
Erangan demi erangan memenuhi kamar dengan penerangan redup itu.
Dua orang bermain untuk mendapatkan kesenangan mereka berdua.
Vinella, dia sungguh dibuat mendapatkan nikmat yang tidak terbayangkan oleh Freddy, dan Freddy pula jadi bisa menghilangkan kebosanannya dengan membantu Vinella melakukan pengeluaran.
"F-freddy...aku tidak ta-hu, akan se-enak ini." Kata Vinella di ambang pikirannya kembali kosong dan berakhir dengan sebuah lenguhan. "Angh~"
"Dengan kata lain, setelah ini pada akhirnya apa kamu mau mencobanya lagi?" Goda Freddy dengan sebuah bisikan iblis penuh hasutan kepada Vinella yang ternyata di balik penampilannya yang sudah seperti wanita dewasa, pikirannyya masih terlalu polos.
Dan hanya mengadalkan jati dirnya sebagai wanita yang belum menikah, tidak boleh melakukan ini dan itu. Itulah awalnya, tapi sekarang?
Semua manusia pada akhirnya punya jati diri yang sellau tersembunyi cukup dalam, yaitu naf*su. Jika sudah pertama kali mendapatkan nikmat berbuah kesenagan seperti ini, maka pastinya akan ada yang kedua dan ketiga kalinya.
Itu yang Freddy pikirkan dari diri Vinella yang sebenarnya masih polos, apalagi soal **** seperti yang sedang di lakukannya itu.
"J-jangan menggod- Ahh..." Vinella pun melenguh tak jelas, karena area pribadinya sedang dimainkan oleh Freddy dengan gerakan yang cukup sensual. Hingga dalam beberapa saat, Vinella merasa sedikit demi sedikit ada perasaan meleleh di dalam tubuhnya, yang membuat dirinya tidak kuasa untuk menggelinjing dan mengeluarkan suara yang cukup memikat hati para pria yang mendengar de*sa*han itu.
"Jangan menggodamu? Padahal kamu sendirilah yang menggodaku." Sela Freddy di tengah-tengah melakukan pekerjaannya untuk memberikan Vinella sebuah kesenangan yang baru pertama kali di rasakan itu. "Tapi aku penasaran, kenapa kamu yang punya wajah cantik dan penampilan seperti ini, tidak membuatmu punya kekasih?"
"Untuk apa? Jika hanya untuk bermain-main, lebih baik tidak usah. Aku sukanya langsung saja menikah, tanpa ada pacaran yang biasanya memakan waktu lama."
"Pacaran gunanya untuk mengetahui diri masing-masing, apa tidak mau mencobnya?"
"Itu akan...mempengaruhi pekerjaanku. Aku tidak mau. Ah~" Vinella memejamkan matanya, mencengkram lengan Freddy yang kekar itu, sebab saat ini Freddy memang sedang memeluknya dari belakang dan bermain di tempat atas maupun bawah.
"Sungguh keras kepala." Bisik Freddy lagi tepat di telinga kanan Vinella, lalu Freddy mengigit pelan daun telinga itu, tangan kirinya memainkan salah satu aset dari gunungan kembar itu, sedangkan tangan yang satunya lagi bermain di area bawah sana.
__ADS_1
Sungguh pergulatan yang cukup panas untuk mereka berdua, sampai dimana Freddy, akhirnya menggunakan pusakanya untuk menggesek bagian luar dari kepunyaannya Vinella.
Sebuah serangan panjang, cepat, tidak pernah berhenti keluar dari mulut manis Vinella sampai akhirnya ketika Freddy dengan ganas menggeseknya, maka Vinella yang cukup terangsang hebat itu pun bisa mendapatkan puncaknya, bersama dengan Freddy.
_____________
Pag itu, pukul lima pagi.
DRRTT...
DRRTT...
Suara derit handphone tanda alarm itu berhasil mengusik tidur Freddy setelah melakukan pergulatan panas bersama dengan Vinella polos.
"............" Freddy dengan kondisi setenagh sadar, meraba dimana dia meletakkan handphone nya, sampai tidak sengaja, Freddy menyentuh buah dadanya Vinella.
"Hm....?" Vinella cukup terusik, tapi tidak membuatnya bangun, dan yang justru berhasil dibuat bangun adalah si Freddy sendiri.
DRRTT...
DRRTT....
Fredy langsung di sadarkan kembali untuk mencari handphone nya dan mematikan larm itu.
"Hoammhh..."
Freddy yang sebenarnya masing mengantuk itu, mau tidak mau harus bangun. Dia pergi menuju kamar mandi dan membersikah dirinya dengan cara melakukan ritual khusus, karena dia harus membersihkan timun miliknya yang ternyata kembali berdiri?
__ADS_1
'Kenapa aku seperti ini?' Freddy berpikiran dengan otak yang masih cukup kacau. Dia tidak memikirkan soal apa yang dia lakukan kepada Vinella semalam, akan tetapi apa yang pernah Freddy lakukan kepada Revina dulu.
Waktu itu di hari pertama dimana Revina Freddy culik untuk di bawa ke Rusia.
Kala itu Freddy sengaja menculik Revina agar memancing Dhavin pulang ke negaranya. Tapi di tengah-tengah Revina yang meronta ingin pulang dan takut di jual karena di kira Freddy adalah penjual wanita untuk urusan prositusi, membuat Freddy saat itu tidak pikir panjang langsung menggoda Revina, tentunya.
Menggodanya sampai tahap Revina benar-benar memasang wajah memohon dengan mata sudah blinangan air mata, tatkala tubuh mereka berdua sudah benar-benar menempel serta tidak ada jarak di antara mereka berdua untuk bisa saling bersentuhan satu sama lain.
Itulah kenangan lama yang dimiliki oleh Freddy saat ini, dan berhasil membuat timun miliknya berdiri lagi, tanpa harus membuat koneksi secara langsung dengan tubuh wanita?
'Keterlaluan, aku bisa samapi seperti ini.' Cibir Freddy di dalam hati. Dia yang tahu cara untuk menyelesaikan timun libanon nya, berakhir membawa Freddy untuk mandi lebih lama lagi.
_____________
Di saat yang sama.
Karena senangnya bisa kembali mendapatkan kehangatan yang terasa sudah lama tidak Dhavin rasakan selama satu setengah bulan ini, Dhavin untuk pertama kalinya kembali mendapatkan kepuasan karena bisa tidur cukup lelap sambil memeluk tubuh Revina.
'Revina' Dhavin sedikit menepis sedikit rambut yang menghalangi wajah Revina untuk Dhavin pandang lebih lekat.
Di tengah-tengah Revina masih tidur lelap, tiba-tiba posisi tubuh Revina berubah. Kaki yang semula diam, sekarang kaki sebelah kirinya berada di atas paha Dhavin, seakan Dhavin saat ini adalah bantal peluk Revina.
BRUK...
"............." Tentu saja Dhavin melirik ke atas kakinya , dimana kaki istrinya itu sudah di tampilkan dengan cukup jelas ada di atasnya dengan kondisi ujung dari piyama yang dipakai oleh Revina secara otomatis terangkat sendiri dan mendarat ke pinggangnya Revina. 'Sudah seperti ini, masih saja tidur dengan posisi sembarangan.' pikir Dhavin, dia mendaratkan tangan kanannya ke atas paha mulus Revina itu.
Mengusapnya, dan kembail memejamkan matanya seraya menikmati apa itu arti memaksimalkan kesempatan yang ada.
__ADS_1
"Ehmmm...." Perbuatan dari Dhavin pun tentu saja memancing Revina perlahan untuk sadar. Sekalipun sudah sadar, akan tetapi Revina pun tetap nyaman dengan keadaan mereka berdua. Dan yang ada justru adalah, Revina dengan nakal memasukkan tangan kirinya ke dalam bajunya Dhavin lalu mengusap punggung Dhavin.
Usapan pagi itu pun menjadi makanan mereka berdua untuk menikmati rasa rindu dari tubuh yang sudah lama tidak saling dimanjakan satu sama lain.