
“Apakah ini rencana dari Bos juga?” Tanya wanita ini kepada sang kekasih saat melihat adanya ledakan yang terjadi di depan sana.
“Aku tidak tahu, tapi mungkin saja.” Sahut sang kekasih. Tapi karena ada sesuatu yang cukup mencurigakan, pria ini pun kembali menggunakan teropongnya, dan apa yang ia lihat saat ini adalah Bos nya sudah membawa Revina di gendongannya.
_____________
“Kamu mau membawaku kemana?! Turunkan aku!” Ronta Revina, saat ini ia masih ada di dalam gendongannya Visco dan sekarang justru sedang di bawa lari? ‘Kenapa aku seperti orang yang sedang nikah lari?! Tapi ada apa ini? Aku takut.’
Dan ketakutan itu terus membuat Revina berusaha untuk memberontak agar tubuhnya di turunkan dari gendongannya Visco.
“Tentu saja aku akan membawamu bersamaku. Karena helikopterku rusak, kita pakai kendaraan lain.” Jawab Visco.
“Kamu membawa Istri orang, lepaskan! Turunkan aku Visco!” Kedua kakinya tidak mau diam, dan tangannya terus memukul-mukul dada bidang Visco tanpa terkecuali, sampai Revina hendak menampar wajah Visco, tapi yang ada justru adalah, Visco merubah caranya untuk membawa Revina, dan itu adalah dengan cara di pikul seperti sebuah karung.
“Akhh! Visco! Turunkan aku!” Pekik Revina tepat di telinga Visco.
‘Bisa-bisa aku jadi tuli.’ Visco menahan senyuman tawarnya.
“Freddy! tolong aku! Siapapun tol-”
“Jangan bergerak!”
Seketika teriakan Revina langsung menghilang setelah mereka berdua tiba-tiba saja di kepung oleh deretan orang yang sebenarnya Visco sendiri tidak kenal juga.
“Oh~ Kita kedatangan tamu tak di undang.” Beritahu Visco kepada Revina yang saat ini sudah sepenuhnya terdiam, karena sepuluh orang yang megelilingi alias mengepung mereka, semuanya sama-sama mmebawa senjata.
‘Ada apa dengan malam ini? Kenapa aku tiba-tiba jadi rebutan semua orang?’ Revina yang sedikit lelah karena kepalanya terus mendongak gara-gara posisi tubuhnya saat ini tidak nyaman, terapaksa melemaskan tubuhnya lebih dulu.
“Berikan wanita itu.” satu suara milik seorang wanita muncul, dan keberadaannya pun muncul juga dimana ia tengah berdiri di belakang anak buahnya itu.
“Aku mana mungkin memberikan wanitaku kepada kalian.” Sinis Visco.
“Wanitamu? Dia bahkan bukan siapa-siapamu.” Sahutnya, lalu sudut matanya melirik ke arah gaun putih yang ternyata sudah di nodai dengan darah. “Kalian, serang dia.”
“Baik.” All
“Jika tidak mau di tangkap mereka, lebih daik berdiri saja di sini dan jangan kemana-mana.” Bisik Visco tepat di telinga Revina, sebelum akhirnya dia menurunkan tubuh Revina.
“Tapi mereka itu membawa senjata, kamu akan kalah dari mereka.” ucap Revina dengan lirih juga, tapi Visco masih mampu untuk mendengar apa yang di katakan oleh Revina tadi.
“Tidak akan, karena mereka bukanlah levelku.” Jawab Visco dengan cepat, lalu menurunkan tubuh Revina.
Lagi-lagi petarungan antara pria membuat Revina semakin takut.
__ADS_1
Ketika itu, Freddy pun menyusul, dan di susul oleh anak buah Freddy juga, mennyusul Revina yang sungguh, malam ini adalah malam untuk memperebutkan satu orang wanita.
‘Kenapa situasinya jadi seperti ini?’ Pikir Freddy saat melihat Visco tengah bertarung bergilir melawan sepuluh orang yang sama-sama membawa senjata.
Akan tetapi saat dia melihat adaya satu orang wanita lain yang berdiri saja, seolah mengamati perkembangan dari pertarungan tersebut, Freddy semakin mengeryitkan matanya, dan langsung mengangkat tangannya ke depan untuk menembak.
DORR…
CTANG….
Hasil tembakan itu berhasil di tangkis dengan mudah oleh wanita itu.
Bahkan di saat dimana anak buah Visco yang ada di suatu tempat kembali menarik pemicu nya, dan secara bersamaan juga Arlsei juga sama-sama menembak ke arah wanita itu, dengan cukup gesit wanita itu pun berhasil menghalangi peluru itu dengan kemampuan menembak dan tangkisan yang cukup tinggi.
Sebab ianya memakai dua senjata secara bersamaan, yang satu belati dan yang satunya lagi adalah pistol.
“Anak buahku mungkin memang bukan tandingan kalian, tapi-” Wanita ini kemudian menyimpan belatinya, dan sesaat itu pula ia langsung berlari melesat untuk menghampiri Revina yang terus berdiri saja. ‘Aku hanya memanfaatkan mereka untuk mengulur waktu saja, agar aku bisa membawa wanita ini.’
‘Ayo! Ini sudah tersambung, tapi kenapa tidak di angkat?!’ pekik Revina, dia sedang berusaha untuk menelepon Dhavin untuk memberitahu situasinya yang sedang ada di dalam kekacauan.
Tapi meskipun Revina berhasil menapdatkan jaringan lagi, dan ia berhasil menghubungi handphone Dhavin, Revina masih belum menemukan jawabannya.
Dhavin sama sekali tidak mengangkatnya!
BUKH….
“AKhh…!” Rintih Revina saat perutnya tiba-tiba di tinju, sehingga handphone nya pun terjatuh karena dia merasakan sakit yang cukup luar biasa di perutnya.
Karena itulah, dengan kesempatan itu, wanita ini pun dengan cukup kuat, langsung memanggul tubuh Revina.
“Siapa kamu! Turunkan! Turunkan aku!” Revina berteriak dengan keras sambil memukul punggung dari wanita ini, “Jika Dhavin kesini, dia pasti akan memberimu pelajaran!”
BUKH…
BUKH….
Dengan wajah tanpa ekspresi, wanita ini tidak menanggapi ancaman Revina, dan hanya berbicara. “Aku sudah membawanya, cepat datang ke lokasi.”
‘Perutku cukup sakit, tapi siapa lagi yang mau menginginkanku?!’ Terdiam membisu karena ia sadar kalau saat ini adalah sesuatu yang lebih serius, Revina pun terpaksa melakukan sesuatu.
Pen staylus yang sempat Revina keluarkan sebelum handphone terjatuh masih dia pegang, ada satu tombol tepat di bagian atas staylus itu. Revina menekan tombol itu, dan seketika ujung dari pen itu muncul cukup panjang, dan tanpa membuang waktu lagi.
‘Aku tidak bersalah, ini demi melindungiku dari orang jahat sepertimu. Jadi salahkan sendiri karena menculikku.’ Dengan tekad yang ia bangun sendiri bahwa melukai orang lain adalah bukan hal yang salah, Revina tanpa sungkan menancapkan ujung pen itu tepat ke bagain leher dari wanita tersebut.
__ADS_1
JLEB…
Sontak tubuh Revina langsung di buang dengan kasar.
BRUKH..
“Ahh….” Revina terpelanting kasar ke atas tanah berumput itu.
‘Dia menusukku dengan apa?!’ Menahan rasa sakit yang ia miliki, wanita ini langsung melepaskan senjata yang menancap di lehernya. Dan setelah di cabut dia pun tahu kalau itu ternyata pen staylus, tapi ternyata itu bukanlah pen biasa, karena itu jauh lebih mirip seperti alat suntik.
Melihat wajah terkejut dari wanita berseragam hitam lengkap itu, Revina langsung mengambil kesempatan untuk lari dari sana. ‘Aku harus kabur sekarang!’ Pikir Revina.
“.........!” Menyadari kalau Revina mau kabur, wanita ini langsung membuang pen tersebut dan memilih untuk menangkap kembali Revina.
GREP…
‘Padahal itu leher pasti sakit sekali, tapi kenapa dia masih bisa menahannya sampai seperti itu? Tidak, jangan pikirkan soal dia kesakitan atau tidak, aku harus kabur dari tangannya.’ Revina menarik tangannya yang saat ini di cengkram kuat oleh wanita tersebut.
‘Aku tidak akan membiarkannya kabur, sudah setengah jalan seperti ini aku harus menuntaskan misi yang di berikan Tuan olehku.’ Karena Revina saat ini sedang memberontak berusaha melepaskan diri dari dari cengkraman tangannya, wanita ini pun mau tidak mau akan melakukan kekerasan juga kepada Revina.
Ya, dia akan membuat Revina pingsan, dan cara paling efektifnya setelah pukulan dari bogem mentah tadi mengenai perut Revina ternyata tidak membuat Revina pingsan, adalah dengan memukul tengkuk Revina.
Maka dari itu, ia langsung menarik tangan Revina yang masih ia cengkram dengan kuat itu agar tubuhnya Revina bisa mendekat kearahnya dan tangannya bisa mnejangkau tengkuk Revina, tapi di saat ia hendak mengambil tindakan itu, tiba-tiba saja…
DEG.
Jantungnya tiba-tiba saja terasa jadi sakit, dan setelah itu di susul dengan batuk yang mengeluarkan darah.
“Uhukk…uhukk…”
“Hah?” Revina terkejut saat melihat darah tiba-tiba saja keluar dari mulut si penculik tersebut, tepat di saat setelah Revina menancapkan pen staylus ke leher wanita tersebut. ‘Kenapa dia bisa batu berdarah? Sudah! Bukannya ini kesempatanku agar aku bisa kabur dari situasi ini?!’
Kembali mendapatkan kesempatan kabur, selagi wanita itu terus dalam posisi mematung karena baru saja mendapatkan rasa sakit yang luar biasa serta mengeluarkan batuk darah, Revina pun langsung kabur.
‘Ah! Targetku kabur! T-tapi, ini-...ini kenapa dadaku rasanya sakit sekali?!’ Merasakan rasa sakit yang luar bisa setelah mendapatkan serangan kecil tapi ternyata mematikan, karena pen staylus yang menjadi senjata Revina tadi adalah sebuauh alat suntik dimana di dalamnya ada cairan yang mengandung racun.
Maka dari itu, langkah kakinya yang hendak dia gunakan untuk berjalan, tiba-tiba saja menjadi tidak bertenaga, setelah itu pandangannya pun menjadi kabur, sampai-sampai untuk sekedar membidik Revina untuk dia tembak kakinya, dia jadi ragu untuk menembak, takutnya ia akan membunuh Revina, yang seharusnya ia bawa hidup-hidup.
‘M-maafkan aku Tuan, aku tidak bisa membawa wanita yang anda inginkan.’ Tahu dengan kondisi tubuhnya ada di bawah kendali racun yang cukup berat, wanita ini pun langsung terbaring di atas rumput.
BRUK.
__ADS_1