Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
117 : DBMJCP : Serangan Balik.


__ADS_3

Dan betapa gilanya, mereka berdua terjun untuk membunuh mereka semua dengan turun tangan langsung.


Tapi memang itulah yang di lakukan oleh Edwin dan sang senior.


Padahal ada banyak senjata yang bisa di lakukan jika memang ingin menyapu bersih semua anak buah Dhavin yang ada di sekitar mereka berdua, tapi apa alasan di balik sang senior ini melakukannya dengan berhadapan langsung dengan mereka semua?


DORR.....


DORR....


Tembakan demi tembakan mengisi keheningan di sekitar danau.


Suasana yang awalnya terkesan romantis, berubah menjadi arena berisi banyak tragedi.


"Ayo, kenapa kamu tidak menembak? Mau menembak atau di tembak, semuanya ada di tanganmu." Kata pria ini kepada Edwin.


Edwin yang sama sekali belum pernah membunuh, menelan saliva nya sendiri. Keraguan dan ketakutan, serta pengalaman adalah hal yang menjadi sebuah kendala untuknya.


"Pikirkan, ingat bagaimana kamu bisa ada di sini? Bukankah karena kamu ingin membalas kematian dari kedua orang tua mu?" Pria ini kembali menghasut Edwin.


"............." Edwin mulai mendengarkan. Tangan yang awalnya gemetar saat memegang pistol, padahal hanya tinggal menembak saja, perlahan menghilang.


"Apa alasan di balik kematian orang tuamu? Apakah kamu sudah punya jawabannya?"


"Belum. Aku sama sekali tidak tahu apa alasan di balik kedua orang tuaku di bunuh oleh orang itu." Sahutnya.


DORR...


DORR...


Mendapatkan serangan lagi, mereka berdua langsung bersembunyi di balik pohon.


"Makannya, lampiaskan dendam milikmu itu malam ini juga. Dan asal kamu tahu, Bos dari musuh kami itu bukanlah orang yang mudah mati. Jadi jangan menyalahkan aku yang mengira kalau orang itu mati dengan mudah seperti itu." Imbuhnya.


"Tidak mungkin, terkena bom seperti itu, mana mungkin orang itu bisa selamat." Sangkal Edwin masih belum percaya dengan ucapan dari sang senior.


"Kenapa tidak cek sendiri saja?" Mencoba menantang Edwin.


Karena orang ini sudah berkata demikian, hal itu pun membuat Edwin kembali tidak perlu berpikir panjang, dia akan mencari tahu sekaligus meraih dendam yang harus di lampiaskan kepada seseorang yang menjadi penyebab dirinya seperti ini.

__ADS_1


DOORR....


DOORR....


KLAK..


Magazine yang sudah kosong langsung di isi kembali dengan yang baru dan hanya tinggal pasang saja.


Edwin kemudian menumpukan pergelangan tangan kanannya di atas tangan kiri, dan akhirnya dalam sekejap mata, Edwin yang berhasil menemukan targetnya, langsung menarik pelatuknya.


DORR...


'Bagus, bahkan itu tepat sasaran. Ternyata dia bukan kaleng-kaleng yang asal aku pungut dari jalan.' Pikirnya, da merasa bangga dengan keputusannya, sebab dia berhasil membuat orang ini menjadi pengikutnya. "Di arah jam sembilan."


Sesuai yang di instruksikan oleh senior nya, Edwin langsung menoleh ke arah kiri dan segera menembak musuhnya sebelum musuhnya itu lebih dulu menyerang dengan tembakan yang sama.


DORR....


'Padahal gelap seperti ini, kenapa akurat ya? Dia cukup hebat.' Pujinya di dalam hati, cukup kagum dengan cara Edwin yang langsung cekatan dalam mengambil tindakan untuk menyingkirkan musuh yang kiranya memang cukup menghalanginya.


'Tapi apa dia benar-bear masih hidup setelah mendapatkan guncangan dari bom sebesar itu?' Hati Edwin masih saja ragu dengan apa yang di katakan oleh senior.


Demi mencoba untuk meraih apa yan di inginkan nya itu, Edwin pun melakukan perintah yang kiranya memang harus di laksanakan.


Tatapan mata yang begitu sayu itu berhasil menarik simpati dari pria yang baru saja mengendong tubuhnya masuk kedalam mobil lain yang benar-benar memiliki aroma alkohol yang cukup menyeruak untuk mengusik hidungnya yang cukup sensitif itu.


'Kenapa dia bangun? Tunggu, matanya terlihat sedang mengantuk, tapi aku rasa wanita ini memang seperti sedang menahan rasa kantuknya.' pikir pria ini.


Jika di satu sisi Revina sedang di hadapi dengan satu orang Bos besar yang memimpin kelompoknya sendiri, maka Arlsei saat ini sedang di coba untuk di keluarkan.


Tapi tentu saja untuk menghindari adanya sesuatu yang tidak di inginkan, mereka sudah menyiapkan hal khusus dan itu adalah obat tidur yang harus di suntik.


"Cepat bawa dia, mungkin saja Bos bisa membuatnya di manfaatkan." kata orang pertama.


"Iya ...,iya. Tapi aku harus menyuntikkan obat ini lebih dulu ke tubuhnya." Sahutnya.


Lalu dia pun benar-benar mengeluarkan alat suntik dari saku jaketnya. Dan alat suntik itu juga sudah terisi dengan air yang terlihat jernih itu.


"Cepat, kita harus pergi dari sini sebelum ada yang lewat." Perintahnya lagi.

__ADS_1


"Iya cerewet." Ketusnya. Lalu dia pun dengan segera langsung membuka tutup jarum dan mulai menyuntikkan cairan obat ke tangan Arlsei.


"..........!" Arlsei yang tadinya masih membungkuk dengan posisi kepala di depan kantong udara, tiba-tiba membuka matanya, dan di saat ujung jarum suntiknya itu hendak menusuk kedalam kulitnya, Arlsei tiba-tiba saja langsung menendang tubuh orang tersebut hingga orang tersebut terjungkal cukup jauh.


BRUKK...


"AKhw...serang dia!" Perintah balik kepada ketiga rekannya itu agar segera menangani Arlsei yang ternyata masih sadar, meskipun sudah mendapatkan guncangan akibat tabrakan tadi.


"Hyaahh...!" Arlsei yang masih berada di dalam mobil, dengan buru-buru dia mengambil senjata yang kebetulan memang di letakkan di samping kursinya.


Setelah mendapatkan tongkat besi yang dia miliki itu, Arlsei segera keluar dari mobil, menyentak tongkat besi yang tadinya sepanjang dua puluh centimeter menjadi lima puluh centimeter.


BUKHH...


Pukulannya itu langsung di tangkis dengan tongkat besi yang sedang di pegang nya itu dengan kuat, sehingga sudah jelas kalau tangan yang hendak membogem mentah Arlsei langsung menghantam besi yang keras dan mengakibatkan cedera yang cukup memuaskan Arsei sendiri.


Tapi tidak hanya serangan dari kekuatan fisik saja, sebab di belakangnya persis, sudah ada satu orang yang sudah mengangkat pistolnya.


DORR....


DORR...


"Masih belum kapok juga?" Tanya Arlsei kepada mereka berempat, sebab Arlsei sebelum ini pernah berhadapan dengan mereka berempat.


"Ha...., entahlah, mungkin memang seperti itu." Jawab salah satu diantara merkea berempat.


Mendengar jawaban yang terasa seperti di tantang, Arsei keluar dari balik mobil, lalu dia dengan gesitnya langsung melompati atap mobil untuk bisa berada di sisi mobil lainnya dengan lebih cepat.


Karena kedua laki-laki ini panik, mereka berdua buru-buru mundur kebelakang dan sama-sama menodongkan pistol kearah Arlsei yang hanya mengandalkan tongkat besi saja.


Dan mereka berdua langsung menembak dengan beberapa kali menembak.


DORR....


DORR...


CTANG..!


CTANG..!

__ADS_1


Suara nyaring itu sukses membuat mereka berempat langsung membelalakkan matanya, karena dia tahu suara tadi adalah suara benturan antara besi dengan ujung peluru yang saling beradu, gara-gara Arlsei si pria wajah tembok ini berhasil menangkis semua peluru yang datang kearahnya dengan modal batang besi saja!


"Masih ingin melawanku?" Satu pertanyaan singkat itu berhasil menggetarkan jantung mereka berempat untuk lebih bekerja keras dalam memompa darah mereka.


__ADS_2