Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
174 : DBMJCP : Pertarungan Dhavin


__ADS_3

"Sekalipun aku tidak bisa membunuhmu, setidaknya aku bisa membuatmu celaka, Dhavin." Ucap pria berkacamata hitam ini, dia langsung menodongkan pistolnya ke arah Dhavin, tapi begitu pula sebaliknya dengan Dhavin sendiri, yang langsung menembakkan pelurunya bersamaan dengan peluru yang keluar dari pistol sang musuh.


DORR...


DORR...


Dua suara tembakan yang begitu kontras itu berhasil memicu ledakan kecil karena peluru yang keluar itu saling berhantaman.


Sudah beberapa menit mereka berdua bertarung, selepas Dhavin berhasil mengalahkan semua anak buah dari musuh yang masih belum di ketahui identitasnya itu, sebab Dhavin tahu, kalau musuhnya itu memakai topeng untuk menyembunyikan wajahnya nya yang asli.


Tidak dapat di pungkiri bahwa dia sekarang ini seakan sendirian.


Bahkan ia pun tidak bisa berharap kepada Vinella, sebab Vinella sendiri adalah urusannya sendiri.


'Baru juga sampai di sini, berarti dari awal aku memang di pancing untuk berpisah dari Revina.


Tapi- sebenarnya siapa dia ini?' PIkir Dhavin.


DORR...


DORR..


'Sial, peluruku habis.' Detik hati Dhavin, ketika ia menarik pemicunya, sama sekali tidak keluar peluru, yang artinya pelurunya itu memang sudah habis.

__ADS_1


Tapi seperti yang di harapkan juga, karena mereka berdua sama-sama menggunakan jumlah peluru yang sama saat saling menyerang, maka Dhavin yakin kalau dia juga sama-sama kehabisan peluru.


Dan dalam gerakan yang sama, Dhavin mengeluarkan magazine terakhirnya untuk mengisi ulang pistol yang sudah kehabisan peluru itu.


"Kau pasti tergesa-gesa ingin pergi menemui Kafael kan?" Tanya pria ini sambil mengisi Magazine nya lagi.


KLAK...


Mereka berdua sama-sama sudah sepenuhnya mengganti Magazine itu dengan yang baru, dan di saat yang sama pula mereka berdua sama-sama menodong senjatanya ke arah depan.


"Aku tidak harus menjawabnya, bukan?" Balas Dhavin.


"Ya, aku pikir begitu. Padahal aku ingin sedikit berbasa-basi denganmu. Tapi karena kau tidak mau, berarti kau memang ingin cepat-cepat bisa membereskanku, ya kan?"


"Baiklah." Seringai pria ini dan dia pun mengarahkan pistolnya ke arah Dhavin, dan begitu Dhavin menarik pemicunya ke arahnya, pria ini sedikit memiringkan kepalanya dan ...


DORR....


Satu peluru milik Dhavin yang meleset itu di susul dengan satu pelu dari pistol satunya lagi yang tepat sasaran menembakkan pelurunya ke samping kanan sedikit ke atas.


DORR...


"Argkhh..." Satu rintihan kecil yang langsung menghilang itu berhasil menciptakan suasana yang kian mencekam, setelah Dhavin juga berhasil membunuh satu orang sniper yang berdiri di salah satu gedung yang ada di belakangnya.

__ADS_1


'Dia memang menakutkan. Tapi aku tidak akan kalah dengannya, apalagi sekarang dia memiliki keterbatasan tempat, serta bantuan. Jadi kita lihat, kira-kira siapa yang akan sampai duluan? Apakah kematian Dhavin ini atau datangnya bantuan dari anak buah Kafael yang berhasil datang kesini?' Menunggu apa yang sedang diharapkannya itu, ia pun akhirnya kembali menyerang Dhavin.


DORR...


Dhavin sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri dengan wajah menoleh ke arah samping kiri.


Betapa bahayanya ketika peluru itu hampir saja menembak kepalanya jika tidka Dhavin hindari dengan tepat waktu.


Namun, sebagai balasan untuk peluru yang tadi, dalam sekejap mata, Dhavin menoleh kembali dan menatap ke depan, mengangkat tangannya ke depan, saat itu juga Dhavin menembak.


"Aura membunuhmu kuat sekali ya?" Seringai pria ini, membalas tembakannya Dhavin, sehingga peluru mereka berdua pun kembali saling menghantam.


"Heeh, jika tidak seperti itu, maka aku tidak akan bisa melawan musuh dari entah berantah ini." Senyum Dhavin, dia berlari ke arah depan, dan begitu juga sebaliknya dengan musuhnya Davin, mereka berdua pun saat ini saling adu kekuatan dengan saling meninju, tapi mereka berdua yang memiliki keseimbangan dalam hal teknik dan kekuatan dalam bertarung, membuat mereka berdua sama sekali tidak memiliki celah.


Bahkan sekalipun Dhavin saat ini, kepalanya sudah dilumuri darahnya, karena kecelakaan mobil tadi. Semua itu tidak membuat Dhavin kehilangan semangatnya untuk tidak membalas aksi dari lawan yang tidak Dhavin ketahui ini.


DORRR...


DORRR....


Pertarungannya yang begitu seimbang itu hanya tinggal menunggu masalah waktu lagi sampai diantara mereka berdua mengalami kelelahan.


'Mau bagaimanapun, aku tetap harus kembali dengan selamat. Karena- Revina sedang menungguku.' Pikir Dhavin, ia pun sama sekali tidak boleh lengah dari segala rintangan yang sedang Dhavin hadapi ini, sebab musuhnya bukan sekedar yang ada di depan matanya saja, tapi juga ada di seluk beluk gedung yang menjadi seorang sniper untuk membunuh dirinya dari jarak jauh.

__ADS_1


__ADS_2