang dilakukan oleh Dhavin.
Tapi sayangnya Revina tidak memiliki dinding yang kokoh, sampai ketika Dhavin menurunkan arah tangan Revina ke bawah dan terus ke bawah, Revina jadi diam membisu, tepat setelah ia mendapatkan dua bola empuk yang bersatu jadi sesuatu yang tidak mustahil untuk tidak terangsang.
“D-Dhavin, tunggu, jangan membuat otakku di cuci lagi dengan hal seperti ini dulu.” Revina meminta dengan ekspresi wajah memohon.
“Alah, nanggung.” Cetus Dhavin, dan terus menginteruksikan tangan kanan Revina untuk meakukan apa yang Dhavin lakukan.
‘Padahal tadi aku lagi ngantuk-ngantuknya. Tapi gara-gara Dhavin, ngantukku langsung menghilang saja.’ perlahan tangannya jadi seperti sedang membuat adonan, dan mencoba membentuk adonan itu menjadi sesuatu yang berharga.
“Dhavin, berhenti dulu, aku-aku…, bosan.” rintih Revina dengan nada yang cukup lirih.
DEG…
Dhavin yang awalnya sedang menikmati rasanya miliknya sendiri, tiba-tiba jadi melek, karena ucapan Revina yang cukup mengejutkan itu.
“Bosan? Apa kamu baru saja meng-”
__ADS_1
KLEK.
Ucapannya Dhavin seketika langsung terpotong, tepat di saat pintu tiba-tiba saja terbuka dan memperlihatkan Arlsei yang baru saja masuk kedalam ruangannya Dhavin.
“..........” Dan Arlsei yang jadinya tidak sengaja melihat ada dua orang sedang melampiaskan kerinduan mereka sendiri dengan saling bermain bagian ini dan itu, hanya menatap mereka berdua dengan tatapan datar seolah ia tidak melihat kedua majikannya itu.
Karena itulah, Arlsei langsung berjalan masuk kedalam ruangan sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja kerjanya Dhavin, dan setelah itu ia keluar dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun, agar tidak begitu merusak suasana yang tengah di buat oleh kedua majikannya itu.
KLEK.
“Sudah cukup. Jika kamu hanya me- ahh..!” Revina yang tadinya sudah terlepas dari pelukannya Dhavin dan hendak pergi dari sana, tiba-tiba tangannya langsung di tarik dan otomatis Revina jadi terjatuh ke pelukannya Dhavin lagi. “Dhavin, lepaskan, aku takut nanti ada orang yang masuk.”
“Kenapa kamu peduli sekali dengan itu, sedangkan kamu malah ingin meninggalkanku yang sedang kelelahan kerja ini?” Akhirnya Dhavin jadinya mengungkapkan kalimat protesnya, agar Revina tidak meninggalkan ruangannya.
Revina jadi tidak mampu berkata apapun, karena tiba-tiba saja dirinya jadi terjerat dalam urusan Dhavin yang sama saja mengatakan untuk tidak meninggalkannya.
“Arlsei saja bisa berura-pura tidak melihat kita, kenapa kamu tidak bisa mengabaikannya saja? Tidur lagi.” Tegur Dhavin dengan ekspresi wajah yang tegas.
Sampai Revina merasa dia seperti baru saja melakuan sesuatu yang seharusnya tidak di lakukan kepada sang guru.
“I-iya.” Revina jadinya jatuh, dan diam di dalam pelukannya Dhavin.
“Bagus, anak pintar, kamu itu seharusnya menuruti ucapan suamimu ini. Jangan pergi, aku sedang ingin di hibur oleh kehadiranmu, jadi diam saja, abaikan semuanya kecuali aku, mengerti?” Kata Dhavin lagi, lagi-lagi caranya dia memberikan pujian sekaligus perintah kepada Revina, seperti seorang anak kecil yang tidak boleh melanggar batasan sebagai anak kecil.
__ADS_1
“Iya?” Mulutnya tanpa sadar jadi bericara sendiri. ‘ Kenapa ku menurut sekali dengan apa yang dia ucapkan? Padahal niatku kan awalnya sebenarnya ingin jalan-jalan keluar rumah sebentar, kenapa tagannya DHavin yang malah jalan-jalan di tubuhku? Sebenarnya kenapa Dhavin selalu punya situasi untuk merayuku sampai seperti ini?’
Lagi-lagi Revina jadi kembali terjerat dalam godaan yang di buat oleh Dhavin.