Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
90 : DBMJCP : Soal Dhavin


__ADS_3

Demi menghindari adanya gangguan bernama Adel yang bisa bertemu dengan Revina kapan pun itu, Dhavin pun mengajak Revina untuk pergi ke pacuan kuda.


Karena Revina belum bisa menaiki kuda, sekalipun hanya duduk di atas kuda, Revina hanya duduk santai di teras, ditemani dengan kipas angin, beberapa camilan, serta jus.


NGIKK...!


Suara ringkikikan kuda itu sukses menyita perhatian Revina yang sedang minum jus.


Dan kuda hitam dengan penunggang gagah berani layaknya kesatria, dia adalah Dhavin.


"Wah ....!" Revina kagum melihat kepiawaian Dhavin dalam mengontrol kuda yang di naiki nya itu. "Kenapa Dhavin selalu bisa dalam segala hal?" Tanya Revina pada dirinya sendiri sambil mengigit jari jempolnya.


Revina sama sekali kalah, dalam status saja ia sudah lebih dulu kalah, apalagi dalam hal kepintaran, dan keahlian untuk menguasai segala bidang?


"Tentu saja karena anak itu dari kecil sudah belajar semua bidang olahraga. Makannya, yang seperti ini saja, dia sudah sangat mahir, karena hobinya itu memang naik kuda." Tiba-tiba saja ada satu oang yang datang dan berdiri di belakangnya Revina persis.


Revina tidak tahu siapa, tapi pria paruh baya yang ada di belakangnya itu, seperti terlihat sudah mengenal Dhavin lebih banyak ketimbang Revina sendiri.


"Aku baru melihatmu, tapi apakah kamu benar-benar Istrinya?" Liriknya. Kacamata hitam yang tadi di pakai itu pun di lepas, dan memperlihatkan tatapan mata yang cukup sengit.


Revina tanpa sadar jadi menelan saliva nya sendiri. Dia merasa takut, karena tatapan itu terlihat cukup mengintimidasi.


Makannya, karena dia merasa takut, Revina hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali menatap ke arah depan.


"Ehem..." Pria ini pun berdehem, lalu duduk di kursi santai yang ada di sebelahnya. "Ekspresiku menakutimu ya?"


"Sebenarnya, iya." Revina pun menjawabnya dengan cukup ragu.


"Kan, ternyata lebih baik aku memakai kacamata, ketimbang melepaskannya. Aku tidak mau di kira oleh anak itu kalau aku sedang mengancammu." Karena tidak mau terlibat lebih jauh, pria ini kembali memakai kacamata hitam miliknya.


Revina sempat melirik pria paruh baya tersebut. "Anda siapanya Dhavin?" Akhirnya Revina memberanikan dirinya untuk bertanya soal hubungan pria di sampingnya itu dengan Dhavin.

__ADS_1


"Aku pelatihnya. Akulah yang mendidik anak itu agar bisa jadi seperti sekarang." Jawab pria ini dengan antusias. "Aku adalah Alberto, mereka biasanya memanggilku Beto."


'Padahal wajahnya cukup seram, tapi nama panggilannya kenapa bisa lucu seperti itu?' Pikir Revina.


"Dan Arlsei yang bekerja di rumahnya itu, aku juga orang yang melatih anak itu. Walaupun tampang dari Arlsei itu seperti tembok, tapi dia bisa segalanya. Karena sudah tinggal dengan anak itu juga, harusnya kamu tahu kan?"


"Iya. Aku menyukai semua masakannya, seperti koki saja. Dan aku juga pernah melihat dia berlatih bela diri bersama dengan para penjaga, itu cukup keren." Revina yang terbuai dengan cerita yang sudah pernah dia alami karena pernah melihatnya sendiri, jadi senyum-senyum sendiri. "Apalagi saat latihan menembak, aow ... Itu sungguh menakjubkan juga."


Alberto ini diam-diam tersenyum tawar. "Lantas bagaimana dengan suamimu itu?"


Revina langsung menutup mulutnya dengan bantal sofa lalu menjawab. "Dia memang sudah keren sekalipun hanya duduk dan makan. Tapi hobinya itu benar-benar tidak bisa di tolong lagi, dia setiap hari meray-"


Revina sepintas langsung menutup mulutnya, karena dia baru saja membeberkan rahasia miliknya sendiri di depan Beto.


Beto terkekeh melihat tingkah lucu Revina yang langsung sadar dengan mulutnya baru saja mengumbar rahasia mereka berdua di depannya langsung.


"Jadi dia suka merayumu?" Beto langsung bersandar ke belakang, dan sehingga saat ini arah pandangannya pun tertuju ke plafon teras. "'Padahal selama aku mengasuh anak itu, dia sama sekali bukanlah tipe yang suka merayu wanita.


Dia menceritakan hal itu kepada Revina, karena ia tahu bahwa Revina masih saja minder dengan statusnya Dhavin yang cukup tinggi, sehingga kadang selalu mengundang cekcok untuk Dhavin dan Revina sendiri.


Meskipun selalu berakhir dengan damai, tapi pasti akan ada yang kesekian kalinya.


Jadi setidaknya, Beto ingin membuat hati Revina ini benar-benar mantap, bahwa Dhavinlah yang memilihnya, sekaligus menerima semua kekurangannya.


"Siapa namamu?"


"Revina."


Beto menoleh ke arah Revina dan berkata : "Revina, hanya kamu yang berhasil menarik perhatiannya.


Jangan tanggapi semua masalah jika berhubungan dengan Dhavin seperti perselingkuhan atau apapun, karena dia bukan anak yang akan mengkhianatimu. Aku mengatakan ini, karena aku sudah mengenal anak itu lebih dari kamu.

__ADS_1


Dia itu pria yang sangat bertanggung jawab. Buktinya di menepati janjinya untuk menikahimu kan?"


Revina memberikan anggukan, kalau apa yang di katakan oleh Beto memang benar.


"Dhavin, dia memang pernah pacaran sekali, dan itu dengan Safina. Tapi semuanya kandas karena Safina sendiri yang mengkhianati cintanya.


Karena itulah, penyebab Dhavin tidak suka dengan wanita sepertinya.


Tapi semua dinding pertahanannya hancur saat bisa bertemu denganmu. Dia mencintaimu apa adanya, jadi aku harap kamu tidak menyia-nyiakan cintanya itu.


Kamu sudah melihat semua buktinya, kesungguhannya dari menikahimu dan memberikanmu anak juga. Makanya, jangan langsung meragukannya, hanya karena simpang siur yang belum jelas.


Dhavin itu, dia akan menggunakan segala cara agar kamu tahu kebenarannya."


Revina terdiam, dia sama sekali tidak menyangka akan diceramahi panjang lebar oleh Beto. Demi meneguhkan, dan memantapkan hati yang di miliki oleh Revina yang memang, beberapa hari ini, dia gampang goyah.


'Aku jadi merasa tidak enak saja.' Revina jadi duduk sambil memeluk lututnya sendiri.


Memandang kearah depan, Dhavin sempat melambaikan tangannya ke arahnya. Padahal posisinya itu, kuda yang di naiki oleh Dhavin itu sedang melakukan aktraksi melompati halang rintang.


"Dia hebat." Sampai akhirnya kalimat pujian itu keluar dari mulutnya.


"Hebat bukanlah sesuatu yang bisa di banggakan." Beto tiba-tiba saja duduk. Menumpukan kedua tangannya di atas lutut, kepalanya menunduk ke arah bawah. "Di samping dia bisa hebat seperti itu, sudah ada banyak hal yang dia temui selama hidupnya.


Mungkin kamu sama sekali belum di beritahu ya soal pekerjaannya Dhavin itu apa?" tanyanya.


Revina sepintas diam. Mata sendunya berubah jadi mata berkilat. Rasa penasaran yang sudah tidak terbendung akan pekerjaan Dhavin itu pun kembali muncul.


"Iya. Setiap kali aku bertanya, dia pasti selalu mengalihkan topiknya."


Beto jadi terdiam. Terbesit rasa simpati melihat Revina bisa bertahan dari Dhavin yang sama sekali belum mengungkapkan identitas aslinya.

__ADS_1


__ADS_2