
Dalam kurun waktu kurang dari tiga menit, Dhavin sudah berhasil sampai di lantai dua. Lalu tanpa pikir panjang, Dhavin langsung membuka pintu kamarnya dengan kasar.
BRAK.
"Vin!" Panggi ldhavin dengan espresi cemas. Apalagi saat Dhavin melihat dengan jelas, kaca jendela kamarnya retak dan berhasl menciptakan satu lubang hasil dari peluru yang sukses menembus masuk ke dalam kamarnya.
Tapi dari pada itu, ketika Dhavin menoleh ke saming kanan, dia melihat Revina sudah jatuh terduduk dengan tangan kiri sudah berlumuran darah.
"Revina!" Teriak Dhavin. Dhavin segera berlutut di depan Revin ayang hanya diam dengan wajah begong. "Vin, apa kamu mendengarku?" Tanya Dhavin dengan tingkat rasa khawatir yang cukup tinggi.
Setelah itu, Dhavin segera meraih wajah Revina yang terlihat tidak bereaksi apapun.
"Tuan, saya sudah memberikannya obat bius, jadi kita harus menghentikan pendarahannya lebih dulu." Jata Arlsei memberitahu.
Dengan cekatan, Dhavin langsung mengikat lengan Revina bagian atas dengan dasi yang dipakai oleh Dhavin itu. Dhavin melepasnya dan idia gunakan untuk mengikat lengan kiri Revina untuk menghentikan pendarahannya.
Namun satu hal yang pasti, Revina terdiam seperti itu karena cukup terkejut.
"Kita bawa kesana." Ucap Dhavin.
Setelah berhasil mengikat lengan Revina, Dhavin langsung membawanya pergi ke suatu tempat yang memang masih berada di dalam rumahnya dan berada di lantai tiga.
Di ikuti dengan Arlsei, tentu saj a mereka berdualah yang akan menangani prosedur darurat itu.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu kamar dengan sistem pintu yang mengharuskan memasukkan nomor sandi, merkea berdua pun akhirnya masuk kedalam ruangan tersebut.
Ruangan yang berdominan berwarna putih, dimana di dalam kamar itu terdapat satu tempat tidur pasien, ada lemari kaca yang berisi berbagai macam obat-obatan, lemari kaca yang menyimpan segala pisau bedah, gunting, dan semua peralatan medis lainnya, juga tidak ketinggalan, ada satu brankas kecil khusus untuk penyimpanan kantong darah.
"Vin, Revina. Kamu mendengar suaraku kan?" Tanya Dhavin lagi setelah dia meletakkan tubuh Revina di atas tempat tidur.
Tapi seperti yang terjadi di awal, Revina tidak merespon ucapannya sama sekali. Sehingga Dhavin pun menggertakkan giginya, dia tidak menyangka kalau Revina akan langsung mengalami trauma seperti ini.
'Bagaimana ini? Apa dia akan tetap seperti ini terus?' Pikirnya.
Dia masih menatap wajah Revina yang tidak memiliki ekspresi apapun selain bengong, layaknya sebuah patung. Melihat hal itu, tentu saja siapa yang merasa tidak sakit?
Padahal yang terluka adalah Revina, 'Tapi kenapa aku jadi merasakan sakit juga?'
Dhavin segera melepaskan sarung tangan hitam dan di gantikan dengan sarung tangan medis yang masih steril itu, karena disini dia ingin membantu Arlsei untuk mengobati Revina juga.
Selepas memakainya, tiba-tiba saja Dhavin di berikan gunting oleh Arlsei.
"Tuan, gunting pakaian Nyonya."
Tanpa sepatah kata pun, Dhavin jadinya memotong pakaian Revina? "Apa barusan kamu bilang? Kenapa aku harus memotong pakaiannya di depanmu?" Selidik Dhavin kepada Arlsei itu.
Mendapatkan perintah dari Arlsei untuk menggunting pakaiannya Revina di depan dua orang pria, salah satunya legal, tapi yang satunya adalah pria ilegal, makanny Dhavin pun langsung memberikan tatapan sengit kepada Arlsei itu.
__ADS_1
Arlsei yang memang mempunyai ekspresi wajah yang datar, segera melirik ke arah pasiennya dan meralat ucapannya dengan segera. "Maksud saya, Tuan hanya perlu memotong pakaian nyonya bagian lengannya saja. Nanti kalau semuanya sudah beres, anda bisa memotong semua pakaian Nyonya sampai tidak tersisa untuk anda sendiri."
Dengan sifat Arlsei yang mempunyai kesabaran yang penuh, maka dari itu, dia pun bisa menghadapi sifat dari Tuan nya ang suka naik turun, apalagi jika sudah menyangkut masalah dengan sang Nyonya nya yang paling Tuan cintai, maka tidak boleh ada satu patah kata pun yang membuat Dhavin itu punya sudut pandang salah paham yang cukup besar.
Karena jika itu terjadi, bisa saja lidahmu langsung di cabut saat itu juga, sebelum kamu mengatakan kalimat yang benar.
Mendengar penjelasan Arlsei yang baru itu, Dhavin pun dengan menurut mulai memotong lengan dari baju yang di pakai Revina.
Tentu saja karena tahu maksud dari perkataan Arlsei adalah memotong pakaiannay Revina sampai tidak tersisa adalah agar pakaian itu segera di buang dan di gantikan dengan pakaian berkancing semua, makan nanti Dhavin tidak akan sungkan untuk melakukan itu.
Hanya saja saat DDhavin tengah memotong lengan baju Revina, Revina tiba-tiba saja meraih wajah Dhavin dan mengusapnya dengan lembut oleh tangan Revina yang lembut namun juga nampak kecil, sehingga Dhavin pun meraskaan kesan imut dari diri Revina.
"Dhavin, kamu sudah pulang?" Satu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Revina yang sedari tadi diam dan tidak menjawab pertanyaan Dhavin beberapa waktu yang lalu.
Namun suara yang keluar itu ternyata berdampingan dari tatapan mata Revina yang sendu.
Melihat hal itu, Dhavin jadi merasa kasihan dengan Revina yang selalu saja mendapatkan kesialan, dan itu seperti terjadi setiap hari.
SLURP...
Lidah Dhavin yang terasa panas itu pun sempat mendarat di kelopak mata Revina yang terlihat basah karena Revina memang sempat menangis.
"Itu kotor." Tegur Revina, saat setelah mendapatkan jilatan di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih kotor dari mereka yang sengaja melukaimu Revina." Lirih Dhavin. "Kamu sama sekali tidak kotor, dan justru di mataku, kamu selalu senantiasa bersih, jadi aku hanya menjilat sesuatu yang tidak seharusnya keluar dari mata indah ini." Ucap Dhavin, mencoba memberikan kata indah untuk menenangkan perasaan Revina yang pastinya sedang kaau balau.