
-"Ah~ A-apa yang angmph~ Mphh~!"-
-"Mulutmu terlalu berisik."-
Dan suara milik Dhavin pun terdengar juga, sampai Revina yang mendengarnya langsung mematung.
'Dhavin, jadi memang benar Dhavin kan? Itu memang suaranya, tapi kira-kira suara itu siapa? Kenapa rasanya aku pernah mendengarnya? Juga terasa tidak asing. Siapa?' Revina yang tidak kuasa untuk menahan rasa sakit di telinga jika membayangkan apa yang sedang terjadi di ujung telepon, Revina pun memutuskan untuk memutuskan panggilan tersebut, dan mematikan nomor sim card nya, serta mengaktifkan mode terbang, sehingga dia tidak akan mendapatkan pesan atau panggilan dari siapapun.
Tok...Tok...Tok....
"Nyonya, saya membawa makanannya untuk anda." Beritahu Alresei, masih menunggu di luar kamar sampai pemilik kamar sendiri mengizinkannya masuk.
"Masuk." Jawab Revina sebelum ia memilih pergi masuk kedalam kamar mandi sebelum Arlsei masuk kedalam kamarnya. "Letakkan saja di atas tempat tidur."
"Baik Nyonya." Balas Arlsei.
Tapi sebelum Arlsei sendiri keluar dari kamar milik majikannya, dia terus memandangi pintu kamar mandi yang tadi terdengar terkesan seperti terpaksa di tutup dengan sedikit kasar.
'Tuan Dhavin lagi.' Arlsei pun menoleh k arah pigura besar yang ada di atas televisi ukuran besar itu.
Arlsei hanya menyayangkan karena pada akhirnya ketika besok adalah hari satu tahun pernikahan dari kedua majikannya, sang Nyonya malah banyak sekali mendapatkan pengalaman pahitnya, karena hatinya lemah? Lelah?
Itu seperti hampir untuk keduanya.
'Sebenarnya siapa yang harus menyesuaikan? Nyonya memang punya hati leah seperti itu, sedangkan Tuan Dhavin dia selalu lupa dengan posisinya yang banyak membawa bencana untuk Nyonya.' Lebih tepatnya itu adalah bencana hati untuk sang Nyonya.' Arlsei kembali menatap kearah depan, menutup matanya dan membuka matanya dengan perlahan sambil melangkah kakinya keluar dari kamar.
Tangan yang dari tadi tidak diam pun akhirnya mengangkat telepon genggam itu untuk di letakkan di samping telinga.
"Apa yang sedang anda lakukan? Cepat periksa Tuan sekarang, atau saya akan menghancurkan pesta anda yang tidak berguna itu." Perintah Arlsei mengancam orang yang dia hubungi itu dengan nada yang cukup datar dan tetap mempertahankan ekspresi yang cukup dingin?
Tidak.
Itu bahkan lebih dingin, karena ia benar-benar tidak ingin melihat Nyonya majikannya menangis sendirian karena sesuatu yang entah apa yang sedang di perbuat oleh Tuannya itu.
KLEK.
__ADS_1
Setelah pintu itu tertutup, Revina keluar dari kamar mandi, dia kemudian naik ke atas tempat tidur dan duduk di tengah-tengah ranjang yang cukup luas, hingga tujuh orang tidur berjejer pun masih muat.
Revina yang entah, hatinya ada apa dan kenapa, dia bergantian menatap foto pernikahannya sendiri, lalu menatap makanan yang sudah di kemas sedemikian rupa oleh Arlsei agar lebih menarik.
Dia bingung, dan sangat bingung, karena hatinya sungguh dalam keadaan dilema yang cukup dalam.
Karena pikirannya terus saja berpikiran negatif tentang Dhavin.
Tapi kembali lagi, tadi siang dia di beritahu untuk tidak terpengaruh dengan apapun yang berhubungan dengan Dhavin, apalagi soal cinta.
'Paman Beto memang menyuruhku untuk tidak meragukan lagi hati dari Dhavin, kejujuran, ketulusan yang selama ini Dhavin berikan kepadaku.' Revina tidak tahu harus bagaimana caranya menata hatinya sendiri agar tidak merasa sakit seperti itu.
Walaupun tahu, kalau ia sudah di berikan banyak cinta, tapi hanya sekilas mendengar adanya suara wanita bersama dengan Dhavin tadi, itu sudah lebih dari cukup untuk menyakiti hatinya.
Ya.
Meskipun berprasangka buruk membawa sakit sendiri, tapi mau bagaimana lagi, jika ia sendiri tidak tahu kenyataan seperti apa yang sedang terjadi pada Dhavin itu.
'Tapi- Aku sama sekali tidak bisa menghilangkan pikiran burukku soal Dhavin yang bisa saja memang punya wanita lain selainku. Revina.' Revina memejamkan matanya, dia mencoba untuk menenangkan hatinya. Meskipun sedikit susah, tapi ia sedang mencobanya. 'Revina, Revina, Revina, kenapa aku selalu saja seperti ini?' Memegang dadanya yang terasa sakit?
Lantas bagaimana agar hatinya bisa tenang?
'Mungkin aku coba dulu makan ini.' Revina mencoba nasi yang sudah di tatap dan di bentuk seperti sinterklas.
Mengambil nasi, dan lauk dari sosis juga siwiran daging ayam, serta di selipi sedikit brokoli.
Dia memang harus makan yang berkualitas seperti itu, daging, sayur, buah, semuanya memang tidak boleh telat. Kebetulan Revina jika soal makanan tidak pilih-pilih, tapi untuk kali ini?
Revina buru-buru meraih tempat sampah yang ada di samping tempat tidurnya, dan setelah dapat, Revina langsung memuntahkan semuanya. "Howeeekk...."
Bahkan sekalipun sudah memuntahkan makanannya, perasaan eneg alias mual itu kembali datang.
"Hoeekk....hoeekk.......hoeekk...." Saat sudah berhenti, tiba-tiba perasaan itu kambuh lagi. "Hoeekk...."
'Aku bahkan sampai memuntahkan masakan yang di masak oleh Arlsei. Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak punya selera untuk makan. Hanya memikirkan soal Dhavin, aku sampai seperti ini.' Sungguh, Revina merasa terjerat dengan pria itu.
__ADS_1
Itulah yang ia rasakan selama ini. Ia sama sekali tidak bisa lepas dari pesonanya, makannya ia tidak bisa pergi dari sisinya.
Walaupun sekarang dia tahu, Revina akhirnya tahu kalau, 'Ternyata Dhavin seorang Bos mafia.'
Satu masalah pun jadi bertambah lagi.
_________________
Di dalam ruang tamu di lantai tiga.
"Hahh~" Dhavin menghela nafas dengan kasar.
Perasaan gerah menyelimuti tubuhnya, sungguh sial hari ini, karena setelah ia berusaha untuk tidak bertatap muka dengan Adel yang selama ini di waspadai oleh dirinya, Vinella, juga Freddy, semuanya akhirnya jadi seperti sia-sia, karena sekarang wanita itu ada di depannya persis.
'Jadi maksud dari Vinella disini dan mengatakan sedang bekerja, padahal jelas kalau dia sedang duduk santai dengan pakaian itu, adalah untuk mengawasi wanita ini?' Dhavin yang merasa gerah itu, segera menarik dasinya yang terasa begitu mencekik. Senyuman simpul pun tersungging di bibir seksinya, karena ia akhirnya berhadapan juga dengan Adel ini.
"Akhirnya kita bisa bertemu juga ya? Tuan Dhavin?" Sapa Adel sambil mengusap wajah tampan milik dari seorang Dhavin Calvaro, sebab sekarang dia sedang ada di pangkuannya persis.
Mendengar sapaan dari wanita di depannya ini, Dhavin hanya diam dengan mata menyipit.
Dia melihat dengan jelas betapa vulgar nya penampilan Adel di depan Dhavin, karena sekarang Adel ada di pangkuannya, setelah berhasil menghajar Dhavin dengan obat khusus yang di tuangkan di antara minumannya?
Tidak.
Sebenarnya Dhavin sama sekali tidak makan apapun, karena niatnya memang agar perutnya merasa lapar dan ketika pulang nanti bisa makan bersama dengan Istrinya.
Jadi Dhavin hanya minum air putih saja.
Tapi siapa yang menduga kalau rupanya, ia mendapatkan sebuah obat perangsang. Tapi itu bukan berasal dari air, melainkan dari bibir gelas itu sendiri.
Maka dari itu, hasilnya saat ini Dhavin mendapatkan apa itu yang namanya gairah. Gairah ingin makan, tapi tidak bisa makan, karena wanita yang ada di depannya itu bukanlah wanita yang harus dia sentuh.
Meskipun Adel saat ini sungguh hanya memakai pakaian bikini yang sangat memperlihatkan semua lekuk tubuhnya yang sempurna. Memang berbeda dengan miliknya Vinella, tapi itu juga sudah lebih dari cukup untuk pria yang memang menginginkannya, dan tentu saja cukup bertolak belakang dengan milik Revina, namun di hatinya hanya dia seorang saja yang harus ia cumbui.
Bukan ini, dan bukan itu, tapi harus Istrinya!
__ADS_1