
"Owee...owee...."
Revina kembali memasukkan mulut mungil iu dengan miliknya.
Akan tetapi, ketika sudah di masukkan, mulut kecil itu tidak bergerak sama sekali.
"Dia sudah kenyang," Kada dhavin memberitahu.
"Iya, tapi-" Revina mencoba melepaskan pu*t*n*ngnya, hasilnya?
"Owee..owee...."
"Levine ini, dia sedang mempermainkanku. " Geritu Revina.
Setelah memberikan ASI kepada Louisa, sekarang giliran Levine. Namun setelah beberapa waktu minum, akhirnya Levine sudah terlihat tidak mau minum lagi, Tapi ketika Revina mencoba melepaskan miliknya dari mulut itu, suara tangisan lagi-lagi terdengar. Namun saat kembali di masukkan, Levine terdiam, tidak menangis lagi, hanya saja Levine tidak mau minum juga.
"Sea\=karang kena imbas dari menertawaiku tadi kan?" Ejek Dhavin melihat Revina sedang dipermainkan Levine yang pintar membuat Ibunya emosi sendiri. "Tapi jika saja kamu memberikan itu kepadaku-"
__ADS_1
"Apanya yang diberikan kepadamu?" Ketus Revina.
"Milikmu itu, aku pasti akan terus menikmatinya, bagaimana? Gantian saja denganku, kamu jadi tidak akan kerepotan seperti itu."Tawar Dhavin.
Revina yang awalnya bersandar di kursi sofa panjang sambil menyangga kepalanya dengan tangan kirinya, langsung duduk dengan posisi sedikit membungkuk ke depan agar dia bisa lebih dekat dengan Dhavin untuk sekedar berbisik. "JIka memang mau minum ASI punyaku, aku kebetulan sudah menyimpan satu botol di kulkas, kamu bisa meminumnya."
"Kamu-" Dhavin jadi kehilangan kata-katanya dengan ucapan Revina yang sungguh berani itu.
Hanya saja setelah dipikir-pikir Dhavin ketika siang tadi baru pulang dari perjalanan jauhnya, sebelum menemui Revina yang ada di dalam kamarnya, sebenarnya dia sempat pergi ke dapur untuk minum. Dan secara kebetulan, dia tidak sengaja melihat susu putih yang tersimpan di dalam botol. Karena hanya ada itu di dalam kulkas, Dhavin tanpa pikir panjang jadi meminumnya.
'Jadi-, susu di dalam kulkas yang rasanya sedikit aneh itu punya Revina?' Pikir Dhavin, akhirnya dia tahu juga susu yang tadi siang sempat Dhavin minum itu rupanya berasal dari satu set milik Revina yang sedang menganggur itu. "Tapi- aku sudah meminumnya."
"Benar lah..memangnya kenapa?"
"Rasanya bagaimana?" Tanya Revina lagi.
"Apa? Punyamu sendiri tapi belum pernah merasakannya?" Salah satu alis Dhavin terangkat, tidak percaya kalau Revina mampu bertanya seperti itu kepadanya sevara blak-blakan. "Rasanya itu sed-mphh!"
__ADS_1
Satu telapak tangan itu berhasil menghentikan celoteh Dhavin yang sering berkata mesum. "Diam..aku tidak jadi bertanya. Jangan di jawab." Tuntut Revina.
Kebetulan sekali telapak tangannya ada di depan mulutnya, Dhavin langsung mengeluarkan lidahnya dan menjilat telapak tangan Revina.a
SLURPP..
"..........!" Revina sontak langsung menarik tangannya dari mulut Dhavin karena mendapatkan rasa basah juga geli yang menggelitik di telapak tangannya.
"ASI mu rasanya cukup aneh, seperti ada asin nya? Manis juga ada, tapi han-"
"Shhtt....Tolong, jangan katakan itu lagi. Aku jadi malu." Revina pun mengatakan kalimat protesnya kepada Dhavin yang akan membeberkan rasa dari lidah yang sudah mencicipi ASI miliknya.
"Untuk apa mau, kan aku sendiri suamimu. Kenapa malu?"
"Aku masih punya akal sehat, jangan membuatku merasa malu seperti ini. Menyebalkan," Revina pun merungut, sudah bereaksi dengan wajah masamnya, karena tidak puas dengan ucapannya Dhavin barusan.
Dhavin menghela nafas panjang, karena melihat Revina yang terkadang bersikap imut juga.
__ADS_1
'Selamat aku bisa datang tepat waktu. Bagaimana jika tidak? Pasti pelayan tadi, sudah lebih dulu melakukan sesuatu kepada Revina. Siapa? Yang mau mencelakai Revina? Padahal tidak banyak orang yang tahu kalau aku sudah punya Istri selain anak buahku yang sudah lama bekerja rumah ini.' Pikir Dhavin.