Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
87 : DBMJCP : Mall (3)


__ADS_3

“Sama sekali tidak di angkat. Bagaimana ini? Apakah aku terpaksa menelepon Nyonya?” Vinella sungguh geram, karena Bos nya itu sama sekali tidak menjawab teleponnya, padahal ada dalam keadaan yang mendesak.


Apalagi mengingat Mall ini cukuplah besar, Vinella sama sekali tidak bisa menyusuri semua tempat, sedangkan kehadiran Bos yang suka mendadak itu membuatnya sama sekali tidak bisa mengerahkan beberapa anak buah untuk penjagaan. 


____________


Selesai mengisi perut, Dhavin dan Revina pergi menjelajah lagi. 


“Sekarang kamu mau mengajakku kemana lagi?” Tanya Revina seraya menyeruput air teh. 


Tanpa menatap lawan bicaranya, Dhavin yang kini sedang mendorong kursi roda, menghentikan langkahnya di depan pintu lift.


“Kemana lagi ya? Kan ada yang harus di tutupi, sesuai janjiku tadi pagi.”


“Men-”  Revina tiba-tiba menghentikan ucapannya lalu langsung mengigit sedotan yang tengah dia pakai itu. 


Padahal Dhavin tidak mengatakan banyak hal, lantas apa yang membuat Revina jadi diam dan malah menunjukkan telinga merah seperti kepiting rebus?


Dhavin mendaratkan tangannya ke atas kepala Revina dan kembali mendorong kursi roda nya masuk kedalam lift.


“Aku tahu yang kamu khawatirkan. Makannya sekarang kita akan lebih dulu beli penutup asetmu.”


DHUAK.


“Aduhh!” Satu pukulan mendarat di perut Dhavin yang kebetulan keras. 


Namun, karena tenaga Revina lumayan besar, pukulan berupa tinju itu tetap terasa sakit. 


“Bisa tidak, jangan mengatakan itu.” protes Revina setelah berhasil meninju perut Dhavin yang atletis, sehingga punggung tangannya pun terasa sedikit sakit. 


“Mengatakan apa sayang? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya kok, kenapa aku di pukul. Sakit tahu?” Dhavin pun juga punya protes nya sendiri. Sampai dia sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, karena dia mendapatkan rasa sakit yang cukup lumayan. 


“Aku juga sakit nih. Perutmu batu ya?” Sambil mengibas tangan kanannya yang ia gunakan untuk meninju itu. 


“Oh, perutku tidak seberapa sakit, sih. Sini, aku sembuhkan-” Dhavin dengan begitu gampangnya, mencengkram tangan Revina, menariknya sedikit ke belakang dan menciumnya. 


CUP.


TING.

__ADS_1


Dentingan bel dari lift yang sudah sampai, membawa Dhavin untuk keluar dari sana. 


‘Dia menciumnya apa menjilatnya! Kenapa jariku jadi penuh dengan air liur!’ Tercekat kaget dengan jari-jari tangannya yang sudah bersimbah dengan air liur, Revina segera membersihkannya dengan rok yang dia pakai itu. “Bau.” Keluh Revina.


“Bau aroma cintaku.” Ledek Dhavin. 


BLUSH…


Dalam perjalanan menuju toko yang sering di kunjungi oleh banyak wanita, wajah Revina terus saja tersipu malu. 


Sampai para pegawai dari toko tersebut merasa kesemsem dengan dua orang tamu yang memancarkan cahaya romantisme. 


“Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” Satu salam penuh ramah tamah itu mewakili tiga orang lainnnya dalam menyambut pelanggan toko mereka. 


“Tunggu apalagi, pilih yang kamu suka. Jika memang suka semuanya, aku bisa memborong semuanya juga.” Tawar Dhavin kepada Revina tepat di depan dinding yang di penuhi dengan deretan pakaian da lam.


‘Kenapa ada pasangan seromantis ini? AKu jadi iri.’ 


‘Ah, aku yang jomblo apa daya? Hanya bisa melihat kedua orang ini saling menggoda.’


‘Pelanggan kali ini benar-benar luar biasa.’


Mereka semua hanya bisa diam menunggu perintah. 


“Wah, anda sangat jeli sekali Nyonya. Itu adalah buatan tangan dari desain terkenal, Aveslia. Dalam penjahitannya dia melakuannya dengan penuh perasaan, karena ingin membuat wanita yang memakainya jadi menampilkan kesan ya-”


“Aku hanya memilih, bukan mendengar cerita dan pujian.” Menerima satu set pakaian da lam yang sempat dia pilih, tanpa memperhatikan lawan bicaranya.


“Dengar itu, tidak menerima pujian dan cerita yang bosan di dengar.” Dhavin mendukung Revina, sehingga ketiga wanita itu langsung diam. 


“Baik, maafkan saya yang terlalu bersemangat ini.” Akhirnya pegawai ini menuruti kemauan dari sepasang suami isri di depannya itu. 


Mengabaikan permintaan maaf dari pegawai tersebut, Dhavin merebut apa yang sedang Revina pegang itu. 


“Eh~” Revina menoleh ke samping kanannya. 


“Kenapa kamu suka sekali dengan model seperti ini? Jangan yang seperti ini. Untuk tubuhmu yang eksotis itu, seharusnya kamu itu pilih yang-” Dhavin dalam sekali pandang memperhatikan deretan pakaian da lam yang tergantung cukup rapi, selesai memilih, Dhavin pula yang mengambilnya sendiri sampai sepuluh sekaligus, hingga para pegawai tersebut terpaksa membantu untuk memegangnya. “Yang ini, bnyak tali akan membuatmu saing me-”


PLAK.

__ADS_1


Revina sudah menggertakkan giginya, dan membungkam mulut Dhavin dengan pukulan keras di bagian paha nya Dhavin. 


Sampai beberapa pengunjung yang kebetulan baru saja masuk itu, langsung menatap Revina dan Dhavin, sebab baru saja mendengar tamparan yang cukup keras. 


“T-tuan, an-”


Dhavin yang hendak menutup salah satu diantara para pegawai toko yang akan mengungkapkan kekhawatirannya, langsung di cegat oleh Revina yang tiba-tiba menarik keras baju hoodie yang di pakai Dhavin sampai Dhavin secara otomatis langsung membungkukkan tubuhnya ke arah Revina, persis sampai sajah mereka berdua saling bertatap muka. 


“Dhavin, bukannya aku sudah bilang, jangan mengatakan rayuan itu kepadaku di tempat umum. Aku sungguh, sangat-sangat malu.” Bisik Revina penuh dengan penekanan. 


Dhavin terdiam saat wajahnya benar-benar sudah di tangkap dengan kedua tangan Revina. Matanya terus terpaku pada mata Revina yang sungguh memperlihatkan mata ingin menangis?


Tidak ingin membiarkan itu terjadi, Dhavin segera mendaratkan bibirnya di permukaan bibir ya Revina. 


CUP. 


“Maaf kan aku.” Jawab Dhavin sambil menatap mata Revina dengan penuh dengan kelembutan. “Tapi setidaknya mau beli yang sudah aku pilih?” 


Kedua pegawai itu sedikit mengangkat semua hasil pilihan Dhavin tadi. 


“Ya.” Jawab Revina singkat, sambil mlengos ke tempat lain, karena dia sungguh tidak ingin terkena racun dari wajah Dhavin yang sedang menggodanya itu. ‘Jantungku sama sekali tidak bisa di kontrol. Apa dia mendengarnya?’ Masih menampilkan pipinya yang merona. “Tapi aku harus mencobanya, pas atau tidak. Karena jika asal beli, biasanya tidak sesuai ukuran. Aku tidak suka yang terlalu sesak, atau dadaku yang sakit.”


Dhavin jadi kembali di buat terkejut dengan mata merem melek, karena penjelasan yang Revina berikan itu sungguh membuat hatinya ikut senang, sebab setidaknya Revina tidak jadi mengeluarkan air mata malu nya itu di depan banyak orang. 


“Aku akan membantumu,”


“Tidak.” Revina mendorong wajah Dhavin jauh-jauh dari hadapannya. 


Tapi balasan dari Dhavin yang baru saja wajahnya di dorong itu adalah jilatan manis. 


SLURP.


“Ihh…!” Revina buru-buru menarik tangannya itu dari wajah Dhavin. 


“M-mereka berdua sangat romantis sekali.” Satu pujian pun datang. 


“Mereka sangat membuatku iri.”


Ucapan yang keluar dari mulut mereka juga memperlihatkan rona pipi mereka. 

__ADS_1


“Bantu atau tidak, jika menolak, aku akan merayumu lebih dari ini.” Bisik Dhavin dengan seringaian tipis seperti orang yang mengancam?


‘D-dia mengancamku!’  detik hati Revina.


__ADS_2