Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
139 : DBMJCP : Kedamaian sementara


__ADS_3

Ledakan dari Bom yang tiba-tiba saja meledak di langit atas sana itu berhasil membuat gelombang angin panas.


Meskipun begitu, Revina yang masih berdiam diri di tempatnya itu sama sekali tidak membuat reaksi terkejut sama sekali, walaupun beberapa detik yang lalu, Revina sempat berteriak seperti orang histeris. 


‘Revina, dia …, sejak kapan dia bisa menembak?’ Pikir Dhavin. Dia saat ini sedang dalam posisi tiarap, gara-gara perintah yang diteriaki oleh Revina itu. 


“D-Dhavin, kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Revina khawatir.


Ya…, wajahnya memang sedang mengisyaratkan rasa kekhawatirannya terhadap pria yang sudah menjadi suaminya itu. Sampai-sampai Revina sendiri kehilangan rasa takut terhadap ancaman dari orang lain, selain takut terhadap Dhavin yang akan kenapa-kenapa, karena wajah Dhavin lebih seperti orang yang sedang melamun dan menciptakan diri Dhavin yang sedang lengah. 


“Aku tidak apa-apa, tapi dari pada itu, dari mana kamu bisa menembak?”


“A-” Belum sempat menjawab apa yang ditanyakan oleh Dhavin, Revina yang kini sedang dalam posisi merangkak di depan Dhavin, langsung mengangkat tangan kanannya lagi dan segera mengarahkan pistolnya ke arah kiri, dan akhirnya suara peluru yang terlontar dari tempatnya pun terdengar kembali dengan suara yang cukup keras. 


DORR…


“Akh..!” Suara jeritan berhasil mengisi keheningan yang hanya berlalu sesaat itu. 


Dhavin, Visco, Freddy, dan beberapa anak buah yang lainnya juga turut terkejut dengan suara rintihan milik seseorang yang langsung sirna di telan oleh angin malam yang tiba-tiba berhembus menerpa tubuh mereka semua, yang kini tubuh milik mereka sudah di selimuti rasa gerah akan keringat yang mereka dapatkan setelah melalui waktu dengan sebuah pertarungan. 


“Karena situasinya sudah seperti ini, berarti tepat setelah helikopter turun, dari waktu itu keberadaan kita sudah di awasi.” Ungkap Freddy. 


Melepas rasa penasaran kenapa Revina mampu menembak dengan wajah serius dan terlihat tidak seperti orang yang baru memegang senjata, Freddy melirik ke dua orang musuh yang tersisa. 


“.........” Lantas Visco pun turut berdiri dan menoleh ke arah hutan yang ada di seberang sana. “Ya, kita bukan dalam artian kalian saja, tapi aku.”

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Freddy melirik ke arah Visco yang sedang memeriksa handphone nya sendiri dan tidak lama kemudian di simpan kembali ke dalam saku lagi. 


‘Dengan kata lain, dia mengatakan kalau dia juga merasa jadi korban juga? Dia pikir aku tidak tahu kalau kalian datang menghalangiku sampai bertarung seperti tadi itu untuk apa? Sebenarnya-’ Tanpa aba-aba Freddy menembak ke arah tanah, tepat ke arah salah satu kaki Visco.


Akan tetapi Visco yang hanya diam saja, peluru yang keluar dari postol nya Freddy hanya melenceng sedikit ke arah tanah, sehingga Visco pun sama sekali tidak terluka, kecuali senyuman tipis yang cukup memuakkan Freddy. 


‘Sebenarnya aku masih belum puas agar wajah menyebalkannya itu bisa aku buat babak belur, tapi- situasinya saat ini sama sekali tidak mendukung untuk memberikan orang ini pelajaran’ pikir Freddy, karena pelurunya habis dia kembali mengganti magazine nya dengan yang baru, setelah itu dia todongkan ke salah satu musuh yang berhasil Freddy buat tergeletak. “Katakan, siapa yang mengir- tidak. Pilih, mati atau hidup.” 


Freddy sengaja mengalihkan pilihan pertanyaannya dengan hal lain, karena pertanyaan yang pertama itu, jelas pertanyaan bodoh yang sama sekali tidak begitu berguna. 


“Kenapa kamu tidak mengenterogasinya?” Tanya Visco.


“Mati.” jawab pria berpakaian serba hitam ini dengan cepat. 


“Itu membuang waktu,” Dan saat itu juga Freddy langsung menarik pelatuknya, sebelum akhirnya ia menarik pemicunya. 


DORR….


Tidak hanya satu helikopter saja, melainkan dua, yang mana satunya lagi adalah helikopter berwarna putih yang sama persis dengan body dari helikopter yang tadi di bawa oleh Visco.


“Kamu benar, itu cukup membuang waktu, tapi sebenarnya juga cukup untuk mengulur waktu.” Seringaian itu cukup menunjukkan niat licik yang di miliki oleh Visco terhadap Freddy yang semakin waspada dengan senyuman yang jelas punya niat lain. 


“Ap-”


DORR….

__ADS_1


Satu tembakan dari arah belakang itu pun sempat menyerempet rambut samping kanan Freddy, sehingga Freddy jadi sempat kehilangan kata-katanya karena peluru yang berhasil keluar dari senapan itu berasal dari senapan semi otomatis yang terpasang di samping helikopter milik Visco.


Sebuah tembakan sebagai peringatan bahwa perlawanannya saat ini sudah tidak sebanding lagi dengan yang tadi, dan Freddy harus diam dan menyerah untuk membiarkan majikan mereka yaitu Visco pergi dari sana dengan tenang, setelah satu helikopter lagi mendarat dan membawa Bos mereka besarta kedua anak buah nya yang masih hidup setelah melalui pertarungan yang cukup sengit. 


“Hei Nyonya Calvaro, atau Revina. Ujiannya sudah selesai, dan ternyata kamu menyembunyikan kemampuan yang bagus, aku menantikan pertemuan kita selanjutnya lagi!” Dengan cukup bebas, Visco pun pergi tanpa adanya ancaman apapun. 


Apalagi mengingat satu helikopter yang lengkap dengan senjata otomatis itu datang dan menembak habis seluruh isi hutan, Visco pun sudah menganggap kalau lawan yang masih bersembunyi di dalam sana sudah beres. 


Meski sudah tahu kalau musuh yang pintar mencari waktu untuk menyerang mereka semua pasti adalah orang yang tidak akan mudah di bunuh, tapi tugas Visco pun sudah cukup sampai di sini. Itu karena tugas utama miliknya adalah untuk memberikan ujian mental, dan fisik kepada Revina, sesuai dengan kesepakatan yang ia buat dengan Liana. 


“Oh ya, ngomong-ngomong Revina, akan aku beritahu satu hal kepadamu!” Revina yang sudah berada di ambang pintu helikopter kembali menghentikan langkahnya masuk kedalam helikopter. “Selama kamu bersama dengan anak itu, kejadian ini pasti akan ada lagi, lagi dan lagi. 


Untuk malam ini aku akan akui, kamu bisa menangani ketakutanmu sendiri dan melawan mereka, tapi apa kamu bisa lolos untuk masalah lain yang bisa lebih besar dari ini? Cam kan itu, jika tidak, kamu sendiri yang akan terbunuh dalam dunia malam penuh dengan kekejaman. 


Dunia ini itu sudah kotor, dan bagaimana denganmu? Lihat tanganmu itu, jadi aku sarankan jika masih mau berada di dalam ruang lingkup yang di jalani anak itu, jangan hanya dengan modal tekad yang di paksakan.”


Selepas mengatakan saran yang cukup panjang lebar, Visco sepenuhnya naik ke dalam helikopter dan meninggalkan mereka semua di sana. 


“Pergi ke hotel Emerson.” Peirntah Visco kepada kedua pilot di depan nya itu. 


Dan dari ketinggian tiga ratus dari permukaan tanah, Visco pun menyempatkan dirinya untuk melirik pemandangan yang ada di bawah sana, dan sempat menemukan dua orang berjubah hitam sedang berjalan dengan terburu-buru.


“Tuan, apkah kita perlu menembak mereka sampai mati?” Tanya salah satu pilot yang ada di helikopter yang satunya lagi.


Visco menatapnya dalam diam, dan mulut yang sedari tadi tertutup rapat seakan enggan untuk di bawa berbicara, akhirnya terpaksa untuk di gunakan juga. “TIdak usah, jika kita menembaknya sampai mati, mereka akan kesenangan. Selama dia tidak mengusikku, aku tidak akan mencengah dia melakuakan apa yang dia mau. Pergi saja ke tujuan yang aku sebutkan tadi. Untuk kalian berdua di helikopter itu, kalian pulang ke markas dan bawa anak-anak ini.” Imbuh Visco seraya melihat kedua pilot muda nya itu sudah diam dengan wajah paniknya. 

__ADS_1


“Baik Tuan,” 


Kedua helikpter tersebut pun pergi menuju ke kota. 


__ADS_2