Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
72 : DBMJCP : Apa maumu.


__ADS_3

Dan reaksi dari wajah Revina pun wajah penuh harap.


Mungkin karena banyaknya pikiran yang membuat Revina jadi stress dan butuh dengan hiburan yang mampu membuat tubuhnya jadi rileks, maka Dhavin yang memang sedang bosan sekaligus sedikit stress juga karena dia harus mengatur situasi di depan Revina, membuat Dhavin pun merasa ini memang kesempatan untuk mereka berdua sedikit bersenang-senang.


"Hmm..., lakukan saja. Lakukan apa yang mau kamu lakukan." Dengan mata sayu tapi punya wajah penuh harap, tangannya itu selalu saja tidak henti-hentinya untuk mengusap samping wajah Dhavin, lagi, lagi, dan lagi.


Revina benar-benar sama sekali tidak bisa membiarkan wajah Dhavin itu menganggur hanya untuk pajangan saja dan menggoda semua wanita yang melihatnya.


Merasakan sentuhan lembut dari tangan Revina yang selalu Dhavin rindukan itu, Dhavin pun segera mengangkat tubuh Revina dengan tangan kanan dia letakkan di bawah pan*tat dan tangan kirinya menahan punggung Revina, akhirnya Dhavin membawanya pergi untuk di letakkan di atas tempat tidur.


BRUK...


Dua wajah itu pun saling berhadapan dan mata mereka berdua sama-sama menatap pada wajah yang sudah tidak asing lagi bagi mereka berdua.


"Revina." Tatap Dhavin, memperhatikan segala sisi dari wajah Istrinya yang di matanya itu, kian cantik dan menambah selera miliknya.


"Dhavin." Revina pun memanggil Dhavin juga, sebagai balasan.


"Apa kamu ingat? Dua hari lagi adalah hari pernikahan kita yang pertama?"

__ADS_1


"Hmm..."


"Apa yang kamu inginkan? Untuk merayakannya, apa ada hal yang kamu inginkan?"


"Kenapa menawariku keinginan? Itu terdengar seperti akulah yang sedang ulang tahun." Sekalipun sudah bersama dengan Dhavin dalam waktu yang cukup lama juga, tapi Revina sungguh tidak mampu untuk menjaga debaran jantung miliknya setiap kali berada dekat dengan Dhavin ini.


Dhavin jadi tersenyum-senyum sendiri mendengar jawaban aneh yang di ucapkan oleh Revina ini.


"Apa kamu baru saja bertanya kenapa? Memangnya di sini siapa yang menjadi Istriku selain kamu hm?" Kata terakhir milik Dhavin pun mendarat tepat di pelupuk mata Revina. Sehingga, pelupuk mata yang sempat basah karena air mata, akhirnya bisa Dhavin ganti dengan jejak dari air liurnya.


Revina yang hendak menyeka air liur Dhavin yang sempat tertinggal di pelupuk matanya, tiba-tiba langsung di cegat dengan cepat oleh Dhavin itu sendiri.


"Hmm? Salah?" Dan kata salah dari Revina pun jadi pancingan untuk Dhavin, untuk kembali menjilat sesuatu yang di miliki Revina, dan itu adalah menjilat bibirnya Revina.


"Ya, aku salah. Salah dalam bertanya."


"Kalau begitu yang benar, pertanyaannya seperti apa?" Tanya Dhavin lagi. Dia semakin menindih tubuh mungil Revina.


Sekalipun begitu, Dhavin masih tahu batasan yang harus dia tahan agar tidak Revina tertindih oleh tubuhnya yang berat itu.

__ADS_1


"Apa pekerjaanmu?"


Dhavin tentu saja kembali di buat terdiam oleh Revina, karena kembali menanyakan pertanyaan yang Dhavin pikir Revina akan melupakan pertanyaan itu.


'Kan. Dia pasti tidak akan menjawabnya.' Revina hanya bertanya tanpa mengharapkan jawaban yang pasti itu, karena Revina berpikir kalau pekerjaan milik Dhavin adalah hal yang tidak bisa di beritahu dengan mudah.


Sekalipun itu pada Revina yang merupakan Istrinya?


Namun Dhavin dengan mudahnya, langsung mengelak pertanyaan itu dengan kalimat lain. "Dari pada membahas pekerjaan yang tidak cocok dengan situasi kita, lebih baik simpan saja dulu."


'Simpan dulu? Aku sudah lama menyimpannya, Dhavin. Bahkan tanpa di beritahu aku memang sudah lama menyimpannya.' Batin Revina.


Dia pun memejamkan matanya, merasakan nafas dari Dhavin yang menerpa wajahnya secara langsung itu.


Sungguh, setiap nafas yang Dhavin buat itu seolah terasa hanya untuk dirinya.


Hidupnya akan jadi hidupnya Revina juga. Satu kesatuan yang tidak boleh di pisahkan. Itulah yang ada pada diri Dhavin dan Revina.


'Kelihatannya, walaupun kau punya pekerjaan yang buruk sekalipun, aku tidak bisa berpisah darimu.' Dengan tatapan mata yang sendu, Revina pun mengalungkan tengkuk Dhavin dan menariknya dalam dekapan yang Revina buat.

__ADS_1


Dhavin yang akhirnya menerima ajakan dari Revina itu segera mengikuti alur yang akan di buat oleh Revina itu sendiri.


__ADS_2