Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
110 : DBMJCP : Mencoba


__ADS_3

"Hei, apa kamu tidak pernah berpikir kalau Bos kita itu aneh?" Tanya laki-laki berpakaian serba hitam ini kepada temannya.


"Ya, aku sendiri memang merasa aneh dengan Bos kita sendiri. Masa kita datang kesini untuk mengawasi pekerjaan mereka?" Kacamata hitamnya di lepaskan. Mereka berdua yang kini sedang berdiri di samping salah satu pohon pinus melihat ke arah danau, dimana tepat di tepi danau ada gazebo yang belum lama di buat, dan sekarang tempat yang tadinya sepi seperti kuburan, sudah berubah total.


Suasananya menjadi ramai, banyak sekali hiasan yang menghiasi tepi danau itu dengan deretan bunga hidup, dan lampu yang baik menggantung di ataupun lampu lilin yang sengaja di letakkan di atas rumput sebagai penunjuk jalan.


Siapapun akan melihatnya sebagai tempat berkencan.


Tidak, bukan sekedar tempat berkencan, itu justru lebih mirip untuk acara romantis untuk melamar seseorang.


"Ah, sebenarnya bukan sekedar mengawasi sih."


"Apa maksudmu?" Menoleh ke arah rekan kerja nya itu.


"Lebih tepatnya kita harus membuat kekacauan di tempat ini."


"K-kita? Jadi tujuannya itu? Yang benar saja. Masa tempat seindah itu, harus kita hancurkan?"


"Mau bagaimana lagi? Ini kan kemauan dari Bos. Karena kamu itu anak baru, tentu saja Bos tidak akan memberitahumu seluruh rencananya, karena akulah yang harus memberitahumu soal ini kepadamu, setidaknya untuk melihat reaksi seperti apakah tanggapan mu soal rencana milik Bos ini?" Walaupun bibirnya tersenyum, tapi itu adalah senyuman meremehkan, tatapan mata yang merendahkan karena akhirnya ia bisa mengetahui reaksi apa yang di perlihatkan oleh anak baru ini. "Dan aku- sudah menemukan jawabannya."


'Sorotan matanya, seolah dia sudah melihat segalanya.' Sedikit terintimidasi, laki-laki ini menelan saliva nya.


"Ini akan jadi pelajaran pertamamu, apakah kamu akan loyal kepada Bos kita atau tidak. Setidaknya sebelum kedua tanganmu itu berlumuran darah, tahu kan apa sebenarnya pekerjaan milik Bos kita?" Tanya pria ini lagi.


Perlahan suasananya menjadi tegang, karena laki-laki ini sedang mencari sesuatu yang ada di dalam diri anak buah nya yang baru itu.


"Pikirkan kembali. Hanya tersisa sepuluh menit, gunakan itu dengan baik. Karena dari awal, aku hanya memberimu tawaran, bukan memaksamu ikut mendaftar jadi sepertiku.

__ADS_1


Tapi, pikirkan kembali juga alasanmu bisa mendaftar, pasti ada sesuatu yang memicu keinginanmu untuk ikut kerja denganku kan?" Imbuhnya lagi.


Dan yang ditanyai, perlahan memejamkan matanya. Dia mencoba mengingat kembali alasan dirinya bisa berdiri di tengah hutan yang hampir gelap itu.


Untuk menjadi orang jahat itu gampang-gampang susah. Dalam artian menjadi orang yang lebih keji lagi, yaitu membunuh, itu yang di maksudnya.


"Ingat kembali, apa alasanmu ingin mendaftar dan masuk ke organisasi milik Bos Visco?"


"Aku-" Lidahnya jadi terasa kelu untuk mengucapkan kalimat yang menjadi landasan hatinya ingin berubah sekaligus, "Ingin membalas dendamku."


"Bukankah itu terdengar hebat? Balas dendam. Semua orang pasti memiliki dendam." Pria ini justru mencoba melebih-lebihkan jawaban dari anak baru itu. "Tapi apa penyebab kamu ingin balas dendam?"


Tawa yang tidak bersuara tadi langsung menghilang setelah ia tiba-tiba jadi penasaran dengan alasan lain milik anak baru itu.


"Apakah ini karena menyangkut keluargamu?"


Tepat sasaran sekali.


'Heh~ Kelihatannya memang ada sesuatu sekali ini anak. Balas dendamnya itu akan segera terkabul, jika di dalam hatinya ada keinginan kuat untuk melakukan tugasnya dengan baik.'


Tentu saja, keterdiaman dari anak baru itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah jawaban.


"Siapa itu?"


Melihat reaksi dari rekan baru nya itu tertuju ke arah depan, pria ini pun ikut menoleh ke arah depan.


Terlihat ada seorang pria sudah memakai setelah jas putih yang cukup lengkap, dan bahkan cukup rapi.

__ADS_1


Lantas siapa pria itu? Itu adalah target milik mereka berdua. Setidaknya target kedua setelah target pertama, yang belum kelihatan batang hidungnya.


"Dia target kita. Dhavin Calvaro."


'D-Dhavin? Dia ..., dia orang yang sudah membunuh kedua orang tua ku. Dia orang yang waktu itu. Dia-' Matanya semakin membulat sempurna saat pria dengan setelah jas putih itu menoleh ke belakang, tepatnya menoleh ke arah mereka. 'Dia ..., ternyata bisa tersenyum?'


Semakin di lihat semakin tidak percaya, kalau ekspresi yang terakhir kali ia lihat dari ekspresi Dhavin saat membunuh kedua orang tuanya adalah ekspresi yang cukup dingin, tapi kini ia melihat Dhavin bisa tersenyum lembut seperti itu?


"Kamu pasti tidak percaya kan? Kalau dia yang biasanya bertampang seperti tembok dengan tatapan sengitnya, bisa tersenyum lembut seperti orang yang tidak pernah memiliki masalah apapun?" Pria mencoba memberitahu rekan baru nya itu, setidaknya sedikit di taburi bumbu hasutan. "Itu semua karena dia sedang menunggu Istrinya."


Ekspresi milik dari rekan nya itu semakin terlihat serius.


Tentu saja itu jadi akan semakin menguntungkannya, karena dengan hati yang sudah di selimuti dendam, percobaan untuk membuat anak baru ini untuk berani melakukan kejahatan pertamanya akan jadi lebih mudah.


'Pantas saja, dia bisa tersenyum seperti itu, karena dia mencintai Istrinya? Sungguh manusia yang hina. Dia sudah membunuh kedua orang tuaku juga adikku, orang yang aku sayangi, sudah meninggalkanku.


Kira-kira bagaimana jika aku melakukan sebaliknya ya? Bagaimana jika aku membuat orang yang dia cintai itu sebagai bayaran atas dosamu kepada keluargaku? Apakah orang sepertimu bisa terpuruk?'


Semakin di pikirkan, ia semakin berani mencoba untuk bertaruh. Setidaknya...., ia bisa membalas atas apa yang terjadi. Walaupun ada banyak resiko, karena ia secara terbuka masuk kedalam kandang singa yang akan bersenang-senang dengan wanitanya, setidaknya bisa mencoba.


KLEK....


Dia mulai menarik pemicunya, untuk bersiap melakukan bidikan.


"Tekad yang bagus." Pujinya. 'Ini akan jauh lebih mudah. Kita coba, seberapa besar dia punya nyali untuk membunuh?' Tidak sendirian dan tidak hanya dengan mengandalkan pistol, dia mengeluarkan detonator bom yang ukurannya sebesar bungkus rokok.


Yang mana, tepat di bawah Gazebo yang di bangun di atas air danau itu, sudah ada bom yang siap meledak kapanpun.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar, baby. Apa kamu bisa melewati malam ini dengan baik? Padahal malam ini adalah malam spesial milik kalian berdua?" Gumamnya. Tersirat wajah bahagia, karena ia akan mencoba memantik api milik Dhavin.


__ADS_2