Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
06 : DBMJCP : Karena Hati Ini


__ADS_3

"Dhavin. Kenapa kamu seperti ini?" Tanya Revina dengan lirih.


Sekalipun sudah hampir setahun berlalu menjalin hubungan dengan Dhavin, terkadang Revina masih merasa risih sendiri dengan tindakan Dhavin yang terlau posesif kepadanya.


Dhavin selalu melekat kepadanya layaknya prangko harus berpasangan dengan amplop, ataupun materai maka harus berpasangan dengan surat perjanjian.


'Dhavin ini, dia memang memiliki selera yang cukup aneh, padahal aku juga tidak memakai dukun ataupun pesugihan, tapi-' Semua pikiran itu jadi teralihkan dengan tangan Dhavin yang akhirnya mulai menggerayangi tubuh bagian atasnya. 'Dia bisa ya? SUka padaku? Padahal jika aku jadi dia, aku pasti akan memilih wanita cantik, seksi, pintar? Ah..tidak. Jika terlalu pintar dariku, yang ada akulah yang akan di bodohi. Tapi intinya, juga punya sifat baik sih. Eh...sebentar, seksi dan cantik memang bisa diatur karena dia punya banyak uang. Tapi jika baik?' Revina menjeling arah samping.


Dia memang tidak bisa melihat Dhavin, yang saat ini sedang bersembunyi di belakang punggungnya, akan tetapi tidak dengan tangan kanan Dhavin.


'Jadi dia menyukai wanita, bukan berdasarkan dari penampilan, tapi dari hati? Ah iya.... Dia memang pernah mengatakan itu kepadaku, akan tetapi-' Revina kembali memandangi ke arah depan, lalu tatapan matanya pun berubah menjadi sayu. 'Apa Dhavin tidak rugi dengan wanita sepertiku?' Pikir Revina lagi.


Revina setiap hari selalu dilanda kegelisahan, dan kegelisahan itu selalunya berasal dari status hubungan yang Revina miliki dengan Dhavin Calvaro.


Dan hal yang selalu menyelimuti hati Revina yang masih saja terasa ragu, membuatnya masuk dalam kegalauan.


Sebab dirinya merasa berada di posisi yang salah. Jika orang lian ada yang tahu statusnya adalah orang rendahan, sudah jelas kalau mereka akan menganggap Revina lah yang lebih dulu mengincar posisi Nyonya Calvaro dengan naik ke atas ranjang Dhavin, padahal disini yang ada adalah sebaliknya, Dhavin lah yang naik ke atas ranjangnya lebih dulu.


Seperti saat ini.


Revina membuka selimut bagian atasnya, terlihat di balik pakaiannya saat ini tersimpan tangan Dhavin yang sedang meremas asetnya.


Itu cukup menggelikan, tapi berusaha Revina tahan.


"Ini perasaanku saja atau bukan? Kenapa kedua asetmu jadi sedikit lebih besar?" Tanya Dhavin terus terang dengan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Yaitu salah satu tangannya sedang merasakan sesuatu yang lembut dan sudah lama sekali tidak Dhavin sentuh karena satu hal, yaitu tidak mau mengusik ibu yang sedang hamil.


Tapi karena Revina sudah tidak hamil lagi, atau boleh dikatakan sudah melahirkan, maka Dhavin pun jadi punya kesempatan lagi untuk bermain lagi dengan Revina.

__ADS_1


Itulah yang akan dia rencanakan kedepannya.


Tapi kira-kira apa tanggapan Revina saat ini?


"Memangnya kenapa jika memang sedikit lebih besar?" Tanya Revina balik seraya meringis geli.


"Jadi tambah suka." Sahutnya.


Satu gombalan lagi jadi keluar dari mulut manis Dhavin itu. Dan siapapun yang mendengarnya, sudah pasti Dhavin akan di cap sebagai binatang.


"Kalau tambah suka, mau apa?" Tanya lagi Revina. Karena sudah makan banyak rayuan, gombalan dan godaan dari Dhavin, secara, Revina terkadang jadi berani untuk berkata secara blak-blakan dengan pria yang sedang memeluknya dari belakang itu.


"Mencobanya. Aku sudah lama sekali tidak melakukannya denganmu, karena itu, aku jadi merasa haus." Jawab Dhavin terus terang.


"......" Revina untuk sesaat terdiam. "Dhavin, dari perkataanmu itu, kamu sebenarnya menyukaiku karena aku atau karena tubuhku?"


"Aku menyukai kedua-duannya. Tapi..bukankah kamu juga sama?"


Revina mencicit, "Iya sih. "


Revina pun tidak bisa menyangkal atas tebakan yang diucapkan oleh Dhavin itu.


'Apakah pada akhirnya takdir kita berdua karena kebutuhan masing-masing?' Dalam dekapan hangat yang dibuat oleh DHavin, segala pikiran mengenai Dhavin yang tidak ada habisnya itu, lantas membuat Revina perlahan memejamkan matanya. 'Semoga ini memang bukan mimpi.' Kata hati Revina.


"Atau, apakah kamu sudah lelah denganku yang seperti ini?" Tanya Dhavin.


Sampai pertanyaan itu tidak pernah terbalas oleh Revina?

__ADS_1


'Kenapa tidak menjawabnya?' Merasakan keanehan karena Revina tidak kunjung menyahut jawabannya, dia sedikit menilik wajah Revina. 'Dia ternyata tidur.' Pikir Dhavin, melihat mata Revina kembali tertutup.


Tapi tidak seperti sebelumnya, dimana Revina menutup mata dalam jangka waktu yang cukup lama, maka saat ini mata itu tertutup dikarenakan Revina terpengaruh obat tidur yang tercampur di cairan infus, atau karena lelah?


Dhavin yang harus mengerti semua kondisi Revina saat ini, mau tidak mau harus menunggu lagi, dan lagi.


Tok...Tok...Tok...


Suara ketukan pintu yang terdengar itu dilanjutkan dengan pintu kamar yang akhirnya terbuka dan yang membukanya adalah seorang suster dengan sebuah troli makanan sedang di dorongnya.


"Nyonya, sudah waktunya mak-"


"Shhhtt...." Dess Dhavin kepada suster tersebut. Niat dari suster itu memang baik, karena mengantarkan makanan di jam yang tepat, sayangnya kedatangannya itu adalah hal yang sia-sia karena si Revina sudah lebih dulu tidur, dan saat ini Dhavin melarang siapapun untuk mengganggunya.


Dan suster ini langsung menutup mulutnya dan melangkah mundur sesuai dengan instruksi dari Dhavin tadi.


Seperginya suster tersebut, Dhavin pun kembali memeluk Revina dari belakang.


"Revina~ Kenapa masih saja ragu denganku? Apa yang membuatmu terus saja ragu, di saat kita saja sudah menikah hampir satu tahun ini? Apakah status sosialmu?" Gumam Dhavin. Dia sebenarnya cukup mengerti satu alasan paling spesifik yang bisa Dhavin pahami, bahwa Revina terus merasa ragu, adalah karena Revina berasal dari keluarga yang cukup sederhana.


Tapi bagi Dhavin itu, jelas status itu tidak berguna untuknya, karena yang terpenting adalah wanita ini harus tetap ada disisinya.


Karena kesederhaan yang dimiliki oleh Revina lah, yang membuat tumbuhnya rasa suka itu.


'Ahh...aku tahu, aku terlalu bucin. Tapi apa yang bisa aku perbuat dengan hati yang sudah jatuh cinta dengan wanita ini?' Dalam diam Dhavin pun mengulas senyuman mencibir, karena dia sadar, dirinya jadi terlihat kekanakan yang menuntut ini dan itu kepada Revina.


Tapi apa boleh buat? Dhavin adalah seseorang yang jika punya keinginan, maka harus bisa Dhavin dapatkan juga.

__ADS_1


__ADS_2