
ZRASSHH….
Air dari shower itu akhirnya mampu untuk merileks kan tubuh nya yang lelah, sekaligus membersihkan seluruh kotoran yang menempel di kulitnya.
Selesai mandi, tidak perlu waktu lama baginya untuk pergi keluar dari sana.
KLEK…
Setelah keluar dari kamar mandi, Visco sudah mendapati Safina sudah tertidur di atas tempat tidurnya.
‘Apa dia sengaja melakukannya?’ Detik hati Visco, begitu ia melihat Safina begitu lelap dalam tidurnya, padahal sedang berada di kamar pria.
Dengan arti lain, Safina sedang memberikan kepadanya sebuah kode.
“Ngomong-ngomong, apa kamu berubah pikiran soal mau merebut Dhavin dari wanita itu?” Tanya Visco. Karena di dalam kamarnya ada rak berisi botol wine, ia pun mengambil salah satu dari puluhan botol yang ada.
“Entahlah.” Sahut Safina dengan nada yang begitu lirih.
Mata yang tadinya terpejam, kini perlahan terbuka dan melihat Visco sedang menuangkan anggur merah pekat kedalam gelas.
Tidak hanya satu, tapi dua, berarti Visco memang menuangkan untuknya juga.
“Aku sedang buntu, gara-gara waktu itu dia mencium seorang pelayan rendahan.”
“Padahal kau tahu sendiri, kalau pria pasti ada kalanya akan memiliki jalur simpangan. Aku tahu, waktu kamu pasti terkejut kan, kalau dia mencium seorang pelayan di depan umum. Tapi apa kamu sama sekali tidak pernah berpikir kalau dia itu benarkan Dhavin, atau bukan.” Jelas Visco, menyodorkan gelas yang sudah di isi separuh anggur merah kepada Safina.
Masih dalam posisi baring dan miring ke kanan, Safina menerima gelas berisi wine itu, lalu dia mendekatkan dinding gelas itu ke wajahnya, hingga Safina akhirnya melihat keberadaan Visco yang sedang berdiri di hadapannya dari air anggur merah yang sedikit transparan.
“Meskipun dia adalah orang lain, tetap saja dia membuatku malu di depan banyak orang. Kenapa kamu malah membuat tantangan seperti itu sih?” Tanya Safina, dengan nada yang begitu malas.
“Ya ampun, apa otakmu hanya digunakan untuk pajangan saja? Aku melakukannya untuk membuat mereka mempunyai skandal.
Walaupun skandal tentangnya sudah di hapus, tapi setidaknya aku mendapatkan hiburan dari mereka, seperti tanggapan dari Revina. Wanita polos seperti dia, pasti langsung kena umpannya.” Jelas Visco, lalu duduk di tempat tidurnya, tepat di depan Safina sedang tiduran itu.
__ADS_1
“Aku sedang malas berpikir, apa kamu punya cara, setidaknya meskipun aku sama sekali tidak bisa mendapatkan Dhavin lagi, tapi bisa melihat keretakkan di rumah tangganya, pasti bisa jadi sesuatu yang cukup menyenangkan.” Safina tersenyum lemah, berpikir seandainya ucapannya itu terwujud, ia jadi ingin melihat keputusasaan dari wanita yang sudah merebut Dhavin darinya.
“Hm, kenapa tidak membuatnya menidurimu saja? Ah~” Tapi Visco langsung menyadari permasalahan dari Safina sendiri. “Karena Dhavin sendiri orang yang membuatmu pergi keluar negeri lagi gara-gara kejadian setahun lalu, dia pasti mana sudi menemuimu.”
“Apa kamu sedang menghinaku?” Safina akhirnya bereaksi, ia kembali duduk, sehingga ia pun berhadapan dengan wajah Visco dengan posisi jarak yang cukup dekat.
Visco hanya membalasnya dengan senyumannya saja, sebab mau bagaimanapun sesuatu yang sudah terjadi adalah fakta yang tidak bisa disangkal lagi, karena pada dasarnya permasalahan dari Safina sendiri adalah ia sudah begitu dibenci oleh Dhavin, hanya karena permasalahan yang terjadi satu tahun lalu.
Kejadian apa?
Revina pernah di culik, dan dengan didampingi rencana dari Visco sendiri, Safina yang kala itu kesal karena Dhavin berpaling dari Safina, membantu Safina untuk melampiaskan kemarahannya, dengan menyiksa Revina.
Maka dari itu, Dahvin sudah pasti tidak akan mau berhubungan lagi dengan Safina.
GLUK…GLUK….GLUK….
Safina dengan sembarangan meneguk anggur merah itu dengan cepat, karena ia pulang ke negaranya, tapi ia sama sekali tidak mendapatkan tujuan apapun.
“Ada kemungkinan. Tapi semua itu tergantung dari rasa percaya mereka.” Jawab Visco dengan wajah santainya, apalagi setelah melihat Safina yang perlahan mulai dilanda mabuk frustasi. “Tapi setidaknya, jika kamu menginginkannya, kamu harus mulai mengambil satu langkah ke depan.” Imbuhnya.
Safina kembali meneguk anggur merah tersebut, sedangkan Visco meminumnya sedikit demi sedikit. Namun karena gelas milik Safina sudah kosong, Visco pun menuangkan anggur dari gelas miliknya sampai hanya menyisakan separuhnya.
“Hmm…, kamu benar.” Dalam dua kali tegukan, Safina berhasil meminum semua anggur di dalam gelasnya. “Aku tetap harus maju, mereka berdua harus dipisahkan, saling menempel seperti lintah.”
Dengan mata sudah tidak tahu sedang menatap ke arah kemana, gelas yang sudah kosong itu lantas di ambil oleh Visco, sebelum dijatuhkan ke lantai karena Safina sudah mabuk, dan meletakkannya di nakas.
Akan tetapi, di saat itu juga, Safina mencengkram ujung dari lengan handuk kimono yang dipakai oleh Visco, hingga Visco akhirnya menoleh ke arahnya juga.
“Tapi-”
“Tapi apa?” Meletakkan gelas kosong milik Safina ke atas nakas. Selagi itu pula ia pun menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Safina itu.
“Bisakah kamu membantuku lagi?” Tanya Safina dengan harapan besar kepada pria di depannya itu.
__ADS_1
“Bantuan dalam bentuk apa?” Tanya balik Visco, lambat laun anggur merah yang tersisa di gelasnya ia dekatkan ke bibirnya. “Apa kamu ingin aku menemani kamalanganmu itu?” Ucapnya, dengan senyuman mencibir.
“Malam ini, temani aku, bisa kan?” Tatapan mata sendu penuh harap itu pun perlahan jadi menarik minta Visco.
Visco lantas langsung meneguk sisa dari anggur yang ada di dalam gelas miliknya dalam sekali tegukan.
TAK.
Gelas kosong tersebut segera diletakkan dan dijejerkan di samping gelas tadi, dan berkata : “Kali ini aku berikan gratis, tapi tidak untuk selanjutnya.” Sahut Visco.
Dengan senyuman tipis yang tidak lama kemudian langsung menghilang selepas Visco tiba-tiba saja mengangkat salah satu kakinya naik keatas tempat tidur dan membungkukkan tubuhnya ke depan Safina.
“Setidaknya katakan dulu, aku harus melakukan hal apa dulu agar wajah murungmu itu menghilang.” Suara yang begitu rendah itu berhasil sampai di samping telinga Safina, hingga Safina sepintas tersenyum antara senang juga sedih.
“Mungkin, kecupan?”
“Padahal ada yang lebih, tapi hanya meminta kecupan? Ternyata dibalik penampilanmu yang seperti orang dewasa, sebenarnya kamu termasuk polos juga.
Kamu tidak bisa apa-apa tanpa pria sepertiku, ya kan?” Kata Visco.
Safina menatap mata Visco dengan lekat, meraih wajahnya dan berakhir dengan menarik belakang lehernya agar lebih mendekat. “Kamu benar, jika aku sendirian, aku sama sekali tidak bisa berbuat apapun, makannya, saat bisa bekerjasama denganmu, aku seperti merasa jadi orang lain. Visco~”
Visco memandang Safina dengan tatapan merendahkan. Seperti wanita lain, Safina adalah deretan dari mereka yang menginginkan sesuatu di luar tujuannya jika sudah merasa frustasi, dan hal itu bisa dilampiaskan dengan gelutan yang bisa di lakukan di atas tempat tidur.
Menghilangkan kekhawatiran, beban berat yang hanya ditanggung sendirian, semua itu bisa menghilang jika kepalanya di kosongkan dengan sesuatu yang panas.
Walaupun hanya sesaat, kesenangan itu memang selalu membawa kebaikan untuk mereka yang tidak bisa menerima kenyataan pahit dalam menghadapi hidup yang keras ini.
Meskipun, setelah semua itu selesai, pada akhirnya manusia harus menghadapi kembali kenyataan yang ada.
“Aku sudah menduganya sejak awal, tapi bagiku tidak masalah sih.” Ucap Visco, tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang mata sayu yang terlihat ingin melepas rasa penat, rasa sepi yang menyelimuti diri Safina karena tidak mampu merebut kembali cintanya.
Mendengar ucapannya Visco, Safina pun tersenyum lembut dan akhirnya menarik kepala Visco untuk lebih dekat, dan lebih dekat lagi, sampai akhirnya mereka berdua menyatukan mulut mereka sebagai awal permulaan.
__ADS_1