
“Freddy! Apa yang sedang kamu lakukan?! Singkirkan tanganmu ini.” Toal Vinella, ia langsung mencengkram tangan kanan Freddy yang sudah menyusuri pahanya dengan sentuhan lembut yang cukup membuat bulu Vinella sendiri jadi berdiri gara-gara saking gelinya.
“Ayolah, terlepas dari laporan yang ingin kamu sampaikan kepadaku, ini sama artinya dengan kamu menginginkan sesuatu dariku kan?” Goda Freddy dengan senyuman tipis penuh maut, yang selalu saja bisa menyita bencana yang Freddy bawa untuk kaum hawa, dan salah satunya adalah Vinella sendiri, karena ialah satu-satunya wanita yang lebih sring bertemu dengan Freddy ketimbang wanita lain.
Tatapan matanya begitu lemah, tapi di dalam sorotan mata itu tersirat ada satu keinginan yang ingin di lampiaskan?
“Hah! Yang benar saja. Jangan menghasutku Freddy, pergi dari atasku.” Pinta Vinella. Demi menjaga keteguhan hati yang sedang dia pertahankan itu, dia terus mendorong tubuh Freddy agar pergid ari atas tubuhnya.
Ia benar-benar merasa sesak karena di masuk dalam kungkungan dari tubuh Freddy yang seperti beruang, dan sudah pastinya cukup menjadi bahan pengukur kalau beruang hitam ini punya tenaga lebih untuk melakukan sesuatu, sesuatu yang bisa memuaskan sebuah keinginan dari apa yang selalu di impikan oleh kaum hawa pada umumnya.
Freddy, pria yang selalu menyeret dosa, sekalipun tidak malakukan apapun, seperti Dhavin juga.
‘Mereka, mereka berdua benar-benar membuatku lelah mental.’ Vinella menghela nafas Pasrah, karena mau tidak mau ia harus bekerja sama di bawah dua orang yang punya kemiripan sebanyak 90%, sisanya yang tidak mirip tentu saja hanya berlaku di wajah Dhavin dan Freddy yang berbeda.
“Padahal jika aku meneruskannya, kau pasti menginginkannya.”
Lagi-lagi Freddy menggodanya, yang mana hal itu membuat kedua pipinya langsung merah merona.
“Hahh~ Berhentilah Freddy, aku sedang lelah, jangan membuatku melakukan hal kasar kepadamu.” Karena Freddy berbicara dekat-dekat dengan wajahnya, Vinella langsung mendorong wajah beracun itu dari hadapannya dan terus meminta pria ini agar pergi menjauh, karena malam ini memang malam yang cukup melelahkan, dan ia sama sekali tidak ingin berdebat dengan Freddy.
Tok…Tok….Tok…
Sampai ketukan pintu yang tiba-tiba saja datang itu, berhasil memecah suasana tegang di antara mereka berdua.
“Tuan, saya membawakan makanan seperti yang anda minta.” Suara dari salah satu anak buahnya langsung menyita perhatian Freddy yang akhirnya mau melepaskan Vinella.
“Sebentar.” Freddy beranjak dari tmpat tidurnya dan berjalan menghampiri pintu kamarnya.
KLEK.
Pintu yang terbuka itu segera menampilkan anak buahnya yang belum lama ini direkrut.
“Ternyata kamu, bagaimana pekerjaanmu disini?” Tanya Freddy secara tiba-tiba, membuat laki-laki tersebut sedikit tersentak kaget karena di tanyai pertanyaan demikian yang bahkan batang hidung Freddy memang orang yang sangat jarang muncul di depan para bawahannya.
“Lumayan,” Jawabnya dengan singkat, hingga ia tanpa sengaja melihat Vinella yang masih berada di atas tempat tidur dengan penampilan berantakan, apalagi beberapa saat itu Vinella menampilkan sepasang pahanya yang bisa memang sudah menarik perhatian matanya untuk menelisik lebih jauh, bahwa penampilan Vinella itu, ‘Jadi wanita itu punya penampilan manis seperti itu ya? Di ***-’
“Yah~ Dia cukup seksi kan, wanita itu entah mau bagaimanapun penampilannya, jika sudah ada di atas ranjang pasti akan berubah jadi seksi dan bisa jadi liar jika sudah saling mendalami perannya.” Tutur Freddy dengan serampangan, membuat Vinella yang mendengar ocehannya Freddy itu, langsung mengambil asbak yang ada di atas nakas dan melemparnya.
__ADS_1
“Apa kau tidak bisa menjaga mulut busukmu itu Freddy!” Protes Vinella.
Lalu lemparan dari asbak tempat puntung rokok itu langsung melayang bebas ke arah mereka berdua.
Bahkan asbak itu, karena Freddy berhasil menghindarinya, asbak yang terbuat dari kaca itu pun sempat mengarah pada anak buahnya yang sedang membawakan nampan dengan hidangan makanan .
Laki-laki itu pun langsung memejamkan matanya dengan sempurna, karena asbak itu sungguh mengarah ke arah wajahnya.
Tapi dengan tatapan santainya, Freddy segera mengangkat tangannya, dan ….
GREEP…
“Seperti bunga raflesia, sekalipun busuk, bukannya banyak yang megincarnya karena kendahan dan kelangkaannya?” Balas Freddy dengan senyuman miringnya.
‘Kenapa tidak terjadi apapun?’ Pikir pria ini, karena tidak merasakan apapun setelah mencoba menerima apa yang akan terjadi kepada wajahnya.
“K-kau-” Seperti yang di katakan oleh Freddy, ucapannya memang benar.
Freddy mengandung banyak kebusukan, tapi tetap saja banyak yang mengincarnya karena penampilannya yang selalu saja berhasil menarik perhatian banyak orang, apalagi kaum perempuan.
Tanpa memperdulikan keterkaitan dari Vinella yang masih menyisakan kemarahan atas ucapannya tadi, Freddy berbicara lagi : “Jika bukan karenamu, aku pasti sudah bisa makan ini.”
Freddy menunjuk pada makanannya yang sudah dibubuhi dengan abu dari puntung rokok, gara-gara Vinella yang melemparinya asbak.
“Bawa itu kembali, aku tiba-tiba jadi tidak berselera makan.” Perintah Freddy.
“O-oh, baik,” Jawab laki-laki ini dengan gugup, karena ia melihat tatapan Freddy yang terlihat seperti sedang akan memulai sebuah perhitungan dengan Vinella. “Saya undur diri dulu.” dan dengan menurutnya, ia melangkah mundur lalu menutup pintu.
“T-tidak, Freddy! Kau pria baji*ngamph..!”
‘Sebenarnya aku sedang bekerja di tempat macam apa? Katanya ini dunia mafia, tapi aku sama sekali belum pernah turun tangan untuk melakukan hal lain seperti memeriksa wilayah kekuasaan dari orang itu, atau bahkan untuk sekedar menyiksa orang?’ Pikir orang ini, hingga tepat saat dia masih berjalan di koridor, saat ia melewati salah satu kamar dengan pintu kamar yang masih terbuka, ia sempat mendengar gelak tawa.
“Hahaha, bagaimana? Apa kopi buatanku enak?”
“Gila, ini enak. Mending kamu buat kafe, latih karyawanmu untuk membuat kopi seperti ini, kan lumayan bisa nambah penghasilanmu.” tuturnya, bermaksud memberikan saran kepada rekan kerjanya itu.
“Padahal aku hanya melakukannya karena hbi, memangnya seenak itu ya?”
__ADS_1
“Iya lah. Terima kasih, membuatku jadi orang pertama yang mencicipi kopi racikanmu.”
“Ya, sama-sama, lagian kamu kan temanku. Ini, aku ada satu tremos, coba berikan kepada yang lainnya.”
‘Bahkan tempat ini terlihat seperti bukan markas. Mereka terlalu santai untuk melakukan hal yang mereka sukai. Apa-apaan tempat ini? Pekerjaan ini benar-benar di luar bayanganku.’ Pikirnya lagi, lalu setelah sempat mendengar pembicaraan dari orang lain, ia pun pergi dari sana dengan perasaan aneh.
Perasaan bahwa tempat yang seharusnya dipenuhi dengan ketegangan, karena merupakan tempat itu bukanlah perusahaan dari sebuah perkantoran biasa yang dipenuhi dengan dokumen tentang bisnis, justru berbanding terbalik dengan ekspektasinya.
____________
Dua hari kemudian, setelah kejadian malapetaka yang mengacaukan ultah pernikahannya Dhavin dan Revina.
‘Kenapa Dhavin menatapku seperti itu? Aku jadi terlihat seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.’ Pagi itu, tepat setelah Revina selesai mandi dan berpakaian rapi, tiba-tiba ia dibawa ke ruang kerja milik Dhavin.
Jika bertanya soal alasan, Revina sendiri tidak tahu alasan di balik Dhavin memerintahkannya bertemu di ruang kerjanya.
‘Kenapa dia tidak berkata apapun? Padahal tadi lisa mengatakan kalau aku dipanggil oleh dia agar datang menemuinya. Tapi kenapa dia terus berhadapan dengan laptopnya?’ pikir Revina.
Saat Revina masuk kedalam ruang kerja milik Dhavin, Dhavin sendiri sudah ada di balik meja, dan tengah berhadapan dengan laptopnya sendiri.
Wajahnya yang serius saat bekerja, selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk Revina, sebab suaminya itu punya pesona aneh, yang tidak akan pernah luntur.
Saat duduk sambil menunggu Dhavin selesai bekerja, untuk beberapa saat ia sempat mencuri pandang Dhavin yang sedang mengetik dengan jari-jemari lentik dengan cukup cepat itu.
‘Wah, mau dilihat seberapa lama pun, aku masih tetap kagum dengan cara dia mengetik keyboard dengan secepat itu. Jari-jarinya benar-benar sudah hafal.
Bahkan aku sendiri, masih belum lancar-lancar amat sih. Jangan-jangan, jika dia ikut lomba, dia bisa masuk ke dalam Guinness World Records dalam tiga kategori?
Mengetik paling cepat, jari paling cantik, dan paling tampan?
Ya, kalau untukku, dia paling kuat sih, mungkin dalam hal, ranjang?’
BLUSH….
Revina langsung menelan salivanya sendiri.
‘Kenapa otakku selalu saja mengarah hal yang tidak diperlukan sih?’ Dengan rona pipi di wajahnya, Revina menahan ekspresi malunya dengan cara mengembungkan pipinya, merungut gara-gara otaknya selalu saja punya debu tebal, sampai di sapu saja masih saja meninggalkan jejak, seakan dbu itu tidak bisa menghilang dari lantai dasar dari keinginannya itu.
__ADS_1