Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
137 : DBMJCP : Hadiah pertemuan


__ADS_3

“Revina!”


Teriakan dari Dhavin itu membuat mereka semua langsung memusatkan perhatian mereka semua kepada Dhavin sendiri yang kini sedang berlari kencang untuk menghampiri Revina. 


Istrinya, yang saat ini gaun putih yang seharusnya melekat dengan cantik dalam sebuah keindahan, terpaksa harus ternodai oleh darah merah yang bercecer ke gaun dan ke tanah. 


‘Apa ini yang Ibu inginkan?’ Tidak ada ingatan lain selain kata-kata sang Ibu yang masih hangat tersimpan di dalam kepalanya, bahwa semua ini di lakukan untuk memberikan ujian kepada Revina, apakah akan layak untuk menjadi Nyonya Calvaro terus atau tidak.


DRAP…DRAP….DRAP…..


Dhavin terus berlari, menuju ke tempat dimana Revina berada. DImana Istrinya harus mendapatkan ujian yang cukup berat untuk di lewati, hingga pertumpahan darah pada akhirnya terjadi juga. Dan darah merah itu kini melumuri tangn Revina yang berharga itu. 


“Vin~” Panggil Dhavin, langkah kakinya yang tadinya bergerak cepat, kini berubah menjadi jalan kaki seperti biasa. 


Revina yang mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang sangat Revina kenal, langsung menoleh ke samping kanan, dan menemukan Dhavin sudah berada di belakangnya persis dengan wajah terkejut. 


“D-Dhavin~” balas Revina dengan lirih dan terbata-bata. Matanya menatap Dhavin dengan tatapan sendu.


‘Revina~ A-apa dia terluka?’ Khawatir dengan hal itu, Dhavin kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat, sampai di jarak lima meter antara dirinya dengan tempat Revina berdiri, tiba-tiba saja dua orang yang menyerang Revina dari depan dan belakang, langsung tumbang. 


“Ukh….” 


BRUK…..

__ADS_1


Tapi tidak hanya mereka berdua saja yang tumbang, Revina yang kembali menyadari situsinya sudah seperti bukan dirinya lagi, karena berhasil melukai empat orang, seperti yang baru saja ia lakukan, kedua kakinya pun langsung kembali gemetar dan akhirnya karnea tak kuasa menahan tubuhnya yang berada di bawah tekanan mental, Revina pun jatuh juga.


Melihat Revina hendak jatuh terduduk, Dhavin langsung berlari dan segera menangkap tubuh Revina lebih dulu, sehingga Dhavin pun memeluknya dalam dekapan. 


“M-maaf Dhavin, aku membuat dosa. Maaf-” Ringih Revina di dalam pelukan itu, sampai tongkat besi yang Revina pegang itu langsung dia lepaskan. 


“Tidak, Revina. Kamu sama sekali tidak bersalah, semua ini kamu lakukan juga untuk melindungi dirimu juga kan? Kamu hebat, aku tidak tahu ternyata kamu Istri yang hebat dalam banyak hal.” Ucap Dhavin dengan tangan kiri mengusap ujung kepala Revina, sedangkan tangan kanannya menahan punggug Revina agar bisa memeluk tubuhnya lebih erat lagi. 


Isak tangis yang begitu lirih pun terdengar, dan hanya mereka berdua saja yang mendengar itu. 


Antara rasa bersalah karena sudah menggunakan kedua tangannya untuk melakukan kejahatannya sendiri, dan rasa senang karena bisa bertemu dengan Dhavin lagi, membuat Revina tidak tahu lagi ia sedang berekspresi seperti apa. 


Maka dari itu, Revina langsung menyembunyikan wajahnya di dad bidang Dhavin. 


“Kemana saja, kenapa aku menghubungimu, tapi kamu tidak mengangkatnya?”


DEG.


Sebenarnya handphone milik Dhavin yang asli masih berada di tangan Ibu nya, maka dari itu Dhavin sama sekali tidak memegang hanphone nya sendiri, dan hanya menggunakan handphone cadangan yang sering ia tinggal di dalam mobil nya. 


Maka dari itu, Dhavin tidak bisa menjawab telepon dari Revina. 


“Handphone ku ketinggalan di vila.” Hanya itu saja yang bisa Dhavin katakan kepada Revina. 

__ADS_1


“Begitu ya?” Rungut Revina. 


‘Revina, dia jadi melindungi dirinya sendiri karena aku terlambat datang.’ Dhavin pun menatap kedua orang sudah tergeletak, terbaring di atas tanah, sedangkan satu orang tersisa terus duduk sambil memegang bahu kananannya. ‘Dia, mengalami dislokasi bahu, apa Revina yang melakukannya sendiri?’ 


Dhavin menatap kembali ujung kepala Revina yang saat ini akhirnya berada di depannya dan tengah ia peluk seerat mungkin. 


DORR….DORR…


Suara tembakan yang berasal dari belakang Dhavin, mengartikan kalau diantara mereka bertiga, Freddy, Visco, dan anak buah Freddy menembak musuhnya. Entah mati atau tidak, itu urusan dari mereka, karena yang terpenting adalah Dhavin bisa mendapatkan kembali Revina, ia tidak jadi kehilangannya. 


____________


“Gagal ya? Ternyata wanita itu bisa melindungi dirinya sendiri. Tapi Dhavin,  dengan seperti ini, bukannya kamu sama saja memperlihatkan kelemahanmu?” Di satu sisi lain, seorang laki-laki berpakaian biasa layaknya gelandangan, masih duduk di atas batu besar. 


Dari teropong yang ia gunakan, ia pun mlihat Dhavin sedang memeluk seorang wanita. 


Tapi dari pada itu semua, orang-orang yang punya status cukup berpengaruh ada di depan sana, Visco, Freddy, Dhavin, Revina, mereka berempat benar-benar berkumpul di satu tempat yang sama. 


“Sebaiknya aku berikan beberapa hadiah untuk mereka.” Dengan kedua tangan sudah memegang sebuah remot kontrol atas drone yang sedang terbang tinggi di atas langit, pria ini tiba-tiba menarik sudut bibirnya. Membuat sebuah senyuman simpul, salah satu jarinya pun menekan tombol enter. 


Dan ketiga drone yang terbang bersamaan di atas mereka semua, langsung melepaskan sebuah bom. Bom berbentuk seperti lemon, tapi setelah bom tersebut jatuh atau, maka ledakan pun bisa terjadi saat itu juga. 


“Bersenang-senanglah kalian! Nikmati hadiah dariku Ok.” Dan jari pun menekan tombol keyboard saat itu juga. 

__ADS_1


TAK.


__ADS_2