
"Kenapa aku bisa ada di sini sih?" Rutuk Adel, sekarang dia ada di dalam sebuah kamar. Sayangnya tidak seperti kamar miliknya yang ada di dalam rumah, dia saat ini justru di kurung di dalam kamar sempit layaknya seorang pembantu. "Tch..."
Adel mendengus kesal, karena dia sungguh menjadi seorang tahanan.
"Hei! Apa tidak ada orang di luar! Aku lapar!" Teriak Adel. Hanya mencoba agar ada salah satu orang yang datang dan memberikannya penawaran terbaik, setidaknya harus di coba, karena kebanyakan orang lebih suka uang.
Sampai tidak lama kemudian, Adel akhirnya di datangi oleh seorang laki-laki. "Sudah kelaparan ya? Padahal aku maunya kamu kelaparan dan akulah yang mengenyangkanmu. Tapi sayangnya Bos menyuruhku untuk memberikanmu makan normal."
KLEK.
Pintu itu terbuka, dan memperlihatkan seorang laki-laki berpakaian jas hitam lengkap, membawa nampan berisi beberapa piring makanan dan meletakkannya langsung di atas nakas.
Dan dua orang itu saling pandang. Diantaranya adalah karena laki-laki ini sungguh di perlihatkan seorang wanita yang bahkan belum memakai pakaiannya. Kondisinya seperti malam tadi, masih menggunakan pakaian bikini nya.
Tapi tidak seperti laki-laki pada umumnya, yang pastinya akan tergoda dengan tubuh bahenol milik Adel, pria ini justru memejamkan matanya sesaat dan tersenyum miris.
"Wanita memang suka tidak puas dengan apa yang sudah di milikinya." Ucapnya, memancing rasa penasaran Adel yang masih berdiri memberikan jarak diantara mereka berdua.
"'Apa maksudmu?" Adel semakin waspada melihat reaksi yang di berikan oleh pria ini.
"Yah~ Demi bisa menampilkan tubuh yang menarik, sampai melakukan operasi plastik." Untung saja Bos tidak tergoda oleh wanita sepertimu.
Mendengar ucapannya, Adel ingin sekali memukulnya. Tapi jika dia melakukan itu, kesempatan untuk memberikan laki-laki ini tawaran akan gagal total.
"Suka-suka aku. Tapi apa kau tertarik un-"
"No~" Laki-laki ini justru sudah menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakannya.
Padahal Adel belum mengatakan semuanya.
"Aku sudah tahu maksudmu cantik. Tapi aku sama sekali tidak peduli dengan tawaranmu itu. Karena jika aku menerima tawaranmu, ujung-ujungnya aku yang kena imbas. Makan dulu tuh, yang kenyang." Dan penjelasannya pun berakhir.
BRAK.
'Ya sudah kalau tidak mau, aku juga tidak akan memaksanya. Karena sebentar lagi juga akan ada yang menjemputku.' Pikir Adel.
Demi keamanannya sendiri, dia sama sekali tidak menyentuh makanan yang di berikan oleh anak buah Dhavin tadi, karena ia takut kalau di dalam makanan ada obat atau apapun itu.
Makannya, dari pada lebih terjebak dalam genggamannya, Adel lebih memilih untuk kelaparan.
__ADS_1
________________
"Kapan perbaikannya selesai?" Setelah pagi-pagi pergi meninggalkan Revina yang masih tidur di dalam kamar, Dhavin sekarang sedang ada di kantornya, menyelidiki kasus terjadinya kebakaran.
"Paling cepat satu minggu lagi."
"Ha? Kenapa satu minggu? Perasaan aku sudah memberikan banyak uang untuk perbaikan." Dhavin seketika curiga dengan biaya yang sudah di atur oleh Arlsei, karena tidak mungkin uang sampai delapan ratus juta itu perbaikannya selesai satu minggu kemudian. "Jangan-jangan kamu makan uangku ya?"
"A-apa? Itu mana mungkin Bos, saya sama sekali tidak makan uang milik Bos." hanya untuk menjawab pertanyaan dari Dhavin saja, tubuhnya sudah gemetaran karena ia sangat takut dengan tatapan mata Bos nya yang terlihat mengintimidasi seperti mau membunuhnya.
Ya, itu hanya permainan semata, sebab Dhavin langsung merubah ekspresi wajahnya jadi lebih kalem.
"Hahaha....sebenarnya apa yang sedang ada di pikiranmu? Sedang berpikir kalau aku akan menghukummu? Padahal aku hanya bercanda, tapi bisa di anggap serius." Tawa Dhavin yang singkat itu di akhiri dengan membaca laporan keuangan yang baru saja dia peroleh dari Freddy.
"J-jadi s-"
"Selagi mood ku lagi baik, pergi kerja lagi. Tapi aku sarankan agar seminggu itu bisa di pangkas jadi lima hari, mengerti?" Dhavin memberikan perintah tanpa menatap lawan bicaranya itu, karena ada sesuatu yang lebih menarik ketimbang menatap anak buahnya yang terlihat ketakutan itu.
"B-baik Bos, saya akan kembali bekerja. Terima kasih," Dengan perasaan yang tidak karuan, jantung yang berdegup kencang, dia akhirnya bisa keluar dengan selamat.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Cepat keluar." Dhavin meletakkan tab yang ia pegang dengan kasar ke atas meja, sampai tab itu sempat sedikit terseret ke depan.
Ok, raut wajah Dhavin sesaat tadi memang senang. Akan tetapi semuanya sudah sirna setelah Dhavin tadi menyuruh Freddy yang sedang bersembunyi di balik rak lemari yang ada di belakangnya untuk keluar.
Tentu saja raut wajahnya sudah tidak sebagus tadi, karena orang yang di carinya muncul juga.
"Padahal aku menyuruhmu untuk hadir di pesta bukan untuk mencium seorang pelayan. Kenapa kamu melakukannya?"
"Aku hanya kalah taruhan."
Dhavin mengernyitkan matanya. "Apakah taruhannya kamu harus mencium seseorang?"
"Seperti yang di tebak, taruhannya memang seperti itu. Karena tidak ada orang lain lagi yang aku kenal, sayangnya aku mau tidak mau jadinya mencium Vinella."
Mendengarnya saja rasanya Dhavin ingin menghajarnya. Tapi dia sedang tidak mau repot-repot untuk memberinya pelajaran, karena tenaganya hari ini akan dia gunakan untuk Revina.
'Hah...sialan, aku harus menahannya. Tapi tanganku ini sudah gatal, ingin sekali-' Ya, karena sudah terlanjur emosi, Dhavin melempar tab yang ada di mejanya itu ke arah Freddy dengan cepat.
GREP.
__ADS_1
Freddy mampu menangkap tab itu dengan cepat sebelum mendarat di kepalanya?
"Kepala berhar-"
BUKH....
Sayang sekali, kepala berharganya itu berhasil di lempari dengan bola kasti dengan cukup kuat oleh Dhavin.
Dia tahu kalau tab itu tidak mungkin akan berakhir rusak begitu saja, makannya untuk berjaga-jaga Dhavin sudah lebih dulu menyiapkan senjata lain untuk memberikan pelajaran ringan untuk Freddy yang bodoh itu.
"Bagi-"
BUKH....
"Kamu cukup berisik. Terima saja itu sebagai hukumanmu hari ini." Sela Dhavin dengan cepat, masih melempari Freddy dengan bola kasti.
BUKH.....
"Dhav-" Freddy buru-buru menghindar.
Karena Freddy menghindar, Dhavin jadi semakin terpicu untuk melempari anak itu dengan lebih keras, karena belum puas.
"Jika bukan karenamu, Revina tidak akan marah kepadaku." Dhavin melempari Freddy lagi.
"Artinya wanita itu cukup sensitif sekali ya?" Ledeknya dengan senyuman remeh nya. Freddy memiringkan tubuhnya ke kiri, hasilnya bolanya tidak jadi kena tubuhnya Freddy.
Karena dia berdiri dan di apit oleh sofa dan meja di kanan dan kirinya, Freddy langsung membuat kuda, kuda, membungkukkan tubuhnya ke arah depan sofa, setelah itu menumpukan salah satu tangannya ke atas sandaran sofa, akhirnya Freddy pun melompati sofa.
Makin terprovokasi, Dhavin langsung maju dan melempari satu persatu bola yang sudah dia bawa di tangannya.
"Ya, gara-gara kamu. Dia jadi seperti itu lagi, daftar kesalahanmu semakin banyak. Setelah hari ini selesai, aku pastikan kamu akan mendapatkan hadiahmu!"
"Ya, aku akui, aku banyak salah, hadiah darimu juga aku memang sedang menunggunya. Tapi aku sarankan, agar Revina bisa lebih menguatkan hatinya. Tidak mungkin dia terus saja di dalam perlindunganmu. Jika seperti itu terus, yang ada akulah yang akan mengambil alih posisimu.
Ibumu lah yang menyarankan jika kau terus saja meninggalkan pekerjaanmu dan melimpahkannya kepadaku, posisimu akan digeser untukku."
Lemparan terakhir dari Dhavin berhasil di tangkap oleh Freddy.
Dan Freddy seketika melihat ekspresi Dhavin yang terlihat marah itu. "Apakah itu alasanmu menempel pada Ibuku seperti lintah?" Tanyanya dengan nada tegas.
__ADS_1