Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
128 : DBMJCP : Rahasia yang terungkap


__ADS_3

“Apa kamu sudah membidiknya?” Bisik perempuan berpakaian hitam-hitam, dan sekarang dia sedang mengawasi empat orang dari kejauhan dengan menggunakan teropong. 


Dia tidak sendirian, karena di sebelahnya sudah ada pacar nya yang sedang membidik target nya dengan senjata sniper yang mampu menjangkau target hingga satu kilometer lebih. 


“Ya, cukup akurat, bahkan sekarang saja aku hanya tinggal menembaknya.”


“Tahan dulu, memangnya kamu mau kita yang di tembak, jika tidak sesuai dengan rencananya?” Ucap perempuan ini lagi, memperingatkan kekasihnya bahwa dia hanya harus menunggu saja. 


Jika suasananya semakin menegang, barulah ia harus menarik pemicunya. 


“Tanpa kamu memberitahuku, aku juga sudah tahu.” Sahutnya, masih membidik targetnya dengan teropong yang memang menempel pada senapannya. “Tapi kenapa yang harus aku tembak wanita itu? Sudah cantik-cantik seperti itu, tapi Bos menghalanginya pergi. Hmm, sungguh disayangkan.” Imbuhnya, memancing pacarnya untuk angkat suara.


“Apa kamu barusan memujinya cantik? Apakah dia lebih cantik ketimbang aku?” Sebuah pertanyaan yang merujuk pada orang yang sedang mengungkapkan rasa protes nya, karena pacaranya barusan menyebut wanita lain cantik. 


“Tidak juga, aku hanya merasa dia tetap tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan yang sudah bersemayam di tubuhmu. Kenapa hanya memujinya cantik saja, kamu terlihat marah seperti itu? Aku tidak akan tergoda dengan wanita itu, jadi tenang saja. Kamu adalah pacarku yang tercantik.” Jelasnya, agar kekasihnya bisa tenang tanpa harus khawatir kalau dia akan berpaling darinya karena Revina saat ini memang sudah berdandan cantik dengan gaun putih yang terlihat lebih berkilau karena di terpapar cahaya bulan purnama.


________________


Di tempat Revina berada, Freddy yang kin berdiri berhadapan dengan Visco, sudah menodongkan pistol nya tepat ke perut Visco. 


‘Tunggu! Freddy langsung menodongkan pistol nya begitu saja?’ Revina perlahan jadi takut kalau di sini akan ada pertumpahan darah hanya karena dirinya. “T-tunggu Freddy, apakah kamu mau menembaknya?” Tanyanya.


“Apa kamu takut dengan darah?” Cicit Visco. 


Revina terhenyak, apa yang dikatakan oleh Visco memang benar. Dia takut dengan darah? Bukan, tapi lebih tepatnya jika adalah perkelahian. 


Dia takut dengan itu, sebab pria, jika sudah dalam mode berkelahi, itu sudah tidak main-main lagi. 


“Seorang Nyonya Calvaro seharusnya tidak takut darah lagi, apalagi yang namanya pertarungan, itu adalah sesuatu yang sudah tidak bisa kamu hindarkan, Revina. Tapi jika kamu takut ada perkelahian diantara kita, ada baiknya jika kamu ikut denganku.”

__ADS_1


“Memangnya jika aku ikut denganmu, aku akan diapakan?”


Visco terdiam sejenak, ‘Ternyata dia sangat polos. Padahal Dhavin pria yang seperti itu, tapi bisa sampai punya Istri sepolos ini, apa dia tidak tahu kalau itu sangat mudah dimanfaatkan oleh banyak orang?’ 


Karena berpikir demikian, Visco jadi tersenyum. Sebab Revina di mata Visco itu tidak ada bedanya dengan satu tahun yang lalu, karena terlalu polos, bahkan untuk sekedar pertanyaan, Revina menanyakan hal paling umum kepadanya. 


“Ha~ Bagaimana jika aku bilang kalau aku ingin menjadikanmu milikku? Apakah kamu berminat untuk mengganti statusmu?” Meskipun terdengar seperti sebuah tawaran, tapi bagi Revina itu adalah kalimat untuk mengejeknya. 


“Tidak. Aku sama sekali tidak memikirkan untuk meninggalkannya.” Jawab Revina dengan tegas. 


“Bahkan jika pekerjaan dari suamimu itu adalah seorang maf-”


BUKH….


Dengan spontan, Freddy memukul Visco dengan bogem mentahnya, tapi karena Visco dapat menahan pukulannya itu, tanpa sungkan lagi Freddy menembak Visco.


DORR…


‘Dia tidak terkejut sama sekali.’ Pikir Visco melihat Revina ternyata bisa bersikap diam tanpa membuat ekspresi takut ataupun terkejut. 


Padahal kenyataannya, jantungnya sedang berdebar cukup cepat, karena dia sangat terkejut dengan Freddy yang tiba-tiba saja menarik pemicunya. ‘I-itu hampir saja. Untung Cisco berhasil menghindar. Tapi- apakah aku akan tetap di sini? Bagaimana dengan urusanku? Dhavin pasti mengkhawatirkanku, gara-gara aku tidak kunjung sampai. Aku harus bagaimana? Aku benar-benar tidak mau Dhavin menungguku.’


Setelah gerakan menghindar itu berhasil membuatnya tidak jadi tertembak, Visco langsung menangkap tangan kanan Freddy. 


‘Dia ini, dia mau bertarung denganku? Akan aku layani.’ Benak hati Freddy, saat di pandangan matanya itu, gerakan tangan Visco yang hendak meraih tangan kanannya yang masih memegang pistol masih dapat dia lihat, sehingga Freddy pun mampu menghalau tangan Visco lebih dulu sebelum tangannya tertangkap, dan hasilnya mereka berdua sama-sama mundur ke belakang.


"Revina, apa kamu tidak takut dengan dunia mafia? Dhavin adalah orang yang bekerja di dunia itu, apa tanggapanmu soal itu?" Beritahu Visco sekaligus bertanya. Dia melakukan itu untuk mencari tahu seperti apakah reaksi dari Revina.


Tapi karena Visco melihat Freddy henak menyerangnya lagi dengan pukulan, Visco langsung menahan bogem mentah itu dengan tangannya langsung.

__ADS_1


'Revina, apakah dia akan bereaksi takut?' Deti hati Freddy.


BUKH...


Dan tangan Freddy yang sudah bersiap dengan posisi untuk menembak, segera Visco tangkis.


DORR...


Sehingga tembakan yang hendak di tunjukkan untuk Visco, jadi mengarah ke atas.


'Dia juga tidak bereaksi apapun, apakah artinya dia sudah tahu kalau Dhavin bukanlah orang biasa yang hanya mempunyai kekayaan berlimpah saja? Menarik, Liana lihat ..., menantumu ini ternyata sudah tahu kalau anakmu itu adalah seorang mafia.' Senyum Visco, karena di luar perkiraan, kalau Revina belum tahu, ternyata hanyalah khayalan belaka saja.


Sama seperti Visco yang sempat terkejut sesaat, Freddy pun sesaat bereaksi seperti itu, dia sedikit terkejut karena Revina terlihat seperti sudah tahu apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Dhavin kepadanya.


"Aku sudah tahu kok, memangnya kenapa?" Ungkap Revina. "Walaupun aku tahu bukan berasal dari mulutnya langsung, tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkannya." Imbuhnya.


WUSSHH~


Angin malam yang dingin itu langsung menerpa tubuh mereka semua.


"Nyonya-" Bahkan pilot ini, dia juga sama-sama terkejut dengan jawaban dari majikannya itu. 'Ternyata Nyonya sudah tahu kalau suaminya adalah seorang mafia?'


_______________


"APA?!" Terkejut Dhavin saat itu juga.


Dhavin terkejut sebab dia mendengar suara Revina yang dia dengar dari alat komunikasi radio yang sengaja di berikan oleh Ibu nya itu ternyata masih tersambung dengan alat komunikasi helikopter, ternyata mengatakan hal yang cukup mengejutkannya juga.


'Jadi dia sudah tahu kalau pekerjaanku adalah seorang mafia? Tapi- tapi darimana dia tahu? Aku bahkan sama sekali belum mengatakannya, karena niatnya aku ingin mengatakannya langsung saat kita berdua bertemu. Hanya saja-' Dhavin yang masih duduk di kursi kayu yang di letakkan di teras belakang villa nya, langsung menutup separuh wajah bagian bawahnya.

__ADS_1


Dia menutupi separuh wajahnya itu karena ia benar-benar merasa bersalah karena Revina ternyata tahu lebih dulu, dan di samping itu semua, Dhavin sedikit tersanjung saat mendengar jawaban kalau Revina sama sekali tidak mempermasalahkan pekerjaannya yang bukan bekerja kantoran seperti orang-orang.


'Aku seharusnya mengatakannya lebih dulu. Aku jadi merasa bersalah.' Batin Dhavin sambil menatap sayu permukaan ari danau yang di hiasi dengan cahaya lampu hias dalam bentuk bunga teratai.


__ADS_2