Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
30 : DBMJCP : Akhir adalah awal dari segalanya


__ADS_3

DOOR...


DOOR...


Kedua tembakan yang terjadi saat bersamaan itu sukses menarik perhatian dari Bos dari mereka semua yang tercengang karna wanita yang dia incar, ternyata juga membawa senjata?


-"Akh..."-


Suara dari alat komunikasi yang terhubung dengan teman si penembak jitu, sukses membuat pra itu tercengang bukan main.


'Yang benar saja, dia tahu posisi penembak jitunya? Kenapa Nona tidak memberitahuku kalau yang aku hadapi adalah wanita yang bisa bela diri dan mampu menggunakan senjata?' Pikir pria ini. Dia tentu saja terkejut dengan keadaan mereka semua yang saat ini sudah terbalik, sebab wanita yang hanya seorang diri, mampu membalikkan keadaan dengan cukup cepat.


SYUHHT...


Merasakan tas miliknya sudah kembali turun, maka sebelum tas nya jatuh ke jalan, Revina palsu ini langsung menangkapnya dengan bermodalkan tangan kanannya hanya dia rentangkan saja kesamping kiri.


GREP...


Revina palsu ini memakai kembali tas slempang miliknya, lalu berbalik untuk bersiap menghadapi satu orang yang tersisa itu.


DORR...


"Akhh...!" Jerit salah satu anak buahnya yang berhasil di tembak, tepat di kakinya.


'Dia benar-benar menembaknya tanpa pikir panjang.' Pikirnya, setelah pipi sebelah kirinya, sempat terserempet peluru yang tadi berakhir mengenai kaki dari salah satu anak buahnya itu. Karena itu, sekarang dia mendapatkan sedikit goresan luka yang membuat pipinya sempat berdarah.


"Setelah semua ini, jangan harap bisa kabur, sayang." Kata Revina palsu ini, lalu dia kembali menarik pemicunnya ke arah pria itu.


DORR...


DORR....


Dua peluru itu akhirnya saling beradu satu sama lain. Membuat kebisingan semakin tercipta.


"Kau ternyata lumayan juga." Puji Revina palsu ini. Dia kembali menarik pemicunya, sampai dia langsung menunduk dan memutar tubuhnya dengan satu kaki dia julurkan untuk menjegal kaki dari pria yang diam-diam hendak menyerangnya dari belakang.


SRAK...


BRUKH...


Akan tetapi di saat yang sama itu, Revina palsu ini tiba-tiba saja mendapatkan satu semprotan dari sebuah cairan yang tidak dia kenali apa efek yang akan dia dapatkan itu.


"Kamu pikir aku tidak menyiapkan ini?" Ungkap pria berjaket biru ini, setelah berhasil menyemprotkan cairan kewajahnya Revina itu.


"............." Revina langsung menyeka wajahnya dengan lengan bajunya dengan sembarangan sambil memberikan pelajaran kepada pria itu untuk mendapatkan rasa sakit dari peluru yang akan bersarang di tangan dan kaki dari pria itu.


DORR...


DORR...


'Sialan, efek apa yang aku dapatkan ini? Aku kurang waspada, ternyata dia punya obat lain.' Batinnya. Tapi sayangnya pekerjaannya belum selesai, karena dia harus melumpuhkan Bos dari mereka semua.


KLEK....


Ekspresinya kembali serius, dia tidak akan membiarkan orang yang bisa membahayakan Nyonya majikannya itu kabur begitu saja dengan mudah.


"Aku pikir sebaiknya kita berpisah hari ini." Seringai pria ini terhadap Revina yang terlihat percaya diri untuk melumpuhkan semua orang, termasuk dirinya.


"Tidak akan semudah itu." Kata Revina ini, lalu dia pun kembali menarik pemicu dari senjatanya.


DORR....


Seperti yang terjadi sebelumna, pelurunya berhasil di halangi oleh peluru dari laki-laki itu.

__ADS_1


"Hiih! Aku tidak akan membiarkanmu lolos1" Revina yang sudah kesal karena ada yang bisa menyamai kemampuannya, dia pun berlari, mengangkat kedua pistolnya juga dan mengarahkannya kepada musuhnya itu.


DRAP ... DRAP ....


DOR! ... DOR! ...


Satu peluru berhasil di tangkis, tapi yang satunya lagi meleset jauh.


Tidak bisa di biarkan begitu saja, dia kembali membuat serangan. Awalnya dia hendak membuat serangan fisik, tapi apa yang terjadi, pria itu ternyata menyimpan sebuah bom gas air mata.


DHUAR...


PSSHHH....


Asap putih itu berhasil mengganggu penglihatan Revina ini.


"Jangan kabut kamu!" Revina kembali berlari untuk mengejar si penjahat yang akan menculik dirinya itu.


Tapi karena dia ada di bawah tekanan rasa sakit mata yang cukup menyiksa, maka dia pun kehilangan sang penjahat itu.


"Ahh! Dia kabur! Bagaimana ini? Bos pasti akan memberikanku pelajaran." Dan pelajaran yang dimaksudnya itu adalah sebuah hukuman, karena dia kehilangan targetnya yang awalnya untuk diberikan kepada Bos Dhavin.


Tapi usahanya gagal total.


BRMMMM.....


Hingga beberapa menit kemudian, sebuah mobil sport berwarna putih, datang menghampirinya.


Karena matanya sedang merasa perih, dia pun jadi cukup sensitif dengan cahaya lampu sorot dari mobil yang berhenti tepat di depannya.


BRAK...


Suara dari langkah sepatu itu menyita perhatian wanita ini untuk waspada, dan membuatnya mengangkat tangannya, untuk memberikan orang di depannya itu sebuah peringtan kalau dia bisa menembanknya kapanpun.


"Siapa?!" Serunya.


Telapak sepatu itu kembali datang dan seakan menggema di dalam kepalanya.


Wanita ini menggeleng kepalanya cepat seraya mengucek-ucek matanya agar dia bisa cepat-cepat melihat ke depan.


"Jangan mendekat atau aku tem-"


"Memangnya kamu berani menembakku, Vinela?" Suara berat khas milik seang pria yang apalagi cukup familiar di telinganya, membuat dia menurunkan waspadanya.


"Freddy?" Panggilnya.


"Ini, basuh dengan air ini." Dan pria bernama Freddy itu menyodorkan air mineral kepada Vinela.


Vinela menyerahkan senjatanya kepaa Freddy, dan dirinya langsung menerima air mineral pemberian dari pria itu, untuk dia gunakan sebagai pencuci matanya yang terasa perih itu.


"Kenapa kamu yang datang? Padahal aku memanggi Jessie untuk menjemputku." Tanyanya.


"Kebetulan aku memang tidak jauh dari sini."


"Dalam artian menguntitku?"


"Itu cukup bnar, tapi juga sedikit meleset." Balasnya.


Setelah Vinela berhasil membasuh matanya, dia perlahan bisa melihat dengan jelas lagi.


"Tisu?" Menyodorkan tisu juga?


"Ini seperti sudah disiapkan untukku ya?" Lagi-lagi menerima pemberian dari Freddy. Dia pun menyeka wajahnya agar kering dengan tisu. "Tapi-"

__ADS_1


Wajah sedih sekaligus tidak puas hati di perlihatkan oleh Vinela kepada Freddy.


Tiba-tiba datang beberapa pasang kaki yang bergerak cepat menghampirinya.


"Terima kasih atas kerja keras anda, kami akan mengurus sisanya. Jadi anda bisa pergi." Ucap pria berpakaian rapi ini kepada Freddy dan juga Vinela. Lima orang yang baru saja datang itu adalah anak buahnya Freddy, jadi dengan begitu pekerjaan malam ini untuk Vinela pun telah usai.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Kata Freddy kepada Vinela.


Tanpa banyak bicara lagi, Vinela pergi mengikuti Freddy dari belakang, lalu masuk kedalam mobil berwarna putih yang dibawa oleh Freddy.


BRAK...


Freddy pun kembali mengendarai mobilnya, membawa wanita yang sudah berperan menjadi Revina itu pulang ke apertement.


"Memamngnya apa yang kamu lakukan, katamu tadi memang sedang di sekitarku tadi. Pasti bukan sekedar untuk mengamatiku saja kan?" Tany Vinela.


Di dalam mobil, Vinela melepas silikon yang melekat di wajahnya itu, karena untuk membuat wajahnya terlihat mirip persis dengan Revina, maka dia pun harus menggunakan topeng.


Tapi sekalipun dia sudah melepaskan topengnya, pada dasarnya dia itu memanglah wanita yang punya wajah cantik. Tetapi untuk menghindari adanya orang yang megenali wajahnya, maka dia sebenarnya setiap hari selalu memakai topeng lain, untuk menjadi samarannya agar tidak akan ada yang mengenalinya.


"Ini bukan urusanmu juga, kenapa aku harus memberitahumu?" Balas Freddy, tidak mau mengatakan yang sebenarnya kalau dia pun datang ke tempat yang sama hanya untuk mengintai Adel.


Karena kebetulan Freddy sudah memasang alat pelacak pada mobil Adel, Freddy pun hanya tinggal duduk diam seraya mengamati kemana saja Adel itu pergi.


Karena itu, saat ini dia pun bisa sekalian menawari tumpangan kepada Vinela ini pulang.


"Ya, aku tahu. Jadi aku tidak akan bertanya lagi." Ucap Vinela.


Setelah topeng, maka rambut, dia pun melepaskan wig nya, memperlihatkan warna rambutnya yang sebenarnya berwarna cokelat.


Dan tidak ada apa-apa lagi setelah itu, karena dia memang sepenuhnya memiliki tubuh dan penampilan seperti itu.


*


*


*


Lima menit kemudian, karena letaknya tidak jauh dari apertement milik Vinela, maka dalam waktu yang singkat itu, mereka berdua bisa cepat sampai.


BRAK...


"Terima kasih tumpangannya." Kata Vinela sambil melambaikan tangannya kepada Freddy.


"Hmm..." Freddy kembali mengendarai mobilnya, pergi dari sana.


Setelah pergi, Vinela pun masuk kedalam loby dari gedung apertement itu.


Masuk kedalam lift, lalu dia pergi naik ke lantai dua puluh delapan. Disanalah lantai dari kamar apertement miliknya.


TING...


'Hmm...' Tapi sayangnya saat Vinela hendak meraih pintu, perasaan aneh itu pun muncul di tubuhnya. Vinela segera masuk kedalam rumahnya. Setelah masuk, dia melepaskan sepatu, rok, dan bajunya secara buru-buru. "Jadi ini yang dia berikan kepadaku?" Gerutu Vinela saat tubuhnya pun merasakan sesasi paas yang cukup merangsang, sampai membuat area bawahnya sudah berkedut.


Merasakan hal itu, Vinela tersenyum mencibir, karena malam ini akan menjadi malam paling panjang untuknya.


_____________


BRMMM....


Mobil yang membawa Freddy pergi untuk pulang ke kediamannya yang ada di markas, tiba-tiba berhenti di tengah jalan, dan memutuskan berputar, atau balik arah.


'Aku merasa ada sesuatu yang terjadi kepadanya. Lebih baik aku cek dulu.' Freddy pun semakin mengebut sampai dikecepatan sembilan puluh kilometer per jam.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu loby, dia bergegas keluar dari mobil, masuk kedalam lift dan pergi menuju lantai dua puluh delapan. Setelah sampai, Freddy yang mengetahui sandi pintu rumah Vinela, dia segera masuk kedalam rumah yang ternyata dia langsung disambut dengan suasana yang cukup gelap, dimana rumah Vinela itu saat ini hanya ditemani penerangan alami, bermodalkan cahaya dari bulan purnama yang menyerang langsung lewat jendela full glass yang tidak di tutup oleh tirai itu.


Namun, kira-kira kemana keberadaan dari Vinela yang menjadi pusat khawatir dari Freddy?


__ADS_2