
"Oh ...dia akan menembak juga?" Ucap Cio saat melihat Arlsei mengeluarkan separuh tubuhnya dan sama-sama dalam posisi membidik.
Karena itulah, Cio pun merubah targetnya yang awalnya adalah dia ingin menembak salah satu ban mobil itu, jadi menargetkan Arlsei.
Setidaknya dia ingin tahu antara dirinya dan Arlsei, mana dulu yang akan lebih dulu mendapatkan tembakan?
"Apa yang kamu lakukan itu? Cepat tembak salah satu ban mobilnya itu."
"Tidak, aku ingin lebih dulu menembak orang itu lebih dulu." Cio yang membantah itu tanpa membuang waktu lagi langsung menarik pemicunya dan...
DORR...
Dengan daya luncur yang cukup tinggi, kedua peluru hasil dari tembakan Arlsei dan Cio membuat kedua peluru mereka saling berpapasan satu sama lain.
Jika Cio membidik jantung Arlsei, maka beda lagi dengan Arlsei yang membidik selongsong senjata yang di gunakan oleh Cio.
Dan kedua peluru itu pun kian terbang mengarah ke arah mereka berdua.
"AKhh...!" Rintih Arlsei saat dia mendapatkan tembakan peluru dari Cio.
Sedangkan Cio, dia tergelak dengan tawa lebarnya, "Hahaha! Mati saja sana ksm-"
DHUAR.....
Sayangnya tawa milik Cio berakhir dengan kematiannya, sebab senjata tiba-tiba meledak akibat peluru yang di tembakkan oleh Arlsei langsung masuk kedalam selongsong dari senjata tersebut.
"Cio!" Teriak pria ini saat ia tiba-tiba jadi di hujani dengan darah segar milik Cio, yang mana separuh tubuh Cio terkena ledakan, sehingga mengakibatkan Cio langsung meninggal di tempat. "Sial, dia ternyata lebih jago untuk jadi seorang penembak?"
Mendengar ucapannya sendiri, pria ini tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide yang cukup brilian.
"Ya, dia memang jago. Karena dia memang punya keterampilan menembak yang cukup bagus. Tapi semua itu juga harus mengandalkan penglihatan mata yang sama bagusnya. Tapi bagaimana jika aku membuatmu tidak bisa melihat lagi?" Pria ini pun menarik Cio yang sudah meninggal iu agar duduk nyaman di kursinya lagi.
__ADS_1
Membiarkan semua aroma amis itu menyeruak di dalam mobil, dia terus melajukan mobilnya dengan lebih cepat untuk mengejar mobil Arlsei.
Sedangkan Arlsei, dia melihat ke arah tempat dimana peluru tadi sempat mengenai dadanya.
"Walaupun aku menggunakan pakaian anti peluru, tetap saja dadaku merasa sakit." Gerutu Arlsei, lalu dia mengambil peluru yang sempat masuk kedalam saku jas bagian dadanya itu ke sembarang tempat, lalu dia kembali membidik mobil yang masih saja mengikutinya.
DORR....
DORR....
"Tch..padahal dia itu sendirian." Gerutu pria ini, sambil menyetir, dia mengganti magazine yang sudah kosong itu dengan yang baru. Setelah ganti, pria ini kembali menembak ke arah Arlsei.
DORR....
Keheningan yang biasanya terjadi di tengah hutan, apalagi saat malam hari datang, semuanya sudah tidak ada lagi karena sudah terisi dengan suara peluru yang terus keluar dari selongsongnya.
Kekacauan yang di buat oleh mereka berdua kian bertambah.
Dia melakukannya agar kaca anti peluru itu bisa di tembus.
Tapi ketika satu peluru lagi akan berhasil memecah kaca mobil tersebut, dari arah yang berlawanan dengan arah laju mobil yang Arlsei naiki, tiba-tiba saja ada serangan.
"..............." Arlsei yang menyadari hal itu langsung memasukkan senjatanya lagi kedalam mobil, dan kembali mengemudikan mobilnya dengan tangan Arsei sendiri.
DORR....
CTAK...
Suara peluru yang berhasil di halau oleh kaca mobil milik Arlsei yang juga sama anti peluru.
"Memangnya tidak ada target lain yang lebih menarik dari Nyonya, apa?" Gerutu Arlsei sambil melirik ke arah Revina yang masih terlelap tidur itu.
__ADS_1
"Arsei, sebaiknya berikan wanita itu kepadaku dari pada ada pertumpahan darah." Kata pria yang membawa Cio dalam mobilnya.
Setelah berhasil menaikkan kecepatannya, pria ini sukses melajukan mobilnya berjejer dengan mobil milik Arlsei.
"Tapi sudah ada pertumpahan darah, tuh." Sahut Arlsei dengan cepat.
'Anak ini. Wajahnya masih saja datar seperti dinding, dia benar-benar tidak punya emosi ya. Kalau sakit? Jika aku memotong tangan itu, apakah dia akan tetap mempertahankan ekspresinya yang menyebalkan itu?' Pikirnya.
Tatapan matanya tidak bisa dia alihkan untuk memandang Arlsei, lalu secara tidak sengaja ia juga melihat seorang wanita yang sedang dalam kondisi tertidur ada di sebelah Arlsei.
"Yah, aku tahu itu. Awalnya aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk menyerahkannya baik-baik, tapi karena kamu sudah berkata seperti itu, jadi rasakan ini!" Pria ini langsung membanting stir ke arah kanan, sehingga bumper mobil samping kanannya langsung menyerempet mobil milik Arlsei.
BRAK...
"Tch..." Arlsei mulai mendapatkan tekanan, karena posisi duduk sang Nyonya jadi berubah miring ke arah kiri sampai posisi tubuhnya yang terlalu miring itu membuat kepala Revina mendarat di atas lengan tangan kanan Arlsei yang hendak menggerakkan tuas persneling untuk mengganti gigi roda mobil.
"Ayo! Jika kau tidak berhenti, aku akan membuatmu ringsek dengan mobilmu itu." Dengan semangat pria ini kembali menghantamkan mobilnya ke arah kanan, sehingga Arlsei dengan cepat-cepat langsung menginjak rem sedalam-dalamnya.
CKITT....
Mobil hitam yang hampir saja membuat Arlsei dan Revina masuk kedalam jurang kematian, akhirnya bisa di hindari dengan mudah?
"Kamu pikir Bos kita sendirian?" Datanglah mobil dari belakang Arlsei dengan kecepatan penuh dan dengan lampu tembak yang tiba-tiba saja di nyalakan.
Sedangkan dari depan mobil Arlsei, "Aku akan membuatmu penyek. Ayo, kita adu tanding, mobil mana yang lebih kuat Arlsei."
Dua mobil yang datang secara bersamaan dari arah berlawanan, membuat Arlsei langsung merasakan silau yang cukup hakiki.
Dan Arlsei, satu wajah dengan satu ekspresi selalu datar itu, tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman lemah untuk pertama kalinya. "Ah~ Memang kalau pengecut tetap saja pengecut. Demi mengalahkanku yang sendirian ini, kalian memilih untuk mengeroyok?" Ucap Arlsei, menunggu saat-saat yang tepat untuk membuat kedua mobil yang melaju dari arah saling berlawanan itu menabraknya.
"Mengeroyok? Kita sedang di keroyok ..., lagi?"
__ADS_1
"..............!" Suara milik Revina itu sontak membuat Arlsei langsung terkejut. "Nyonya?!" Panggil Arlsei.