
"Kenapa anak dekil itu lama ya?" Tanya Adel pada dirinya sendiri.
"Mungkin saja sedang berdandan." Sahut temannya Adel ini.
Adel mendelik orang-orang yang ada di sekitarnya. Sekalipun orang-orang yang ada di sekitarnya itu terlihat memakai segala barang yang cukup berkelas, akan tetapi di mata Adel yang merupakan wanita yang biasa hidup dalam kemewahan, tentu saja tahu kalau kebanyakan orang yang Adel lihat itu hanya memakai barang tiruan.
Setelah memperhatikan sekelilingnya, Adel pun menjawab ucapannya. "Dandan? Mau oplas sekalipun, jika jelek yang akan tetap jelek." Hina Adel.
Setelah mendengar ucapan dari Adel, tidak lama kemudian temannya Adel yang dari tadi hanya duduk, makan, minum sambil mendengar celoteh dari Adel, tiba-tiba saja sepasang matanya tertarik untuk memperhatikan seorang wanita seksi yang baru saja masuk.
"D-del..Adel." Panggilnya sambil menepuk tangan Adel secara terus menerus.
"Kenapa sih? Aku itu tidak tuli, jangan seperti orang yang baru saja ketahuan mencuri, lalu buru-buru menyuruh pergi." Keluh Adel dengan sikap dari temannya itu.
"Kelihatannya, soal Revina yang katamu tetap dekil itu, sudah tidak ada lagi." Ucapnya.
"Tidak ada lagi bagaimana? Kalau bicara yang jelas dong." Protes Adel, tidak suka dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh temannya itu.
Sampai akhirnya, seorang wanita yang saat ini berdiri di belakang persis Adel, tiba-tiba angkat suara.
"Dekil? Siapa yang dekil ya?"
Suara khas milik Revina, yang sudah di atur, dengan menggunakan alat bantu yang sebenarnya terpasang di lehernya itu, berhasil menarik perhatian Adel untuk menoleh ke belakang.
"Adel kan? Yang tadi meneleponku?" Tanyanya, seraya melepas kacamata hiasnya. "Aku pikir siapa, ternyata benar kamu. Jadi...ini tempat pertemuan kita ya?" Wanita yang berperan menjadi Revina ini pun merotasikan arah pandangannya untuk memperhatikan lingkungannya.
'Hah?! K-kenapa dia..' Sepasang mata Adel yang melotot sampai hendak keluar dari tempatnya itu, langsung menatap segala hal yang dia lihat pada diri Revina itu dari atas sampai bawah. 'Mana mungkin, mana mungkin dia orang yang selalu memakai pakaian dengan penampilan culun itu, berani berpenampilan seperti ini di sini?'
"Apa....aku akan terus berdiri disini?" Tanya anak buah Dhavin yang saat ini sedang menyamar menjadi Revina, sang istri dari seorang Bos mafia.
__ADS_1
"R-Revina...sini. Duduk di sebelahku saja." Tawar temannya Adel ini, memberikan kursi kosong itu kepada Revina palsu,
Revina hanya memperhatikannya sesaat sebelum akhirnya dia duduk juga, sehingga saat ini pun posisi Aden dengan dirinya pun saling berhadapan satu sama lain.
'Revina ini, bagaimana dia bisa berubah total seperti ini? Batin Adel lagi, masih tidak mempercayai kalau wanita yang punya wajah dan tubuh layaknya model itu adalah Revina?
Tapi mau dilihat dari manapun, melihat pakaian dress mini dengan di bantu mantel coat untuk menghangatkan tubuh bagian atasnya itu, tidak sepenuhnya membuat penampilannya menjadi buruk.
Justru yang ada adalah kesan wah itu berhasil membuat semua pria yang ada di sekitar mereka langsung melirik ke arah Revina, karena Revina sungguh menampilkan kaki putih yang jenjang dan mulus itu serta satu set yang menghasilkan belahan buah dada yang cukup menarik, menjadi cerminan Revina yang sungguh bertolak belakang dengan Revina yang asli.
"Dia cantik sekali..." Satu pujian pun datang.
"Apakah dia model?"
"Body nya juga seksi."
Satu persatu pujian menghujani diri Revina palsu itu.
"Hachumm...! Hachumm...!"
Melihat Revina bersin, Dhavin yang kala itu sedang berusaha menyimpan baik-baik senjatanya untuk di serahkan kepada babysitter yang baru saja datang itu, dibuat berhenti bergerak dan bertanya. "Apakah kamu sakit?"
"Tidak."
"Tapi kamu bersin."
"Siapapun jika hidungnya gatal, pasti bersin. Tapi bukan berarti itu adalah tanda kalau aku sakit." Jawab Revina.
"Owee...."
__ADS_1
"Yah...Levine terkejut." Gerutu Revina, melihat satu anka yang sedang dia gendong itu, terkejut dengan bersin tadi, sehingga tidurnya pun terganggu.
"Owee...Owee..."
Karena ulah dari hidungnya yang membuat dirinya bersin, mau tidak mau ia harus bertanggung jawab atas Levine yang kembali menangis.
Revina bangkit dari sofa, dan menggendong serta mengayun-ayunkan tubuh levine agar bisa tidur lagi.
"............" Dhavin yang merasa itu adalah kesempatan besar untuknya, buru-buru tangan kanannya menyerahkan senjatanya kepada Lisa, beserta sarung pistolnya itu.
KLEK...
"............?" Revina langsung berbalik, dan mendelik tajam kearah Dhavin yang baru saja seperti habis menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ada apa? Menatapku sperti itu, nanti tambah jatuh cinta padaku loh." Lagi-lagi mulut dipenuhi bumbu godaan itu berhasil menghasut Revina untuk tidak memasang tatapan waspadanya.
Yang ada Revina justru segera memalingkan wajahnya ke tempat lain, sambil berkata, "Aku sudah jatuh cinta juga. Jadi jangan membahas hal yang sudah pasti itu." Dengan mulut manyun, karena merasa tersindir.
"............." Dhavin pun terenyum senang, bisa mendengar jawaban yang memuaskan hatinya?
Dhavin memejamkan matanya, dia pun mencoba apa yang sedang dirasakan oleh hati kecilnya yang sebenarnya sudah dikuasai oleh hal bodoh yang namanya CINTA.
'Bodoh.' Detik hati Dhavin.
"Owee....Owee..." Levine terus menangis.
Revina dengan kelabakan mencoba menenangkannya dengan kembali memberinya ASI. Ya..karena Levine suka di masukkan dengan putingnya, dengan sengaja dia melakukannya lagi.
"............" Sampai Dhavin kembali dibuat untuk memperhatikan Revina yang kembali mengeluarkan asetnya. 'Ngomong-ngomong, aku salah tidak ya? Memilih anak buahku untuk menyamar menjadi Revina. Secara, Revina ini-'
__ADS_1
Dhavin menonton apa yang sedang dia lihat itu dengan cukup seksama, dan di dalam kepalanya pun akhirnya punya satu bukti yang cukup berkontrakdiksi.
Dhavin tiba-tiba tersenyum tawar, 'Aku salah pilih, bodoh juga aku ini. Kenapa aku memilih dia untuk menyamar jadi Revina. Jelas kalau Revina tahu ini, dia pasti akan mengamuk, kalau ada kembarannya, tapi justru punya tubuh bahenol. Sedangkan dia kan seperti es lilin.'