Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
176 : DBMJCP : Tembakan terakhir


__ADS_3

BRAKK....


Ketika Arka berhasil memojokkan Vinella sampai membuat tubuh belakangnya menghantam pintu kaca, tidak lama kemudian Arka terus mendorongnya hingga pintu kaca yang terbuat dari rangka kayu itu, kacanya berhasil pecah.


PRANK....


Dan Vinella pun langsung terdorong ke balkon kamarnya dengan posisi tubuhnya sudah ada di pinggir besi pembatas, dan bahkan posisinya itu menyiratkan kalau Vinella tidak mau menuruti kemauan Arka, maka Arka akan melepaskan tangan Vinella dan membiarkan Vinella jatuh.


"Apa kau yakin mau membunuhku, padahal orang itu menginginkanku?" Tanya Vinella, rambut hitam panjang miliknya yang terurai itu pun berkibar seiring angin sore itu menerjang tubuh mereka berdua.


"Aku tidak memperdulikan pendapatnya, karena urusanku selain bisa membawamu entah hidup atau mati, tapi pria yang ada di depan sana, setidaknya bisa aku berikan permainan lebih yang membuatnya berada di ambang kematian."


"Kau memang sudah gila." ucap Vinella.


Lalu respon yang di berikan oleh Arka ini justru adalah senyuman liciknya.


"Sudah sewajarnya kan? Aku jadi gila karena pernah di jebloskan ke rumah sakit jiwa?" Jawab Arka tanpa sungkan.

__ADS_1


'Padahal sudah di perlakukan seperti oleh laki-laki itu, tapi dia masih saja setia berada di bawah kendalinya. Aku sama sekali tidak sudi ikut dengannya, jadi kalau dia memang mau melepaskan tanganku, itu lebih baik.' Awalnya Vinella berpikir seperti itu, sampai tiba-tiba saja sudut mata Vinella menemukan sesuatu yang ada di atas sana.


"Aku tanya, kau ikut aku atau tidak. Setidaknya, jika kau ikut denganku, aku akan berusaha agar kau tidak bertemu dengan Ayah, tapi sebagai gantinya kau tetap-"


"Tidak."


Arka semakin mengernyitkan matanya, sampai mulut yang tadi sempat diam karena jawaban Vinella yang terdengar mengejutkan itu, membuat Arka angkat bicara. "Baiklah."


KLAK....


"Kau yakin?"


Tanpa berkata apapun, Arka pun menarik pemicunya, dan suara tembakan pun terjadi secara bersamaan.


DORR....


_______________

__ADS_1


PRANK....


Revina seketika terkesiap melihat gelas yang ia pegang, tiba-tiba lepas sendiri dan pecah.


DRAP...DRAP....DRAP....


Suara langkah kaki itu terus menghampiri Revina yang sedang berdiri dengan ekspresi wajah yang terkejut itu.


"Nyonya! Apa anda baik-baik saja? Ada yang terluka?" Tanya salah satu pelayan yang tadi sempat melihat gelas yang di pegang oleh Nyonya, terjatuh ke lantai dan akhirnya pecah.


"A-ah, iya, aku baik-biak saja." Jawab Revina setelah menghela nafas panjang dan menyingkirkan rasa keterkejutannya. "Maaf, membuatmu jadi harus membereskannya." Kata Revina, merasa bersalah, sebab yang harus di bersihkan oleh pelayan ini adalah pecahan beling yang tajam.


"Nyonya, saya itu pelayan, jadi sudah sewajarnya saya membersihkan rumah dan menanggung keperluan Nyonya dan Tuan di rumah. Jadi jangan pernah minta maaf pada saya yang rendahan ini." Jelas pelayan ini sambil menyapu lantai yang berserakan dengan pecahan beling. "Tapi- anda benar-benar tidak apa-apa ya kan? Biasanya kalau barang pecah seperti ini, belingnya menciprat kemana-mana, kaki anda tidak apa-apa kan?" Tanyanya lagi.


Ia merasa khawatir dengan majikannya yang satu ini, karena punya sifat yang lemah lembut kepada semua orang. Jadi ketika melihat majikannya tersebut terkena sedikit masalah, ia pun jadi merasa khawatir, apalagi sekarang Tuan mereka sedang berada di luar negeri, dan sekarang sudah jalan satu minggu.


"Iya, tidak apa-apa." Setelah berkata seperti itu, Revina pun pergi dari sana, dan hanya memilih tidak jadi minum. 'Kenapa perasaanku tidak enak ya? Arlsei juga pergi entah kemana, tapi bagaimana kabar Dhavin ya? Aku sangat rindu.' Pikir Revina. 'Tapi selama tiga hari ini, dia sama sekali tidak menghubungiku, dan saat aku menghubunginya, nomornya bahkan tidak aktif. Apa dia terlalu sibuk di sana ya?'

__ADS_1


__ADS_2