
Hanya saja, ketika melihat Dhavin berbalik dengan membawakan piyama berwarna Navy dengan desain kimono, di sudut harinya dia lagi-lagi merasakan sensasi kehangatan aneh yang cukup menggelitik hatinya.
‘Kamu benar-benar perhatian sekali ya. Aku tidak tahu harus apa untuk membalas semua yang kamu lakukan kepadaku selama ini. Apalagi…sebentar lagi adalah hari ulang tahun pernikahan kita. Aku..tidak tahu harus membuat apa atau menghadiahkan apa padanya.’ Pikir Revina.
Segala pikiran Revina pun dia tarik kembali saat Dhavin berkata : “Pakai ini.”
Dhavin benar-benar menyerahkan semua kebutuhan Revina saat itu juga. Jadi bukan sekedar piyama saja, tapi juga kedua pelindung asetnya.
Revina tersenyum malu, ‘Dhavin ini, kenapa dia begitu bangga menyerahkan semua pakaianku sih?’ Revina pun mau tidak mau menerima semua pemberian Dhavin itu. “Terima kasih.” ucapnya seraya menatap semua pakaian yang sudah ada di tangannya itu.
Dhavin yang melihat ekspresi sendu terlukis di wajah Revina, membuat tangan kanannya pun tiba-tiba terangkat untuk meraih rambut Revina yang masih basah itu dan menepisnya ke ke arah belakang telinga. ‘Apalagi yang dia senyumkan? Ekspresinya benar-benar selalu berubah cukup drastis, sampai aku sedikit kewalahan dengan perubahan hatinya yang suka mendadak ini mendadak itu.’
Kelopak matanya Dhavin pun terkulai melihat senyuman lembut itu sungguh terukir di bibir Revina.
Bibir yang beberapa waktu lalu mengucapkan kata penuh kesedihan itu, kini berubah menjadi senyuman manis, yang membuat Dhavin ingin sekali meraih bibir itu untuk dia cium lagi.
Tapi….
Sayangnya Dhavin harus mengistirahatkan kegiatannya yang ingin merasakan itu lagi dan lagi.
Tapi…
“Apakah boleh?” Suara itu seketika keluar dari mulutnya, membawa Revina untuk menatap kearah wajah Dhavin dengan tatapan mata yang terlihat menyiratkan sebuah kesan rindu yang amat mendalam.
“Apa?” Sahut Revina dengan lembut. ‘Kenapa lagi-lagi ekspresinya seperti itu?’ pikir Revina, sampai tanpa sadar air matanya ternyata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Nuansa aneh dari yang tercipta dari perasaan mereka berdua pun tiba-tiba saja datang.
Yaitu suasana hati yang menginginkan satu pencapaian untuk menutupi satu kesan rindu yang ada dalam diri mereka berdua masing-masing.
__ADS_1
“Revina~” Panggil Dhavin dengan cukup lirih.
Sampai si empu, diam tanpa menyahutnya dan justru digantikan dengan mata Revina yang menutup.
Melihat Revina menutup matanya, Dhavin pun membungkukkan tubuhnya, lalu meraih wajah itu agar semakin dekat. Mengisi kekosongan dari jarak mereka berdua hingga akhirnya, satu kecupan lembut itu ternyata mendarat juga di bibir mereka masing-masing.
‘Dia mau~ Berarti dia tidak marah lagi denganku. Hanya saja…ini lebih berbeda dari yang tadi siang. Sudah berapa lama aku menantikan suasana seperti ini lagi?’ Benak hati Dhavin.
Lebih dari sebulan dia terus menunggu dan menunggu. Menunggu Revina yang hampir meninggalkannya.
Tetapi penantiannya itu, akhirnya bisa terbalaskan dengan keluarga kecilnya yang akhirnya lengkap kembali, sebab istrinya itu bisa terbangun lagi dari koma.
Dengan begini, Dhavin pun benar-benar bertekad untuk membuat Revina tidak masuk kedalam bahaya lagi.
Itulah tekad yang ada di dalam hatinya saat ini.
“Mphh~” Revina melenguh ingin bernafas.
Sesuatu yang jelas lembut, manis, juga hangat, bisa Dhavin rasakan lagi. Itulah yang dia nantikan sebagai pelepas kerinduannya terhadap Revina.
‘Ini sangat berbeda dengan yang tadi siang.’ pikir Revina, sampai sudut matanya yang tak kuasa membendung air matanya, akhirnya keluar dan membasahi pipinya. ‘Bagaimana ini, rasanya dia benar-benar menikmatinya. Dhavin…kenapa kamu selalu membuatku tidak bisa lepas dari jeratan hatimu yang sudah sangat mengikatku?’
Ulasan dari perasaan paling mendalam yang cukup lembut itu pun sukses membuat kedua orang ini saling menutupi lubang kecil di hati yang mereka miliki.
“Hmph..” Revina yang tak kuasa lagi ingin mendapatkan oksigen lebih banyak, mencengkram kemeja hitam milik Dhavin dengan kuat.
Dhavin melepaskan tautan dari mereka berdua. Sebab pencahayaan di dalam kamar termasuk minim, Dhavin hanya mampu melihat Revina ikut menikmatinya juga.
“Hah….hh…hah….Dhavin.” Panggil Revina balik.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Dhavin dengan sorotan mata sendu, mendengar namanya akhirnya bisa di panggil lagi oleh mulut yang terasa sudah lama terdiam. “Kamu menginginkannya lagi?”
Dhavin kembali mengusap wajah Revina dengan lembut, sampai bulu kuduk Revina jadi kembali meremang karena geli. Apatah lagi, tangan kiri Dhavin yang besar itu masih melingkar di pinggangnya. Sensasi dari kulit yang bersentuhan langsung itu menjadikan Revina seperti merasakan adanya gejolak lain di dalam tubuhnya.
Tangan yang terasa dingin itu sungguh membuat Revina merasa adanya suhu yang saling berkontradiksi dengan kulitnya.
“Bisakah kamu melepaskanku?”
“Kenapa?” Tanya Dhavin, masih sibuk untuk terus mengusik wajah Revina yang halus itu. Dia benar-benar ingin memakannya. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Jawab Dhavin dengan nada berbisik, tepat di depan wajah Revina yang sudah terbawa arus malu, karena wajah mereka berdua sangatlah dekat, sampai deru nafas milik mereka bisa mereka dengar.
“T-tapi…” Revina mengernyitkan matanya, karena Dhavin sungguh terlihat seperti ingin menggodanya terus tanpa ampun. “Aku harus …memakai pakaian.” Balas Revina, menjawab ucapan Dhavin.
“Kalau begitu biarkan aku membantumu.” Lirih Dhavin seraya tangan kirinya merebut kembali pakaian yang sempat tadi dia berikan kepada Revina.
“Tapi aku..bisa..sendiri.” Ungkap Revina. Tubuhnya sempat menggelinjing saking gelinya. “Jadi berbaliklah.” Pinta Revina.
“Untuk apa aku balik badan? Lagi pula dari tadi aku juga sedang menikmati melihat tubuhmu.” Timpal Dhavin dengan serta merta.
Geram karena Dhavin tidak memberikannya waktu pribadi untuk memakai pakaian, Revina pun menangkap tangan kanan Dhavin yang sedari tadi mengusik pipi, leher dan rambutnya itu.
GREPP….
Dengan kekuatan penuh, Revina benar-benar meremas tangan Dhavin yang sering bertindak jahil itu.
“Shh…..” Dhavin pun sedikit meringis, karena dia akhirnya kembali mendapatkan cengkraman tangan yang cukup kuat dari Revina.
“Balik ya balik, sana.” Protes Revina seraya mendorong tubuh beruang besar itu agar balik badan.
Tingkah Revina yang sedang menahan malunya itu pun menjadi tontonan menarik bagi Dhavin. Karena itulah, sekalipun mendapatkan tangannya sungguh di cengkram kuat oleh Revina, itu adalah hal yang tak seberapa, dan membuat Dhavin jadi tersenyum simpul. “Iya..iya…belum lama sadar dari koma, tenagamu ternyata sebesar ini.”
__ADS_1
“Diamlah.” Rungut Revina, sudah tidak tahan lagi dengan segala ucapan yang keluar dari mulut Dhavin yang penuh maut itu.
"Hmm...." Dengan cukup menurut Dhavin jadi balik badan. 'Padahal jika ada di depanku, sudah tidak ada yang perlu di tutupi lagi.'