Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
86 : DBMJCP : Mall (2)


__ADS_3

“Ahh …, akhirnya aku bisa pergi ke mall. Ketimbang aku di rumah dan memikirkan siapa yang membunuhnya, aku harus lebih dulu merubah suasana hati.” Adel pun berjalan sendirian, celingukan kesana kemari untuk melihat tempat mana yang akan dia kunjungi lebih dulu?


Jika Adel berada di lantai empat, maka Revina dan Dhavin sedang berada di lantai tiga. 


Dan mereka berdua saat ini justru sedang mengantri makanan untuk membeli burger?


“Padahal ada makanan lain yang lebih enak, kenapa kamu malah ingin makan burger?” Dhavin tidak mengerti, baginya, burger itu adalah makanan cepat saji yang tidak baik untuk tubuh, karena dia sama sekali tidak percaya dengan semua bahan yang di masak oleh restoran siap saji ini. 


“Aku belum pernah makan burger.” Jawab singkat Revina, sambil menyangga dagunya dan menatap wajah Dhavin yang tidak bisa habis untuk di tatap. 


Dhavin yang sama-sama menatap wajah Istrinya itu, mengerjapkan matanya beberapa kali dengan cepat. “Kamu bercanda ya, masa belum pernah makan burger?” Tanyanya, kurang percaya dengan jawabanya Revina. 


“Pizza juga belum.”


“Itu kan makanan yang sudah umu, masa kamu belum pernah makan?” Dhavin jadi semakin memicingkan matanya. 


“Karena di lihat antara enak dan tidak enak, jadi belum pernah makan.” Sahutnya lagi. 


“Maaf, menunggu lama. Ini pesanan anda. Selamat menikmati.” Satu orang pelayan menyajikan satu gelas besar penuh dengan Ice Cream. Itu adalah menu pasangan, makannya pelayan tadi memberikan satu saja untuk mereka berdua. 


Setelah pelayan itu pergi, Revina langsung tancap gas, karena dia sudah tidak tahan ingin mencicipi Ice Cream tersebut. 


CTANG….


Sendok yang hendak mendarat di permukaan Ice Cream itu pun di tangkis oleh sendok milik Dhavin, alhasil Revina langsung melotot, karena dia tidak jadi menggali Ice Cream untuk pertama kalinya. 


“Kenapa-”


”KIta silfie dulu.”


“A-apa? Selfie? Kenapa?” Tanya Revina gugup. Karena selama ini, dirinya sama sekali menghindari yang namanya Seifie, sebab jika dia melakukan itu, dia sama sekali tidak percaya diri dengan penampilannya, makannya dia anti selfie. 


“Kenapa kamu tanya? Kan buat kenang-kenangan.” Balas Dhavin, sudah menyiapkan kamera dari handphone miliknya. 


Karena Dhavin memesan lantai dua dari restoran itu untuk mereka berdua saja, maka dari itu tidak ada yang tahu kalau ada dua orang sedang menikmati kencan mereka berdua di sana. 


“T-tapi aku tidak percaya diri.” Revina menjauhkan handphone itu dari arahnya. 


Dhavin cemberut, lalu dia segera beranjak dari kursi untuk membungkukkan tubuh nya ke depan, meraih kepala Revina agar mendekat, dan saat itulah kamera yang sudah siap untuk mengambil gambar itu langsung di gunakan dalam posisi. 

__ADS_1


CUP.


CKREK.


“D-Dhavin!” Revina terkejut, karena pipinya mendapatkan kecupan basah dari bibir Dhavin, hingga akhirnya gambar dari Dhavin sedang mencium pipi Revina dengan fokus utama Ice Cream itu pun dapat diambil juga. 


“Ini lumayan juga.” Dhavin kembali duduk sambil memandangi hasil gambar yang di tangkap oleh kamera. 


Lalu dia gunakan untuk sebagai wallpaper kunci. Agar setiap layar hidup dalam posisi terkunci, yang terlihat adalah foto baru itu. 


Namun, ketika dia mencoba menarik semua notifikasi dari jendela yang mengambang pada layar handphone nya itu, dia melihat deretan panggilan tidak terjawab dari Vinella. 


‘Kenapa dia meneleponku sampai sebanyak ini?’ Karena jelas ada sesuatu yang mencurigakan, Dhavin pun menelepon balik. 


Dan itu langsung di angkat. 


“Kenapa kamu menelepon sebanyak itu?”


-”B-Bos, sebiknya an- Eh! Dasar kamu bajingan! Aku kuliti kamu!”- Teriakan dari Vinella menjadi akhir perbincangan diantara mereka berdua. 


BRAK…


“Aku sampai mendengarnya, siapa yang menyebutmu bajingan?” Tanya Revina. Karena pendengarannya bagus, jadi dia masih bisa tahu apa yang barusan dia dengar itu. 


“Hanya orang tidak waras. Ayo suapi aku.” Dhavin yang tidak peduli dengan suara barusan, langsung mematikan panggilan tersebut. “Aaahh…” 


Dhavin sudah bersiap untuk menerima suapan pertama oleh Revina. 


“Kamu teralu manja.”


“Karena kamu, aku tentu saja jadi ingin terus bermanja.” Kembali membuka mulutnya, dan mencoba menunggu pesawat yang terbuat dari Ice Cream itu. 


Maka mau tidak mau, Revina pun menyuapi Dhavin dengan sesuap Ice Cream. 


____________


DI tempat Vinella berada. 


“Eh, akhirnya Bos menelepon balik juga.” Vinella buru-buru mengangkat telepon nya. 

__ADS_1


-”Kenapa kamu menelepon sebanyak itu?”- Itulah yang Dhavin tanyakan kepada Vinella setelah berhasil menelepon Vinella balik.


Setidaknya hasil teror yang dilakukan oleh Vinella kepada Bos nya sendiri membuahkan hasil.


“B-Bos, sebiknya an-” Sayangnya, di tengah-tengah dirinya hendak menjawab pertanyaan Bos nya itu dengan sebuah peringatan, tanpa di duga ada seorang pria yang dengan mesum nya menyentuh buah dadanya. 


Dan Vinella sontak langsung berteriak keras. 


“Eh! Dasar kamu bajingan! Aku kuliti kamu!” Vinella pun langsung berbalik dan melempar handphone nya itu ke kepala pria itu dengan tepat sasaran.


BHUAK…..


Handphone itu pun berhasil menimpuk kepala pria tersebut, dan akhirnya handphone itu terjatuh. 


Lalu Vinella sendiri langsung berlari mengejar lak-laki yang langsung kabur lagi. Meskipun sebelum itu, dia sempat mengambil handphone nya lagi, tapi dia justru memfokuskan dirinya untuk menangkap orang itu. 


“Ah, Bos malah mematikan teleponnya.” Vinella tetap berusaha untuk menelepon Bos nya itu, sekalipun dia tetap berlari dan kemudian kembali berteriak. “Kalian, tangkap penjahat itu!” Beberapa orang yang kebetulan sedang berjaga di beberapa titik, langsung menuruti perintah Vinella yang sedang mengejar pria berjaket hitam itu. 


Vinella yang tidak berpuas hati karena pria itu lari dengan cukup cepat juga cekatan, dia sampai dengan sembarangan mengambil pot bunga yang kebetulan di pajang di depan toko, lalu dia melemparnya. 


PRANK….


BRUK….


“Tangkap dia.” Ucap Vinella kepada kedua orang rekan kerjanya yang akhirnya datang tepat waktu. 


“Akww..sakit sekali.” Rintih pria ini setelah mendapatkan hantaman dari Vas bunga dengan cukup keras, sampai akhirnya pria ini langsung KO.


“Baik.” Kedua orang itu pun langsung menyeret pria itu pergi dari sana sebelum ada lebih banyak orang yang memperhatikannya. 


‘Dasar, seenaknya saja dia menyentuhku.’ Di dalam hatinya masih ada rasa kesal, karena dia baru saja mendapatkan pelecehan oleh orang asing. 


Akan tetapi ada satu hal yang lebih penting dari itu semua, dan itu adalah mencari keberadaan dari Bos besar nya. 


‘Aku harus menemukan Bos, soalnya aku khawatir Bos dan Nyonya bertemu dengan wanita rubah itu.


Kalau bertemu, akan ada kemungkinan kalau Nyonya akan semakin di selidiki. 


Baru juga dua hari saja wanita itu sudah mulai menyelidikiku, bagaimana dengan Nyonya? Aku merasa ada firasat buruk, kalau wanita itu bukan sekedar orang kaya biasa saja. Pasti ada latar belakang yang kemungkinan saja bisa mempengaruhi posisi Bos.'

__ADS_1


__ADS_2