Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
143 : DBMJCP : Mereka sendiri


__ADS_3

Ketika Dhavin dan Revina piknik bersama di tengah padang safana, di temani puluhan lampu lilin kecil untuk menerangi suasana diantara mereka berdua, untuk menikmati kebersamaannya, maka lain hal dengan semua anak buah Dhavin. 


Beberapa anak buahnya sedang menyeret orang-orang yang tergeletak karena insiden dari pertarungan mereka, sebuah mobil pemadam kebakaran juga datang untuk memadamkan api yang menghanguskan kedua helikopter.


Tapi di samping itu semua, Arlsei kini masih berada di atas pohon sambil mengemut permen lolipop.


"Sepertinya semuanya sudah baik-baik saja." Ucap Arlsei, sambil memanggul senjatanya di pundak.


Lalu Vinella yang masih memakai gaun pengatinnya, sedang berbaring di atas atap mobil sambil menikmati pemandangan langit malam bertabur bintang, yang mana penjahat yang hampir menculiknya itu, sudah Vinella buat tidak sadarkan diri dan sudah di ikat di dalam kursi penumpang,


"Kenapa aku jadi berpikiran kapan aku menikah?" Tangan kanannya ia angkat ke atas, dan terlihat dari sela-sela jarinya ada cahaya bintang yang nampak seperti cincin sudah ada di jari manisnya.


Sedangkan sepasang kekasih yang tidak lain adalah anak buah Visco yang masih ada di lokasi, saat ini mereka berdua malah sedang menikmati ciuman dari mereka berdua. "Sayang, mulutmu manis sekali."


"Kamu juga, kalau saja di sini bukan ruang terbuka, aku ingin sekali memakanmu." Kata pria ini, menggoda kekasihnya yang saat ini berada di atas tubuhnya.


"Sayang sekali, aku tidak bisa memberimu juniormu itu makan, sebelum kamu menikahiku. Jadi lakukan saja apa yang ada." Ucap wanita ini, lalu satu tatapan yang saling memandang itu berakhir dengan kisah cinta mereka berdua untuk saling mendapatkan kenikmatan yang bisa mereka dapatkan, meskipun hanya berciu*man saja.


Dan di satu sisi lagi, karena ia tidak mau mengganggu mereka yang sedang menikmati masa mereka berdua, Freddy pun pergi dari sana. Dengan mobil yang di bawa oleh anak buahnya, Freddy berhasil menemukan satu mobil yang berhenti di tengah jalan, dimana di atas mobil persis, ia akhirnya menemukan seseorang yang sedang sendirian.


"Sayangnya ini palsu." Gerutu Vinella, melihat jari manisnya itu ada cincin sebagai properti penyamaran. Akan tetapi karena palsu, Vinella pun melepaskannya, karena masih belum terbiasa dengan benda yang tiba-tiba saja ada di jarinya.


Sesampainya di depan mobil yang sedang di naiki Vinella, Freddy langsung berlari melompat naik ke atas kap mobil hingga akhirnya Freddy sudah duduk di samping Vinella.


"Apa kamu mau cincin asli?" Tanya Freddy secara tiba-tiba. 


"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Bagaimana dengan tugasmu itu?" Tanya Vinella detik itu juga. “Bukannya kamu seharusnya ada di Villa milik Bos?”

__ADS_1


“Tidak, rencananya tiba-tiba berubah.” Sahut Freddy. 


Lantas Vinella langsung berganti posisi menjadi duduk, sampai ia tidak sengaja melihat ada luka di lengan kiri Freddy. “Darimana kamu mendapatkan luka ini?” 


Freddy hanya melirik luka yang sedang disentuh oleh Vinella dengan ekspresi wajah Vinella yang penasaran itu.


“.........” Freddy tersenyum tipis, melihat reaksi wajah Vinella yang begitu imut? ‘Kenapa aku tiba-tiba berpikiran kalau dia imut? Tapi- dia masih memakai gaun pengantin,’


Sedikit tertarik dengan penampilan Vinella yang terlihat seperti wanita polos, Freddy tiba-tiba saja mengangkat tangannya, meraih wajah Vinella dan berkata : “Aku akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, asal kamu mengobati lukaku ini. Bagaimana?”


“Hah?” Salah satu alis Vinella terangkat, dan membalas : “Memangnya kamu tidak bisa mengobati lukamu sendiri? Padahal biasanya juga bisa melakukannya sendiri, kenapa tiba-tiba memerintahku?” 


Karena cengkraman tangan Freddy terhadap wajah Vinella sedikit kuat, mulutnya pun jadi sedikit manyun. 


“Heh~ Jadi selama ini kamu memperhatikanku?”


“Padahal sangkalanmu itu sama saja. Jadi apa masalahnya? Tiap manusia pada dasarnya kan bisa punya pikiran yang berubah-ubah, dan bukannya kamu penasaran aku dapat luka dari mana?” 


‘Aku kehilangan kata-kataku.’ Tatap Vinella, melihat wajah Freddy yang terlihat antara lelah? ‘Apa dia baru saja bertarung? Tapi kelihatannya memang benar, pakaiannya juga terlihat kotor, apalagi aku mencium aroma rumput. Ah sebentar, aku juga merasakan aroma parfum? Ini bukan parfum milik Nyonya, tapi-’ 


Seketika wajah Vinella langsung menjadi cukup serius.


“Apa kamu baru saja bertarung dengan Visco itu?” Tebak Vinella. ‘Jika bukan karena aku pernah menyusup ke pesta ulang tahun orang itu, aku mana mungkin bisa tahu aroma parfum yang pria itu gunakan,’


Mendengar Vinella dapat menebaknya dengan benar, Freddy pun melepaskan cengkraman tangan dari wajah Vinella dan menjawab : “Baiklah, kamu menang. Aku memang baru saja bertarung dengan orang itu.”


“Jadi apa maksudnya itu saat kamu sedang mengantarkan Nyonya, kalian tiba-tiba saja di hadang Visco itu? Kalau begitu bagaimana dengan nyonya? Apa dia baik-baik saja?” 

__ADS_1


‘Dia memang pintar, padahal aku belum mengatakan apapun, tapi dia sudah langsung mendapatkan kesimpulan yang akurat seperti itu. Pantas saja Dhavin menempatkannya sebagai penggantinya Revina. Dia- kalau dia bersikap seperti ini, wajahnya yang polos itu benar-benar jadi mirip dengan Revina. 


Hahaha, padahal sudah setahun, tapi aku masih saja memikirkannya. Padahal sudah menikah, tapi kenapa wajahnya itu terus saja menggangguku?’ Freddy sudah cukup lama bekerja di bawah Dhavin, tapi tidak pernah sekalipun ia mendapatkan satu pikiran yang terus mengganggunya selain pekerjaan yang sering Dhavin limpahkan kepadanya, dan itu adalah Revina. 


“Freddy, bagaimana dengan keadaan Nyonya? Nyonya baik-baik saja kan? Tapi jika kamu ada di sini, berarti apakah Nyonya sudah bersama dengan Bos?” Oceh Vinella. 


Freddy yang sudah malas mendengar deretan pertanyaan yang belum Freddy jawab itu, langsung menghela nafas kasar. “Tidak perlu mengkhawatirkannya, dia baik-baik saja, bahkan sangat baik.” Sedangkan di dalam pikiran Freddy, ‘Sangat baik sekali, sampai aku tidak percaya dia sudah punya kemampuan menembak. Siapa yang mengajarkannya? Apakah itu Arlsei?’


_________


“Hachumm…” Bersin Arlsei. Tanpa di sengaja, ia melihat ada satu mobil melewatinya. ‘Mobil itu-’


Merasa curiga dengan mobil yang baru saja lewat, dengan bantuan tali yang memang sudah terpasang dengan tubuhnya, Arlsei langsung turun dari pohon dengan cuku cepat. 


‘Instingku selalu tidak pernah salah. Walaupun aku tidak tahu siapa yang ada di dalam mobil itu, aku pikir untuk berjaga-jaga aku harus meletakkan alat pelacak.’ Dengan senjata yang masih ia pegang, Arlsei mengeluarkan satu peluru khusus di dalam pistol nya. 


Arlsei sempat berlari kecil ke arah pinggir jalan raya, dengan kuda-kuda yang sudah Arlsei buat, Arlsei pun mengarahkan senjatanya ke arah depan. 


DORR….


Peluru langsung keluar dari senjatanya dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan langsung menancap di belakang body mobil.


PIP…PIP…PIP….


Tidak lama setelah itu, alat pemancar langsung aktif dan di terima ke dalam sitem pelacak yang Arlsei miliki. 


“..........” Arlsei lagi-lagi menatap layar handphonenya dengan tatapan yang cukup datar, sebab setelah di tinjau selama lebih dari lima menit, Arlsei menemukan kalau mobil yang dikendarai oleh orang dari mobil barusan, bergerak menjauhi kota.  

__ADS_1


__ADS_2