Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
40 : DBMJCP : Rasa bersalah


__ADS_3

"Huhh....akhirnya dia pergi juga. Tapi aku harus bagaimana dengan Revina? Aku tidak ingin pertengkarannya bisa memakan waktu yang lama seperti ini." Gumam Dhavin, dia bersandar ke sofa, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Segala sesuatu yang berhubungan dengan Revina sang Istri memang selalu membuatnya lelah. Tapi semua itu tidak membuat Dhavin merasa lelah untuk terus menempel pada wanita itu, karena bagi Dhavin, hanya dia saja yang bisa Dhavin gunakan untuk melepas rasa lelah yang dimiliki oleh Dhavin.


Dan hari ini, pelepas lelah itu sedang marah kepadanya.


'Bagaimana ara meminta maaf kepadanya?' Tatap Dhavin pada langit-langit kantornya. Dia sungguh bekerja keras untuk mencoba mencari cara untuk memperbaiki hubungannya.


TING.....


Sampai notifikasi pesan masuk dari Arlsei, membuat Dhavin melirik tangan kirinya yang masih memegang handphone nya.


'Hmm..ternyata di perumahan elit di distrik 4. Kebetulan yang bagus sekali dia tinggal dengan beberapa pelayannya.' Dhavin menscroll apa yang tengah Dhavin baca itu, sampai satu jari jempolnya itu segera menekan nomor milik Freddy.


-"Ada apa?"-


"Kenapa suaramu lesu begitu, aku belum membuat perhitungan denganmu soal yang kemarin. Tapi mau bagaimanapun pekerjaanmu harus kamu kerjakan. Bawa mereka ke tempat xxx, letakkan saat malam harinya, dan biarkan wanita itu mendapatkan hadiah dari kita." Jelas Dhavin pada Freddy, yang sedang Dhavin hubungi itu.


"Hmm.."-


TUT


Mendapatkan jawaban berupa deheman, dan panggilannya berakhir begitu saja, Dhavin hanya bisa menatap layar hanphonenya itu. "Dia yang salah kenapa dia yang frustasi. Oh ya...sebentar lagi hari itu, sebaiknya aku adakan ulang saja." Lirih Dhavin, ketika dia melihat wallpaper yang Dhavin gunakan untuk menghiasi layar hanpdhone itu adalah foto pernikahannya dengan Revina.


Sungguh, Dhavin merasa ada satu hal yang membuat dirinya benar-benar terpikat kepada wanita yang memang tidak seberapa pintar juga cantik?


Cantik adalah sesuatu yang bisa di dapatkan asal punya uang, dan Dhavin sudah bisa membuat wanita itu cantik, tapi bagaimana dengan otaknya?


"Dia kan mudah terbujuk dengan sesuatu yang berifat romantis, sekalipun aku membuat diriku jadi terlihat konyol di depannya, hatinya pasti akan luluh juga. Benar ... Benar, aku akan melakukan itu saja lah. Dia kan tipe wanita yang suka ini dan itu dengan berlebihan, maka ini akan jadi hal yang akan membuat Revina kembali luluh." Dhavin jadi mengangguk-anggukan kepalanya, sebab dia akhirnya bisa menemukan solusi ulang tahun hari pernikahan yang ke satu tahun yang sebentar lagi akan datang.


*


*


*


KLEK....


Pagi berubah jadi siang, dan siang berubah jadi sore.


Dan sore itulah, Dhavin pulang dari kantornya.

__ADS_1


KLEK..


Kedua pintu itu otomatis terbuka sendiri, satu orang pelayan menyambutnya.


"Selamat datang Tuan," sapa pelayan pria ini, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Dhavin melepas mantel coat berwarna hitam dari tubuhnya.


"Hmm...apa mereka berdua ada di kamarnya?"


"Lusi dan Lisa sedang berada ruang belakang Tuan."


"Ok." Untuk melepas rindu, tentu saja Dhavin lebih dulu untuk menemui Elvine dan Louisa.


Dhavin pergi ke ruang tamu yang ada di belakang, dekat dengan kolam. Karena saat ini matahari sore masih terang dan hangat, maka ruangan itu akan dipnuhi dengan kehangatan yang Dhavin makusd itu.


"Tuan muda, kenapa anda tidak mau? Ini sama-sama susu loh." Suara milik Lisa pun terdengar juga.


"Nona muda, kenapa anda ikut-ikutan dengan Tuan muda. Masa anda berdua ngambek tidak mau minum susu ini lagi?" Dan saat ini suara milik Lusi juga terdengar oleh Dhavin yang sudah berdiri di belakang kedia babysitter itu.


"Ada apa dengan mereka berdua?" Mata Dhavin menangkap Levine dan Lousia yang menolak untuk diberikan susu formula.


"Tuan dan Nona tidak mau minum." Jawab Lisa.


Dhavin yang merasa khawatir, mencoba menggendong Louisa dan ikut mencoba untuk menempelkan ujung dari botol dot itu agar Louisa mau meminumnya.


"Iya Tuan, dalam kurun waktu delapan jam ini, Tuan dan Nona mau memnum susu formulanya , tapi ini..."


"Saat ini Tuan dan Nona menolak susu itu." Imbuh Lisa.


"Bagaimana dengan Revina? Apa dia masih berada di dalam kamarnya seharian ini?" Tanya Dhavin. Karena Loisa tidak mau minum, maka Dhavin mencoba levine untuk dia gendong, mungkin saja mau setelah Dhavin menggendongnya.


"Nyonya, nyonya masih ada di dalam kamarnya." Jawab Lisa dengan ragu.


"Ini." Dhavin mengembalikan Levine untuk di gendong Lusi. "Aku akan pergi melihatnya. Lalu kalian, coba ganti isinya dengan susu yang ada di dalam kulkas. Disana ada beberapa kantong ASI milik Revina. Pergi dan hangatkan dan berikan kepada mereka."


"Baik Tuan." Lisa dan Lusi segera pergi meninggalkan tempatnya, untuk mencoba melakukan apa yang di perintahkan oleh Bos nya itu.


Dhavin pun pergi menuju kamarnya. Demi apapun, karena ini ada hubungannya dengan Levine dan Louisa, maka Dhavin harus menghadapi Revina langsung.


KLEK.


Kali pertama Dhavin masuk, Dhavin menemukan kamarnya pencahayaannya cukup remang.

__ADS_1


Dhavin mulai celingukan untuk melihat apa yang ada di kamarnya itu ada perubahan atau tidak, mengingat tadi pagi saja Revina benar-benar melempar piringnya.


'Itu sudah bersih, karpetnya juga sudah ganti. Lalu-,' Dhavin sempat melihat juga, ternyata di dalam kamarnya ada kulkas juga?


Karena semua urusannya ada pada Revina, Dhavin berjalan semakin dalam, dan akhirnya bisa menemukan Revina yang ternyata terbaring di sofa.


'Lagi?' Dhavin tidak habis pikir, setiap kali Dhavin masuk kedalam kamar setelah keluar rumah, jika Dhavin masuk ke dalam kamar dengan Revina ternyata sudah tidur, maka Dhavin akan menemukan wanita itu tertidur di atas sofa.


Kenapa Revina melakukan itu, sampai saat kehamilannya dari setengah tahun yang lalu sampai sekarang, Dhavin belum pernah menemukan alasan kenapa Revina suka tidur di sofa ketimbang tidur di atas tempat tidur yang besar dan empuk itu.


Dan sekarang, Revina melakukannya lagi.


Namun saat ini, Dhavin lagi-lagi melihat ada beberapa kantong susu yang tergeletak di atas meja, sedangkan alat pompanya masih di pegang, lalu Revina sendiri, kancing bajunya masih terbuka.


'Dia terlihat seperti kelelahan.' Merasa simpati dengan keadaannya, Dhavin pelan-pelan mengambil alat itu dari tangannya, lalu menggendong tuuh Revina agar kembali ke tempatnya.


BRUK...


Dengan pelan, Dhavin meletakkan tubuh yang terasa ringan itu di atas tempat tidur milik mereka berdua.


Tapi disaat itulah, ketika Dhavin sudah meletakkan tubuh Revina di atas tempat tidur, maka saat itu pula wajah mereka berdua cukuplah dekat, sampai nafas pean dan teratur yang Revina lakukan, bisa Dhavin dengar dengan sepenuh hati.


CUP...


"Maafkan aku, sudah memarahimu." bisik Dhavin setelah mengecup singkat bibir Revina. Setelahnya, Dhavin mengancing kedua kaning baju Revina agar tertutup, dan barulah Dhavin pergi kembali ke sofa tadi untuk membereskan barang dan minuman yang tergeletak itu.


Karena tentunya tidak suka tempatnya berantakan, maka Dhavin sendiri yang pergi membereskan semua itu. Dan salah satunya adalah menyimpan kantong susu itu kedalam kulkas yang ada di tempatnya.


KLEK.


"..........?!" Betapa terkejutnya, melihat apa yang ada di dalam frezeer dari kulas baru itu. 'Sebenarnya dia bisa memproduksi seberapa banyak susu dalam sehari? Dengan yang ada di tanganku ini, jumlahnya sudah sepuluh. Ternyata yang seperti ini tidak harus tergantung ukurannya.'


Dhavin jadi tersenyum geli, karena mengingat aset milik Revina itu tidaklah seberapa besar, dan bisa di bandingkan dengan jelas dengan miliknya Vinella, akan tetapi yang tidak terduga adalah Revina punya produksi yang cukup banyak, dan Dhavin yang tadi berkata kasar kepada Revina, jadi merasa bersalah sendiri.


'Pastinya kesal, siapa yang tidak kesal karena aku jadi mengatakan hal buruk tentang ASI nya. Apa karena dia takut kalau nasi goreng asin nya benar-benar mempengaruhi ASI nya, makannya dia tidak memberikannya langsung kepada Levine dan Loisa, dan memilih untuk diperah sendiri?' Dhavin jadi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.


Disini, yang serba di salahkan jadi dia sendiri. Dari nasi goreng, Levine dan Louisa yang tidak mau minum susu formula lagi, dan sekarang Revina yang harus memerah ASI nya sendiri, karena takut apa yang dikatakan Dhavin tadi pagi itu.


'Aku jadi seperti orang yang tidak berguna, seenaknya sendiri memutuskan larangan kepada Revina. Padahal aku sendiri yang buat nasi goreng itu keasinan, dan demi menjaga hatiku, Revina jadi terpaksa memakannya sampai semuanya, lalu aku jadi memarahinya begitu saja.


Dhavin, kenapa kamu tidak punya otak, tiba-tiba memarahinya. Sekarang yang jadi susah kan semua orang.' Dhavin terus merutuki dirinya sendiri yang merasa tidak berguna itu.

__ADS_1


__ADS_2